Chapter #9 - SEMBILAN

2510 Words
CHAPTER #9 SEMBILAN               “Ya! Mau ketemu siapa ya?” Tanya Andar kepada seorang pemuda yang datang ke kantor perguruannya.             “Oh iya, saya Bayu. Ada mas Wisnu?” Tanyanya.             “Oh nyari mas Wisnu. Saya Andar, pengurus perguruan ini. Dan ini Juhri sekretarisnya. Ada apa ya dengan mas Wisnu?”             “Nggak ada apa-apa pak. Hanya ingin bertemu saja.”             “Jangan panggil ‘pak’ deh. Cukup abang saja. Atau panggil nama saja nggak masalah kok.” Jawab Andar tertawa. “Mari duduk. Mas Wisnu mungkin masih dijalan. Sebentar lagi juga sampai.”             “Iya bang, terimakasih. Saya tunggu deh.” Ujar Bayu.             Memang tidak lama kemudian Wisnu datang dan masuk kepelataran perguruannya.             “Ehh, ada mas Bayu.” Sapanya kepada Bayu. Tangannya menyalami Bayu yang sudah lebih dulu mengulurkan tangannya. “Sudah lama mas?” Tanya Wisnu.             “Baru saja kok mas Wis. Nggak ganggu kan?”             “Nggaklah mas Bay. Kalaupun mengganggu nggak bakalan ngomong iya kali.” Jawab Wisnu tertawa. “Masuk yuk mas Bay.” Ajak Wisnu. “Sudah kenal dengan bang Andar dan bang Juhri?” Tanya Wisnu sembari menunjuk kepada Andar dan Juhri.             “Sudah tadi mas Wis. Waduhh, bagus banget dojo ini.” Kata Bayu sambil berkeliling melihat ruangan latihan yang bersih dan rapi.             “Iya mas, ini kan berkat bang Andar dan bang Juhri.” Ujar Wisnu. “Nah kalau ini ruangan ngobrol kita.” Wisnu membawa Bayu kesamping tempat latihan yang ada beberap kursi rotan.             “Hebat mas Wisnu ini. Saya kagum sama mas. Jadi ingin belajar disini nih, bolehkan mas?” Tanya Bayu.             “Bisa saja mas Bayu ini. Ntar saya yang jadi malu ngajarin jago Muay Thai. Bisa-bisa gurunya jadi dibawah kemampuan muridnya malahan.” Wisnu tertawa sambil menepuk pundak Bayu.             “Nggak mas Wis. Kalau soal belajar saya serius. Saya ingin belajar dari mas Wisnu.” Jawab Bayu mukany kelihatan serius.             Wisnu terdiam. Karena dia tau kalau Bayu memang serius.             “Kalau begitu kita barter ilmu saja. Gimana mas Bayu mau?” Ajak Wisnu tertawa.             “Boleh. Boleh, itu ide yang baik mas Wis. Kapan kita mulai.”             “Nah ini masalahnya. Saya ada beberapa jadwal juga dikampus karena melatih beladiri yang sama. Tapi biasanya sih setiap rabu malam dan minggu siang suka ada celah waktu beberapa jam. Mungkin bisa diatur disitu kali mas Bay.”             “Sama mas saya juga ada jadwal yang nggak jelas malahan. Tapi kita coba saja dulu kali ya mas, siapa tau lancar.”             “Oke lah mas. Kita coba dulu sambil mencari celah lain.” Jawab Wisnu.             Saat sedang ngobrol begitu dari balik ruangan nampak sudah banyak murid karate yang akan berlatih.             “Kita masuk dulu yah mas Bay.” Ajak Wisnu.             “Mari mas.”             Wisnu dan Bayu masuk kedalam ruangan latihan dan tampak sudah ada 25 orang yang siap berlatih.             “Hormat Sensei!” Ada teriakan didalam ruang latihan begitu Wisnu dan Bayu masuk ruangan. Semua murid menghormat kepada Wisnu dengan membungkukan seperempat badannya. Wisnu dan Bayu membalasnya mengikuti mereka.             “Teman-teman sekalian. Kenalkan ini mas Bayu teman saya.” Kata Wisnu yang disambut dengan teriakan yang sama seperti tadi. “Mas Bayu ini adalah salah satu ahli beladiri Muay Thai yang sengaja datang kesini untuk menyapa dan melihat kalian latihan.” Tutur Wisnu.             Stelah mengenalkan Bayu dan berbicara mengenai beladiri Muay Thai, latihan karatepun dimulai dan mendapat perhatian serius dari Bayu.             Sesi latihan dan penjelasan karate sudah selesai. Para murid karatepun banyak yang sudah pulang.             “Mas Wisnu, boleh nggak saya belajar sebentar bagaimana cara menyerang dengan karate?” Tanya Bayu.             Wisnu kaget karena tiba-tiba saja Bayu mau belajar menyerang dengan jurus karate.             “Memangnya kenapa mas Bay? Ada yang harus diserang dengan jurus karate?”             “Ahh, nggak ada mas. Saya hanya penasaran saja ingin segera tau tapinya jurus serangan dan pertahanan. Itu saja.” Balas Bayu tersenyum.             “Oke. Tapi nanti giliran ya. Karena saya penasaran dengan loncatan saambil mendengkul itu loh mas.” Jawab Wisnu tertawa.             Bayu mengangkat jempolnya tanda setuju.             Wisnu lalu berjalan ketengah ruangan. Setelah konsentrasi lalu Wisnu mulai memperagakan kata terlebih dulu. Setelah selesai kemudian Wisnu menerangkan tentang jurus menyerang dengan tangan, menyerang dengan kaki dan menangkis serangan.             Wisnu memperagakannya dengan Bayu sendiri sebagai lawannya.             Hampir setengah jam Wisnu praktek langsung dengan Bayu.             Kemudian, sesuai dengan keinginan Wisnu yang ingin tau teknik meloncat dan menyerang dengan dengkul. Bayu melakukannya dengan prakteknya sendiri. Selain itu juga Bayu mempraktekan gerakan kaki memutar dan menyodok sebagai jurus yang mematikan pada Muay Thai.             Karena keduanya memang sudah menguasai ilmu beladirinya masing-masing, semua peragaan dan praktek langsung diserapnya dengan cepat.             “Terimakasih mas Wis. Saya sudah mengerti semuanya yang diperagakan tadi.” Kata Bayu.             “Sama-sama mas Bay. Saya juga. Hebat ya Muay Thai. Saya masih penasaran dengan latihan menendangnya mas.”             Lalu keduanya saling bersalaman dan menganggukan kepalanya tanda hormat pada masing-masing.             Sama seperti sebelumnya Bayupun dijemput sore itu dengan kode lain tentunya.             Malam itu ditempat pertarungan begitu banyak yang datang. Karena mereka ingin melihat aksi Bayu lagi dalam seni bertarungnya.             Kali ini lawan Bayu adalah seorang karateka yang sengaja didatangkan dari luar pulau Jawa. Bayu sendiripun tidak tau kalau orang ini berasal dari luar pulau Jawa.             Rupanya Franki, namanya sang karateka, adalah andalan seorang penjudi besar pertarungan bebas ini. Penjudi itu memberikan rekaman hasil pertarungan Bayu untuk dipelajari oleh Franki. Franki karateka bersabuk hitam Dan I.             Untungnya Bayu sudah belajar dari Wisnu cara untuk menangkis dan menyerang dengan jurus karate. Wisnu adalah karate sabuk hitam juga malahan Dan II jadi ada satu tingkat diatas Franki. Semua jurus serangan dan pertahanan yang diajarkan Wisnu kepada Bayu tentu saja jurus yang levelnya Dan II.             Disisi lain Franki hanya tau kalau Bayu hanya bisa menggunakan jurus dan serangan Muay Thai saja.             Panggilan untuk bertarung sudah dimulai. Bayu berjalan dibelakang orang yang biasa mengantarnya apabila akan bertarung.             Tepuk tangan meriah penonton saat Bayu memasuki arena bergema diareal itu. Mereka berteriak dengan menyebut yel-yel pada Bayu.             Bayu menyilangkan tangannya didada dan menghormat kepada para penonton.             Semenit kemudian Franki masuk kedalam arena sedikit angkuh dan menganggap enteng Bayu. Pikiran Franki lebih kecil dan dia merasa mampu untuk menundukan Muay Thai dengan karate Dan I nya.             Setelah berhadapan dan saling menganggukan kepala, mereka mulai untuk bertarung.             Franki memasang kuda-kuda kokohnya dengan berat badan ditengah atau sochin dachi.             Bayu tersenyum. Lalu diapun memasang kuda-kuda Muay Thainya. Kaki kanannya diangkat setinggi perut dan tangannya sejajar dadanya. Tiba-tiba kaki kanan Bayu dijejakan ketanah dan badannya melambung keatas kearah Franki.  Kaki kanannya melipat kembali dan berubah menjadi lurus untuk kearah badannya Franki.             Franki kaget mendapat serangan mendadak seperti itu. Lalu Franki merobah jurusnya dengan memutarkan sedikit badannya dan melancarkan jurus pukulan lurus kisame zuki kearah kepala Bayu.             Tendangan Bayu menyambar angin. Tendangan tae trong nya gagal. Malahan sekarang dia mendapat serangn pukulan kearah kepalanya. Untuk menangkisnya Bayu mengangkat sikunya keatas atau sok ngud dan berhasil menghalau pukulan Franki. Lalu tangan kiri Bayu melakukan pukulan belok atau hook menyambar rahang kanan Franki dan telak mengenai rahangnya.             Kepala Franki terdorong kearah kiri. Bayu tidak melepaskan kesempatan ini. Dengan cepat dia menghajarkan lututnya yang tiba-tiba melengkung ke perut Franki.             Franki langsung terjajar kebelakang dan jatuh terduduk.             “Satu!” Teriak wasit. Semua penonton yang menjagokan Bayu bersorak.             Bayu berdiri tegak sekarang. Tangannya disamping badan dengan jari-jari lurus dan kaku seolah pedang. Lalu Bayu silangkan didepan perutnya sementara kakinya bergeser perlahan kesamping dengan pelan. Berat badan dan kuda-kudanya ditumpu ditengah.             Franki yang sudah berdiri dan bersiap bertarung lagi terlihat kaget. Franki tau kalau itu adalah persiapan karate tingkatan dirinya.             Belum sempat selesai dengan rasa kagetnya Bayu sudah melancarkan serangan lagi dengan tendangan lurus kearah perut. Fanki menangkis dengan sabetan tangan pedangnya untuk menghalau kaki Bayu. Tapi secara cepat dan mendadak tiba-tiba badan Bayu miring kekiri bawah dan kakinya menendang miring keatas keatas. Diserang seperti itu Franki gelagapan dan berusaha untuk mundur. Namun terlambat. Ujung samping kaki kanannya Bayu sudah mengenai dagu bawah Franki.             Badannya Franki terhuyung kebelakang tapi tidak sampai jatuh. Franki menarik kaki kanannya kebelakang untuk menahan jatuh tubuhnya.             Bayu memburunya dengan tangan diatas sejajar pundaknya. Tangannya terkepal keras lalu bergantian memukul kearah wajah Franki bergantian.             Franki berusaha menangkis serangan Bayu dengan gerakan menangkis mae geri dan agi uke, berulang kali keatas dan kebawah. Kakinya Franki bergerak mundur kebelakang.             Ada kesempatan kosong Franki melancarkan pukulan pedang dengan jari kerasnya kearah perut Bayu. Tapi Bayu tidak menghindar tapi menangkisnya dengan dua tangannya atau shuto uke. Pukulan Franki kandas tertahan.             Secara mengejutkan badan Franki tiba-tiba terjatuh dengan bahunya terlebih dulu menyentuh lantai keras. Rupanya perhatian Franki terpusat kepada tangkisan tangannya Bayu sehingga tidak melihat saat Bayu melancarkan tendangan setengah lutut yang kuat. Kakinya Bayu mengenai tulang kering kakinya Franki.             “Dua!” Teriak wasit.             Semakin rame suara ruangan itu dengan yel-yel semangat kepada Bayu.             Bayu kembali bersiap dengan kuda-kudanya. Bayu kembali memasang kuda-kuda karate yang diajarkan oleh Wisnu.             Franki yang mengaduk dan memegang tulang keringnya berusaha untuk berdiri. Namun kembali jatuh terduduk. Wasit pertarungan menghampiri Franki dan memeriksa kakinya yang terasa sangat sakit.             Wasit mengangkat tangannya dan mengibas-ibaskan keduanya yang berarti pertarungan tidak bisa dilanjutkan. Bayu menghormat kepada para penonton kemudian mendekati Franki lalu berjongkok dan mengangkat badannya Franki dibantu oleh wasit kepinggir arena.             Semuanya bersorak dan salut dengan sikap Bayu.             Bayu melangkah keluar arena.             Saat menuju ke mobil yang mengantarnya Bayu dihampiri oleh seorang yang pakaiannya rapih dan dikawal oleh dua orang anak buahnya.             Bayu berhenti sejenak kemudian menoleh karena orang itu memanggil namanya.             “Ya pak!” Kata Bayu.             “Selamat mas. Kamu memang petarung hebat. Saya salut.” Ujarnya sambil menepuk pundak Bayu. “Ini untuk kamu. Karena kamu sudah membuat saya untung besar.” Orang itu menyodorkan amplop kepada Bayu.             Bayu menahan dengan tangan amplop dari orang itu.             “Maaf pak. Inin untuk apa? Perasaan saya tidak pernah bekerja untuk bapak juga menguntungkan bapak.” Jawab Bayu. “Jatah saya sudah saya terima tadi dikamar ganti.”             Orang itu tertawa dan kembali menepuk bahunya Bayu.             “Kamu memang jujur orangnya. Saya suka itu. Ini uang dari saya sebagai imbalan untuk kamu. Saya tidak berniat apa-apa dari kamu. Jadi terimalah. Saya akan merasa sangat senang kalau kamu menerimanya.” Ujar orang itu.             Bayu terdiam. Kemudian tangannya menerima amplop dari orang itu.             “Disitu ada alamat dan nomor telepon saya. Jadi, kalau kamu sekali waktu perlu sesuatu yang berat dan besar. Kamu bisa telepon saya.”             “Terimakasih pak.” Bayu menganggukan kepalanya dan membungkukan badannya.             Orang itu tertawa dan pergi meninggalkan Bayu diikuti anak buahnya.             Bayu kembali berjalan menuju kendaraan yang akan mengantarkannya pulang.             “Mas Wis. Kemarin siang ada seorang ibu-ibu datang kesini nyari mas Wisnu. Katanya bagaimana jadi nggak kerja sampingannya? Dan ini meninggalkan kartu namanya.” Kata Rohim pagi hari sebelum WIsnu kuliah. Wisnu menerima kartu nama itu.             “Ibu-ibu? SIapa ya pak?” Jawab Wisnu tersenyum sendiri.             “Katanya pernah dibantu didepan sana waktu mobilnya mogok.”             “Oh iya. Baru ingat saya sekarang. Ibu itu mogok mobilnya dan saya bantu untuk memindahkannya ke angkutan umum.” Wisnu menepuk kening sendiri. “Ibu itu menawarkan pekerjaan mengantarkan barang ke langganannya.”             “Ohh, kirain apaan mas.” Kata Rohim ikut tersenyum.             “Iya pak, nanti saya coba telepon dari kampus deh. Terimakasih pak dan saya kuliah dulu yah pak.” Wisnu menghampiri Rohim dan mencium tangannya.             “Iya mas. Hati-hati dijalan dan kuliah yang betul.” Jawab Rohim menepuk pundak Wisnu.             Begitu sampai di kampus Wisnu sudah ditunggu oleh Kosasih di pintu gerbang kampus.             “Wis, dicari cewek tuh.” Kata Kosasih yang berjalan disampingnya.             “Siapa Kos namanya?”             “Aduh, saya nggak nanya namanya. Tanya saja nanti.”             Wisnu tertawa mendorong badannya Kosasih pelan.             Wisnu dan Kosasih berjalan menuju kursi mahasiswa duduk istirahat atau menunggu bel masuk kuliah.             Begitu sampai disana ada seorang perempuan seumuran anak SMA mungkin sedang duduk menunggunya.             “Mas Wisnu?” Tanyanya.             “Iya mbak. Saya Wisnu. Mbak siapa ya?” Wisnu balik bertanya.             “Saya Hilda mas. Dan ini Mita, Indah dan ini Murni. Kami pengurus OSIS SMA 99 ingin bicara dengan mas Wisnu kalau ada waktu.”             “Ohh iya, bisa sih tapi tidak lama mungkin. Ada apa ya mbak Hilda?”             Wisnu duduk disebelah Hilda dan temannya sedangkan Kosasih berdiri disamping Wisnu.             “Pertama, saya ingin menyerahkan proposal kegiatan ini.” Jawab Hilda memberikan berkas yang sudah dibuat rapih. “Kedua, surat ini dari kepala sekolah saya.”             Wisnu menerima semuanya sambil tersenyum.             “Mbak Hilda. Mendingan langsung saja pada intinya saja. Apa yang harus saya lakukan disekolah mbak?”             “Jadi juri untuk pertandingan karate mas. Kita menyelenggarakan perlombaan kata seluruh SMA Jakarta. Dan satu lagi permohonan mas Wisnu jadi guru karate di sekolah kami.” Jawab Hilda.             “Ohh begitu. Baik mbak Hil. Gini saja. Mbak Hilda datang lagi besok atau datang saja ke dojo saya yang ada disebelah kanan kampus ini. Kurang lebih 300 meteran. Kita bicarakan disana. Bagaimana bisa kan?”             “Bisa mas, tapi sore mungkin. Nggak masalah kan?”             “Justru saya bisanya sore malahan mbak.” WIsnu tersenyum.             Setelah selesai berembuk, anak SMA itupun keluar dari kampusnya Wisnu.             Tuti yang melihatnya dari tadi tersenyum gembira dan menghampiri Wisnu yang sedang membuka proposal dan surat dari mereka.             “Hebat ya mas Wisnu sekarang.” Ujarnya.             Wisnu menoleh dan menutup proposalnya.             “Ehh bu Tuti. Tau darimana ibu?”             Tuti tertawa.             “Itu kan anak saya mas Wis. Hilda itu anak ke dua saya.” Jawab Tuti.             “Pantesan mereka tau. Makanya dari tadi saya bingung. Tau dari mana anak-anak itu tentang saya. Rupanya ibu yang ngasih tau.”             “Iya mas. Tapi soal perlombaan dan lainnya saya tidak tau. Itu murni ide mereka.”             Wisnu tertawa dan berdiri dihadapan Tuti.             “Terimakasih bu. Ibu sudah banyakk membantu saya.”             Tuti tidak menjawab hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Wisnu.             Siangnya waktu akan mengajar di perguruannya, Wisnu menyempatkan menelpon ibu-ibu yang mencarinya untuk mengantarkan barang.             “Iya bu. Saya hanya bisa mengantar barang sekali-kali saja. Itu juga ketempat yang bisa dijangkau dengan motor saja diseputaran wilayah saya ini.”             “Iya mas Wisnu. Saya juga sudah menyiapkan untuk itu. Paling dalam satu minggu hanya dua atau tiga kali kedua tempat. Saya mencadangkan sampai 15 kali pengiriman dalam sebulannya.”             “Baik bu. Kalau begitu saya tunggu jadwalnya dan dimana saya harus mengambil dan kemana saya harus mengantarnya.”             Di dojo anak didik karate Wisnu sudah menunggu untuk latihan.             Setelah selesai bicara dengan ibu-ibu yang mempekerjakannya sebagai pengantar barang, Wisnu bergegas menuju ke perguruannya.             Begitu sampai Wisnu sudah ditunggu oleh Andar dan Juhri karena mereka mendapat kiriman barang yang banyak dari seseorang yang mereka sendiri tidak tau.             “Mas Wis, ini ada barang kiriman dari orang. Saya tidak tau apaan. Saya nggak berani karena namanya untuk mas Wisnu.” Kata Andar.             “Dari siapa ya?” Wisnu memperhatikan kirimannya yang banyak dan cukup besar. “Ohh, ini dari Bayu, bang Andar. Coba buka deh.”             Kiriman segera dibuka oleh Andar dan Juhri. Sebagian dibuka oleh murid-muridnya.             Rupanya Bayu mengirim barang-barang untuk menambah peralatan dan perlengkapan latihan diperguruan karatenya.             Ada secarik kertas diantara kiriman Bayu.             Wisnu tersenyum setelah membacanya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD