Chapter #8 - DELAPAN

2501 Words
CHAPTER #8 DELAPAN               “Belum pulang mas Bayu?” Tanya bagian pengamanan perusahaan.             “Belum pak. Lagi nunggu teman, katanya mau jemput saya.” Balas Bayu duduk dikursi tunggu perusahaan disebelah luar gerbang masuk.             Bayu agak gelisah menunggunya, maklum pertama kali dia melakukan pertarungan bebasnya.             Sebuah sedan hitam berhenti tepat didepan gerbang perusahaan. Ada lambing beruang didepannya. Bayu bangkit dari duduknya.             Orang dari dalam mobil keluar dan menghampiri Bayu yang juga berjalan menuju sedan hitam itu.             “Beruang?”             “Ya.” Sahut Bayu mengangguk. Orang itu membuka sedan hitamnya dan Bayu masuk kedalam dan sedan itu melaju berangkat dari situ.             Setelah setengah jam Bayu didalam sedan kemudian orang itu mengeluarkan kain hitam dari dalam tasnya.             “Maaf mas. Kami harus menutup kepala mas dengan ini.” Katanya memperlihatkan kain hitam penutup kepala.             “Baik. Silakan.”             Kepala Bayu ditutup dengan kain hitam itu.             Insting Bayu segera berusaha untuk menebak akan dibawa kemana dengan jalan mempertajam pendengarannya sepanjang jalan.             Satu jam kemudian mobil itu berhenti dan merekapun membuka penutup kain hitamnya. Bayu menggosok matanya agar cepat jelas. Ternyata Bayu sudah berada disebuah lapangan luas seperti tempat parkir dan berada dilantai bawah.             “Silakan mas turun dan berjalan lurus. Lalu belok kiri dan buka pintu warna kuning. Kemudian mas masuk dan cari meja yang bergambar beruang. Disitu mas mendaftar dan menandatangani perjanjian. Silakan.”             “Baik, terimakasih.”             Bayu berjalan ketempat yang ditunjukan. Di meja bergambar beruang lalu dia berhenti dan menghampiri yang menjaganya.             “Saya Beruang.” Kata Bayu mengangguk. Orang itu tetap diam tidak menjawab dan hanya memberikan selembar kertas kepada Bayu.             Bayu menerima dan membaca sebentar, kemudian mengambil ballpoin dan menandatanganinya.             Orang itu lalu membawa Bayu kesebuah ruangan. Diruangan, orang itu memberikan perlengkapan untuk bertarung.             Bayu menerimanya.             “Mas tunggu disini. Tunggu panggilan. Saya menunggu diluar. Mas ganti bajunya dengan pakaian yang baru saya berikan.” Kata orang itu lalu keluar.             Bayu hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan orang itu.             Dua puluh menit kemudian orang itu masuk dan mengajak Bayu untuk keluar.             Bayu keluar mengikuti orang itu. Rupanya orang itu mengajak Bayu ke arena yang sudah dipersiapkan.             “Beruang sekarang bertarung. Tunggu panggilan untuk masuk ke arena itu.” Ujarnya.             Bayu mengangguk.             Kemudian terdengar suara panggilan memanggil beruang.             Bayu bangun dan berjalan kearah arena. Kaget bukan kepalang begitu Bayu masuk. Ternyata disekeliling arena sudah banyak orang-orang yang bertepuk tangan menyambutnya.             Diarena rupanya sudah menunggu yang akan menjadi lawannya.             Kemudian Bayu dan lawannya diperkenalkan oleh wasit dan aturannya             “Jadi sekarang kalian bertarung tanpa berhenti kecuali pingsan. Tidak boleh ada pertarungan untuk membunuh. Mengerti?”             Keduanya menganggukan kepala. “Mulai!”             Bayu belum bergerak sedikitpun hanya melihat yang menjadi lawannya. Bayu memperhatikan gerakan dan kemungkinan letak kelemahan lawan.             Rupanya yang menjadi lawan musuh Bayu sudah tidak sabar dan kesal dilihat terus oleh Bayu. Lalu dia berteriak dan berlari kemudian dia melakukan tendangan kedepan sambil melompat. Bayu tersenyum dia sekarang tau kalau lawannya ini mahir Taekwondo. “Dia melakukan ‘twieo ap chagi’.” Bisik hati Bayu. Bayu lalu menarik badannya selangkah kebelakang dan tendangan lawanpun menendang angin. Tiba-tiba Bayu berputar. Kakinya diangkat setengah badan. Bayu melakukan roundhouse kick atau tendangan berputar dan berhasil mengenai pinggang lawannya. Lawannya agak terdorong kebelakang dan menahan sakit pinggangnya yang terkena kaki Bayu. Bayu semakin tau dimana kelemahannya. Lawannya Bayu kembali memasang kuda-kuda. Bayu menghampiri lawannya. Kedua kepal tangannya dipasang seperti mau bertinju dan kaki kirinya diangkat keatas setengah. Bayu memperlihatkan jurus Muay Thainya. Lawannya bergerak kedepan Bayu melancarkan deol chagi yaitu tendangan kearah kepala dengan tumit kaki. Kaki kanannya diangkat keatas dan dibabatkan kekepala Bayu. Bayu mengangkat kedua tangannya menahan kaki lawannya. Kaki kirinya turun ketanah dan sikutnya Bayu melakukan sok tee atau bantingan siku ke kaki lawan yang ditahannya tadi. Begitu kaki lawan terbanting kesebelah kiri tanpa ditunggu Bayu segera menyerang dengan tendangan lurus atau tae trong kearah perut. Lawannya langsung terhuyun kebelakang. Tanpa memberi kesempatan Bayu tiba-tiba menjejakan kakinya untuk menggunakah jurus kao loi atau serangan lutut terbang menghantam kening lawannya. Lawannya terdongak kepalanya kebelakang dan jatuh dengan punggung lebih dulu. Bayu membiarkan lawannya berdiri sementara sorak sorai sambil menyebut nama beruang bergema diarena. Lawannya Bayu bangun dan mempersiapkan jurusnya kembali. Bayu yang sudah tau letak kelemahan lawannya langsung maju dan menggerakan tangannya melakukan pukulan samping dan bawah keatas atau swing jab. Lawannya berusaha menangkis serangan Bayu hecho makki yaitu tangkisan tangan keluar untuk menahan pukulan beruntunnya Bayu. Kemudian dia sendiri melakukan pukulan dengan menusukkan jari tangannya ke perut Bayu. Bayu mencoba mendiamkan dirinya ditusuk tangan lawan untuk menjajal tenaga lawan. Ternyata pukulannya dapat ditahan. Lawan Bayu kaget karena jurusan tusukan pedang dengan tangan adalah salah satu jurus andalan Taekwondonya. Bayu sekarang pasang jurus. Tangannya mengepal dan langkahnya menjadi berat. Setelah dekat dengan lawannya tiba-tiba tangan kanannya bergerak akan menghajar kepala lawan lawan. Lawannya menangkis. Namun itu adalah tipuan. Yang menjadi senjata serangan utama Bayu adalah sikutannya. Mendadak tangan Bayu melipat dan sikunya menghantam pelipis lawan. Kemudian tangan kirinya melakukan upper cut seperti di tinju dan mengenai dagu bawah lawannya dengan keras. Tanpa bisa ditahan badannya jatuh berdebam ke lantai yang keras dan pingsan. Semua bersorak dan mengelu-elukan Bayu. Bayu menganggukan kepalanya. Bayu kemudian melangkah keluar arena pertarungan. Begitu keluar sudah banyak yang menunggunya. Semuanya para penjudi pertarungan. Mereka semua menepuk-nepuk pundaknya Bayu. Dengan diantar orang yang menjaganya tadi Bayu kembali keruangannya dan berganti baju. Lalu datang seorang laki-laki dan memberikan amplop tebal kepadanya. Bayu menerima amplop itu sambil terheran-heran. “Apaan ini? Ahh, sudahlah terima saja. Besok saya tanya Krisna apa maksudnya.” Bisik hatinya Bayu. Begitu keluar dari ruangan orang-orang yang menjemputnya tadi sudah siap dengan mobilnya dan didalam seperti biasa Bayu ditutup lagi dengan kain hitam. Bayu diantar sampai dekat dengan tempat tinggalnya. Bayu juga heran lagi, darimana mereka tau alamatnya. Semuanya tidak dihiraukan Bayu lagi. Bayu lalu menuju sebuah warung makan yang masih buka padahal waktunya sudah hampir pagi. Keinginan tau Wisnu akan isi amplop, Bayu lalu membuka amplopnya. Ada segepok uang didalamnya. Bayu tersenyum pahit. Jadi ini yang dimaksud dengan 5 kali gaji dia di perusahaan seperti kata Krisna. Sesudah makan Bayu pulang saja kerumahnya karena waktu pagi masih cukup untuk istirahat tidur. “Bay! Bayu!” Teriak ibunya membangunkan Bayu. “Sudah jam 6 nih. Bangun, ngantor sana.” “Iya Mak.” Balas Bayu. Setelah mandi dan membungkus bekal makan siangnya, Bayu menyerahkan amplop itu kepada ibunya. Tapi hanya sebagian kecil saja. Sedangkan sisanya dia simpan di lemari pakaian. “Ini apa Bay?” Tanya ibunya. “Uang honor semalm Mak.” Ibunya membuka amplop dan kaget melihat isinya. “Mas sebanyak ini Bay? Ini seminggu kamu kerja di perusahaan bapakmu. Uang ini bukan hasil maling kan Bay?” Bayu tertawa. “Masa Bayu maling Cuma segitu Mak?” Ujar Bayu. “Udah ah Mak. Itu halal. Itu tenaga Bayu.” Ujar Bayu mencium tangan ibunya. Lalu Bayu menghampiri ayahnya. “Bayu kerja dulu ya Pak.” Tangannya dicium Bayu juga. Ayahnya Bayu menganggukan kepalanya. Malamnya setelah kuliah Bayu sengaja duduk sendiri dikursi mahasiswa biasa nongkrong. Tidak lama kemudian Krisna datang menghampirinya. Krisna sengaja datang menemui Bayu. “Hey Bay! Gimana? Sukses?” Sapanya begitu dia datang. Bayu tersenyum dan mengulurkan tinjunya kepada Krisna. Krisna meninju kepalan tangannya Bayu. “Apanya, kasihan tau. Sampai pingsan dia.” Kata Bayu. “Ya itu resikonya Bay. Namanya juga pertarungan bebas.” “Terus itu Kris, sebelum pulang saya dikasih amplop. Terus pas diwarung saya buka ehh, ternyata uang isinya. Banyak lagi. Maksudnya apa ya Kris?” “Oh itu. Itu tips dari para penjudi yang menjagokan kamu Bay. Itu bukan uang saku bulanannya. Jadi kalau yang pasang buat penampilan kamu banyak, yah semakin banyak pula isi amplop itu. Bahkan bisa mendapat dua atau tiga buah amplop.” Kata Krisna tersenyum tapi bangga dengan kejujuran Bayu. “Oh gitu. Ya sudah berarti itu hak saya dong?” “Iya itu punya kamu Bay.” “Kamu mau Kris?” Tanya Bayu. “Nggak lah Bay. Aku sendiri kan sudah punya jatah dan acaranya sendiri.” Balas Krisna. “Terus jadwal saya kapan lagi Kris?” “Tiga hari kedepan seperti biasa. Kali ini nama kamu jadi Queen, Bay. Dijemput biasa setelah pulang kerja. Oke!” Lalu keduanya tertawa senang meskipun sebenarnya ada kepedihan dalam hati mereka masing-masing. “Selamat pagi pak Udin.” Sapa Bayu meletakan ransel dan bekalnya di meja kerjanya. “Pagi mas Bayu. Bagaimana dirumah pada sehat?” “Baik-baik saja pak. Oh iya, tadi pagi Emak membuat mendoan nih pak.” Kata Bayu sambil meletakan bungkusan mendoan yang dibawanya. “Aduh, mendoan buatan ibu mas Bayu terkenal enak nih.” Balas Udin seraya mengambil satu dan mengoleskannya pada sambal kecap dan cabe rawit. “Boleh dong saya juga nyoba?” Ada suara perempuan dibelakang Bayu. Bayu menoleh dan tampak Intan sudah berdiri dibelakangnya dan tanpa menunggu jawaban dari siapapun dia langsung mengambil sebuah mendoannya dan langsung meniru cara Udin memakannya. “Hmm, enak banget ini Bay.” Kata Intan terus mengunyahnya. “Iya bu Intan. Itu buatan Emak saya di rumah.” Jawab Bayu. Matanya tidak lepas dari rambut panjang dan wanginya Intan. Intan yang sedang makan mendoan mencari kursi untuk duduk lalau Bayu menyodorkan kursinya. “Silakan duduk bu.” “Terimakasih Bay. Oh iya. Lasan kamu sudah mulai rapih dan bagus sekarang. Mobil sayapun jadi enak kembali dikendarainya.” Kata Intan. “Terus kapan ya saya dengar hengki bikin ulah katanya dibelakang sini. Bahkan sempat memukul wajah kamu Bay. Apa itu benar?” Belum Bayu menjawab Udin sudah bicara duluan. “Iya bu Intan. Saya dan anak-anak melihat juga kejadiannya. Aneh pak Hengki itu. Mas Bayu tidak berbuat apa-apa sama ibu, eh malah bilang dia merebut ibu katanya.” “Masa sih pak Udin? Memangnya saya pacarnya Hengki?” “Ya saya nggak tau bu. Tapi itu yang pak Hengki bilang. Nah terus dia menghampiri mas Bayu kemudian memukul wajahnya. Tapi tidak tau kenapa malahan pak Hengki yang menjerit kesakitan.” “Itu betul pak. Jadi saya tegaskan sekali lagi. Saya bukan siapanya Hengki. Soal tangannya tadipun saya lihat masih diikat dengan perban. Kata dokternya tulang kepalan tangan luka dan bergeser.” Pak Udin terrtawa. “Terus memangnya diapain sih Bay sampai luka begitu?” “Saya nggak tau bu Intan. Saya sendiri tidak ngapa-ngapain sama pak Hengki.” Intan kemudian menghampiri Bayu lalu memegang wajahnya Bayu. “Nggak kasar sih malahan cenderung halus. Kalau keras sih wajar yah pak Udin. Bayu kan laki-laki. Apalagi kerja dibengkel.” Ujar Intan. Padahal sebenarnya Intan hanya ingin mengusap wajah Bayu saja. Bayu tersenyum kemudian duduk dikursi dekat pak Udin. “Bu Intan ini ada keperluan apa ya?” Udin sengaja mengalihkan obrolan dan perhatian Intan. “Nggak perlu apa-apa pak Udin. Hanya ingin tau kebenaran cerita dari Hengki saja. Tapi ternyata beda dan saya lebih percaya sama kalian. Baiklah kalau begitu saya tidak akan mengomentari keterangan Hengki. Silakan kalian kerja kembali.” Jawab Intan. Matanya yang jeli dan indah itu melirik kepada Bayu. “Sekali-kali main ketempat saya ya Bay.” “Baik bu.” Ujar Bayu berdiri dari kursinya dan mengantar Intan keluar dari ruangan. Udin menepuk pundak Bayu setelah Intan keluar dari ruangan. “Hebat mas Bayu ini. Itu namanya disukai anak bos mas Bay.” Udin tertawa. “Ahh bapak ini. Mana ada anak bos suka sama anak miskin kayak saya. Bau las lagi pak.” “Jangan begitu mas Bayu. Saya orangtua sudah tau dari sikap mbak Intan tadi. Dia menyukai mas Bayu.” “Nggaklah pak. Kalaupun dia suka. Terlalu besar resikonya buat saya.” Bayu tertawa dan mengambil peralatan lasnya. Waktu menunjukan jam setengah lima sore. Semua pegawai bersiap untuk pulang karena jam kerja sudah selesai. Begitu pula Bayu yang meraih ranselnya dan berjalan keluar ruangan. “Pak Udin. Saya duluan yah?” “Iya mas. Salam sama ibu!” Teriak Udin yang sedang membereskan perkakas bekas kerjanya. Bayu mengangkat tangannya. Begitu sampai dihalaman depan perusahaan, dipelataran parkir, Bayu melihat seorang satpam kantor sedang dipukuli oleh tiga orang. Disitu juga ada Hengki sedang melihatnya. “Hey stop!” Teriak Bayu berlari keparkiran mobil. Orang-orang itu berhenti memukuli satpam. Bayu menghampiri satpam itu dan mengangkatnya untuk berdiri. “Tidak apa-apa pak? Kenapa orang-orang ini memukuli bapak?” “Saya tidak tau mas. Tiba-tiba saja mereka datang dan memukuli saya. Hati-hati mas, mereka membawa senjata tajam.” Ujar satpam itu. Pegawai yang masih berada didalam kantor ataupun di bengkel mendengar suara teriakan Bayu dan merekapun berlarian menghampirinya. Diantaranya ada Intan dan Udin. “Kenapa Bay?” Tanya Udin. “Ini pak. Satpam ini dipukuli oleh mereka bertiga itu.” Bayu menunjuk ketiga orang itu. “Siapa mereka itu mas?” “Saya tidak tau pak. Tapi ada Hengki yang malah melihatnya.” Udin memapah satpam itu kepinggir kantor disebelah Intan. Bayu melepaskan ranselnya karena mereka bertiga sudah mencabut pisau dan sebatang besi yang sengaja dipersiapkannya. “Sebentar mas. Sebelum kita tanding. Siapa yang menyuruh kalian?” Orang itu tidak menjawab tapi matanya melihat kepada Hengki yang mau kabur. Bayu berbalik dan berlari keaarah Hengki kemudian dengan kilat menangkap tangannya dan memelintirnya kemudian dibawa kehadapan Intan. “Ini bu Intan. Orang ini yang menyuruh mereka memukuli satpam itu.” Kata Bayu sambil kakinya menendang belakang kaki Hengki hingga terduduk didepan Intan. “Pak Udin, tolong pegangin dulu nih mahluk.” Kata Bayu. Udin dibantu beberapa pegawainya memegang tangannya Hengki malahan Intan langsung menampar wajahnya. Bayu berbalik dan berlari kearah mereka bertiga. “Kalian harus berani bertanggungjawb. Hayoo maju!” Kata Bayu hatinya mulai panas. Karena Bayu tidak suka melihat orang menyakiti orang yang tidak bersalah. Salah satu dari orang itu menyerang Bayu dengan menusukan pisau yang dibawanya. Bayu berkelit dengan memutarkan badannya tapi sikunya diangkat agak tinggi kemudian menghantam leher belakang orang itu dengan keras. Gerakan sikutan berputar Bayu membuat orang itu langsung terjerebab kedepan dan tidak bergerak lagi. Saat badannya Bayu memutar kaki kirinya juga bergerak melancarkan serangan tendangan samping sepinggang Muay Thai nya. Serangan itu berhasil dan telak menghajar perut teman orang itu yang akan membokong punggung Bayu dengan besi. Bayu tidak diam sampai disitu saja. Dengan menjejakan kakinya ke tanah tubuhnya melayang keudara dan ujung dengkul kanannya menghajar wajah orang itu. Tidak ada bunyi lain kecuali gedebuk badan orang itu tumbang dan langsung pingsan. Lalu Bayu berputar kekanan menghadap orang yang tinggal satu. Orang itu lebih tinggi dari Bayu. Dia melompat kedepan Bayu. Tangannya mau merangkul badannya Bayu. Bayu tidak bergerak malahan seolah membiarkan badannya dirangkul. Tapi sebelum orang itu berhasil merangkulnya kedua tinju Bayu bergerak dengan cepat memukul bagian perut terus naik ke d**a bergantian. Tentu saja orang itu mengaduh dan agak mundur badannya dari muka Bayu. Kesempatan itu Bayu dipergunakan dengan sebaik-baiknya, Kaki kanannya Bayu diangkat dan langsung menendang lurus kearah perut itu. Karuan saja badan orang itu terlempar kebelakang dan tidak bangkit lagi, pingsan. Kemudian Bayu berdiri tegak dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan lagi keluar melalui mulutnya. Bayu berjalan menghampiri Udin yang sedang duduk dipinggir. Intan yang melihat aksi Bayu mulutnyapun masih ternganga karena takjub akan kehebatan beladiri Bayu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD