Chapter #7 - TUJUH

2491 Words
CHAPTER #7 TUJUH               Sudah seminggu ayahnya Bayu dirumah sakit. Keadaannya sudah mulai berangsur baik. Tapi seperti yang dokter perkirakan sebelumnya. Ayahnya Bayu menjadi lumpuh.             Sesuai dengan perjanjian kerja dan beasiswa Bayu, perusahaan hanya memberikan kesempatan satu minggu lagi kepada Bayu. Dia harus mulai bekerja di perusahaan menggantikan posisi ayahnya.             Tentu saja Bayu kelabakan dan mencoba meminta ijin kampus untuk bisa beralih kekelas kuliah malam. Untungnya permohonan Bayu disetujui setelah pihak kampus meminta salinan perjanjian dengan perusahaan.             Di minggu berikutnya Bayu sudah mulai bekerja pagi dan sorenya dilanjutkan dengan kuliah. Dia berusaha sekuat tenaga agar pekerjaan dan kuliahnya bisa dilakukan dengan baik.             “Bay! Bayu!” Teriak Krisna             “Ehh, Kris! Ngapain sore-sore ke kampus. Ada apaan?” Tanya Bayu.             “Ya ada perlu lah sama kamu. Gimana kabarnya ayahmu?”             “Beliau baik saja Kris. Tapi ya itu hanya masih duduk dikursi roda. Terapi sih terus dilakukan hanya belum ada perkembangan yang berarti saja. Terus perlu apa ya sama saya?”             “Kita duduk dulu sebentar. Belum masuk kuliah kan?”             “belum Kris. Paling 10 menitan lagi deh.” Sahut Bayu berjalan menuju kursi istirahat mahasiswa.             “Begini Bay.” Kata Krisna setelah duduk. “Sebelum ke pertanyaan yang sangat penting buak saya dan kamu. Bagaimana keuangan kamu sekarang Bay, apa mencukupi?”             “Ahh Krisna. Jangankan cukup ngepas saja nggak. Ya begitulah Kris, saya masih jauh dari cukup. Kenapa memangnya Kris?”             “Dulu kan saya pernah bicara sama kamu Bay. Tentang pekerjaan sampingan itu. Apa sudah dipikirkan untuk diterima?”             “Dipikir sih sudah Kris. Dan saya sebenarnya sudah mengambil keputusan. Tapi kamu tau sendiri waktunya itu bentrok dengan pekerjaan, jadwal kuliah dan lain-lain. Jadi masih bingung begitu Kris.” Jawab Bayu menundukan wajahnya.             “Bagaimana kalau kamu mencoba dulu satu atau dua minggu. Setelah dirasa bisa dilakuin baru kamu terima pekerjaan itu. Bagaimana?”             “Oke. Saya mau nyoba ya Kris, tapi apa yang harus bilang apa sama orang rumah?”             “Bagaimana kalau kamu bilang saja jadi unit pengamanannya yang kerjanya kalau diperlukan saja? Soalnya tidak setiap hari kita kerja Bay.” Jawab Krisna.             “Iya deh Kris. Tapi saya harap kalau kamu bisa mengatur jadwal saya kerja mungkin bisa lebih baik lagi.”             “Oke ya. Saya masukan nama kamu. Dan tinggal menunggu jemputan saja di kampus ini sesuai jadwal tanding.” Krisna menyalami Bayu. “Sabar, tabah dan jangan mengeluh Bay.” Krisna memeluk tubuh Bayu.             Bayupun balas memeluk Krisna dan menepuk punggungnya.             Sebelum beranjak dari tempatnya Bayu membuat gerakan seakan ingin meninju dadanya Krisna. Krisna reflek meloncat kebelakang sambil mengangkat kakinya menendang lurus kearah Bayu. Bayu menangkis dengan mendorong kaki Krisna.             Lalu keduanya tertawa.             Bayu segera masuk keruang kuliah.             Pagi sekali Bayu sudah pamitan kepada ibunya. Hari ini Bayu mulai bekerja di perusahaan menggantikan kedudukan ayahnya.             “Selamat pagi pak. Saya Bayu anak pak Rahmat.” Sapa Bayu kepada pengamanan perusahaan.             “Ohh, selamat pagi mas Bayu. Silakan masuk.” Ujar pengamanan itu. Dia sudah mengenal pak Rahmat sebelumnya.             “Terimakasih pak. Tapi saya harus bertemu dulu dengan pak Supriyadi. Disebelah mana ya pak?”             “Kalau pak Supri ada di belakang, dibagian bengkel dan las. Jadi mas Bayu pergi lurus dan belok kiri diujung. Nah disitu pak Supri tempatnya.”             “Baik pak, terimakasih.” Bayu mengangguk.             Sampai dibengkel Bayu menghampiri seorang pekerja yang ada disana.             “Maaf pak, saya mau betemu dengan pak Supri. Dimana ya?” Tanya Bayu.             “Mas ini siapa ya?” Tanya orang itu.             “Saya Bayu pak, anaknya pak Rahmat.”             “Ohh, mas Bayu anaknya pak Rahmat. Saya Udin. Masih ingat nggak?” Orang itu menepuk pundaknya Bayu.             Bayu tersenyum. “Maaf pak lupa lagi.”             “Iya ya. Sudah lama itu. Mas Bayu saja masih kelas satu SD kalau nggak salah. Sekarang sudah segede gini ya. Kuliah tahun keberapa mas?” Tanya Udin.             “Saya semester ke lima pak Udin.” Jawab Bayu.             “Kalau pak Supri itu diruangan sana. Hanya kalau bicara dengannya haru hati-hati saja. Orangnya agak kasar dan selalu ingin dipuji. Malah terkadang suka kasar.”             “Iya pak Udin. Terimakasih. Saya akan hati-hati.” Ujar Bayu mengangguk sambil berjalan kearah yang ditunjukan oleh Udin.             Bayu mengetuk pintu ruangannya Supriyadi.             “Masuk!” teriak dari dalam.             Bayu membuka pintu ruangan. Tampak seorang yang agak tinggi darinya dan berbadan kekar sedang duduk dikursi kerjanya.             “Selamat pagi pak Supriyadi. Saya Bayu anaknya pak Rahmat.” Sapa Bayu.             “Oh iya. Silakan duduk. Anaknya Rahmat ya. Gimana bapakmu sehat?” Ujarnya tanpa memperhatikan kedatangan Bayu.             “Baik pak. Seterusnya apa yang harus saya lakukan pak?”             “Sekarang kamu jadi anak buah saya menggantikan Rahmat. Kamu harus belajar mengelas dulu, jadi pergi kesana dan cari yang namanya Udin. Kamu belajar sama Udin yah.”             “Baik pak.” Kata Bayu singkat dan keluar dari ruangan Supriyadi.             Dibengkel las.             “Bukan begitu mas. Coba pegang lasnya dengan tangan kanan dan kawat lasnya dikiri agak diangkat. Kawat las harus menyentuh barang yang akan dilas.”             “Begini pak?” Kata Bayu meniru apa yang disuruh oleh Udin.             Sudah 3 hari Bayu belajar mengelas dengan Udin. Maklum karena pekerjaan baru dikenal jadi hasil terbaiknya masih jauh dari mulus.             “Ini siapa yang ngelas?” Teriak Supriyadi. “Ngaco ini! Gak bener ini.” Supriyadi melemparkan rangka lampu sign bis yang diperbaiki.             “Saya pak.” Kata Bayu berdiri dari latihan mengelasnya.             “Kenapa kamu Bayu? Bukannya si Udin yang ngerjain. Kamu kan masih belajar.” Katanya sambil menendang rangka hasil kerja Bayu.             Bayu berjalan mengambil rangka lampu sign yang ditendang Supriyadi.             “Mau ngapain kamu?”             “Ngambil itu pak.”             “Biarin itu. Ganti dengan yang baru dan si Udin yang ngelas, bukan kamu.”             “Iya pak. Saya akan merhatiin pak Udin bekerja.”             “Makanya kalau kerja yang bener. Bisa-bisa kamu seperti bapak kamu lagi.”             Bayu mendengar ayahnya dibawa dalam masalah yang ini hatinya menjadi panas.             “Iya pak. Tapi kalau bisa jangan bawa-bawa ayah saya. Ini kan kesalahan karena saya yang salah.”             “Terus kalau saya bawa ayah kamu, kamu mau ngapain Bay?” Kata Supriyadi menghampiri Bayu dan tangannya diangkat.             Bayu diam saja dan tersenyum.             Merasa dirinya dilecehkan Supriyadi melanjutkan gerakan tangannya. Wajah Bayu yang menjadi sasarannya.             Sebelum tangannya sampai kena diwajah Bayu tangan kerasnya Bayu sudah menangkap pergelangan tangannya Supriyadi dan ditepiskan oleh Bayu.             “Maaf pak Supri. Saya minta bapak tidak kasar dan main tangan seperti itu.” Bayu masih sopan.             Tapi tidak untuk Supriyadi. Peringatan itu dianggapnya malah menjatuhkan derajatnya didepan anak buahnya yang lain.             Supriyadi bergerak maju tanpa basa-basi lagi dan sekarang mengayunkan tangannya untuk menghajar Bayu.             Bayu hanya bergerak kesamping untuk menghindar dan pukulan Supriyadipun memukul angin. Supriyadi semakin beringas. Lalu sekali lagi menyerang Bayu. Kali ini dia menggunkan kakinya untuk menghajar betisnya Bayu. Bayu diam saja malah menjejakan kakinya ke tanah seolah ditanam. Karuan saja Supriyadi menjerit kesakitan ketika kakinya beradu dengan kaki Bayu yang kakinya biasa diadu dengan dinding kayu atau beton.             Wajahnya meringis dan kakinya diangkat sebelah dipegang oleh tangannya.             Anak buahnya yang lain melihat kejadian itu bukannya membantu Supriyadi malah bekerja seolah-olah tidak ada apa-apa.             Supriyadi menahan sakitnya dan kembali menyerbu Bayu. Kali ini dia menggunakan balok kayu pengungkit. Supriyadi menyabetkan balok kayu itu kearah badan Bayu untuk melumpuhkan Bayu.             Tubuh Bayu tiba-tiba mengeras, kaki kirinya maju selangkah kedepan dan mendorong badannya untuk meloncat keatas. Badan Bayu melayang dengan dengkul menghadap kedepan untuk menghajar kepala atau kening lawan. Sedangkan tangan kanannya menghantam balok kayu sampai patah menjadi dua.             Akibatnya Supriyadi tidak bisa bicara lagi. Badannya yang tinggi besar langsung tumbang ketanah bengkel.             Bayu kembali mengambil sikap tegak dan menarik nafas panjang.             Udin dan kawan-kawannya hanya tersenyum dan membiarkan Supriyadi tergeletak begitu saja.             “Udah dibilangin jangan diterusin. Nah itu akibatnya. Sudah biarin saja mas.” Kata Udin.             “Aduh, saya minta maaf bapak-bapak semua. Kelepasan. Habis menghina ayah saya.”             “Nggak apa-apa mas. Pelajaran itu, biar jangan asal ngomong. Sudah, nanti saya yang lapor ke kesehatan ada kecelakaan gitu.” Ujar Udin dan kawan-kawannya mengiyakan.             Bayu akhirnya mengikuti apa yang dianjurkan teman-teman kerjanya.             Sebelum pulang kerja Bayu dipanggil menghadap salah satu kepala bagian personalia untuk menanyakan kejadiannya.             “Silakan duduk mas.” Katanya.             “Iya pak.” Bayu duduk berhadapan.             “Apa betul tadi mas Bayu menghajar pak Supriyadi di bengkel?”             “Menghajar pak Supriyadi? Ya nggaklah pak. Masa saya yang segede ini bisa menghajar pak Supri yang tinggi besar dan berotot seperti itu. Kata siapa bapak?”             “Ya ada saksinya mas Bayu. Coba jangan berbohong dengan saya. Malah bisa menjadi rumit dan berurusan dengan yang berwajib jadinya.”             “Silakan saja bapak lapor ke polisi kalau mau. Tapi jangan salahin saya kalau hanya bikin malu bapak sendiri. Bapak bisa panggil teman-teman dibelakang dan tanya kebenarannya. Lagi pula bapak tau dari siapa kalau saya menghajar pak Supri?”             “Dari pak Supriyadi sendiri mas.”             “Ya nggak bisa begitu saja dipercaya pak. Bisa jadi hanya fitnah saja. Saya usul saja kepada bapak mendingan panggil teman dibelakang dan pak Supriyadi. Kita ngumpul dan buktikan kalau saya menghajar pak Supriyadi.”             “Jadi bener nih mas Bayu tidak mau mengaku?”             “Ya nggaklah pak. Orang nggak ngapa-ngapain pak Supri kok. Bapak mau lapor ke polisi atau memecat saya silahkan saja.”             “Coba cerita yang mas Bayu tau tentang kabar membingungkan ini.”             “Baik pak. Terserah bapak mau percaya atau tidak.”             Bayu lalu menceritakan kejadian yang sudah disusun dan dianjurkan okeh teman-temannya di bengkel. Bayu harus menyampaikan kalau Supriyadi luka dikepala karena balok kayu pengungkit yang mencelat dan kena kepalanya. Balok kayu itu mencelat karena dipakai untuk memukul kerangka lampu sign yang Supri lemparkan karena dianggap jelek.             “Begitu pak ceritanya. Jadi pas dia mau memukul kerangka itu dengan balok kayu, rupanya ada batu. Lalu balok kayu itu mugkin malah mengenai batu dan mencelat sampai kena kepalanya pak Supri.” Tutur Bayu. “Saya sendiri tidak melihat persis kejadiannya karena saya sedang belajar mengelas dengan pak Udin.”             “Baik mas Bay. Semuanya sudah saya catat dan akan saya laporkan ke atasan saya.”             “Baik pak. Kalau tidak ada apa-apa lagi saya pamit dulu, mau kuliah pak.” Ujar Bayu berdiri dari duduknya.             “Iya mas silakan. Selamat kuliah yah.”             Bayu akhirnya keluar dan menuju kampusnya untuk kuliah.             Dua minggu setelah kejadian Supriyadi akhirnya dipindahkan kerjanya kebagian pengiriman barang. Karena banyak keluhan tentang cara kerjanya Supriyadi. Perusahaan kemudian mengangkat Udin menjadi supervisornya bengkel dan las perusahaan.             Bayu yang sudah banyak dikenal diperusahaan itu tetap menjadi pelaksana tenaga las tetapi semua segan kepadanya.             Sore itu Bayu sedang bersama Krisna di pinggir lapangan kampus. Mereka serius membahas tentang pekerjaan tambahannya Bayu untuk menjadi petarung bebas.             “Jadi bagaimana Bay? Kita jadi berjuang disana?” Tanya Krisna sekali lagi.             “Ya sudahlah. Saya akan mencoba beberapa saat. Kalau misalnya menghasilkan dan bisa menutupi sya dan keluarga, saya akan teruskan sampai mendapat pekerjaan yang bagus.” Jawab Bayu sambil melihat mata sahabatnya.             “Nah, gitu dong Bay.” Krisna menepuk pundaknya Bayu. “Jangan ragu. Kamu bisa beberapa kali bertanding, dan bisa keluar kapan saja. Terus panggilan kamu adalah ‘Beruang’,” Lanjut Krisna.             “Cara taunya ada jadwal bertarung gimana Kris?”             “Kamu dapat kabar dari saya sehari sebelum bertarung. Jadi kamu bisa bilang kalau malamnya ada giliran jaga malam. Nah, untuk jemputannya dilaksanakan sore hari dengan mobil bertuliskan panggilan kamu, Beruang itu.”             “Oke, saya ngerti Kris. Tapi tolong di bombing dulu ya sebelum saya ngerti banget.”             “Tentu dong Bay, masa aku lepas begitu saja.” Krisna tertawa sambil mengguncang-guncangkan badan sahabatnya.             Setelah semuanya disampaikan Krisna dan Bayu berpisah dan pulang kerumah masing-masing.             Tiga hari berikutnya Bayu mendapatkan giliran bertarung disuatu tempat yang dirahasiakan.             “Hadi,! Emak mana?” Tanya Bayu.             “Ada dibelakang. Jadi ya tugas jaga malam?” Tanya Hadi adiknya Bayu.             “Iya.” Jawab Bayu pendek. Hatinya sedih karena harus membohong pada keluarganya. Bayu tidak pernah berbohong pada keluarganya selama hidupnya kecuali sekarang ini.             “Mak! Bayu nanti malam jadi jaga yah, ada jadwalnya.”             “Iya Bay. Hati-hati kamu disana. Sekarang ini banyak orang jahat.” Ujar ibunya Bayu.             “Iya Mak.” Bayu mencium tangan ibunya dan buru-buru berangkat karena takut terlambat masuk kerja.             “Mas Bayu!” Udin berteriak memanggil Bayu. Tangannya dilambai-lambaikan kearah Bayu.             Bayu mengangkat tangannya juga dan menghampiri Udin setengah berlari.             “Ada apa pak Udin.”             “Tadi pagi-pagi banget dicari bu Intan. Katanya ada kerjaan diluar. Tapi saya bilang belum datang. Pekerjaannya sudah ditangani Miskun. Jadi kalau nanti bu Intan telepon bilang saja angkutan umumnya mogok. Gitu yah.” Kata Udin kepada Bayu.             “Iya pak. Maaf saya tadi bicara dulu sama Emak soalnya. Jadi agak telat.”             “Iya, nggak apa-apa. Belum telat kok.”             Siangnya saat Bayu istirahat dan makan bekalnya dari rumah satang sebuah mobil mahal kebelakang. Lalu keluar dari dalam mobil seorang wanita muda yang cantik.             “Mana Bayu?” Tanyanya.             “Itu bu Intan. Sedang makan siang sepertinya.” Balas seorang pegawai bengkel.             Intan lalu menghampiri kearah Bayu.             “Bayu! Kamu tadi pagi kemana? Saya telpon katanya terlambat karena mogok mobil angkutannya yah?” Tanya Intan dan duduk disebelah Bayu.             Bayu kaget dan bergeser sedikit kesamping.             “Iya bu.” Jawab Bayu gelagapan dan membereskan bekal makanannya.             “Kenapa berhenti makan? Makan saja.”             “Kebetulan sudah kok bu.”             “Nanti tolong cek kembali yang dilas Miskun yah. Saya tidak begitu yakin kalau bukan kamu yang ngelas.” Ujar Intan matanya menatap Bayu agak nakal.             “Baik bu.” Bayu berdiri dan hendak berlalu dari situ.             “Tunggu!” Kata Intan. Tangannya memegang tangan Bayu yang kuat kemudian dengan memegang tangan itulah dia berdiri.             “Ada apa lagi bu?”             “Tidak ada. Hanya itu.” Ujarnya melepaskan pegangan tangannya. Intan kemudian berjalan setelah tersenyum pada Bayu.             Hengki salah seorang staf perusahaan sudah lama mengincar Intan. Tetapi selalu saja ditolak Intan karena memang perangai Hengki yang sok kaya dan kuasa.             “Hey Bayu, tunggu.” Teriak hengki yang keluar dari samping bengkel.             Bayu berhenti berjalan dan menunggu datangnya Hengki. Semua pegawai bengkel berhenti bekerja dan melihat Hengki yang kelihatannya marah.             “Lu jangan macam-macam dengan Intan ya!” Bentak Hengki yang sudah berdiri dihadapan Bayu.             “Maaf pak. Macam-macam apa ya?”             “Tadi kamu ngapain megang tangannya Intan?”             “Nggak pak. Saya tidak megang tangan bu Intan. Tapi bu Intan yang memegang tangan saya karena mau berdiri.” Balas Bayu.             “Alasan lu.” Kata Hengki langsung mengayunkan kepalan tangannya akan memukul wajah Bayu.             Bayu diam saja tidak bergerak. Dan kepalan tangannya Hengki mengenai mukanya Bayu.             Anehnya justru Hengki yang berteriak kesakitan padahal dia yang memukul. Tubuhnya terhuyung kebelakang sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Hengki merasa tangannya remuk seperti memukul batu saja.             Semua pegawai disitu tertawa dan meneruskan kembali bekerjanya. Sedangkan Bayu berjalan menuju meja kerjanya diruangan khusus pegawai bengkel untuk menyimpan bekas makan siangnya.             Hengki yang kesakitan tangannya dibiarkan saja oleh mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD