Chapter #6 - ENAM

2605 Words
CHAPTER #6 ENAM               Bayu sedang menunggu angkutan umum jurusan ke kampusnya. Hanya sebentar dia menunggu kemudian naik setelah angkutan umumnya datang.             “Bay!” Ada yang memanggilnya waktu akan masuk keruang kuliah.             Bayu menoleh dan Erik temannya menghampirinya.             “Ada apa Rik?” Tanya Bayu. “Tumben kamu pagi-pagi sudah masuk?”             “Itu Bay. Kamu tadi dicari Krisna. Kelihatannya penting banget.” Ujar Erik.             “Ada apa yah Krisna nyari saya?” Pikir Bayu. “Tidak biasanya dia nyari.”             “Iya Rik. Nanti juga ketemu.” Jawab Bayu dan berjalan bersama Erik ke ruangan kuliahnya.             “Hey Bayu!” Krisna yang ada didalam melambaikan tangannya dan mengajak Bayu duduk disebelahnya.             Bayu menghampiri Krisna.             “Ada apa Kris? Kata Erik tadi nyari aku?”             “Iya Bay, aku ada perlu sebentar. Bisa ngomong diluar?”             “Boleh.” Bayu menyimpan ranselnya dikursi, disebelah kursinya Krisna.             “Begini Bay. Aku mau pinjam sedikit uang kamu buat bayar uang kuliah. Aku kurang sejuta lagi.” Kata Krisna mengeluh.             “Oh itu. Kirain ada apa. Kalau itu harus dicek dulu di buku tabungan. Kapan perlunya Kris?”             “Kalau bisa dan ada ya sekarang. Soalnya TU sudah menegur aku terus Bay. Aku bilang hari ini.”             “Begini saja. Nanti kita ke bank yang disebelah kampus soalnya aku nabung disana. Nah, nanti jam 9 pas break kita kesana. Gimana?”             “Nanti kalau TU nanya?”             “Bilang saja siang ini, gitu!” Balas Bayu.             “Iya nanti aku bilang begitu. Nih sisa uang aku biar nanti langsung dibayarkan oleh kamu ke TU.” Krisna memberikan amplop kepada Bayu.             “Nggak ah. Kamu saja. Aku percaya kamu tidak bohong sama aku Kris.” Ujar Bayu menolak menerima amplop uang Krisna.             Krisna memasukan kembali amplopnya kedalam saku celana.             “Makasih ya Bay. Suatu hari aku akan membalas kebaikan kamu.”             “Jangan janji Kris. Berat itu.” Jawab Bayu memegang pundak temannya. “Saya ikhlas menolong kamu.”             Krisna menyalami tangannya Bayu dengan erat.             Jam 9 Bayu dan Krisna berjalan menuju bank yang ada disebelah kampusnya. Lalu Bayu menyodorkan kartu tabungannya untuk minta dicetak jumlah terakhirnya.             “Ah, bisa kok Kris. Ini jumlahnya sejuta tiga ratus delapan puluh ribu.” Kata Bayu tersenyum.             “Terus kamu nanti gimana Bay? Aku kan belum tentu cepat mengembalikannya.”             “Lah, aku kan belum nagih Kris?” Bayu tertawa. Krisnapun ikut tertawa.             “Kita ambil ya.” Bayu lalu menulis di lembar pengambilan uang.             Sesudah uangnya diterima lalu diberikan kepada Krisna.             “Kita sama-sama ke TU nya ya Bay?” Kata Krisna.             “Kenapa harus bareng Kris? Kamu bisa sendiri kan?”             “Yah barangkali kamu nggak yakin kalau uang ini untuk bayar semesteran?”             “Wahh, terlalu itu Kris. Aku percaya kamu Kris. Kamu selalu baik sama aku.” Ujar Bayu menepuk bahunya Krisna. Begitu di tepuk bahunya Krisna mengaduh seperti sakit.             “Kamu nggak apa-apa Kris?” Kata Bayu sambil memegang lengannya Krisna.             Krisna agak menepis tangannya Bayu.             “Nggak apa-apa Bay. Hanya terkilir saja. Semalam saya agak ceroboh latihan.”             “Kamu latihan apa Kris?” Tanya Bayu berjalan disampingnya Krisna.             “Latihan Muay Thai. Aku salah dalam melakukan Menyikut memutar dan engsel bahu agak terkilir.” Balas Krisna.             “Muay Thai? Sama dong sama aku Kris. Aku juga belajar Muay Thai di rumah tetangga. Dia salah satu ahli Muay Thai dan sudah mendapat sertifikat mengajar langsung dari sana.”             “Wah, kita sama-sama Muay Thai dong Bay.” Krisna menyikut Bayu tapi tidak kena karena Bayu sudah beralih disebelah.             Krisna agak terkejut dengan kecepatan putarnya Bayu.             “Sudah ya Kris. Aku masuk ruangan dulu.” Bayu menepuk tangannya Krisna.             Tidak begitu lama Krisna di TU. Lalu kedua sahabatan itu sudah duduk bersebelahan lagi.             “Oke Bay, Makasih yah.” Tangan Krisna dan Bayu salaman saat pulang kuliah.             Baru saja selangkah Bayu berjalan. Tiba-tiba dia mendengar orang membentak.             “Lu yang namanya Krisna ya?” Tanya seseorang kepada Krisna. Bayu berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. Tampak Krisna sudah terkepung oleh 4 orang laki-laki. Bayu membalikan badannya dan melihat apa yang akan dilakukan oleh mereka kepada Krisna sahabatnya. Bayu menurunkan ransel kuliahnya dan menghampiri Krisna. “Ada apa Kris?” “Saya nggak tau Bay. Tiba-tiba saja abang-abang ini menyuruh saya berhenti.” “Ada apa ya bang?” Tanya Bayu. “Lu jangan banyak tanya deh. Ini bukan urusan lu.” Jawabnya petantang-petenteng. “Kalau urusan Krisna maka semuanya jadi urusan saya juga bang. Makanya saya nanya sekali lagi, ada apa?” Salah seorang yang membawa pentungan kayu rupanya sudah tidak sabar. Dengan cekatan dan ringan orang itu menyabetkan pentungannya ke arah Bayu. Tapi baru saja setengah perjalanan dan pentungan itu masih diatas kepalanya. Badan Bayu sudah melayang dan dengkulnya menghajar wajah orang itu. Oran itu terjajar kebelakang dan langsung jatuh pingsan. Krisna yang belajar ilmu beladiri yang sama dengan Bayupun menjadi kaget dengan gerakan Bayu yang tiba-tiba. Apalagi orang-orang yang mengelilinginya. “Bagaimana bang? Cukup bukti kan kalau saya tidak main-main. Jadi jawab pertanyaan saya. Ada apa ini?” Orang-orang itu tidak menjawab bahkan berbarengan mereka menyeraang Krisna dan Bayu. Bayu tidak tinggal diam. Dia lalu memutarkan badannya dan ada dibelakang Krisna. Kaki kirinya Bayu bergerak dan menghantam perut orang yang ada disebelah kirinya. Sementara tangan Krisna melakukan gerakan upper cut Muay Thainya menghajar dagu orang yang ditengah. Sedangkan yang ada disebelah kanan mereka itu yang sangat telak dan menyakitnya. Kaki Krisna menendang perutnya sedangkan kaki kiri Bayu menendang kepalanya sambil memutar di badan Krisna. Alhasil ketiga orang itu jatuh bersamaan. Bayu menghampiri yang dipikir mungkin yang memimpinnya. Tangannya Bayu diangkat seperti mau memukul. “Ampun bang!” Seru orang itu meringis. “Yang menyuruh kita bang Charles. Bosnya Krisna.” Bayu berhenti dan diam ditempat. Krisna yang mendengar Charles yang menyuruhnya dia terdiam dan duduk dipinggiran gerbang kampus. Bayu mendekati Krisna dan duduk disebelahnya. Sementara itu orang-orang dari dalam kampus datang mau menangkap orang itu. Tapi Bayu berdiri dan melarang mereka. “Bangun bang, dan jangan datang kesini lagi kalau masih mau selamat.” Orang-orang itu mengangguk dan pergi dari situ dengan mobilnya yang diparkir tidak jauh dari situ. “Bay, mungkin saya tidak bisa cerita sekarang. Besok saja yah, kita cerita. Pulang dari kuliah.” “Iya Kris. Tidak masalah. Saya hanya ingin tau penyebabnya saja.” Ujar Bayu dan menarik tangannya Krisna untuk berdiri. Setelah salaman mereka berdua pulang kerumah masing-masing dengan arah yang berbeda. “Bay, Bayu! Buruan masuk.” Teriak ibunya Bayu. “Kenapa Mak? Ada apaan?” “Lihat tuh Bapakmu bawa kabar.” Ujarnya. “Kabar apaan Pak?” Tanya Bayu menghampiri Bapaknya. “Ini Bay, Bapak bawa surat beasiswa dari kantor. Baca dan pelajari dulu. Kalau kamu setuju baru tandatangan. Kalau tidak setuju, ya jangan ditandatangani.” Ujar Rahmat, bapaknya Bayu memberikan beberapa lembar dokumen. Bayu menerimanya sambil tersenyum. Artinya dia tidak perlu meminta biaya kuliah lagi ke ayahnya, tapi kantor ayahnya yang akan membiayainya. Sudah enam bulan Bayu mendapatkan beasiswa dari perusahaan ayahnya. Ayahnya hanya membiayai sekolah Hadi adiknya yang masih dibangku SMP kelas 3. Bayu duduk di kantin kampus untuk melepaskan kejenuhannya di ruang kuliah. Pikirannya selalu saja melayang-layang dengan kondisi ayahnya yang sudah tua. Banyak kebutuhan hidup keluarganya yang semakin meningkat sedangkan penghasilan ayahnya hanya begitu-begitu saja. Maklum hanya pekerja lapangan saja di perusahaan itu. “Yeh, ngapain Bay? Ngelamun yah?” Krisna mengejutkan Bayu. “Ahh, kamu Kris. Kebiasaan deh kalau ganggu orang.” Ujar Bayu tersenyum. “Siapa sih yang dilamunin? Tanti apa Retno? Hayoh, ngaku saja deh Bay, nanti aku bantu.” Kata Krisna semakin menjadi menggoda Bayu. “Nggak Kris. Aku nggak mikirin mereka. Aku hanya mikir keluargaku saja.” “Ohh iya Bay, nih uang kamu. Aku sudah ada.” Kata Krisna memberikan amplop kepada Bayu. Bayu menerimanya tapi agak kaget soalnya amplopnya rada tebal. Pikirnya tidak mungkin satu juta. Bayu membukanya. “Loh, kok lebih begini Kris. Ini 4 juta. Kelebihan ah, aku nggak mau.”Ujar Bayu mengembalikan amplopnya kepada Krisna. “Tidak apa-apa Bay. Aku lagi ada rejeki lebih saja.” Kata Krisna menahan amplopnya di tangan Bayu. “Percayalah.” Bayu terdiam. Tapi akhirnya memasukan amplopnya ke kantong celananya. “Inget Kris, saya bukan rentenir yah.” Krisna tertawa. Saat Bayu mau mengambil gelas dimejanya, belum tangannya menyentuhnya tiba-tiba saja gelas itu pecah dengan sendirinya. Bayu kaget, begitu juga dengan Krisna. Lalu keduanya berpandangan. “Jangan berpikir aneh-aneh Bay. Itu gelas pecah karena tadi terlalu panas airnya mungkin.” Bayu mengangguk. Hatinya mulai risau dengan kejadian ini. “Kita saling berdoa saja ya Bay. Aku dan kamu, keluargaku dan keluarga selalu selamat selamanya.” Krisna memegang kedua pundak Bayu. “Mendingan kita masuk saja ya Bay.” Bayu mengiyakan dan berdiri dari kursi kantin menuju ruang kuliahnya. “Mak! Emak. Pada kemana nih. Kok sepi banget?” “Bang Bayu!” Hadi adiknya datang sambil menangis dari dalam rumah. “Bapak bang.” “Bapak, kenapa Bapak Hadi?” Tanya Bayu memegang pundak adiknya. “Bapak kecelakaan di kantor bang. Emak sekarang sedang dirumah sakit.” Bayu badannya mendadak lemas dan terduduk di kursi. “Ayo bang kita kesana!” Ajak Hadi menarik tangannya Bayu. “Iya Hadi. Sebentar abang simpan ransel dulu yah.” Tidak lama keduanya menuju rumah sakit yang menjadi rekanan perusahaan ayahnya. “Bagaimana keadaan Bapak, Mak?” Tanya Bayu kepada ibunya yang duduk dikursi tunggu sambil menangis. “Sedang dirawat Bay. Katanya bapakmu mengalami kecelakaan jatuh dari bis yang dibetulin disitu. Pas lagi ngelas diatapnya bis.” Kata ibunya Bayu. Bayu terdiam dan membayangkan apa yang terjadi dengan ayahnya. Kemudian Bayu menghampiri Hadi adiknya yang terus menangis dan memegang pundaknya. “Kamu jangan nangis Di. Laki-laki sejati pantang menangis. Hapus airmata kamu jangan membuat sedih Bapak dan Emak ya.” Kata Bayu. Adiknya Bayu menghapus airmatanya dan memeluk Bayu. Salah satu dokter yang baru memeriksa ayahnya Bayu keluar dari ruangan tindakan. “Keluarga pasien Rahmat, mana ya?” Katanya. “Saya Bayu anaknya dok. Dan itu Emak saya.” Sahut Bayu. “Iya begini mas Bayu. Kami sedang mencoba sekuat tenaga mengoperasi ayahnya mas. Jadi tinggal menunggu malam ini hasilnya.” “Maaf dok. Saya nanya tapi bukan melebihi takdir Tuhan. Bagaimana kemungkinan kesembuhan akibat luka punggungnya itu?” “Emh, kalau masalah itu susah buat dikatakan. Tapi apabila melihat riwayat jatuhnya ayahnya mas kemungkinan dikursi roda itu hampir 70% kemungkinannya. Ada tulang sumsum belakang yang patah dan hampir tidak mungkin untuk sembuh 100% karena pengaruh usia ayah mas sendiri.” Bayu menundukan kepalanya. Airmatanya deras mengalir membasahi pipinya. Dia sudah tidak malu lagi yang baru saja bicara tentang pantangnya laki-laki sejati menangis. Bayu mendekati ibunya dan berbicara berbisik. Tidak lama kemudian ibunya menangis dalam pelukan Bayu.             “Bay, kok kamu disini?” Tanya seseorang yang tiba-tiba ada disebelahnya.             “Ehh, kamu Rik. Iya Rik ayah saya mengalami kecelakaan dalam pekerjaannya. Dia jatuh dari atap bis punggungnya dulu saat dia lagi mengelas.” Jawab Bayu mengusap matanya.             “Ya ampun Bay, terus bagaimana keadaannya sekarang?” Erik duduk disebelah Bayu setelah mengangguk dan mencium tangan ibunya Bayu.             “Sudah ditangani dokter dengan tindakan operasi. Namun hasilnya tergantung masa krisis lewat besok hari.”             “Aku ikut bersedih Bay. Terus apa yang bisa saya bantu buat kamu?”             “Kalau besok kamu kuliah tolong saja kabari Krisna yah. Terus kamu ngapain juga disini?”             “Ibu aku mengalami sakit perut hebat. Kata dokter sih akibat maag yang sudah lama dideritanya.”             “Aku ikut kasihan juga sama ibu kamu Rik.” Sahut Bayu.             Kemudian keduanya terdiam tenggelam dalam lamunan masing-masing.             Menjelang malam hari ibunya Bayu pulang kerumah dan giliran pertama untuk menjaganya ayahnya adalah Bayu.             Sebelum ibunya berangkat dari rumah sakit Bayu menyerahkan amplop dari pembayaran Krisna. Emaknya merima amplop itu dan heran dengan isinya yang banyak menurut mereka.             “Ini uang apa Bay? Dan dapat darimana?” Tanya ibunya.             “Ini uang Bayu, Mak. Halal, asli tabungan Bayu. Bayu meminjamkannya dulu ke Krisna dan ini pengembaliannya.” Kata Bayu memegang tangan tua ibunya. “Emak jangan kuatir. Bayu bukan rentenir atau membungakan pinjaman. Tapi ini keikhlasan Krisna karena dapat rejeki banyak katanya.”             “Iya Bayu. Syukur kalau kamu tau itu. Uang ini akan Emak simpan untuk biaya hidup kita.”             “Lalu bagaimana dengan biaya rumah sakit ini Mak?”             “Tadi ada dari perusahaan katanya Bapak kamu sudah ada asuransi kecelakaan pekerjaan dan mendapat santunan tapi besarnya Emak tidak tau. Kamu saja nanti yang mengurusnya ya Bay.”             “Iya Mak. Sekarang Emak pulang saja dulu kerumah dan jangan banyak pikiran. Istirahat dan berdoa saja ya Mak.” Bayu memeluk dan mencium kepala ibunya.             Ibunya Bayu memegang wajah anaknya. “Ibu berdoa semoga kamu menjadi anak yang berguna Bay.”             Bayu mengangguk dan menundukan badannya, menyentuh kaki ibunya dan menciumnya setelah berdiri.             Keesokan harinya Erik mengabarkan tentang keadaan Bayu dirumah sakit kepada Krisna. Tentu saja Krisna terkejut mendengarnya. Keadaan Krisna dan Bayu tidaklah jauh berbeda keadaan keluarga dan penghasilannya.             Menjelang siang Krisna sudah berada di rumah sakit yang ditunjukan oleh Erik.             Begitu masuk ke halaman rumah sakit, Krisna melihat Bayu yang sedang duduk dibawah pohon diparkiran rumah sakit. Krisna menghampirinya dan menepuk pundaknya Bayu.             “Bay, saya ikut bersedih.” Ujarnya. Bayu berdiri dan memeluk sahabatnya Krisna. Tanpa malu Bayu menangis diatas pundaknya.             Krisna ikut sedih sambil berpikir juga. Orang segesit dan sejago Bayu bisa menangis juga.             “Sudah Bay, terima takdir ini dengan lapang d**a yah.” Krisna mendorong dan memegang pundak Bayu. Krisna menatap Bayu. “Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana menjaga dan menghidupi keluarga kita. Itu saja.”             Bayu ikut semangat mendengar perkataan sahabatnya.             “Iya Kris. Terimakasih.”             “Terus bagaimana rencananya sekarang Bay? Bagaimana tanggungjawab perusahaan?”             “Untuk biaya rumah sakit dan lainnya sudah aku tandatangani tadi. Semuanya dalam tanggungan asurasi kecelakaan yang dipotong dari penghasilan Bapak setiap bulannya. Tadi juga Bapak mendapatkan uang yang jumlahnya saya tidak tau karena dibawa oleh Emak.” Kata Bayu. “Yang agak berat adalah dalam perjanjian dulu sewaktu mengajukan beasiswa ke perusahaan. Ada pasal yang menyatakan kalau Bapak tidak bisa bekerja lagi harus digantikan oleh saya selama masa waktu beasiswa berakhir. Belum lagi pasal yang mengharuskan saya bekerja diperusahaan minimal 5 tahun.”             Krisna berkerut keningnya.             “Gila itu Bay.” Ujarnya. “Memeras banget.”             “Ya mau apalagi Kris. Jadi mungkin beberapa hari kedepan aku akan mengurus ijin ke kampus untuk pindah ke jam kuliah sore yang berakhir jam 9 malam itu.” Tutur Bayu. “Perusahaan sudah setuju dan Emak juga mengiyakan.”             Krisna terdiam, kemudian dia mengangkat wajahnya.             “Bay, kamu masih ingat waktu ada kejadian didepan kampus?”             “Iya, masih ingat. Kenapa memangnya Kris?”             “Sebenarnya tidak tepat waktunya untuk bicara ini kepada kamu. Tapi melihat kondisi dan keadaan yang mendesak sepertinya saya harus menyampaikannya. Minimal pekerjaan ini bisa menanggulangi kebutuhan kalian.”             “Apa pekerjaan itu Kris? Saya harap bukan yang aneh-aneh. Bukan jualan narkoba kan Kris?”             “Bukanlah Bay, gila apa? Saya nggak jualan yang begituan.”             “Iya jadi apa pekerjaannya?”             Krisna berbisik ditelinga Bayu.             Bayu menunduk dan termenung setelah mendengar apa yang dibisikan Krisna.             “Berilah saya waktu untuk memikirkannya Kris.”             “Tentu Bay. Saya juga tidak mau kamu menyesal akhirnya seperti saya. Kamu adalah sahabat baik saya.”             Hari mendekati sore dan Krisna pamitan untuk pulang. Bayu memeluk lagi sahabatnya dan mengucapkan terimakasih.             Lalu dia duduk kembali setelah Krisna berlalu dari hadapannya.             Hatinya gamang karena belum pernah dia menyakiti orang secara langsung kecuali untuk membela diri. Sedangkan yang dibisikan Krisna adalah pertarungan bebas yang langsung menyakiti fisik orang untuk menghasilkan uang.             Bayu membenamkan kepalanya diantara tangan dan kakinya.                                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD