CHAPTER #2
DUA
Besok harinya Wisnu meminta ijin kepada Rohim untuk pergi ke kampus untuk mendaftarkan menjadi salah seorang mahasiswanya disana. Wisnu akan mengambil jurusan ekonomi sesuai dengan yang dicita-citakannya.
“Memangnya sudah ada uang untuk mendaftar dan ongkosnya mas?” Tanya Rohim
“Saya hanya membawa bekal ini dan uang yang bapak kasih untuk saya.” Ujar Wisnu memperlihatkan gulungan kain dari ayahnya dan uang yang ada diamplop dari Rohim. Wisnu kemudian membuka keduanya dihadapan Rohim dan menghitungnya.
Hati Rohim tambah berkesan dengan kegigihan Wisnu yang memperjuangkan keinginannya.
“Semuanya ada sejuta enam ratus empat puluh ribu pak. Sepertinya cukup untuk daftar dan ongkos lainnya. Dan mudah-mudahan biaya semesternya bisa dicicil.” Kata Wisnu. “Oh iya pak, kalau diijinkan saya akan menulis bapak dan ibu sebagai wali saya juga alamat rumah ini. Boleh kan pak?”
“Tentu boleh mas Wis. Silahkan. Malah bapak dan ibu bangga diakui sebagai wali mas Wisnu.”
“Terimakasih pak. Saya jalan dulu ya pak.” Wisnu mencium tangannya Rohim.
“Catatan angkutan jangan lupa mas!”
“Ada pak. Ini!” Wisnu memperlihatkan secarik kertas.
“Ya sudah. Hati-hati dijalan ya mas.”
Dikampus sebuah perguruan tinggi. Setelah selesai mendaftar Wisnu segera beranjak dari pelataran kampus tempat mendaftarnya.
Tidak sengaja dia berpapasan dimulut gerbang kampusndengan seorang pemuda yang tampaknya anak orang kaya dan terpandang. Dia dikawal oleh dua orang pengawal dalam mobilnya.
Wisnu minggir ketepi jalan karena mobilnya yang besar dan panjang hampir menyerempetnya.
“Awas! Kalau jalan dipinggir wey!”Teriak pengawalnya dari jendela mobil.
Wisnu bingung. Dia sudah dipinggir tapi disuruh kepinggir lagi.
“Aneh memang orang kota.” Gumam Wisnu meneruskan jalan kakinya.
Dua bulan setelah mendaftar di perguruan tinggi Wisnu mulai masuk kuliah setelah di masa perkenalan kampus dilewatinya.
“Hey, apa kabar?” Kata orang itu mengulurkan tangannya. “Saya Kosasih.”
“Ohh, baik. Saya Wisnu. Mahasiswa baru juga kamu Kos?” Tanya Wisnu.
“Iya Wis. Kamu juga kan?”
“Iya. Kamu di jurusan apa Kos? Kalau aku di ekonomi.”
“Sama dong. Aku juga.”
Mereka berdua tertawa. Wisnu menemukan temannya yang pertama di kampus.
Sedang enak ngobrol tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang entah ke siapa memanggilnya.
“Hey anak kampung, sini!” Ujar seorang anak perlente. Tangannya menunjuk kearah mereka berdua. “Iya, elu berdua.” Katanya tambah menusuk telinga yang mendengarnya.
Wisnu dan Kosasih karena tidak mengerti siapa yang dipanggil membiarkan begitu saja.
Giliran yang memanggilnya yang malah menjadi naik darah karena merasa diacuhkan.
“Ron, bawa mereka kesini.” Ujarnya menyuruh seseorang.
“Baik ‘bos’.”
Tanpa menjawab orang yang dipanggil ‘Ron’ langsung mendatangi Wisnu dan Kosasih.
“Lu nggak denger yah? Budek apa?” Katanya. Tangannya langsung menarik tangan Wisnu. Belum dia mengeluarkan tenaga buat menarik Wisnu, mukanya sudah mendongak karena justru tangannya dia yang tertarik oleh Wisnu.
Wisnu dan Kosasih tetap saja diam.
“Kamu ini nggak sopan sama orang bang. Kalau manggil itu pake bahasa yang halus dan benar.” Kata Wisnu mulai menelikung tangan yang dipanggil ‘Ron’.
“Aduhh, sakit mas. Lepasin mas.” Ujarnya sambil meringis menahan sakit sementara tangannya sudah melingkar dilehernya sendiri.
Tidak kelihatan bagaimana kaki Wisnu menendang orang itu sampai mental kedepan.
Wisnu berdiri bersamaan dengan Kosasih. Lalu berjalan menuju kearah yang tadi teriak-teriak memanggilnya ‘orang kampung’.
Orang itu mundur beberapa langkah kebelakang. Begitu juga dua orang yang ada disamping kiri dan kanannya. Sedangkan yang seorang yang baru saja kena tendang pantatnya oleh Wisnu masih berusaha berdiri.
“Gua orang kampung. Tapi gua punya nama. Nama gua Wisnu dan ini teman gua Kosasih. Lu manggil kita tadi, mau apa?” Kata Wisnu berdiri didepan orang itu.
“Hey Wisnu, ini bos gua. Kalau ngomong yang bener!” Kata yang disebelah kiri ‘bos’.
Belum mulutnya selesai bicara tiba-tiba dia sudah memegang perutnya dan terduduk di lantai kampus.
Semua mahasiswa yang kebetulan melihat kejadian itu pada tertawa.
‘Bos’ yang masih bingung melihat anak buahnya terduduk menjadi berang. Tanpa banyak bicara dia langsung menyerang Wisnu dengan menggunakan kakinya untuk menendang. Tapi dengan sigap Wisnu menangkap kaki ‘bos’ yang masih diudara dengan tangannya dan memegangnya. Lalu diangkat pelan-pelan keatas sampai kepala ‘bos’ itu ada dibawahnya.
Wisnu menggerakan kakinya dan berhenti 2 senti didepan muka ‘bos’.
Semua orang menjerit melihatnya namun semua menjadi tertawa sebab melihat ‘bos’ tidak apa-apa.
Anak buahnya yang seorang lagi tidak basa-basi langsung lari menjauh dari situ.
Wisnu menurunkan kaki ‘bos’ sedikit agak dilemparkan sampai terdengar ada bunyi gedebuk.
“Nah, sekarang lu siapa pake manggil-manggil gua?” tanya Wisnu yang gaya bicaranya sudah meniru anak kota. Padahal dalam hatinya ingin tertawa meniru cara mereka bicara.
“Gua Markus.” Ujarnya meringis kesakitan karena ternyata kakinya membentur lantai kampus.
“Oke. Sekarang kamu Markus mau apa sebenarnya?” Kata Wisnu berjalan dan berjongkok didepan Markus. Tangannya memegang kaki Markus kemudian tangannya Wisnu memijit kaki Markus dan menariknya tiba-tiba.
Markus berteriak karena kaget saja. Setelah itu dia menggerak-gerakan kakinya yang ternyata sudah tidak sakit lagi.
Lalu Markus berdiri dan berjalan menjauh dari depan Wisnu dan Kosasih tanpa komentar.
Anak buahnya yang jatuh karena ditendang Wisnu mengikuti dari belakangnya bersama seorang lagi yang kesakitan perutnya.
Semua orang berteriak mencemooh Markus dan kawannya.
“Memang orang itu sering membuat orang kesal dan suka malak gitu Wis. Kalau nggak ada atau nggak ngasih suka ringan tangan juga. Mereka itu main gaplok saja terutama anak buahnya.” Kosasih menerangkan soal Markus kepada Kosasih.
“Memangnya kamu tau darimana Kos?”
“Ya dari orang-orang lah Wis. Dan satu lagi kita harus hati-hati juga karena mereka suka dendam.”
“Iya Kos.”
“Terus mereka itu suka dapat perlindungan dari orang-orang luar yang kerjaannya suka ngisap itu tuh Wis.” Kosasih membuat gerakan disekitar mulutnya seperti orang merokok.
“Maksudnya merokok Kos?”
“Ehh, bukan merokok saja. Tapi menjual itu juga.”
“Kamu yakin itu Kos?”
“Iya Wis aku yakin. Soalnya sudah 3 kali aku melihat mereka begitu. Tuh, dibelokan jalan keluar sana.” Kosasih menunjukan arahnya.
“Iya deh saya hati-hati, tapi kamu juga ya Kos.” Ujar Wisnu.
Dari sekian banyak mahasiswa yang melihat kejadian tadi ada seorang setengah baya yang melihatnya juga. Tapi tertutup oleh tembok kampus karena melihatnya dari luar.
Lalu orang itu pergi setelah Wisnu dan Kosasih masuk kedalam kampus.
Wisnu yang sangat waspada akan sekelilingnya sempat melihat sepintas gerakan orang itu. Gerakannya ringan dan luwes seperti sudah terlatih lama.
Seorang pengamanan kampus datang menghampiri Wisnu.
“Mas, tadi yang berantem disini yah?” Tanya dia.
“Bukan beranten pak, hanya salah paham saja. Markus memanggil saya dan teman saya Kosasih dengan panggilan ‘orang kampung’.” Jawab Wisnu.
“Iya memang dia itu biang kerusuhan dikampus ini. Oh iya, mas dipanggil ke Tata Usaha. Ditunggu sama bu Tuti.”
“Iya pak. Terimakasih. Saya kesana sekarang.”
Wisnu melangkah menuju Tata Usaha kampus.
“Bu Tuti yang mana ya bu?” Tanya Wisnu bertanya.
“Saya Tuti. Kamu siapa?”
“Saya Wisnu bu, katanya ibu mencari saya?”
“Oh iya mas Wisnu. Sebenarnya dari tadi tapi tadi kelihatannya sibuk menghajar Markus ya.” Kata Tuti tertawa. “Baru kali ini dia kena pelajaran. Mudah-mudahan tidak berbuat ribut lagi.”
Wisnu tertawa kecil. “Terus ada apa ya bu dengan saya?”
“Ini mas, soal biaya semester mas. Kan dicicil nih. Jadi setiap bulannya harus bayar sejuta seratus agar selama 6 bulan biaya persemesternya selesai.” Kata Tuti menatap Wisnu.
“Iya bu, sebentar.” Lalu Wisnu merogoh ranselnya dan mengeluarkan uang lima ribuan.
Tuti melihat Wisnu sambil tersenyum. “Sini ibu bantu menghitung!” Katanya.
Beberapa saat kemudian mereka selesai menghitung.
“Ini kelebihannya.” Kata Tuti memberikan 6 lembar uang lima ribuan lusuh kepada Wisnu.
Wisnu menerimanya dan menyimpannya kembali di ransel.
“Orangtua kamu dimana mas?” Tanya Tuti. “Silakan duduk dulu. Ibu ingin mendengar keadaan kamu sekarang.”
“Orangtua saya di kampung bu. Di Ciherang Bandung. Jauh sih dari Bandung hampir di kaki gunung. Pekerjaannya serabutan pengurus lahan sawah orang lain. Ayah saya menabung uang itu hampir 2 tahun semenjak saya cerita ingin kuliah di Jakarta sambil bekerja.” Cerita Wisnu sambil menarik nafasnya.
“Terus!” Kata Tuti. “Kamu sudah bekerja mas?”
“Belum bu. Tapi setiap malam saya membantu jualan nasi gorengnya pak Rohim temannya pak Sukmayadi guru olahraga saya di SMA. Disitu juga saya ikut menumpang tidur.” Kata Wisnu menundukan kepalanya.
“Begini mas. Maaf tapinya. Disini ada beasiswa bagi mahasiswa yang mempunyai nilai baik minimal rata-ratanya B. Nanti saya coba ibu masukan kedalam daftar penerima beasiswanya. Tapi ya itu mas Wisnu harus mempunyai nilai B. Pa mas bisa mengusahakan dapat nilai B nya?” Tanya Tuti.
Wajah Wisnu berobah menjadi agak cerah.
“Iya bu. Saya mau itu. Saya akan berusaha untuk mendapatkan nilai B.” Kata Wisnu tersenyum. Tuti pun ikut tersenyum senang. Wisnu menarik tangannya Tuti dan menciumnya.
“Terimakasih bu. Semoga dimudahkan.”
Tuti hanya menepuk bahunya Wisnu.
Karena hari sudah siang dan tidak ada lagi mata kuliah Wisnupun pulang kerumahnya Rohim.
Kebetulan didepan kampusnya sudah menunggu angkutan umum yang ngetem disana jadi Wisnu tinggal naik saja. Angkutan umum itupun tidak menunggu lama karena penumpangnya sudah penuh.
Dari awal Wisnu naik angkutan umum dia sudah melihat sebuah mobil jeep yang parkir agak jauh disebelah kanan kampusnya. Tapi Wisnu tidak merasa curiga sedikitpun.
Tapi setelah angkutan umum ternyata mobil itupun ikut bergerak mulai jalan.
Wisnu pura-pura tidak melihatnya padahal dengan ekor matanya dia sesekali melihat kearah mobil hitam yang mengikuti angkutan umumnya.
Disadari dirinya diikuti Wisnu pun bertindak arif. Dia berhenti disebuah tempat yang agak jauh dari rumah Rohim. Tapi daerah itu ada diwilayah kekuasaan preman Andar yang pernah menjadi lawannya.
Wisnu turun dari angkutan umum dan berhenti di pinggir jalan.
Benar saja mobil jeep itupun ikut berhenti dan dari dalamnya keluar 4 orang berperawakan kekar. Dijari tangannya mereka memakai keling atau brass knuckle, logam sebagai senjata untuk memukul.
Wisnu membaca situasinya dengan cermat. Tapi dia tidak membawa apa-apa. Matanya melirik kekiri dan kanan mencari sesuatu. Tapi tidak menemukan sesuatu untuk pertahanannya.
Salah seorang dari mereka maju dan langsung mengayunkan tangannya untuk menghajar Wisnu. Wisnu tidak bergerak tapi badannya bergoyang seperti meliuknya ular. Tau-tau dagu orang itu mendongak dan jatuh terkena pukulan Wisnu yang disabetkan dari bawah seperti upper cut dalam tinju.
Semua melotot karena dalam segebrakan temannya langsung tumbang.
Sebelum ketiga temannya bergerak entah darimana tiba-tiba melayang dari samping sebuah pemukul baseball ke arah Wisnu.
“Tangkap bang!” Teriaknya.
Wisnu dengan sigap dan cekatan, tanpa melihat dia menangkap pemukul baseball yang melayang kearahnya. Wisnu langsung menyabetkannya ke salah perut salah seorang yang dekat dengannya.
Orang itu langsung terduduk dan mengaduh sambil memegang perutnya. Muka dan keningnya langsung beradu dengan jalanan.
“Hey bang Andar. Makasih bang!” Ujar Wisnu menghampiri Andar yang datang dengan beberapa orang komplit dengan perkakas kayu dan benda tajam lainnya. Tangan Wisnu menyalami Andar dan melambaikannya kepada yang lainnya.
Andar tersenyum.
Wisnu lalu menghampiri dua orang yang tersisa.
“Bagaimana bang, mau diteruskan acara ini?” Tanya Wisnu.
“Sudah, jangan diajak bicara orang kayak begini mah bang. Kita hajar saja dah.” Kata Andar melangkah kedepan. Tapi tidak jadi karena ditahan oleh tangan Wisnu.
“Kami minta maaf bang.” Kata mereka berdua. Mereka membuka keling dan memasukannya kedalam saku celana.
“Oke. Itu lebih baik. Tapi siapa sih yang nyuruh kalian mau menghajar saya?” Tanya Wisnu.
“Bos besar bang. Tapi kami tidak tau namanya. Kami menerima perintah dari telepon saja.”
“Ya sudah. Sekarang kalian bawa teman-teman kalian. Ini pelajaran buat kalian. Baru dengan seorang muridnya bang Andar saja kalian berempat sudah kerepotan. Bagaimana kalau dengan bang Andar?” Wisnu menepuk pundak Andar.
Andarpun bangga dipuji didepan orang-orang. Lalu dia menghampiri dan mengancam mereka.
“Awas, kalau kalian sekali lagi mengganggu teman gua. Lihat saja apa yang akan gua lakuin nanti.” Ujarnya sambil mendorong salah satu dari mereka yang paling kecil. Orang itu jatuh terduduk.
Lalu Wisnu dan teman barunya dari seberang berjalan pulang kearah yang sama. Sedangkan mereka mengangkat teman-teman mereka kedalam mobilnya.
Diperjalanan Wisnu menyalami sekali lagi Andar.
“Terimakasih bang Andar. Kalau abang dan teman-teman lainnya nggak datang. Nggak tau dah nasib saya sekarang.” Ujar Wisnu.
“Iya bang Wisnu. Saya hanya menghargai sikap abang tempo hari. Sesama teman kita harus saling menjaga kan?”
“Iya bang.” Kata Wisnu tertawa.
Setelah berpisah dengan kelompok Andar, Wisnu pulang kerumah Rohim dan langsung ikut membantu mempersiapkan menjual nasi gorengnya Rohim.
“Bagaimana dikampus tadi mas?” Tanya Rohim sambil berbenah barang-barang.
“Baik pak. Malah saya dikasih kesempatan mencicil biaya dan diajukan untuk mendapatkan beasiswa kampus.” Jawab Wisnu.
“Syukurlah mas. Mudah-mudahan berhasil ya.”
“Iya pak. Terimakasih doanya.”
Wisnu kembali mengerjakan tugas rutin di rumahnya Rohim. Wisnu mendorong gerobak nasi gorengnya kedepan jalan.
Saat Wisnu sedang memasang tenda nasi gorengnya, dia melihat orang yang pakaiannya mirip seperti pakaian yang dilihatnya dikampus. Orang itu sedang memperhatikannya dikejauhan. Tapi Wisnu membiarkannya saja. Hanya Wisnu sekarang benar-benar memperhatikannya dan bersikap hati-hati lagi. Dia menandai topi yang dipergunakan orang itu.
Kemudian Wisnu melihat orang itu naik kembali keatas mobil dan berlalu kearah jalan yang berlawanan dengan posisi Wisnu sekarang.
Wisnu mencatat dalam ingatannya nomor mobil orang itu.
“Sudah selsai mas?” Tanya Rohim.
“Sudah pak.”Balas Wisnu. “Saya kerumah dulu mau mandi pak.”
“Iya mas. Mendingan pakai kaos deh, biar agak ademan gitu.”
“Iya pak. Kebetulan beberapa hari lalu saya dikasih bang Andar. Kaos putih.”
“Dikasih Andar? Yang tempo hari mas itu berantem kan?”
“Iya pak. Sekarang dia menjadi teman saya. Bahkan menjaga saya.”
“Syukurlah mas. Akhirnya kampung kita aman dari tawuran. Itu karena jasa mas Wisnu.”
“Ahh, bapak bisa saja. Berkat semualah pak. Karena kitalah yang bisa membuat kampung ini aman.” Kata Wisnu tersenyum. “Saya kedalam dulu pak.”
Rohim mengangguk.
Wisnu melangkah menuju ke rumahnya Rohim untuk mandi. Harapannya seolah terbuka dalam benaknya setelah Tuti menyampaikan apa yang dia bisa lakukan. Tinggal dirinya yang menentukan keberhasilannya.