CHAPTER #3
TIGA
Wisnu sudah bersiap untuk pulang ke rumah karena tidak ada lagi mata kuliah. Kosasih temannya setengah berlari menghampirinya.
“Ada apa Kos?” Tanya Wisnu berdiri dari kursi kuliahnya.
“Gawat Wis. Diluar kampus banyak preman. Mereka mencari kamu. Orangnya tinggi gede dan anak buahnya banyak banget.” Kata Kosasih nafasnya memburu.
“Kamu tau namanya Kos?” Wisnu malah tertawa. Dia tau pasti Andar dan temannya yang datang ke kampus. Kemarin Andar janji akan menjemputnya untuk menunjukan rumah yang akan dikontrak untuk membuat perguruan silat dan karate. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari kampus Wisnu.
“Kalau tidak salah dengar namanya Bandar apa Mandar ya?” Kosasih mencoba mengingatnya.
“Andar kali Kos!” Ujar Wisnu.
“Iya, iya Andar. Tapi kok kamu tau sih Wis?”
“Ya iyalah itukan murid beladiri saya.” Jawab Wisnu kalem.
Kemudian datang beberapa teman laki-laki lainnya yang mencoba menghalangi Wisnu keluar.
“Sudahlah Wis, kamu jangan keluar. Jangan cari masalah. Mereka itu preman nanti kamu bisa dihajarnya habis-habisan.” Ujar teman-temannya.
“Sudah! Jangan khawatir.” Kata Wisnu tetap melanglah keluar ruangan.
Belum juga setengah badan dia keluar dari sebelah kiri Markus sudah meledeknya.
“Biarin saja, kenapa kalian jadi repot nahan-nahan segala. Biarin saja dia kan jago. Siapa tau mati.” Katanya sambil tertawa.
“Halah Kus, Kus. Baru disentil Wisnu dikit saja lu udah hampir koit. Jangan ngomong sembarangan deh ntar ngejoprak lagi kayak dulu.” Semua orang tertawa mendengar ocehan salah seorang temannya.
Markus tidak menjawab. Hatinya panas. Kegarangannya sebagai jagoan sekarang sudah dilecehkan orang-orang karena Wisnu berhasil menjatuhkan martabatnya.
Wisnu yang sudah berjalan keluar kampus dilihat oleh banyak mahasiswa termasuk para dosen yang belum pulang termasuk Tuti yang mengkhawatirkannya.
Begitu keluar dari gerbang kampus. Andar dan anak buahnya langsung berdiri tegak dan membungkuk memberi hormat seperti layaknya murid kepada guru beladirinya.
Wisnu membungkuk juga dan langsung mengadukan bahunya dengan Andar sambil tertawa. Begitu juga dengan anak buah Andar saling menepukan tangannya dengan Wisnu.
Tanpa diperintah semua bertepuk tangan saking gembira melihatnya. Mereka salah perkiraan dikira para preman itu mau menghajar Wisnu.
Markus yang melihatnya semakin parah rasa dendamnya dengan Wisnu.
Wisnu menoleh kepada teman-temannya dan memberikan beberapa selebaran yang isinya akan dibuka sebuah dojo yang tidak jauh dari kampus.
Tuti yang menerima selebaran dari salah seorang mahasiswa membacanya dan tersenyum puas akan kegigihan Wisnu.
Wisnu, Andar dan anak buahnya pun segera berlalu dari depan kampusnya Wisnu.
Semua yang melihat tingkah laku Wisnu termasuk para penjual di lingkungan kampus menjadi bertambah kagum kepada Wisnu dan semua menyapanya.
Dari balik sebuah mobil ada juga yang mengangguk-angguk setuju dengan sikap Wisnu meskipun masih sembunyi-sembunyi.
Sudah 5 semester Wisnu tidak pulang ke kampung tapi setiap bulan bisa mengirim sedikit uang hasil gaji di dojo atau bahkan dari pemberian Rohim atau Andar yang dia kumpulkan.
“Mas Wisnu, ada surat dari kampung tuh di meja.” Kata Rohim begitu Wisnu datang pulang dari dojo nya. “Sepertinya dari adik mas Wisnu siapa tuh, emh, Komalasari yah?”
“Iya Pak, panggilannya Kokom.” Balas Wisnu mengambil suratnya. Kemudian dia menyobek amplopnya dan membaca isinya.
Dalam suratnya Komalasari meminta uang kalau ada untuk kegiatan disekolahnya. Wisnu menghela nafasnya kemudian berbaring sebentar di bale-bale tempat tidurnya.
Hatinya pedih karena saat ini hanya ada paling setengahnya.
Karena sudah menjadi tugas rutinnya, diapun bangkit untuk membereskan dagangan Rohim jualan.
“Kenapa bang Wis?” Andar yang baru datang menghampiri Wisnu yang duduk di bangku jualan nasi goreng. “Kelihatannya sedang suntuk yah. Ada apa bang Wis. Cerita dah!”
“Ehh, bang Andar. Iya bang rada pusing nih kepala.” Jawab Wisnu menggaruk-garuk kepalanya. “Ada surat dari adik saya di kampung.” Wisnu memberikan selembar surat kepada Andar.
Andar membacanya. Tidak lama dia malah tertawa.
Rohim yang melihatnya juga jadi tertawa karena mentertawakan Andar yang tertawa. Soalnya lucu suara tertawa Andar.
“Bang Wisnu ini. Kirain ada apaan bang. Halah.” Ujarnya menepuk-nepuk pundak Wisnu. “Serahin sama Andar ya persoalan ini. Sebentar abang tunggu disini. Jangan kemana-mana. Pak Rohim! Jagain nih saudaranya jangan sampai pergi.” Andar tertawa lagi. Kali ini sambil pergi dari situ entah kemana.
“Kenapa dia mas Wis?”
“Nggak tau pak. Saya juga bingung apa maksudnya.” Balas Wisnu tertawa.
Akhirnya Rohim dan Wisnu tertawa terbahak-bahak setelah saling pandang.
Rohim bangkit dari duduknya karena ada yang membeli nasi gorengnya. Wisnupun mempersiapkan semua bahan yang akan dimasak oleh Rohim.
Sedang membereskan bahan-bahan masak dari seberang ada yang berteriak-teriak.
“Maling! Maling!” Teriaknya.
Seorang ibu-ibu dan seorang anak sedang mengejar seseorang yang larinya kearah jualan nasi goreng Rohim.
Wisnu reflek menganbil sebuah garpu yang ada disebelah kirinya lalu ringan saja dia melemparkan garpu itu kearah orang yang berlari. Jaraknya mungkin masih 10 meteran.
Tiba-tiba orang itu jatuh dan tersungkur didepan orang yang membeli nasi goreng Rohim.
Sebuah garpu menancap di paha maling itu. Orang itu cukup kekar dan berotot. Ditangannya dia memegang sebuah tas perempuan.
“Tangkap bang. Itu malingnya.” Teriak si ibu yang ada dibelakangnya sambil ngos-ngosan karena berlari.
Rupanya maling ini kuat juga. Terbukti dengan mudah mencabut garpu yang menancap dipahanya tanpa kesakitan.
Dengan tangan kanannya dia menyerang orang yang membeli nasi goreng Rohim karena orang itu menghadang dirinya.
Wisnu terkejut. Namun karena melihat gerakan orang itu luwes tapi gesit dia membiarkan tapi bersiap disamping gerobak nasi goreng.
Orang itu tidak berkelit tapi merunduk dan meloncat kearah maling itu dengan dengkul terlebih dulu menyasar kepala maling itu. Akibatnya kepala maling itu seperti dihajar oleh godam. Dia melengak kepalanya kebelakang.
Karena kuat dia tidak terjatuh hanya sedikit oleng. Wisnu terkejut. Dia tau itu adalah jurus Muay Thai salah satu beladiri dan olahraga negeri Muangthai
“Hebat orang ini. Kakinya kuat dan cepat hingga hampir tidak terlihat gerakannya. Siapa ya dia ini?” Bisik hati Wisnu.
Maling itu kemudian melepaskan tas yang dibawanya. Lalu dia mengambil sesuatu dari belakang punggungnya. Sebilah golok tipis sudah berada ditangannya.
Wisnu mendekati orang itu.
“Perlu di bantu mas?” Tanya Wisnu.
“Belum sepertinya mas. Silakan saja selesaikan pesanan saya.” Katanya tersenyum.
Perbuatan Wisnu itu membuat maling semakin garang dam marah besar. Dia merasa seperti diremehkan.
Kemudian maling bergerak menyerang dengan menggerak goloknya kekiri dan kanan.
Wisnu kaget segera memasang kuda-kuda dan menjulurkan tangannya kedepan.
“Giliran mas yah!” Ujar Wisnu.
Pembeli nasi goreng itu tertawa. “Silakan mas?”
Hati orang itu kagum dengan jurus Wisnu. Dia tau itu adalah gerakan silat Cimande yang terkenal, bahkan hampir hilang karena jarang yang menguasainya dengan sempurna.
Maling itu lalu membacokan golok tipisnya kearah Wisnu. Tubuh Wisnu tidak bergerak tapi malah merangsek dan tangan kirinya menempel kepada tangan yang memegang goloknya lalu memutar pergelangan tangannya. Secepat itu pula tangan kanan Wisnu menghantam tangan maling itu dilanjutkan dengan kepretan tangannya kearah wajah maling itu.
Maling itu terjajar kebelakang. Wisnu mengambil goloknya yang terjatuh tadi. Lalu dia menghampiri maling itu.
“Lu mau mampus atau apa sih bang?” Tanya Wisnu.
Maling itu tidak menjawab malahan berusaha lari. Namun lagi-lagi orang yang membeli nasi goreng Rohim melayang dan kali ini sikutnya yang berhasil menghantam kepalanya maling itu dan jatuh pingsan.
Lalu orang itu mengambil tas milik siibu dan memberikannya kembali.
“Ini tasnya bu. Lain kali hati-hati. Coba periksa dulu barangkali ada yang hilang?”
Ibu itu memeriksa isi tasnya namun ternyata tidak ada yang hilang satupun.
“Terimakasih mas-mas semuanya. Barangnya masih utuh.” Ujar ibu itu. Kemudian berlalu dari tempat itu.
Orang itu lalu mendatangi Wisnu yang sedang berdiri membungkus nasi goreng yang sudah selesai dimasak Rohim.
“Saya Bayu.” Katanya mengulurkan tangannya mengajak salaman.
“Oh iya. Saya Wisnu.” Balas Wisnu menjabat tangannya Bayu. “Tinggal dimana mas?”
“Saya di ujung aspal.” Jawab Bayu. “Mas tinggal disini?”
“Iya mas Bay, tapi di jembatan serong. Dibelakang jalan raya ini.”
“Ihh, hebat Cimande mas Wisnu. Saya jadi ingin belajar.”
“Ahh, mas Bayu bisa saja. Itu tidak apa-apanya mas. Masih belajar. Malahan saya lebih sering latihan karate.” Balas Wisnu.
“Jadi mas Wisnu punya dojo? Dimana mas?”
“Deket kampus saya di Blok A.”
“Oke. Kapan-kapan saya datang kesana. Saya pulang dulu ya mas.”
Bayu lalu naik angkutan umum yang kebetulan lewat.
Wisnu lalu mengambil seember air dan menyiramkannya kebadannya maling yang masih belum sadar.
Maling itu akhirnya bangun dan duduk. Kepalanya masih sakit dan berat.
Wisnu datang dan memegang punggung maling itu.
“Siapa nama abang?”
“Juhri mas.” Jawabnya sambil meringis kesakitan.
“tahan ya mas. Saya mau menyembuhkan sakit mas.” Kata Wisnu. Lalu tangannya memegang kepala Juhri dan tangan kanannya mengurut leher belakang kepala Juhri.
Hampir semenit Wisnu mengurut akhirnya melepaskan tangannya.
“Bagaimana bang Juhri?”
“Enakan mas. Berat dan sakit dikepala saya sudah baikan sepertinya.”
“Syukurlah. Nah sekarang makan dulu ini.” Kata Wisnu memberikan nasi goreng yang dibuatnya.
Juhri memandang wajahnya Wisnu. Hatinya menjadi lembek karena kebaikan Wisnu. Tapi karena lapar dia lalu memakannya.
Andar yang baru datang melihat Wisnu sedang duduk bersama Juhri.
“Bang Wis, siapa ni?” Tanya Andar berdiri didepannya Juhri.
Wisnu menceritakan seluruh kejadiannya saat Andar tidak ada disitu.
“Ahh, elu Juhri. Untung saja nggak mampus. Coba tadi ada gua, sudah abis lu.” Andar menjitak kepala gondrong Juhri.
“Sudah bang Andar. Kasihan dia masih sakit kepalanya.” Wisnu melihat Juhri meringis kembali setelah dijitak kepalanya oleh Andar.
“Habis kesel mas Wis.”
“Tadi dari mana bang Andar? Pergi begitu saja sih.” Tanya Wisnu.
“Oh iya. Ini mas yang untuk adik mas Wisnu, Komalasari itu.” Andar memberikan amplop kepada Wisnu.
Wisnu tidak begitu saja menerimanya.
“Ini dari mana bang Andar?”
“Jangan ragu mas Wis. Ini uang sebagian dari perguruan kita. Sisanya dari pinjaman saya keteman-teman di bunderan sana. Ya syukur akhirnya pas dapat untuk adik mas dan ongkos kirimnya.”
Wisnu menerima amplop itu. Ada setetes airmata haru dengan rasa solidaritas Andar.
“Sudahlah mas. Kita kan berteman bahkan lebih dari teman. Kesulitan mas adalah kesulita saya juga. Begitu juga sebaliknya. Yang sabar ya mas Wis.” Ujar Andar merangkul pundak Wisnu.
Juhri yang mendengar dan melihat mereka jadi malu hatinya.
“Abang-abang. Kalau boleh saya ingin ikut dengan abang. Saya juga sedikit punya kebisaan kalau yang gampang dikerjakannya. Boleh ya bang?”
Andar menoleh kepada Wisnu.
“Gimana ni mas Wis?”
“Saya sendiri bang Andar tau kan hanya menumpang di pak Rohim. Itu terserah bang Andar deh. Mungkin bisa diusahakan di dojo barangkali oleh bang Andar?”
Andar terdiam.
“Ya sudah. Gini saja. Lu, Juhri ikut gua di dojo dan bantu sebisa lu aapa saja kerjaan disana. Sambil gua mikir nyariin kerjaan buat lu ya.” Kata Andar menepuk bahu Juhri.
Juhri mukanya menjadi cerah.
“Bener ya bang Andar.” Katanya menciumi tangannya Andar.
Andar terenyuh hatinya. Lalu menarik tangannya.
“Jangan begitu Juhri. Sekarang lu teman gua. Jadi kita bekerja sama-sama ya. Dan besok potong itu rambut. Soalnya perguruan kita ada dilingkungan kampusnya mas Wisnu.”
“Iya bang.” Juhri mengangguk.
“Sudah ya mas Wis. Jadi besok mas bisa kirim itu ke adiknya mas Wis. Saya mau pulang ke perguruan dulu,” Ujar Andar berdiri dan salaman dengan Wisnu.
“Terimakasih bang Andar.” Wisnu mengusap matanya.
Andar menepuk pundak Wisnu sambil tersenyum.
Juhri ikut dibelakang Andar setelah mengucapkan terimakasih pada Wisnu.
Rohim yang melihat semua kejadian dan mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka sangat bangga dengan sikap dan wibawa Wisnu. Bahkan dia merasa untung bersama dengan Wisnu.
“Bagaimana mas?”
“Sudah teratasi pak. Besok saya akan mengirimkannya kekampung.” Jawab Wisnu tersenyum.
Malam semakin larut dan pembelipun sudah mulai jarang. Rohim dan Wisnu segera membereskan gerobak dan barang-barang jualannya.
Diujung sana dekat perempatan masih tampak mobil yang selalu memperhatikan tingkah laku Wisnu. Kali inipun dia bangga dengan wibawa dan kebaikan Wisnu.
Seminggu berlalu. Wisnu mendapat kabar dari adiknya kalau uang sudah diterima dan dibayarkan sesuai dengan kebutuhan yang disampaikannya.
Wisnu tersenyum bahagia.
Hari minggu kebetulan dojo nya ikut libur juga.
Wisnu dan Andar berencana semalam mau jalan-jalan untuk membeli peralatan dojo.
Sesampainya di toko perlengkapan olahraga dan beladiri Wisnu dan Andar memilih beberapa peralatan yang dibutuhkan.
Markus dan kawan-kawannya sedang berada ditoko yang sama. Begitu di melihat Wisnu dan Andar ada disitu markus merencanakan perbuatan jahatnya. Setelah berbisik-bisik, keluar dari toko itu.
Tanpa perasaan curiga apapun Wisnu dan Andar tenang saja berjalan menuju keluar toko karena sudah selesai membeli dan membayarnya.
Wisnu yang menenteng barang yang dibelinya.
Dari sudut matanya yang tajam Wisnu sekilas melihat sebuah gerakan kearahnya. Tanpa menunggu lagi dia bergeser kesamping sedikit dan kaki berpindah sehingga dapat dengan jelas siapa yang akan menyerangnya.
Orang itu memegang sebuah pemukul dari kayu dan sedang berhadapan dengan Wisnu. Orang itu lupa kalau ada Andar dibelakangnya. Andar tersenyum dan mengayunkan tangannya kekepala orang itu. Orang itu jatuh tersungkur dikaki Wisnu.
“Apa-apaan nih orang. Gak satria lu.” Ujar Andar menendang sekali lagi pas dipantatnya.
Orang itu tetap diam karena memang pingsan.
Ada dua orang yang berlari mendekati Wisnu lagi.
“Bang Andar. Kayaknya ni orang-orang suruhan. Buktinya dia hanya menyerang saya saja.” Kata Wisnu. “Maaf bang. Tolong pegang barang-barang ini.”
Andar menerimanya. “Terus saya ngapain mas Wis?”
“Sudah, duduk saja disini.” Kata Wisnu menunjuk tempat duduk untuk istirahat pengunjung.
Wisnu berbalik dan menangkis tangan yang tiba-tiba memukul dari samping kepalanya. Kaki kanannya Wisnu menendang miring yoko geri kekome khas karatenya. Seorang penyerang menggerung karena perutnya. Sedangkan yang mau memukul kepalanya Wisnu menangkisnya dengan soto ude uke dari balik telinganya dan menendang orang itu menggunakan mae geri atau tendangan lurus kedepan.
Kedua orang itu langsung terpental dan memegang perutnya lari menjauh dari situ.
Wisnu menarik nafas untuk mengembalikan kekuatannya.
Andar acuh saja bahkan terus makan gorengan yang dibelinya waktu Wisnu sibuk mengatasi dua orang itu. Sedangkan orang yang pingsan dibiarkan begitu saja oleh Andar.
Setelah diguyur air dingin oleh Andar orang itu bangun.
“Sebentar mas jangan lari. Masih pusing kan?” Tanya Wisnu disebelahnya. Orang itu mengangguk. “Saya mau nanya ya mas, dan tolong jawab dengan jujur. Siapa yang menyuruh menyerang saya dan bang Andar?” Tanya Wisnu.
“Markus bang. Dia menyuruh kami menghajar bang Wisnu dan abang yang ini.” Ujarnya.
“Oh Markus. Ya sudah. Sekarang mas pergi saja dan bilang hati-hati di kampus jangan sampai ketemu saya. Sebab kalau ketemu saya akan saya bengkokan lehernya.” Ujar Wisnu tersenyum.
Orang itu bangkit dan berlari dari tempat itu.
Wisnu dan Andar kembali duduk dikursi dan meneruskan makan gorengan seolah tidak ada apa-apa.