CHAPTER #4
EMPAT
Hari itu adalah hari Wisnu mengajar murid-murid karatenya di dojo. Para muridnya yang kebanyakan anak SMA atau SMP sudah pada berkumpul dan semuanya menggunakan baju latihan. Semuanya berkelompok sesuai dengan warna sabuk mereka.
“Mana yang namanya Wisnu?” Tanya seseorang yang memakai baju pangsi persilatan yang berwarna hitam.
Andar yang menjadi pengurus sekaligus pembantu pelatih datang menghampiri orang itu.
“Elu yang namanya Wisnu?”
“Bukan bang. Gua Andar. Ada apa ya dengan bang Wisnu? Dan siapa ya nama abang ini” Kata Andar berlaku sopan karena memang itu diajarkan oleh Wisnu.
“Gua Mahfud, pengurus persilatan Merak. Mau nanya nih. Apa lu sudah minta ijin untuk mendirikan perguruan disini?”
“Kalau ke yang berwajib sudah bang. Ke pengurus lingkungan juga sudah. Sudah semuanya bang Mahfud.”
“Kok ke temat gua belum? Lu tau pada aturan perguruan. Kalau mendirikan perguruan silat harus minta ijin dan restu dulu pada perguruan lain yang sudah ada. Gitu aturannya. Nah ini sama sekali belum ngomong sama gua.” Ujarnya sambil mondar mandir.
Dibelakang Mahfud ada 10 orang yang memakai seragam pangsi juga.
“Ini perguruan karate bang, bukannya silat.” Wisnu masuk dan membungkukan badannya kepada Mahfud.
Dengan sombongnya Mahfud hanya menganggukan kepalanya saja.
“Ohh, karate. Gua pikir silat juga. Tapi tetep aja kan perguruan. Minta ijinlah sama kita.” Ujarnya tidak mau kalah bicara.
“Begitu ya bang. Tapi sepengetahuan saya. Seharusnya malahan perguruan silat yang satu saling mendukung perguruan silat lainnya. Silaturahim istilahnya kan bang?”
“Ngerti juga lu. Siapa nama lu?”
“Saya Wisnu bang. Dan ini bang Andar teman dekat saya yang membantu berdirinya ini dojo karate.”
“Wisnu, kamu juga belajar silat?”
“Iya bang Mahfud. Saya gaya klasik Cimande.” Ujar Wisnu.
“Wah hebat dong. Bisa karate, bisa silat juga. Gua jadi ingin menjajal kebiasaan lu Wis.” Kata Mahfud semakin sombong.
“Bang Mahfud. Tidak baik kita saling mencoba. Biarlah saya mengajar teman-teman ini belajar karate. Gimana bang?”
“Gini saja Wis. Kalau lu bisa ngejatuhin gua dalam 3 gerakan, gua dan anak-anak tidak akan ganggu lu buka perguruan karate disini. Tapi kalau lu kalah, lu musti berhentiin nih perguruan. Setuju nggak?”
Wisnu terdiam dan berpikir.
Tiba-tiba semua murid karatenya yang ada disitu semua berdiri tegak dan menyilangkan tangannya dibawah perut.
“Kami setuju sensei. Tunjukan kehormatan.” Teriak mereka berbarengan.
Wisnu membalikan badannya dan menghormat kepada mereka. Mereka membalas juga hal yang sama.
“Baik saya ikuti kemauan kalian, juga kemauan bang Mahfud. Tapi ingat! Ini hanya silaturahim. Siapapun yang menang harus dihargai, siapapun yang kalah jangan dendam dan tetap menghormati keputusan. Apa kalian berjanji?” Teriak Wisnu.
“Janji sensei.”
Wisnu kemudian membuka baju latihan karatenya dan meminta Andar untuk membawa baju pangsinya yang ada di situ.
Wisnu sekarang memakai baju pangsi yang dibawa oleh Andar.
“Kenapa lu ganti baju jadi baju silat Wis?” Tanya Mahfud heran.
“Abang bilang perguruan silat harus meminta ijin. Kalau ditanya kenapa saya ganti baju karena saya juga orang persilatan. Abang lihat saya memakai baju pangsi ini.”
Mahfud memperhatikan baju khas yang dipakai oleh Wisnu.
“Baik. Gua kenal baju lu khas selatan. Silakan dimulai.”
“Baik bang. Saya menghargai abang lebih dulu yang memelihara seni silat disini. Jadi silakan abang mulai.” Wisnu merapatkan dua telapak tangannya didadanya dan mengangguk.
Wisnu berdiri tegak dan melangkahkan kakinya kedepan serta menyodorkan tangannya dengan gerakan silat khas Cimandenya.
Mahfud agak kaget. Begitu ringannya badan dan tangannya Wisnu bergerak.
Secepat kilat Mahfud menempelkan tangannya ke tanga Wisnu yang menjulur kedepan.
Begitu bersentuhan tangannya Mahfud sudah berhasil menangkap tangannya Wisnu dan menariknya kedepan untuk menggedor dadanya Wisnu yang terlihat kosong. Wisnu mengikuti tarikan tangannya Mahfud dengan cara mendoyongkan badannya kesamping dan sigap jemari tangannya berobah jadi menangkap pergelangan tangan Mahfud.
Mahfud berusaha untuk melepaskan tangannya dengan jalan menarik dan menyikutkan sikunya kemuka Wisnu. Muka Wisnu hanya bergerak kesamping tapi tangan kanannya melesat dan mengenai tulang iga Mahfud yang sedang berusaha menyikut muka Wisnu.
Badan Mahfud sempoyongan dan hampir jatuh.
“Satu.” Teriak Andar.
Mahfud kembali melakukan serangan tendangan lurus gaya silat. Yang jadi sasaran adalah ulu hatinya Wisnu.
Wisnu tidak bergerak. Begitu kakinya Mahfud mau mencapai ulu hatinya, badan Wisnu berkelit kekanan dan memasukan kakinya kearah samping paha Mahfud sambil badannya bergeser kembali kearah semula.
Tangan kirinya Wisnu meninju lurus kearah wajahnya Mahfud dan kena. Karena kaget dan wajahnya terdorong kearah kanan tepat kedepannya Wisnu. Tidak dibiarkan begitu saja oleh Wisnu dia mengayunkan sabetan tangan kanannya dan mengenai kening Mahfud.
Tenaga Wisnu tidak dipergunakan seluruhnya. Wisnu hanya menggunakan seperempat kekuatannya.
Akibatnya cukup membuat semua kaget karena Mahfud harus terjatuh.
“Dua.” Teriak Andar.
Mahfud berdiri dan memasang kuda-kuda kembali. Badannya tegak lurus dan tangannya disamping badannya dengan keras.
“Jurus alif.” Bisik hati Wisnu. Dia mengenali jurus itu dari gurunya di kampung. Untuk melayaninya dia harus menggunakan jurus andalan lainnya.
Wisnu memasang kuda-kuda silang. Kakinya maju selangkah dan kedepan agak merunduk. Kemuadian tangan kanannya diangkat keatas sedangkan tangan kirinya mengepal diatas perutnya.
Tiba-tiba Mahfud berhenti melancarkan serangannya. Mendadak dia berdiri tegak dan menganggukan kepalanya.
Wisnupun menarik kembali jurusnya dan berdiri tegak juga mengikuti cara Mahfud.
“Cukup Wis. Gua ngakuin kebisaan lu. Hebat lu udah nguasai jurus Lam.”
“Habisnya abang ngeluarin jurus Alif sih.” Ujar Wisnu tersenyum.
Mahfud menghampiri Wisnu dan langsung memeluknya.
“Kita sealiran rupanya Wis. Kita satu benang merah.”
“Iya bang. Maafin saya ya.”
“Gua juga Wis. Sekarang gua gak bakalan ganggu perguruan lu lagi.” Ujar Mahfud menepuk pundak Wisnu. “Permisi semuanya.”
Murid-murid Wisna berdiri dan menghormat pada Mahfud sambil berteriak.
“Terimakasih Sensei!.” Mereka menyilangkan tangannya didepan perut mereka.
Mahfud mengangguk dan membungkukan badannya.
Wisnu mengantarkan Mahfud dan rekannya sampai didepan rumah perguruannya.
Andar tertawa bangga setelah Wisnu kembali ke ruangan dan memberikan kembali baju latihan karatenya.
Jam 9 malam perguruannya sudah ditutup. Wisnu pamit pulang untuk membantu Rohim membereskan dagangannya.
“Wis, dicari bu Tuti tuh. Dari pagi nanyain terus.” Kata Kosasih yang berjalan disampingnya Wisnu.
Wisnu yang pagi itu baru saja tiba di kampus langsung dihampiri Kosasih.
“Ada apa katanya Kos?”
“Nggak tau mau ngapain. DIa tidak bilang apa-apa sih Wis.”
“Kalau Markus lihat nggak Kos?”
“Belum lihat juga saya Wis. Memangnya ada apa kok tumben nyari Markus?”
“Nggak apa-apa hanya nanya saja.”
Wisnu kembali berjalan bersama Kosasih menuju Tata Usaha kampus untuk menemui bu Tuti.
“Pagi bu! Kata Kosasih ibu mencari saya?” Sapa Wisnu setelah bertemu Tuti.
“Ehh Wisnu. Iya Wis tadi pagi. Ka,u ada waktu? Ibu ingin bicara sebentar.”
“Iya bu ada apa?” Wisnu duduk di kursi didepan meja kerjanya Tuti.
“Begini mas Wisnu. Sejak ada kejadian tempo hari didepan kampus, kemudian orang-orang tau kalau mas Wisnu mendirikan perguruan karate dekat kampus. Rektorat berinisiatif katanya ingin membentuk semacam pusat latihan karate mahasiswa di kampus ini. Nah, menurut mas Wisnu bagaimana?”
“Ya baguslah bu. Saya mendukung banget usulan rektorat. Hanya dimana dan siapa ya gurunya. Saya juga ingin ikut latihan.” Balas Wisnu.
“Gimana sih mas Wisnu ini malah nanya lagi? Kan yang dimaksud rektorat itu mas Wisnu yang menyelenggarakannya. Soal tempat baru kampus yang mikirin. Begitu mas.”
“Loh kok jadi saya yang menyelenggarakannya?”
“Mas Wisnu. Rektorat meminta kepada ibu untuk menyampaikan permintaan agar mas Wisnu mau menjadi pelatih karatenya. Itu maksud ibu. Mas Wisnu bersedia nggak?”
“Ohh, kirain apaan.” Ujar Wisnu. “Ya kalau kampus percaya sih boleh saja bu. Saya bersedia.”
“Nah gitu dong mas. Kalau tempatnya sudah dipilih di gedung serbaguna mahasiswa. Tinggal waktunya saja yang harus diatur. Mas Wisnu ini di beladiri karate sudah sabuk apa?”
“Kalau karate sudah sabuk hitam Dan 2 bu. Kalau di silat saya pelatih. Masih satu tingkat dibawah pendekar silat.”
“Bagus itu mas Wis. Cocok sudah. Jadi kapan kita mulai membahas ini? Biar ibu akan sampaikan pada rektorat.” Tanya Tuti.
“Kapan ya? Bagaimana kalau dua hari lagi bu?”
“Kelamaan itu mas. Bagaimana kalau besok siang saja sekalian kita lihat ruang serbaguna. Bagaimana, setuju?”
“Baik bu. Saya ikut ibu saja.”
“Iya mas Wis. Sekalian kita membicarakan honornya nanti.” Kata Tuti tertawa. “Lumayan buat bayar uang semesteran. Ibu juga ada rencana nanti untuk kamu. Biar nggak pusing lagi mikir biaya kuliah.”
Wisnu tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Iya bu. Mudah-mudahan saja.”
Wisnu pamit ke ruangan kuliah karena bel sudah berbunyi tanda dimulainya perkuliahan.
Sorenya seperti biasa Wisnu menuju dojonya. Hari ini dia merasa bahagia karena ada tawaran itu.
“Mas Wisnu baik-baik saja kan mas?” Tanya Andar sementara Juhri membawa minuman dan meletakannya didepan Wisnu.
“Iya bang Andar. Dari tadi saya lihat mas Wis ini tersenyum terus dari luar sampai sini.” Kata Juhri duduk disebelahnya Andar.
“Iya abang-abang. Kita akan tambah sibuk kedepannya nih.” Kata Wisnu mengambil gelas minum dari Juhri. “Makasih bang Juhri.”
“Waduhh, itu rupanya ya mas Wisnu senyum-senyum terus.” Andar menjawab. “Maksudnya apaan tuh mas?”
“Begini abang-abang semua. Saya tadi pagi dipanggil oleh rektorat untuk membantu kampus menyelenggaraakan latihan beladiri dan mereka menunjuk saya jadi pelaksananya.” Kata Wisnu. “Makanya abang semua akan bertambah sibuk kan?”
Andar dan Juhri tertawa dan saling berangkulan karena gembira.
“Syukurlah mas Wis. Itu rejeki besar buat kita.” Ujar Andar menepuk pundak Wisnu. “Ka[an katanya dimulai?”
“Belum tau bang. Hanya besok saya diajak membicarakannya di kampus.”
“Iya nas. Semoga saja lancar.”
“Iya bang. Jadi mulai besok abang-abang juga harus rapih, ganteng dan gagah. Potong rambut. Persiapkan baju latihan buat abang berdua. Kita akan bersikap profesional.” Ujar Wisnu tersenyum.
“Iya mas.” Jawab mereka.
“Bagaimana semuanya sudah siap di ruang latihan?”
“Sudah mas. Hari ini malah ada yang daftar lagi. Mereka anak SMP 4 orang. Sepertinya sih berteman dekat.”
“Baguslah bang Andar. Laki-laki?”
“Bukan mas, perempuan.” Jawab Andar. “Sepertinya kalau mereka merasa enak berlatih disini mungkin akan mengajak teman-temannya lagi.”
“Baik kalau begitu saya akan ganti baju dulu.” Wisnu beranjak dari duduknya menuju ruang ganti bajunya.
Tidak lama kemudian Wisnu sudah mulai mengajar gerakan-gerakan karatenya dan sekaligus menerangkan fungsi jurus dengan mempraktekannya langsung.
Seperti biasa Wisnu pagi-pagi sudah berada dikampus. Apalagi hari ini ada janji dengan Tuti untuk membicarakan perihal latihan beladiri di kampus.
“Pagi bu.” Sapa Wisnu.
“Pagi mas Wis. Bagaimana sudah siap untuk melihat gedung itu?”
“Iya bu, boleh.”
“Oh iya. Kemarin rektorat sudah setuju dengan konsep ibu yang terkait dengan rencana latihan beladiri ini. Nih, coba mas Wisnu baca.” Ujar Tuti menyerahkan dua lembar kertas.
Wisnu membacanya. Kemudian tertawa.
“Kenapa mas?”
“Ibu ini pintar yah mengangkat nama saya.”
Tuti tertawa.
“Iya mas. Ibu harap juga ada timbal baliknya dengan capenya mas Wisnu dikampus ini. Jadi ya ibu mencantumkan honorariumnya juga.”
“Iya bu terimakasih. Hanya saya suka dengan usulan pembebasan uang semester sih.”
“Itu juga dong. Hitung-hitung meringankan beban mas.”
“Iya bu. Mungkin honornya akan saya pergunakan untuk dua asisten saya nantinya. Ada dua orang yang akan membantu saya disini apabila jadi.”
“Harus jadi dong mas. Biar nanti meskipun mas Wisnu sudah lulus dari sini tapi masih tetap melatih disini terus.” Balas Tuti bersemangat.
“Iya bu. Mudah-mudahan rencana baik ibu terlaksana.”
“Mudah-mudahan mas. Yuk ah, kita mulai saja.” Ajak Tuti.
Wisnu dan Tuti berdua berjalan menuju ke gedung serbaguna. Waktu menuju ke gedung Kosasih menghampirinya.
“Wis, diluar ada dua orang yang mencari kamu. Orangnya yang dulu datang itu loh Wis.”
“Oh itu bang Andar sama bang Juhri.” Jawab Wisnu. “Bisa mereka masuk bu?”
“Iya mas. Suruh saja mereka masuk.” Jawab Tuti. “Itu kan yang akan menjadi asisten mas Wisnu?”
“Iya bu.”
Kosasih kembali keluar dan membawa Andar dan Juhri untuk ikut melihat tempat latihan.
Andar dan Juhri tampak rapih dan gagah hari ini. Mereka berpakaian rapih dan bersih.
“Siapa mereka itu mas?” Tanya Tuti.
“Oh yang baju biru itu bang Andar bu. Preman yang sudah insyaf. Kemudian yang baju putih bang Juhri. Maling yang sudah insyaf pula.”
“hebat kamu itu mas Wis. Bisa membawa orang kejalan yang lebih baik.” Kata Tuti menepuk pundak Wisnu.
Wisnu tersenyum.
Mereka berempat memperhatikan dan memilih kemungkinan lokasi untuk latihan beladiri di gedung serbaguna itu.
“Waduh, pejabat dari kampung lagi ninjau nih!” Ada teriakan dari tempat duduk dipinggir gedung.
Wisnu dan Tuti menoleh kearah teriakan itu.
Markus dan beberapa orang temannya sedang tertawa-tawa sambil meledek Wisnu.
Disebelah sisi lain ada sekelompok mahasiswa lain juga sedang duduk mengerjakan kegiatan mereka.
Tuti menghampiri mereka.
“Maksud omongan kalian tadi apa Markus?”
“Nggak ada apa-apa kok bu. Saya hanya bercanda saja.” Ujar Markus acuh tak acuh menjawab pertanyaan Tuti.
Andar dan Juhri bergerak maju kedepan. Tapi dihalangin oleh Wisnu.
Kosasih yang sejak tadi berjalan dibelakang menghampiri Wisnu.
“Kos, kamu suruh semua mahasiswa yang sudah datang untuk kegedung serbaguna sekarang.” Bisik Wisnu.
“Oke Wis.”
“Jadi ini calon guru beladiri di kampus ini? Kalau gua sih ogah diajarin anak kampung. Mana tau dia karate atau silat? Kalau kambing atau kerbau, nah itu baru gua percaya.” Ujar Markus tambah meledek Wisnu.
Semua mahasiswa yang diberi tau olrh Kosasih sudah mulai berdatangan ke gedung.
Wisnu lalu memberi tanda kepada Andar dan Juhri untuk minggir dan menjaga Tuti. Keduanya mengangguk. Lalu membawa Tuti kepinggir.
Wisnu menghampiri Markus dan kawan-kawannya. Ada enam orang kawannya masing-masing membawa pemukul base ball. Jadi memang sudah dipersiapkan segalanya.
“Markus, kalau kamu yakin masih kuat jangan lewat orang lain dong. Itu tidak jantan kalau menurut gua. Nah kalau kamu masih penasaran dengan saya. Silakan maju sekarang.” Ujar Wisnu.
“Sialan lu anak kampung. Lu hadapin dulu saja orang-orang gua.” Markus memberi tanda untuk maju kepada orang-orangnya.
Dua orang maju mendekati Wisnu dan langsung memukulkan pemukul baseballnya kebadan Wisnu. Sebelum dua orang itu bergerak mendekati Wisnu, badan Wisnu tiba-tiba sudah melayang kesalah satunya dan kakinya melakukan tendangan lurus menendang perutnya. Orang itu terjajar kebelakang dan jatuh tidak bangun lagi.
Yang seorang belum hilang kagetnya melihat temannya tumbang tau-tau sebuah pukulan samping karate menghajar samping kepalanya. Orang itu tanpa berteriak sudah jatuh dilantai dan pingsan mengikuti temannya.
“Nah itu yang namanya karate berikut kegunaannya Markus. Jadi sekarang kalian semua maju biar cepat selesai.” Kata Wisnu dan langsung memasang kuda-kuda karatenya.
Berlima dengan Markus semuanya maju menyerang Wisnu dengan menggunakan pemukul baseballnya. Wisnu diam tidak bergerak. Tiba-tiba jurusnya berubah menggunakan jurus silat Cimandenya.
Tangannya menjulur kedepan. Saat salah satu pemukul itu akan sampai dibadannya. Tiba-tiba sudah berpindah tangan ke tangan Wisnu. Dengan gerakan cepat Wisnu mematahkan pemukul itu dengan dengkulnya.
Sementara dua orang yang datang berbarengan tiba-tiba menggerung kesakitan karena tendangan putar Wisnu berhasil menghajar telak muka mereka.
Wisnu berdiri tegak lagi. “Tinggal dua lagi. Maju!” Katanya sambil memasang kuda-kuda karatenya.
Anak buahnya Markus yang tinggal seorang maju. Kelihatannya dia juga bisa beladiri karate. Orang itu sambil berteriak menyerang Wisnu dengan pukulan lurus karatenya. Wisnu tidak bergeming dari kuda-kudanya. Dengan gerakan menangkis dari samping tangan orang itu berhasil ditangkis Wisnu dan tangan Wisnu diteruskan dengan memukul wajahnya.
Sebelum orang itu sadar dari kejadian yang menimpanya kaki Wisnu sudah bersarang didadanya. Orang itu jatuh mengerang kesakitan.
Tinggal Markus. Lalu dia berlari kearah Wisnu sambil membabatkan pemukul baseballnya. Wisnu tidak bergerak melainkan hanya bergeser sedikit dan memukul tangannya Markus yang memegang pemukul baseball. Pemukul itu terlempar. Hanya sepersekian detik dua pukulan Wisnu menghajar d**a dan perutnya Markus. Markus limbung dan jatuh terduduk sambil mengerang kesakitan.