2. “What’s your name, again?” (2)

1578 Words
Chapter 2 : “What’s your name, again?” (2) ****** ANYWAY, mereka sudah tour di rumahnya Lucian tadi sore. Ternyata, rumah Lucian adalah mansion yang sangat besar. Jujur, saat baru masuk ke wilayah mansion tersebut—jarak dari gate utama hingga ke mansion adalah sekitar satu kilometer—mereka sudah sibuk menganga karena tidak pernah melihat mansion sebesar itu secara langsung. Rasanya, seperti di film-film. Jadi, begini: sebelum masuk ke area mansion, mereka disambut oleh sebuah gerbang tinggi yang dijaga oleh dua bangunan pos di sebelah kanan dan kirinya. Ketika para penjaga itu memastikan bahwa yang datang adalah Tuan Muda Lucian, mereka pun membukakan gerbang besar itu dan akhirnya mobil yang Lucian kendarai dipersilakan masuk ke dalam area mansion. Tak lupa, para penjaga tersebut berbaris untuk memberi hormat kepada Lucian tatkala Lucian menjalankan mobilnya meninggalkan gerbang. Sesungguhnya, di dalam gerbang itu terdapat sebuah lahan sejauh hampir satu kilometer. Di lahan tersebut, baik sebelah kanan maupun sebelah kiri, tersusun pohon-pohon cemara yang rindang. Jika ada spasi yang lebar di antara pohon-pohon cemara tersebut, biasanya akan ada plang penanda mewah yang memberitahukan area apakah spasi tersebut. Di sepanjang jalan, Selin melihat ada lapangan futsal, lapangan golf, kolam renang, lapangan tenis, lapangan voli, dan lapangan berkuda. Ada juga sebuah taman bunga yang luas; di tengah taman bunga itu terdapat tugu berbentuk singa. Taman itu memiliki jalur untuk jogging. Sepertinya, Lucian dan ayahnya hobi berolahraga. Setelah melewati jarak hampir satu kilometer, barulah mereka semua sampai di depan mega mansion-nya Keluarga Zacharias. Di depan mansion tersebut ada pagar lagi dan halamannya sangat luas. Di balik pagar tersebut ada sebuah jalan lurus yang lebar dan panjang; jalan itu mengarah tepat ke depan tangga berwarna putih yang digunakan untuk naik ke pintu utama mansion. Di sebelah kanan dan kiri jalan itu, ada lahan berumput yang dihias dan dibentuk dengan cantik seolah-olah dilukis. Berjajar juga beberapa patung di sekitar lahan berumput itu; patung-patung tersebut agaknya merupakan tiang-tiang lampu. Selin dan teman-temannya menganga lagi ketika melihat mansion itu. Desainnya mirip seperti rumah-rumah atau istana para bangsawan Eropa di masa lalu. Bedanya, yang ini terlihat jauh lebih modern. Rasanya, seperti masuk ke sebuah istana yang sangat megah dan dimiliki oleh keluarga kerajaan. Warna mansion itu dominan krem dan atapnya berwarna hitam kebiruan; bangunan terdepan mansion itu terdiri dari tiga bangunan yang terlihat seakan-akan terpisah dengan susunan kiri-tengah-kanan, tetapi sesungguhnya bagian belakangnya tergabung. Ada pula bangunan lain yang berdiri di belakang tiga bangunan itu. Ada tiang-tiang megah yang tersusun di seluruh bagian mansion itu dan setiap dindingnya juga memiliki relief. Ketika Selin dan teman-temannya turun dari mobil sport Lucian dan mulai naik tangga, mereka tak henti-hentinya melihat ke sekeliling, sampai melihat ke atap-atapnya. Itu menakjubkan. Mereka berasa kecil sekali di daerah mansion itu. Belum lagi pintu rumah itu yang amat besar dan megah. Pintunya berdaun dua; di pintu itu ada relief singa yang di bawahnya bertuliskan ‘Zacharias’. Relief itu berwarna keemasan dan bercahaya. Lampu-lampu berwarna warm light yang bertebaran di plafon dan yang dipasang di tiang-tiang lampu itu membuat istananya jadi terlihat lebih eye-catching meski sebenarnya cahaya lampunya tidak terlalu kentara karena Selin dan teman-temannya sampai di mansion itu pada sore hari. Matahari masih bersinar terang, layaknya hati Selin dan teman-temannya pada saat melihat mansion itu. Semuanya menakjubkan. Ternyata, ada orang di sekeliling Selin yang memiliki mega mansion seperti ini. Maxi sampai melompat-lompat kegirangan; dia teriak-teriak sendiri. Kapan lagi punya pengalaman masuk ke mansion megah milik billionaire seperti ini? Setelah masuk nanti, mereka harus tour! Nah, sekarang, mari kita kembali ke topik awal, di mana Lucian menyuruh Selin untuk mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu lantai dua. Jadi, karena sudah tour di rumahnya Lucian, Selin sudah tahu letak kamar tamu yang ada di lantai dua itu. Letaknya adalah tepat di atas kamar Lucian dan di samping kamar ayah Lucian. Kamar ayah Lucian sangat mudah untuk dikenali karena kamar itu adalah kamar utama yang terlihat paling besar jika diukur panjangnya dari koridor. Pintunya juga sangat berbeda dari pintu-pintu kamar yang lain. Dalam satu jentikan jari, setiap orang yang melihatnya pasti akan tahu bahwa itu adalah kamar pemilik mansion ini. Selin mengangguk. “Oh, iya. Nanti aku mandi di situ. Aku mandi dulu, ya. Badan aku udah nggak enak lagi rasanya. Pengin mandi.” Selin pun mulai berdiri dan menghampiri tasnya untuk mengambil baju ganti yang memang sudah ia siapkan. Melihat Selin yang bergegas mau mandi, Maxi juga jadi mau mandi. Ia pun langsung berdiri dan berkata, “Aku juga, ah! Kamu nggak mandi, Aria?” Aria menoleh, berhenti memukuli Lucian dan tersenyum. “Aku ntar aja, Maxi, ntar malem.” Mendengar jawaban itu, mendadak Maxi nyengir jail. “Oho...?” ujar Maxi. Alis matanya naik turun. Tubuhnya mulai berjoget tak jelas, berniat untuk mengejek Aria dan Lucian sampai puas. “Kok malem-malem mandinya? Kalo malem emangnya habis ngapain? Kok nunggu malem?” Pipi Aria memerah. Tak disangka-sangka, Lucian juga terlihat sedikit kikuk; pemuda itu mulai memalingkan mata seraya menggaruk bagian belakang lehernya yang sesungguhnya tidak gatal. Melihat reaksi mereka berdua, Maxi jadi kaget sebentar, lalu tertawa terbahak-bahak. Selin, yang tadinya baru mau berjalan ke luar kamar (seraya membawa baju gantinya), justru berhenti dan ikut tertawa. “Enak banget, yang punya pacar,” seloroh Selin. “Pantesan aja kita semua ditawarin ke sini.” Selin tertawa geli seraya menutup mulutnya. Ia dan Maxi saling menatap, tertawa, dan saling mengangguk menyetujui. “Iya, nih, iya! Bener! Supaya dia ada kesempatan sama Aria!” Akan tetapi, ketika Selin semakin mundur ke belakang karena sibuk tertawa, tiba-tiba punggung Selin menabrak sesuatu yang terasa keras dan bidang. Selin langsung menoleh ke belakang dan mendapati tubuh Dylan yang tinggi sedang berdiri di belakangnya. Suara tawa Selin perlahan-lahan menghilang. Waduh, ada Dylan. Canggung banget, batin Selin. Mata berwarna biru milik Dylan hanya melihat Selin sebentar. Cowok itu lalu mengalihkan pandangannya ke depan, ke arah Lucian dan Aria. “Selagi suara kalian nggak kedengeran sampe ke luar, nggak apa-apa, Lucian,” ujar Dylan dengan suara beratnya. “Kalo sampe ke luar, takutnya kalian yang besok pagi malu setengah mati. Kami tinggal pulang aja, nggak mau ikutan kena malunya.” Maxi hampir menyemburkan ludahnya karena tak kuat menahan tawa akibat celetukan tajam Dylan. Singkat, padat, dan jelas. Sama sahabatnya saja se-savage itu. “Wow, tajem banget omongannya, Kak,” ujar Lucian. Catatan: dalam kesehariannya, ia tidak memanggil Dylan dengan sebutan ‘Kakak’. “Santai dikit boleh, Kak? Agak ketusuk, nih, hatiku.” Maxi tertawa terbahak-bahak. Aria diam-diam menertawai kedua laki-laki itu. Selin juga ikut tertawa walau ia masih agak canggung dengan Dylan. Tak Selin sangka, mendadak Dylan melihat ke arah Selin tanpa sepengetahuan cewek itu. Dylan agak menyipitkan matanya sejenak, tetapi dua detik kemudian, tatapan matanya kembali normal. Suara Dylan pun terdengar kembali. “Ya udah, Lin. Mandi dulu sana. Nanti balik lagi ke sini, ya, sama Maxi. Biar kita lanjutin ngerjain tugasnya.” Sejujurnya, Selin agak kaget dengan saran dari Dylan itu. Terus terang, akhir-akhir ini…setiap kata yang keluar dari mulut Dylan akan berhasil membuat Selin sedikit menahan napas, soalnya dia punya kegelisahan tersendiri terhadap keberadaan Dylan. Kok Dylan masih ngomong dengan baik-baik, ya, sama aku? Hanya itu yang terlintas di benak Selin tiap kali Dylan menegurnya. Walaupun begitu, sebenarnya kini teguran dari Dylan itu terhitung jarang karena Selin telah menambahkan jarak di antara mereka. Tak mau berlama-lama tertegun karena mendengar Dylan berbicara kepadanya, Selin pun berusaha untuk tenang dan mengangguk dengan cepat. Ia tersenyum tipis. “O—Oke. Aku mandi dulu.” Dylan mengangguk. Selin pun mulai berjalan ke luar kamar (dengan agak tergesa-gesa) dan diikuti oleh Maxi. Sementara itu, Lucian mulai meneriaki Maxi yang saat itu tengah mengikuti Selin dari belakang. “Maxi, jangan ikutan mandi di kamar tamu yang sama kayak Selin, ya! Cari kamar tamu yang lain. Jangan mandi berdua!” Maxi dan Selin tertawa. Ngapain coba mandi berdua kalau kamar mandinya ada banyak? Maxi pun meneriakinya balik, “Iya, astaga! Ada-ada aja!” Saat Maxi dan Selin berpisah di koridor—karena Maxi menemukan kamar tamu di lantai satu—Selin pun lanjut berjalan dan mulai menaiki tangga spiral (yang jujur agak melelahkan) untuk sampai ke lantai dua. Begitu berjalan memasuki koridor daerah 'kamar utama' itu, jujur Selin agak merinding. Bukan merinding karena takut, melainkan merinding karena memikirkan betapa bedanya vibe kamar itu dengan kamar yang lainnya saat dilewati. It feels...prestigious. Kamar itu walau tertutup, kemegahannya seolah-olah terasa sampai ke luar. Motif dindingnya berbeda, pintunya berbeda. Warna yang mendominasi dinding serta pintu kamar itu adalah merah bercampur hitam. Pokoknya, beda sekali rasanya saat melewati koridor depan kamar itu dengan saat melewati koridor depan kamar yang lain. Sepertinya, ayah Lucian suka warna-warna yang simple, tetapi tetap terlihat mewah luar biasa. It looks expensive. Menggelengkan kepala, Selin pun mulai mengalihkan pandangannya dan fokus berjalan ke depan. Saat sampai di depan kamar tamu yang ada di lantai dua itu, Selin langsung membuka pintunya. Pintu kamar itu tidak terkunci, mungkin karena tadi siang Lucian sudah meminta head butler di mansion itu untuk tidak mengunci kamar-kamar tamu. Begitu masuk ke dalam, kamar itu terlihat sangat bagus. Ada ranjang kanopi antik seperti milik bangsawan Eropa di tengah-tengah ruangan. Ada beberapa perabot yang juga sangat bagus dan menyesuaikan warna ruangan itu. Warna cokelat dan krem. Cantik sekali. It's aesthetically pleasing. Selin sangat suka melihat kamar ini. Tak mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengagumi ruangan itu—karena tubuhnya sudah lengket—Selin pun langsung meletakkan baju gantinya di atas ranjang. Ia berjalan masuk ke kamar mandi itu dan mulai mandi. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD