Chapter 3 :
“What’s your name, again?” (3)
******
SETELAH selesai mandi—dan merasa fresh lagi—Selin pun keluar dari kamar mandi itu dengan perasaan senang. Ia tersenyum dan sedikit bernyanyi kecil, berencana untuk menghampiri baju gantinya yang tadi ia letakkan di atas ranjang.
Akan tetapi, tepat saat mata Selin fokus ke depan untuk berjalan ke arah ranjang, langkah kaki Selin mendadak berhenti.
Mata Selin melebar. Ia seketika berhenti bernyanyi-nyanyi kecil.
Betapa terkejutnya ia saat melihat ada seorang pria yang berdiri tepat di depannya—seorang pria matang yang bertubuh tinggi, tegap, serta kekar—dan sedang melihat balik ke arahnya. Pria itu hanya memakai boxer; ia membawa handuk berwarna putih di lengannya. Pria itu tampak sedikit terkejut karena melihat Selin keluar dari kamar mandi tamu itu.
“Kamu...”
Selin mulai berkeringat dingin. Pikirannya kalut.
Ini...ini bukannya...ayahnya—
HAH?!
Bentar-bentar! Masa iya, sih?!
Orang yang seharusnya kembali besok malam, mengapa bisa ada di sini?! Lagi pula, buat apa mandi di kamar mandi tamu?!
Eh...sebentar.
Selin baru sadar bahwa dirinya saat ini cuma memakai handuk!
“Astaga! Astaga, ya Tuhan! Maaf, Om!” Selin panik setengah mati; gadis itu langsung memegang erat bagian pangkal handuk di daerah dadanya dan berlari terbirit-b***t ke luar kamar. Sementara itu, ayahnya Lucian tampak memperhatikan Selin—yang sedang berlari kencang itu—dengan sedikit membuka mulutnya (mungkin ingin memanggil) dan matanya sedikit melebar.
Astaga. Astaga. Astaga!
Sial, malu banget, ya Tuhan! Kok bisa ayahnya Lucian ada di situ?! batin Selin panik.
Setelah berlari agak jauh, Selin mulai terengah-engah. Dia memegangi lututnya sebentar dan detak jantungnya terdengar begitu kencang. Dia mulai berpikir ingin lompat saja dari lantai dua saking malunya.
Dia baru bertemu dengan ayahnya Lucian, tetapi sudah menyuguhkan adegan porno.
Etdah.
Menghela napas, Selin pun akhirnya berpasrah. Dia berjalan ke lantai satu dengan lesu, pelan-pelan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri sambil berjalan. Ia menghela napasnya berkali-kali.
Sudah. Tidak apa-apa. Mudah-mudahan ayahnya Lucian lupa. Amin, batin Selin. Ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri walau sebenarnya itu konyol. Ayahnya Lucian itu pasti tidak demensia. Dia masih terlihat sangat manly. Produktif.
Saat sudah mulai tenang, Selin pun mulai membatin. Bukannya Selin mau berpikiran m***m, tetapi astaga...itu—yang tadi itu beneran ayahnya Lucian? Ya Tuhan! Jujur, Om itu seksi sekali. Pria matang yang menggoda. Sexually attractive father.
Om itu gagah...dan tadi punyanya Om itu juga terlihat sangat besar di dalam boxer itu—
—eh, bentar.
Baju ganti Selin ke mana?
Nah, bagus. Luar biasa. Baju gantinya ketinggalan di kamar tamu tadi!
Sembari merengek karena menahan rasa kesal dan malu, Selin pun terpaksa berlari kembali ke kamar tamu lantai dua tersebut. Ia mengutuk keadaan ini, tetapi dia pun tak bisa menyalahkan dirinya sendiri, soalnya tadi dia terlalu panik untuk ingat soal baju gantinya yang tergeletak di atas ranjang.
Lah, bentar-bentar. Di atas ranjang itu juga ada...
Celana dalam dan bra-nya...
Oh, astaga! Rasanya, Selin pengin menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding. Gilaa! Malu banget, asli!
Saat langkah kakinya sudah sampai di depan pintu kamar tamu itu—yang masih terbuka—Selin lantas menarik napas dan mengeluarkannya lagi.
Udah, nggak apa-apa. Aku nggak punya pilihan lain. Malah tambah malu kalo bajunya nggak diambil. Mudah-mudahan, ayahnya Lucian udah masuk ke kamar mandi, pikirnya.
Selin pun mengangguk yakin, lalu ia mulai melihat ke depan. Namun, saat melihat ke depan sana, jujur ia agak kaget karena melihat ayahnya Lucian ternyata belum masuk ke kamar mandi. Ayahnya Lucian sedang duduk di salah satu kursi yang ada di kamar itu, di dekat meja. Pria yang bertangan kekar itu tampak sedang memainkan handphone-nya.
Lho, ayahnya Lucian belum mandi. Nggak jadi mandi apa gimana? batin Selin. Namun, Selin tak mau ambil pusing. Dia hanya ingin mengambil baju gantinya.
Akhirnya, karena malu kalau langsung masuk, Selin pun berbicara dengan pelan di dekat pintu. Ia menyembunyikan separuh tubuhnya di balik pintu seraya memegang handuk yang melekat di dadanya. Dari posisinya saat ini, hanya terlihat kepalanya, lehernya, dan sebelah tangan telanjangnya yang sedang memegang kosen pintu.
“Om...?” panggilnya pelan. Aaargh! Malu, segan, semuanya bercampur menjadi satu!
Ayahnya Lucian—Om Juan—langsung menoleh.
“Ya?”
Wah. Suaranya.
Suara Om Juan barusan terdengar begitu seksi.
Bentar. Tahan dulu. Urusan baju Selin belum selesai.
“U—Um... Maaf, Om. Baju aku ketinggalan,” ucap Selin lirih. “Aku mau ngambil bajunya, Om. Umm... Boleh nggak, Om tutup mata dulu...?”
Om Juan tampak terdiam sejenak, matanya sedikit melebar. Ia terlihat agak...menahan napas, terkejut dengan permintaan Selin meskipun sebenarnya ia tahu bahwa wajar saja Selin memintanya untuk menutup mata.
Om Juan kemudian mengangguk. “Oh, ya. Om tutup mata. Nanti kalo udah, kasih tau Om, ya.”
Selin sebenarnya ikut kaget mendengar persetujuan Om Juan. Agak lucu sebenarnya meminta konglomerat yang merupakan pria yang lebih tua darinya itu menutup mata hanya karena ia ingin lewat dan mengambil baju.
Saat melihat Om Juan sudah menutup matanya, Selin pun langsung mengangguk dan bernapas dengan lega seraya berkata, “Iya, Om. Makasih, ya, Om.”
Dengan cepat, Selin langsung berjalan menghampiri ranjang yang ada di dalam kamar itu. Ia mengambil baju, celana, serta pakaian dalamnya dengan gerakan yang secepat kilat, lalu ia berjalan kembali ke dekat pintu. Ke posisinya semula.
Merasa sudah aman, Selin pun mengintip dari kosen pintu lagi dan berkata, “Udah, Om.”
Om Juan mulai membuka matanya. Pria itu menemukan Selin yang sudah berada di posisi semula. Matanya sedikit menyipit—tetapi hanya dalam waktu satu detik—dan ini tidak berhasil disadari oleh Selin. “Oke.”
“Makasih, ya, Om,” ujar Selin sambil menahan malu. Gadis itu pun mulai berbalik dan berencana untuk meninggalkan kamar itu, tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Om Juan.
“Kamu temennya Lucian, ya?”
Selin langsung berbalik kembali. Ia berdiri di posisi semula, agak memajukan separuh tubuhnya dari balik kosen pintu.
“I—Iya, Om.”
Om Juan memperhatikan Selin dengan tatapan mata yang sukar untuk dijelaskan. Mata berwarna coklat gelapnya terlihat berpendar di bawah lampu kamar itu.
Om Juan pun mengangguk dan tersenyum. “Oh, gitu, ya. Soalnya Lucian nggak ada bilang ke Om kalo hari ini ada temennya yang dateng.”
Mendengar itu, Selin langsung merasa bahwa ia perlu mengklarifikasi semuanya. “Iya, Om, soalnya kata Lucian, Om pulangnya besok malem. Jadi, Lucian ngajakin kami ke sini buat ngerjain tugas kelompok dari kampus bareng-bareng...”
“Oh, gitu. Soal jadwal pulang itu...nggak jadi. Meeting dan visit-nya selesai lebih cepet daripada apa yang udah direncanain. Jadi, Om langsung pulang.”
Mulut Selin membulat—membentuk ‘O’—dan ia manggut-manggut. Dalam hati, jujur ia mencoba untuk tidak salah fokus dengan Om Juan yang masih hanya memakai boxer itu. Handuk putih milik pria itu terletak di bahu kirinya.
Ah. Rasanya, Selin pengin lari dari sini dan cepat-cepat memakai baju. Canggung banget ngobrol kayak gini! Habisnya…dia baru hari ini ketemu langsung sama Om Juan. Sedari tadi, Selin juga terus mencoba untuk mengabaikan berbagai macam pertanyaan yang muncul di benaknya, berupa:
1. Harusnya tadi Om Juan melihat baju ganti beserta pakaian dalam Selin. Entah itu ketika pria itu pertama kali masuk ke kamar tamu…atau sesaat sebelum Selin kembali lagi ke kamar itu setelah berlari ke luar dengan kencang. Jadi, mengapa Om Juan diam saja?
2. Mengapa Om Juan tidak jadi mandi?
3. Mengapa Om Juan mandi di sini? Kan Om Juan punya kamarnya sendiri...
Sudah, sudah. Jangan terlalu penasaran. Nanti kebablasan.
“What's your name, again?” tanya Om Juan tiba-tiba. Sepasang matanya yang tajam itu kini fokus menatap Selin.
‘Again?’
Apakah Om Juan pernah mendengar tentang Selin dari Lucian? Ya, menurut Selin itu mungkin saja terjadi, tetapi bukan itu masalahnya sekarang.
Jantung Selin serasa berhenti berdetak. Selin terdiam, terutama saat tiba-tiba Om Juan bangkit dari duduknya dan meletakkan handphone-nya di atas meja; ia agaknya bersiap untuk pergi ke kamar mandi. Namun, matanya masih menatap Selin. Menunggu jawaban Selin. Dia diam sejenak di sana.
Meneguk ludahnya dengan gugup, Selin pun berusaha untuk mengabaikan jantungnya yang entah mengapa terus berdegup kencang. Kali ini, ia bisa melihat dengan jelas fisik Om Juan yang sangat menawan.
Tubuhnya yang tinggi, tegap, dan gagah. Dadanya yang bidang. Otot bisep dan trisepnya. Lengannya yang berurat. Mata Selin sedikit menjelajah ke tubuh bagian depannya dan menemukan perut six pack-nya. Kulitnya yang seksi. Ada sedikit keringat di sana, mungkin karena Om Juan baru pulang dari perjalanan jauh. Rahang yang tegas, sepasang mata yang tajam, hidung yang mancung, dan wajah yang menawan. Turun lagi ke bawah...di sana ada kejantanan yang...
Astaga, itu besar sekali.
(Maaf, soalnya Selin tak bisa menahan matanya sendiri).
Jujur, pemandangan itu membuat napas Selin tertahan. Pipinya memerah. Om Juan ini benar-benar dilf. Totally dilf. Sexually attractive older man; a sexy father.
Daddy.
Selin juga normal. Ia terkadang berpikiran m***m meskipun ia tak mau. Seperti sekarang ini: dia tak mau berpikiran m***m ke ayah temannya sendiri, tetapi objek yang sedang berdiri di depannya saat ini benar-benar membuat jiwa feminimnya meronta hingga dia jadi berpikiran m***m tanpa dia sadari. Lututnya pun jadi agak lemas.
Om Juan ini pasti...kuat banget.
Ah, apa-apaan ini. Selin bahkan masih virgin. Mengapa otaknya bisa sampai ke sana?
Berbahaya. Jika dekat lebih lama lagi dengan Om Juan, bisa-bisa Selin akan menjadi orang yang mesumnya tingkat dewa. Baru kali ini dia berpikiran kotor seperti ini hanya karena menatap seorang pria.
Mencoba untuk menguasai dirinya sendiri, Selin pun menggeleng, bermaksud untuk mengusir pikiran mesumnya. Ia hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Om Juan tidak mengetahui pikiran mesumnya barusan; mudah-mudahan, pikiran mesumnya tidak tercetak di wajahnya saat melihat fisik Om Juan.
Selin meneguk ludahnya sejenak, lalu menjawab, “Selin, Om. Nama aku Florentia Roselin Agrece.”
Setelah itu, betapa lutut Selin jadi serasa selembut plastisin dan seringan kapas…tatkala Om Juan tersenyum miring padanya dan berkata:
“Sweet. It's pleasure to meet you, Selin. See you around.” []