4. Dreamboat (1)

1178 Words
Chapter 4 : Dreamboat (1) ****** SELIN berlari dengan tergesa-gesa di koridor lantai dua itu. Dia panik; jantungnya berdebar dan dia menggigit bibirnya dengan gelisah. Ia berlari sekencang mungkin, melarikan diri hingga seluruh pemandangan di samping kanan dan kirinya hanya tinggal sekelebat. Anehnya, dia tidak merasa lelah sama sekali. Degup jantungnya terdengar sangat kencang, tetapi bukan karena lelah akibat berlari, melainkan karena salah tingkah setengah mati. “Apaan—apaan itu tadi?!” ucap Selin panik. Otaknya kembali memutar kejadian yang baru saja terjadi di kamar tamu itu. Suara berat ayah Lucian, tubuh proporsionalnya, senyum miringnya, otot bisep dan trisepnya… Sial, semuanya seksi. Selin semakin gelisah; pipinya merona. Apa yang baru saja ayah Lucian katakan padanya itu juga tidak membantu sama sekali. “Sweet. It’s pleasure to meet you, Selin. See you around.” Itu terdengar biasa saja, ‘kan? Seharusnya begitu. Iya, harusnya itu biasa saja! Namun, sampai di kalimat ‘See you around’, mengapa mendadak lutut Selin jadi semakin lemas? Sial, ini tidak normal. Tuhan, masa iya Selin nervous dan merasa ter‘undang’ hanya karena kalimat itu? Ah, Selin seumur-umur bukanlah orang yang h***y-h***y amat. Dia biasa-biasa saja. Iya, dia sebelumnya normal. Namun, jika dipikir-pikir lagi, mungkin dilf energy atau s****l aura dari Om Juanlah yang terlalu kuat, sampai-sampai apa pun yang terucap dari mulut Om Juan bisa disalahartikan oleh Selin. Otaknya jadi mampu membayangkan sampai ke mana-mana. Ah, ini kacau. Malu banget sama Om Juan kalau seandainya otak m***m Selin ini terbongkar atau ketahuan sama Om Juan. Selin berlari menuruni tangga spiral menuju ke lantai satu dengan terburu-buru. Dia masih memakai handuk; kalau saja dia tidak memegang pangkal handuknya dengan erat, niscaya handuk itu akan jatuh dan Selin akan berlari sambil telanjang. Namun, itu semua tidak terlalu dipikirkan oleh Selin saat ini; dia sibuk memikirkan betapa mengerikannya kemesuman otaknya hanya karena Om Juan menyapanya barusan. Otaknya juga sibuk mencerna apa yang sedang terjadi sejak tadi. Dia yang bertemu Om Juan secara tiba-tiba dalam keadaan hanya memakai handuk, dia yang meninggalkan pakaiannya di dalam kamar tamu hingga harus kembali lagi dan melihat Om Juan yang hanya memakai boxer, dia yang meminta Om Juan untuk menutup mata…serta seluruh obrolan-obrolan mereka pada saat setengah telanjang. Siaaaal! Apa, sih, yang baru saja terjadi padanya? Saat ia berlari di area lantai satu, kebetulan ia melihat Maxi yang baru saja keluar dari salah satu kamar tamu. Maxi melebarkan matanya begitu melihat Selin yang tengah berlari-lari dengan ekspresi panik seperti baru saja melihat hantu. “Lah, Sel—” Selin langsung menarik lengan Maxi dengan cepat dan kuat; dia menarik Maxi supaya masuk kembali ke kamar tamu tersebut hingga mereka berdua kini berada di dalamnya. Rasanya, jantung Maxi jadi ikut-ikutan mau copot; dia kaget karena Selin langsung menariknya dengan kuat seolah-olah tak ada hari esok. “Hei, Selin, ada apa, sih?! Kamu baru ngeliat apa?!” “Nanti aja aku cerita!!” jawab Selin panik. Selin langsung membuka handuknya di depan Maxi dan memakai pakaian gantinya cepat-cepat. Maxi spontan menganga, memperhatikan semua gerakan Selin dari belakang dan berkata, “Hah?? Kamu kenapa coba?!” Selin hanya diam; gadis itu tak menjawab apa pun. Dia hanya terus memakai pakaiannya dan setelah selesai, dia pun menarik tangan Maxi untuk keluar dari kamar itu. “Ayo keluar.” Maxi semakin bingung. Dia mengernyitkan dahi dan memiringkan kepalanya. “Lin, kamu kenapa, sih? Cerita dulu!!” Selin—yang berjalan di depan seraya memegang tangannya itu—hanya mendengkus dan berkata, “Nanti aja. Nanti kuceritain. Ayo kita balik ke kamar Lucian.” Mendengar jawaban Selin, mau tak mau Maxi hanya bisa mengedikkan bahu. Dia pun menghela napas, memutuskan untuk menyerah. Sebetulnya, dia begitu penasaran, tetapi dia tahu bahwa Selin ini orangnya agak susah dibujuk. Jadi, dia hanya bisa menunggu sampai nanti Selin memutuskan untuk menceritakannya sendiri. Haduh, demi Tuhan, Maxi ini sebenarnya adalah orang ter-kepo sedunia, tetapi dia mampu menahannya sedikit untuk Selin. Dia kurang baik apa lagi coba? Ini baru namanya sahabat. Tiba-tiba, Maxi jadi merasa bangga sendiri. ****** Sejak tadi, Selin hanya melamun. Mereka semua kembali mengerjakan tugas; Dylan, Aria, Lucian, dan Maxi sudah sibuk berdiskusi. Maxi dan Aria beberapa kali menyadarkan Selin dari lamunannya, tetapi agaknya lamunan itu selalu kembali dan kembali lagi. Selin tak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di antara dirinya dan ayah Lucian, atau lebih tepatnya, dia tak bisa berhenti memikirkan ayah Lucian. Tiba-tiba, ada sebuah ketukan di pintu kamar Lucian. Ketukan itu sukses memecahkan lamunan Selin; Selin langsung menoleh ke pintu tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada teman-teman Selin; mereka semua spontan menoleh ke pintu. “Ya?” jawab Lucian singkat, merespons ketukan pintu itu. “Tuan Muda Lucian,” ucap seorang laki-laki di balik pintu tersebut. “Tuan mengajak Anda dan teman-teman Anda makan malam bersama, Tuan Muda.” Semua orang yang ada di dalam kamar kontan merasa heran. Mereka mulai panik. Tidak bohong, jantung Selin pun tiba-tiba serasa berhenti berdetak setelah satu degupan kencang berupa ‘Deg!’ tatkala mendengar pemberitahuan itu. Haduh, gimana ini? Gimanaaa?! Makan malam bersama? Huaaaa mampus! Selin masih belum normal, nih! “Woy, Lu!!!!” bisik Maxi panik, ia menganga dan langsung mencecar Lucian. “Kok ayahmu ada di rumah?!! Bukannya katamu masih ada di China?!!” “Aku juga nggak tau, nih!!” jawab Lucian, dia ternyata ikutan panik. “Kok tiba-tiba Ayah ada di rumah, ya?!!” “Lah, kamu aja nggak tau, apalagi aku!!” ujar Maxi. Mereka jadi berdebat sendiri. Diam-diam, Selin membatin, ‘Iya, Lucian, ayahmu udah balik. Tadi, aku ketemu sama dia dan kami sama-sama nggak pake baju yang senonoh.’ Jujur, Selin rasanya mau menangis dan menggali tanah untuk mengubur dirinya sendiri hidup-hidup tatkala mengingat kenyataan itu. Aria dan Dylan juga panik, tetapi belum mengucapkan apa-apa. Mereka berdua pun kaget saat mengetahui bahwa ternyata ayahnya Lucian ada di rumah dan bahkan sudah mengetahui keberadaan mereka. Aaaaagh! Lucian diam selama dua detik…sampai akhirnya pemuda itu pun menjawab. “Oke, Diego. Bentar lagi kami keluar. Ayah udah pulang, ya?” Pria yang berdiri di balik pintu tersebut—yang sebenarnya merupakan head butler di mansion itu—pun menjawab, “Iya, Tuan Muda. Tuan baru pulang sekitar dua jam yang lalu.” Lucian menghela napas. “Oke, Diego. Bilang sama Ayah, tunggu bentar, ya. Kami bakal turun.” “Baik, Tuan Muda,” jawab Head Butler Diego, kemudian terdengarlah bunyi ketukan langkah sepatunya yang mulai menjauhi pintu kamar Lucian. “Ayo kita ke bawah,” ajak Lucian langsung. “Sorry, ya, aku juga nggak tau kenapa Ayah udah pulang. Mungkin, dia ada perubahan jadwal atau gimana, tapi aku janji, Ayahku nggak bakal marah kok. Dia bukan ayah yang galak. Ayo kita turun dulu aja, sekalian kalian bisa kenalan.” Akhirnya, mereka semua mengangguk. Hm… Sejujurnya, walau sedikit mendadak, mereka penasaran juga, sih, bagaimana wujud asli Mr. Zacharias yang begitu terkenal di beberapa belahan bumi ini akibat bisnisnya yang tersebar di banyak negara. Dia adalah pebisnis sejati yang banyak dikagumi oleh orang-orang, sampai sering dijadikan contoh pada saat dosen menerangkan soal bisnis. Kali ini, sosok billionaire itu akan mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD