Yunhee menoleh dengan perlahan. Berusaha menjaga ekspresinya agar tetap tenang.
"Byun Baekho? Byun Baekho ... Aku kenal banyak orang yang bernama Byun Baekho." ucap Yunhee pura-pura berpikir.
"Benarkah? Byun Baekho yang kumaksud adalah aktor terkenal Byun Baekho. Kau mengenalnya?" tanya Hwanhee lagi.
Yunhee menepuk tangannya, "Ah, aku tahu aktor tampan itu. Tapi aku tak terlalu mengidolakannya."
"Maksudku, apakah kau mengenal Baekho secara pribadi?"
"Tidak. Bagaimana bisa aku mengenalnya? Aku hanya orang biasa. Tak mungkin aku bisa mengenal Baekho yang terkenal itu." ucap Yunhee meyakinkan Hwanhee.
Yunhee merasa harus mencuci mulutnya dengan air suci setelah ini karena memuji Baekho. Ia melirik Baekho yang mulai tertawa besar kepala.
"Changbin tak mengenalkannya padamu? Ah sudahlah, sepertinya hubungan kalian tak sejauh itu." Hwanhee mencibir.
Ingin rasanya Yunhee mencolok mata panda Hwanhee yang memandanginya seperti itu. Tapi ia tahan. Ia tak ingin membuat keributan disini.
"Lebih baik aku menunggu di dalam dalam. Udara di sini sudah mulai dingin. Permisi Hwanhee-ssi." ucap Yunhee sopan.
Ia berbalik dan kembali melangkah menjauhi Hwanhee, Yunhee mengeluarkan sumpah serapahnya tanpa suara. Oh, ingatkan padanya untuk benar-benar menolak ajakan Changbin bila pria itu mengajaknya ke tempat ini lagi.
"Apa-apaan dia?! Dia pikir dia siapa? 'Sepertinya hubungan kalian tak sejauh itu' ... cih, tahu apa dia tentang aku dan Park Changbin?!" gerutu Yunhee.
"Oh Yunhee, kau harus bersabar. Hwanhee memang orang yang seperti itu. Namun nanti kau akan tahu kalau ia orang yang menyenangkan." ucap Baekho membela sepupunya.
"Menyenangkan kepalamu! Kau tak liat ia selalu berusaha mengintimidasiku setiap kali kami bertemu?" keluh Yunhee.
Baekho mengendikkan bahunya. Ia juga heran mengapa Hwanhee bersikap seperti itu pada Yunhee. Yunhee kembali menggerutu. Karena ingin membuat suasana hati Yunhee lebih baik, Baekho untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong sejak tadi aku hanya melihat Ibu dan sepupu-sepupuku. Aku merindukan ayahku. Bisa kau tanyakan bagaimana kabar ayahku nanti pada Changbin?" pinta Baekho.
"Baiklah tuan muda." ucap Yunhe dengan penuh penekanan, masih terbawa kekesalannya karena sikap Hwanhee.
***
Seperti biasa, suasana di dalam mobil benar-benar tenang. Hening. Tapi hanya bagi Changbin tentunya. Bagi Yunhee suasana di mobil itu teramat sangat ramai. Bukan karena Changbin, tapi karena si biang rusuh Byun Baekho.
"Tanyakan! Cepat tanyakan! Atau aku akan mengganggumu! Oh Yunhee cepat tanyakan!" rengek Baekho sambil terus mencolek-colek bahu dan pinggang Yunhee.
Bagian yang Baekho sentuh hanya terasa dingin saja sehingga tidak terlalu mengganggu. Namun tetap saja pria itu sangat berisik. Jika saja dirinya tidak ingin menjaga imagenya di depan Park Changbin, ia mungkin akan berteriak pada Baekho memintanya diam. Yunhee memejamkan matanya. Mencari keberanian untuk berbicara lebih dulu pada Park Changbin. Lagipula ia sudah berjanji.
"Eum, Changbin-ssi."
"Hm?"
"Sejak tadi, aku hanya melihat ibumu. Dimana ayahmu? Apa ia sedang sibuk?" tanya Yunhee.
Raut wajah Changbin yang biasanya datar berubah. Ekspresinya persis seperti saat Yunhee mencoba mengorek masa lalu Baekho.
"Oh Yunhee, bisakah kau tak menanyakan hal itu? Karena Aku memintamu membantuku, bukan berarti kau bisa melampaui batasmu." ucap Changbin.
Yunhee jadi semakin percaya kalau Baekho dan Changbin adalah saudara. Respon mereka bahkan sama.
"A-aku minta maaf. Aku tak akan mengulanginya lagi." ucap Yunhee takut-takut.
Yunhee menoleh ke belakang. Baekho menghilang? Pria tak bertanggung jawab itu! Awas saja! Nanti sesampainya Yunhee di rumah ia akan meminta Seunghun untuk menendang b****g Baekho!
***
Seunghun berjalan di koridor sekolah barunya. Ia telah resmi menjadi siswa sekolah itu. Sejak tadi murid lain memperhatikannya. Mungkin heran melihat Seunghun yang masih memakai seragam sekolah lamanya. Seunghun mengabaikan tatapan mereka dan terus berjalan ke kelasnya.
"Dimana hantu gila itu? Ia berkata kalau ia takkan mengganggu Kak Yunhee saat jam kerja. Tapi ia tetap mengganggunya. Ck, kata-kata dari arwah penasaran memang tak bisa dipercaya." gerutu Seunghun.
Seunghun terus menggerutu sambil berjalan. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang ada di depan kelas barunya. Wanita itu ...
Seperti sebuah drama Korea, rambut wanita itu berkibar karena angin. Wanita itu menoleh. Wajahnya diliputi cahaya yang menonjolkan kecantikannya. Tatapan mereka bertemu. Seunghun merasakan jantungnya mulai berdebar dengan ritme yang tak beraturan sekarang.
Lamunan Seunghun terhenti saat wanita itu memanggilnya.
"Seunghun-ah!"
Wanita itu menghampirinya dengan ekspresi terkejut. Seunghun sangat mengenali wanita ini. Tak salah lagi wanita ini adalah Han Jieun. Sahabat dari kakaknya sekaligus cinta pertama Seunghun.
"Astaga kau bersekolah disini? Kukira kau tinggal dan bersekolah di Busan?"
"Eumm, aku juga baru saja pindah, Kak." jawab Seunghun sambil mengusap lehernya gugup.
"Benarkah? Aisshh, Yunhee tak memberitahuku. Oh iya belakangan ini kakakmu sulit dihubungi. Ada apa dengannya?"
"Dia baik-baik saja. Ia bekerja di PCY Corporation sekarang jadi ia menjadi lebih sibuk." ucap Seunghun.
"Benarkah? Hebat! Bukankah itu perusahaannya Park Changbin? Dia pasti tidak mau memberitahuku karena tidak ingin aku menggodanya."
Jieun tersenyum lebar karena mendapat bahan baru untuk mengejek Yunhee. Seunghun memuaskan diri untuk memandangi wajah gadis yang disukainya itu.
"Eumm ngomong-ngomong Kak Jieun sedang apa disini?" tanya Seunghun.
"Sama denganmu."
"Siswa baru?" Seunghun menatap Jieun terkejut.
"Tentu saja bukan! Aku guru baru di sini."
Seunghun melongo. Akhirnya keberuntungan beralih padanya.
"Ini kelasmu bukan? Ini juga kelas pertamaku. Ayo masuk bersama." ajak Jieun.
Seunghun mengangguk dan mengikuti di belakang Jieun. Tangannya terkepal sambil menggumamkan 'yes!' tanpa suara. Entah mimpi apa ia semalam. Tapi hari ini ia benar-benar beruntung!
***
Yunhee memasuki ruangan Changbin dengan hati-hati. Ia tak tahu apakah Changbin masih marah padanya atau tidak. Ini semua karena Baekho! Ia bahkan tidak punya muka untuk bertemu dengan Changbin pagi ini.
"Pagi Direktur."
"Pagi, apa jadwalku hari ini?"
"Jam 08:00 ada rapat dengan JYK Grup, Jam 12:00 makan siang dengan menteri ... Lalu jam 18:00 makan malam dengan Presdir Cho dari Cho Corporation." ucap Yunhee sambil memeriksa jadwal Changbin dari tabnya.
"Batalkan makan siang dengan menteri. Dan kau ikut denganku saat makan siang. Ayah dan pamanku ingin bertemu denganmu." ucap Changbin tanpa ekspresi.
"Apa?!" teriak Yunhee.
Yunhee yang sadar akan kelancangannya segera menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Baru saja kemarin ia menanyakan tentang ayah Changbin. Sekarang ia harus bertemu dengan ayahnya?
"Ada apa? Kau keberatan?"
"Tidak, Direktur." jawab Yunhee cepat.
Yunhee bahkan tak memakai pakaian yang pantas. Bagaimana kalau ayah Changbin tak sebaik ibunya? Bagaimana kalau ayah Changbin adalah predir tua angkuh yang menyeramkan seperti dalam drama? Ia harus bagaimana? Yunhee harus apa sekarang?
***
Makassar, 03 Februari 2016