Hana terus saja menatap sinis pada Yunhee. Yang ditatap memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha untuk menghilangkan kegugupannya. Namun bukannya hilang, ia jadi makin gugup karena tak sengaja bersitatap dengan Changbin. Baekho sendiri memilih duduk di sofa sambil bertopang dagu menonton drama ini.
Yunhee benar-benar tak habis pikir mengapa Baekho tiba-tiba muncul di ruangan Changbin. Bukannya dulu pria itu selalu menghilang begitu Yunhee masuk ke ruangan ini? Atau Jangan-jangan ... Hana dalang dari pembunuhan Baekho? Karena itu Baekho muncul saat wanita ini datang?
Tapi melihat ekspresi wajah polos cenderung seperti menahan tawa Baekho, sepertinya bukan wanita ini pelakunya.
"Jadi karena wanita ini kau membatalkan perjodohan kita?" cibir Hana. Menatap Yunhee dari bawah ke atas dengan pandangan ... Umm, merendahkan?
Yunhee menunduk, memeriksa apa ada yang salah dengan penampilannya. Tidak ada yang salah. Ia berganti menatap pakaian yang Hana pakai. Ini kan musim dingin, gadis itu tidak kedinginan apa memakai pakaian kurang bahan begitu?
"Wuaaa, lihat Oh Yunhee! Dia meremehkanmu!" Baekho memanas-manasi sambil bertepuk tangan.
"Ya, dia adalah kekasihku. Aku hanya akan menikah dengannya. Aku tak bisa melanjutkan perjodohan itu. Maaf." ucap Changbin tanpa ekspresi.
Baekho bergumam, 'Oh romantisnya..." dengan wajah mendamba. Ekspresi hantu pria itu membuat Yunhee diam-diam mengernyit jijik.
"Aku lebih baik darinya! Lagipula perjodohan kita bisa menguntungkan kedua perusahaan. Tolong pertimbangkan lagi keputusanmu. Aku pergi." ucap Hana bangkit berdiri.
Yunhee juga bangkit berdiri untuk mengantarkan wanita itu ke pintu. Bagaimanapun wanita itu adalah mantan tunangan bosnya.
Hana mendengus dan sengaja menabrakkan bahunya dengan bahu Yunhee saat ia keluar ruangan. Ah, perilakunya benar-benar seperti pemeran antagonis dalam drama. Sekali lagi, Yunhee bersyukur Changbin benar-benar tidak jadi menikahi Hana.
Setelah kepergian Hana, Yunhee akhirnya bisa menghirup nafas lega. Oh ayolah, ia bahkan seperti tidak bisa bernafas karena aura membunuh wanita itu.
"Maaf Direktur, apabila saya tidak diperlukan lagi, saya permisi dulu." Yunhee memilih kabur.
"Tunggu dulu!"
Yunhee menggigit bibirnya kesal. Lalu menoleh kembali.
"Ya?"
"Ibuku ingin bertemu lagi denganmu. Apa kau bisa ikut denganku sepulang dari sini?" tanya Changbin.
Ingin menolak ... Tapi Yunhee tidak punya keberanian untuk itu. Sekali lagi, Yunhee hanya bisa mengangguk patuh. Nasib ya nasib~
***
Baekho mengikuti Yunhee keluar dari ruangan Changbin. Wanita itu menyenderkan kepalanya di meja. Ia membentur-benturkannya kepalanya pelan sambil terus menggerutu. Melihat Yunhee yang mulai frustasi membuat Baekho terkekeh geli.
"Aku tak menyangka menjadi seorang sekertaris akan sesulit ini." keluh Yunhee.
"Sebenarnya tidak sesulit yang kau pikirkan jika kau menjadi sekertaris normal bukannya sekertaris dengan pekerjaan tambahan lain seperti ini." ejek Baekho.
"Bahasamu bisa membuat orang lain salah paham!" protes Yunhee.
Baekho tertawa mengejek Yunhee. Yunhee merengut. Bagian mana yang lucu coba?
"Aku sudah mengetahui dari Taehoon. Kau kakak tirinya Park Changbin bukan?" tanya Yunhee.
Tawa Baekho terhenti, rahangnya mengeras. Ia menatap Yunhee tajam.
"Siapa yang mengijinkanmu mencari tahu tentangku dari Taehoon?!" geram Baekho.
Yunhee yang heran dengan reaksi Baekho malah balas menantang.
"Salahmu tak memberitahu semuanya padaku! Aku bukan dewa yang bisa membantumu begitu saja! Aku juga harus tahu tentangmu agar aku bisa tahu bagaimana cara membantumu."
Baekho dan Yunhee saling menatap tajam. Baekho berusaha meredakan amarahnya. Kalau seperti ini ia dan Yunhee tak akan akur. Lagipula ia sangat membutuhkan bantuan Yunhee.
"Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu. Sebenarnya Park Changbin adalah saudara tiriku dan wanita gila tadi adalah mantan tunanganku." ucap Baekho.
Mulut Yunhee membola. Jadi wanita tadi mantan tunangannya Byun Baekho? Pantas saja wanita itu gila. Pasti itu karena frustasi dulu pernah bertunangan dengan Baekho(?).
"Hahahahaha aku tak tahu harus mengasihani siapa. Dirimu atau wanita itu." tawa Yunhee.
Baekho merengut. Tapi diam-diam ia tersenyum. Dengan begini suasana hati Yunhee akan kembali membaik.
"Ya, dulu aku seperti Changbin. Aku dijodohkan dengannya namun aku menolak. Mungkin setelah aku pergi, keluarganya masih ingin membangun koneksi dengan keluargaku. Karena itu mereka memaksa melakukan perjodohan itu." ucap Baekho.
Yunhee menopang dagunya dengan wajah bingung.
"Kelihatannya wanita tadi benar-benar menyukai Park Changbin." ucapnya.
Baekho berdecak.
"Apa kau sebodoh itu tak bisa membedakan yang mana yang tulus dan yang mana yang tidak? Hana selalu memasang ekspresi dan bersikap seolah menyukai pria yang ia goda. Kalau kau bilang aku playboy dan m***m, dia setingkat denganku." cibir Baekho.
"Seburuk itukah?"
Baekho mengangguk. Oh itu berarti Hana benar-benar sangat buruk. Yunhee harus menjauhkannya dari Changbin. Lagipula Changbin harus mendapat yang lebih baik dari Yunhee. Bukan yang lebih buruk darinya.
"Lebih baik kau siap-siap. Kau akan kembali bertemu dengan ibuku. Kalau ibuku mungkin kau bisa santai. Tetapi bila kau bertemu dengan keluargaku yang lain ... Sepertinya gadis biasa sepertimu tidak akan selamat." cibir Baekho.
Seketika Yunhee tersadar. Kalau ia ke rumah keluarga Park, itu berarti ia akan bertemu dengan Hwanhee! Pria dengan aura mengintimidasi itu! Astaga ini benar-benar menyeramkan!
"Byun Baekho, apa kira-kira belum terlambat untuk membatalkan janjiku dengan Park Changbin?"
***
Walaupun berkata begitu, ujung-ujungnya Yunhee tetap pergi dengan Changbin. Baekho yang bisanya menghilang kini mengekor di belakang mereka. Yunhee makin bingung dengan sikap Baekho.
Setibanya di rumah Changbin, Nyonya Park kembali menyambut Yunhee dengan ramah. Yunhee melirik Baekho. Pria itu menatap Nyonya Park sedih. Terlebih saat Nyonya Park menembus tubuhnya.
"Yunhee-ya aku sangat merindukanmu." Nyonya Park memeluk Yunhee erat. Yunhee sulit bernafas karena pelukannya.
"Bibi membuatnya sesak nafas." tegur seseorang.
Yunhee menatap orang itu heran. Siapa ini? Nyonya Park melepaskan pelukannya, ia memperkenalkan Yunhee dengan orang itu.
"Ini Kyungsoo, adik sepupu Changbin." ucap Nyonya Park.
Kyungsoo tersenyum menawan, mencoba menggoda Yunhee. Tapi entah Yunhee terlalu polos atau wanita itu memang kurang peka sehingga ia tampak acuh pada Kyungsoo. Pemandangan itu membuat Baekho tersenyum miring. Syukurlah ...
Baekho beralih menatap Changbin. Adiknya itu masih tetap dengan ekspresi yang sama. Datar.
"Ayo masuk. Kita berbincang-bincang di dalam."
Mereka tak sengaja berpapasan dengan Hwanhee. Seperti Kyungsoo, Nyonya Park juga memperkenalkan Park Hwanhee pada Yunhee. Berbanding terbalik dengan Kyungsoo, Hwanhee malah tersenyum sinis dan membuang muka pada saat dikenalkan dengan Yunhee. Sepertinya pria itu memiliki kesan yang buruk pada Yunhee sejak pertemuan pertama mereka.
***
Setelah makan malam, Yunhee duduk menunggu di salah satu kursi di dekat kolam renang. Ya, Changbin memintanya menunggu. Changbin bilang ia harus mengganti pakaiannya dulu.
"Huaaa aku merindukan tempat ini!" teriak Baekho.
Yunhee hanya bisa menutup telinganya. Kesal karena Baekho berteriak-teriak padahal hanya dirinya yang bisa mendengar teriakan pria itu.
"Mengapa kau tak tinggal bersama Seunghun? Kenapa malah mengekoriku?" tanya Yunhee kesal.
"Adikmu benar-benar menyeramkan. Ia bisa memukulku keras. Walaupun tak meninggalkan lebam apapun tapi tetap saja sakit." ucap Baekho seperti bocah yang mengadu pada orang tuanya.
Yunhee terkekeh.
"Benarkah? Kalau begitu akan kuminta ia memukulmu kalau kau macam-macam nanti."
Baekho merengut. Namun seketika ekspresinya berubah serius.
"Ada yang datang." ucapnya memperingatkan.
Yunhee langsung mengubah ekspresinya dan pura-pura memandangi kolam renang itu. Namhee mendekati Yunhee dan duduk di bangku yang ada di sebelah gadis itu.
"Kita bertemu lagi, Oh Yunhee." ucap Hwanhee.
Yunhee mengendikkan bahunya. Baekho sendiri terlihat sebal dengan kehadiran Hwanhee.
"Ada apa?"
"Kau ingat dulu aku pernah menanyakan apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kurasa aku sudah ingat kapan kita bertemu. Kau pernah berada di sekolah yang sama dengan Changbin bukan?" ucap Hwanhee.
"Dari yang kutahu, kau dicap orang gila karena sering berteriak tiba-tiba entah karena apa. Oleh karena itu banyak orang yang mengenalmu." tambahnya lagi.
"Kalau kau hanya ingin membahas hal itu lebih baik aku pergi." pamit Yunhee.
Yunhee mengambil tasnya dan bangkit berdiri. Berniat pergi menjauhi Hwanhee. Namun satu kalimat dari pria itu menghentikan langkahnya.
"Byun Baekho, apa kau mengenalnya?"
****
Makassar, 02 Februari 2016