Part 7 - Don't Dare To Love Him!

1334 Words
Yunhee menoleh dengan cepat. Seorang pria tampan menatapnya heran. Yunhe sama sekali tak mengenali pria yang ada di depannya. Apa pria ini saudaranya Changbin? "Apa yang kau lakukan di kamar Baekho? Kau gadis yang datang bersama Changbin bukan?" ucap pria itu menghampiri Yunhee. Pria itu menatap foto yang dipegang oleh Yunhee. Yunhee yang sadar segera meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. "A-aku tadi... Pintu itu... Eumm, maaf." Pria itu menatapnya intens membuat Yunhee merasa risih. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau, wajahmu tampak tak asing." tanya pria itu. "T-tidak, aku tak pernah bertemu denganmu sebelumnya." ucap Yunhee. Dalam hati, Yunhee terus berharap agar ia bisa lepas dari situasi ini sekarang juga. "Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara Changbin. Yunhee amat sangat bersyukur untuk itu. Ia segera menghampiri Changbin dan bersembunyi di belakang pria itu. "Kau baru pulang Hwanhee-ya?" tanya Changbin. "Umm, begitulah. Aku ke kamarku dulu. Aku akan menyusul nanti untuk makan malam." pamit Hwanhee. Mata Hwanhee masih terpaku padanya hingga ia keluar dari kamar itu. Setelah Hwanhee pergi, Yunhee akhirnya bisa kembali bernafas dengan lega. Tapi saat dia menoleh... "Astaga!" Ia terkejut melihat wajah Changbin yang menatapnya tatapan tajam. Rahang pria itu mengeras menahan emosi. O-ow, pria itu terlihat benar-benar marah. "Kau darimana saja? Ibuku khawatir karena kau lama sekali. Ia jadi memintaku untuk mencarimu." marah Changbin. "M-maaf." Yunhee benar-benar merasa hari ini hari tersial dalam hidupnya. Kenapa para pria di sekitarnya selalu punya aura mengintimidasi dan menyeramkan? "Ayo kembali. Aku tak ingin ibuku menunggu." *** Yunhee berdiri lemas di depan apartemennya. Ia merasa seluruh tenaganya terkuras habis hari ini. Saat dirinya menunduk untuk mengambil kunci dari tasnya, Ia menemukan ada yang aneh dengan pot disebelah pintunya. Itu adalah pot tempat ia menaruh kunci cadangan. Pot itu telah bergeser, tanda ada seseorang yang telah mengambil kunci dari sana. Karena takut, Yunhee mengambil sebatang kayu besar sebagai s*****a lalu masuk ke apartemen dengan hati-hati. Ia menyalakan lampu lalu berjalan ke dalam—masih dengan posisi siaga. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen. Tidak ada yang hilang, kecuali ada cup ramen bekas di atas meja. Tunggu! Bukannya Yunhee tak makan ramen hari ini? Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Hampir saja Yunhee mengayunkan kayu yang dipegangnya jika ia tak mendengar suara orang itu. "Kak! Kakak! Ini aku Oh Seunghun!" Yunhee menahan gerakannya. Setelah memastikan bahwa itu benar-benar adiknya, ia baru bisa menghela nafas lega sambil memegangi d**a kirinya karena jantungnya serasa mau copot. "Kau mengagetkanku!" marah Yunhee. "Yang seharusnya kaget itu aku! Kau hampir saja memukulku tadi," keluh Seunghun. "Itu karena kukira kau pencuri yang masuk ke apartemenku!" "Apa yang mau dicuri dari apartemen ini? Tak ada satupun yang bisa dijual di sini." cibir Seunghun. "Aku setuju dengan adikmu." "Huaaa!" Yunhee sekali lagi dibuat terkejut dengan kemunculan Baekho yang tiba-tiba. Mata Seunghun membola. "Kak Yunhee, bukankah itu Byun Baekho? Aktor terkenal itu?" tanya Seunghun dengan ekspresi kagum. "Kau bisa melihatnya?" tanya Yunhee heran. Seunghun menutup mulutnya dengan cepat. Ia keceplosan. Yunhee memicingkan matanya menatap adiknya itu. Seunghun merasa sudah tak ada gunanya untuk berbohong. Ia pun memilih jujur pada kakaknya. "Aku ingin membuat pengakuan. Aku juga bisa melihat hantu sepertimu." ucap Seunghun. "Bagaimana bisa?" tanya Yunhee. "Entahlah. Sepertinya kita berdua mendapatkannya dari kakek." jawab Seunghun. Jadi kemampuan ini karena keturunan. Bahkan adiknya juga memiliki kemampuan ini? Tapi kenapa adiknya terlihat tak masalah dengan itu? "Aku adiknya Kak Yunhee, salam kenal Baekho-ssi." ucap Seunghun sambil membungkuk sopan. "Tidak usah formal begitu. Panggil saja aku Kak Baekho." "Kak? Hantu kekanak-kanakan sepertimu tak pantas dipanggil kakak oleh adikku yang dewasa ini. Langsung pergi dan menghilang saat ada topik yang tidak disukai, kekanak-kanakan sekali!" cibir Yunhee. Baekho mengerucutkan bibirnya membuat Seunghun tertawa. "Mari berganti ke topik lain. Seunghun-ah, kau juga bisa melihat makhluk sepertiku tapi kenapa kau tidak heboh seperti kakakmu ini?" tanya Baekho penasaran. "Entahlah, mungkin karena aku pria? Lagipula Kak Yunhee diganggu karena selalu menolak permintaan mereka. Kalau aku, aku akan membantu mereka sebisaku." ucap Seunghun. "Wuaa adikmu benar-benar dewasa, Oh Yunhee. Berbeda sekali denganmu." ejek Baekho. Yunhee mengerucutkan bibirnya kesal. Ia pergi ke dapur untuk menghindari ejekan Baekho. Sesekali ia menoleh pada Seunghun dan Baekho yang terlihat akrab. Baekho terlihat bahagia. Mungkin karena pria itu senang ada yang bisa melihat dirinya dan mengajaknya mengobrol selain Yunhee. Yunhee tersenyum. Mungkin ia bisa menunda dulu untuk bertanya pada Baekho apakah pria itu dan Changbin dulu saling mengenal. *** Setelah memastikan Yunhee sibuk di dapur, Seunghun mengubah ekspresinya menjadi serius. "Kau, mengapa kau menganggu kakakku? Bahkan kau bisa masuk ke rumah ini walaupun rumah ini penuh dengan jimat." tanya Seunghun. "Aku hanya seseorang yang membutuhkan bantuan kakakmu saat ini." jawab Baekho santai. "Baiklah, kalau begitu kau bisa meminta bantuanku saja. Jangan kakakku. Dia sudah cukup menderita." ucap Seunghun. "Kau tak bisa melakukan ini. Yang kubutuhkan hanya Oh Yunhee. Hanya dia. Aku tak bisa meminta bantuan pada orang lain selain dia." ucap Baekho. Seunghun tak mengerti. Mengapa harus kakaknya? Apa yang hantu ini inginkan? Ia harus mencari tahu! *** Yunhee menyiapkan sarapan untuk Seunghun. Tak mungkin kan kalau ia menyajikan ramen instan saja untuk adiknya? "Kau sedang memasak? Makanan yang sebenarnya? Aku tak tahu kau bisa memasak hal lain selain ramen." ucap Baekho. "Aku bisa. Aku hanya malas untuk melakukannya." ucap Yunhee. "Bagaimana perkembangan misimu? Ada yang mencurigakan? Apa ada pria yang mencurigakan datang ke kantor Changbin?" tanya Baekho. Yunhee menggeleng. Baekho terlihat kecewa. Pria itu memandangi makanan yang ada di depannya yang malah menambah kekesalannya. Terlihat sekali ia ingin makan masakan Yunhee. Namun karena dia adalah hantu, Baekho tak bisa melakukannya. Yunhee sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi pria itu. Namun ia teringat pada foto Baekho saat ia berada di rumah Changbin. Mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakannya. "Byun Baekho, kemarin aku ke rumah Park Changbin." ucap Yunhee. "Apa?! Kau kesana? Untuk apa?" tanya Baekho histeris. "Dia akan dijodohkan. Jadi ia memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya." ucap Yunhee. Entah Yunhee yang salah melihat atau wajah Baekho tadi terlihat sedih? Tapi pria itu dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi menyebalkan seperti biasa. "Wo wo wo! Suatu kemajuan untukmu. Kau belum menjadi kekasihnya saja sudah ia kenalkan pada orang tuanya. Apalagi kalau sudah menjadi kekasihnya?" Baekho tersenyum menggoda Yunhee. Yunhee cemberut seketika. Ia membuka celemeknya dan berniat pergi membangunkan adiknya. Baekho mengikuti di belakang gadis itu. "Aku menemukan fotomu di kamar Changbin." ucap Yunhee. Baekho terlihat terkejut. Tapi sekali lagi, pria itu berhasil menguasai ekspresinya. "Ckckck, kau sudah masuk ke kamarnya? Oh Yunhee tak kusangka kau gadis yang seperti itu." godanya lagi. Yunhee berhenti berjalan dan menatap Baekho sengit. "Bukan seperti itu! Aku hanya salah kamar!" ucap Yunhee membela diri. "Ya ya ya, terserah hahaha aku tahu sekarang kau gadis seperti apa." "Hei!" "Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Seunghun. Yunhee segera bersembunyi di belakang adiknya. Ia menarik-narik lengan adiknya itu sambil menunjuk Baekho. Persis seperti seorang anak yang mengadu pada ibunya. "Seunghun-ah, dia mengejekku." adu Yunhee. "Ini masih pagi. Kalian malah bertengkar seperti ini. Setahuku aku yang paling muda di sini. Tapi kalian benar-benar kekanak-kanakan." omel Seunghun. Tak ingin mendengar omelan Seunghun, Baekho memilih menghilang entah kemana meninggalkan Yunhee dan Seunghun. Seperginya Baekho, Seunghun berhenti mengomel. Membuat Yunhee menatapnya heran. "Kau berhenti mengomel?" "Ah, aku mengomel agar hantu itu pergi. Aku ingin bicara serius padamu, Kak." Seunghun melangkah menuju meja makan diikuti oleh Yunhee. "Berhati-hatilah pada pria itu, Kak. Apa kau tak melihat caranya menatapmu? Aku tak mau bila nanti kau akan jatuh cinta padanya. Kau tahu kan? Bagaimana pun arwah-arwah penasaran sepertinya suatu saat akan pergi. Aku tak ingin kau sakit hati nantinya." ucap Seunghun. Yunhee tak berani menjawab. Ia tahu Seunghun benar. Bagaimanapun Baekho pria yang mudah untuk dicintai. Yunhee harus berhati-hati. "Aku akan tinggal di sini. Aku akan menjagamu agar tak melewati batas dengannya. Ibu pasti akan mengijinkan bila kukatakan aku ingin menemanimu." ucap Seunghun. "Lalu sekolahmu?" "Aku akan pindah. Ngomong-ngomong kau tak pergi bekerja?" tanya Seunghun. "Astaga! Aku terlambat!" *** Makassar, 27 Januari 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD