Bayaran Untuk Aletta

1126 Words
Rem mendadak Matthew lakukan saat di tengah kegelapan, dengan derai air hujan yang begitu lebat menghalangi pandangan Matthew. Namun, walaupun begitu Matthew masih dapat melihat ada siapa saja yang berada di depannya. Dan ya, Matthew refleks menghentikan mobilnya saat melihat seseorang dengan gilanya berjalan menuju ke arah mobilnya, sontak Matthew pun menghentikan mobilnya. “b******k!” marah Matthew. Ia pun keluar dari mobilnya untuk melihat siapa orang gila yang ingin mengakhiri hidupnya. Dan ya, sosok yang sedari tadi Matthew cari di perusahaan kini ada di hadapannya dengan tubuh yang begitu basah dan pucat. Untuk meluapkan emosinya Matthew pun mencengkeram pergelangan tangan Aletta untuk sedikit mendekatinya. “Sialan, kenapa kau—“ Aletta refleks tersadar sesaat dan melihat wajah Matthew sebelum pada akhirnya ia pingsan dan tubuhnya tentu saja langsung Matthew tahan. “Cih, kau pikir aku akan termakan dengan aktingmu!” “Bagus, bagaimana bila aku mendorong tubuhmu saja ke tengah jalan?” ancam Matthew dengan menatap wajah wanita itu. “Sial, seharusnya aku tidak menghentikan mobilku!” Sesalnya. *** Suara alat yang terdengar oleh indera pendengarannya membuat dirinya perlahan-lahan tersadar dari tidurnya. Ruangan serba putih kini ia lihat, tangannya pun terdapat sebuah infus yang menempel di sana. Rumah sakit? Ia pikir, ia benar-benar sudah tidak ada di bumi. Kepala Aletta juga terasa sakit, sekelibat ingatan saat ia membawa dirinya ke tengah jalan pun Aletta lakukan. “Seharusnya aku tidak ada di sini, kau pasti meminta pada tuhan agar aku tetap hidup kan? Kenapa, kau tahu aku sangat tidak menginginkanmu.” gumam Aletta lagi pada kandungannya. “Hidupku sudah terlalu rumit..” Ia pikir dengan cara ingin melenyapkan dirinya semua akan selesai, tapi kenapa ia masih tetap ada di sini. Haruskah ia memang melakukannya, sebelum semua semakin sulit untuk menghilangkannya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya membuat kepalanya teras sakit, saat ini seharusnya yang ia pikirkan adalah siapa yang membawanya kemari? “Selamat pagi..” Aletta menoleh ke arah seorang perawat yang menghampirinya dengan membawa sarapan. “Waktunya sarapan pagi.” Perawat itu ingin membantu Aletta memakan sarapan paginya, hanya saja Aletta langsung menahannya. Aletta tertahan untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya. “Ya, ada yang ingin anda tanyakan?” “Siapa yang membawaku, maksudku siapa yang bertanggung jawab—“ “Seorang Pria membawa anda kemari..” Seorang pria? Siapa, Aletta sangat ingin tahu siapa orang itu. “Tidak perlu dipikirkan, pulihkan kondisi anda dan semuanya akan baik-baik saja.” *** Terhitung empat hari sudah Aletta tidak masuk ke kantor, jujur sebenarnya ia terlalu takut untuk bertemu dengan banyak orang, dan juga perutnya masih belum terlihat bukan kalau ia sedang hamil? Memang perutnya belum terlihat, tapi Aletta sengaja menutupinya dengan pakaiannya yang oversize. “Aletta..” ucap Marshell ketika melihat Aletta di sini. Pelukan pun langsung ia dapatkan dari Marshell. “Letta, kau kemana saja?” tanya Marshell dengan nada khawatirnya. “Kenapa pesan dan teleponku kau abaikan?” tanya Marshell lagi sembari melepaskan dekapan pelukannya lalu melihat wajah Aletta. Aletta terlihat gugup, ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Marshell. “Aku baik-baik saja Shell..” ucap Aletta karena hanya kalimat itu saja yang bisa ia katakan kepada Marshell. Marshell menatap Aletta. “Aku serius Shell, aku baik-baik saja..” Marshell menatap Aletta, “Aku mendatangi rumahmu, tapi tidak ada orang..” Tentu saja, Aletta menghabiskan waktunya selama empat hari di dalam rumah sakit, jelas Marshell tidak akan melihat keberadaannya. “Kau kemana?” tanya Marshell dengan tatapan penuh tanya. “Aku memiliki urusan lain di luar.” Marshell mengerutkan keningnya tidak percaya, matanya pun kini tak sengaja melihat ke arah tangan Aletta yang terdapat plester kecil. “Kau sakit?” tanya Marshell menginvestigasi. “Letta, kenapa kau tidak memberitahuku?” “It’s oke Shell, bukan sakit yang serius..” ucap Aletta. Benar bukan sakit yang serius, hanya saja nyawanya hampir melayang karena keputusasaannya. Aletta meletakkan tas miliknya ke atas meja kerjanya, begitu juga dengan Marshell. “Tapi keadaanmu sudah baik-baik saja kan? Apa kita perlu ke Dokter lagi?” tanya Marshell takut Aletta memaksakan diri masuk untuk bekerja. “I’m oke Shell..” ucap Aletta, mencoba meyakinkan marshell. Karena ia tahu bila ia tidak bisa meyakinkan sahabatnya ini, pasti ia akan tetap membawanya ke dokter, bagaimana bila Marshell mengetahui bila dirinya hamil? “Aku masih menjadi pekerja di sini, kalau aku terus berada di rumah sakit pasti point ku akan semakin berkurang.” ucap Aletta dengan membawa point pekerjaan yang memungkinan Marshell tidak akan memperpanjang masalah ini. “Oke, sekarang kau bekerja jangan terlalu berat, aku akan membantumu.” Aletta tertawa pelan. “Tidak perlu Shell, memangnya aku kenapa, lagi pula ini pekerjaanku..” “Sstt, serahkan padaku—“ Marshell menghentikan perkataannya saat rekan-rekannya yang lain sibuk berlarian menuju tempat mereka masing-masing. “Putra pertama Gualtiero akan datang kemari..” gumam salah satu rekannya kepada Marshell. Putra pertama? Memangnya Keluarga Gualtiero memiliki anak berapa? Bukankah hanya Zico saja? “Tundukkan kepala kalian, yang aku dengar putra pertamanya sangat menyeramkan.” Sedangkan Aletta ia tak begitu mendengarkan, masalah hidupnya saja sudah terlalu banyak, bukankah ia harus fokus untuk pekerjaannya. Aletta menutup mulutnya saat rasa gejolak mual yang amat ia benci harus ia rasakan. Kenapa harus sekarang! ucap batin Aletta. Ia harus ke toilet sebelum Marshell atau teman-temannya yang lain merasa curiga kepada dirinya. Di saat semua fokus duduk di tempat mereka masing-masing, tapi tidak dengan Aletta yang justru malah berdiri dari kursinya. Aletta berjalan meninggalkan mejanya hingga tanpa sengaja tubuhnya justru menabrak tubuh lain yang terasa begitu kekar. “Maafkan saya..” Aletta tak memiliki waktu lain. Sampai akhirnya, ia tak mempedulikan siapa yang ia tabrak tersebut. “Aletta..” panggil Marshell saat ia tahu suara tersebut adlaah milik Aletta. “Saya Matthew, pemimpin kalian di sini.” Jadi desas desus yang mengatakan bila Zico bukan lah pemimpin asli di sini benar? Marshell mendongakkan kepalanya melihat siapa orang tersebut. Terkejut bukan main saat ia tahu, orang tersebut adalah pria yang saat malam acara perusahaan mendapatkan tamparan dari Aletta. *** Aletta menatap dirinya yang terpantul di cermin dengan tatapan miris. “Sampai kapan kau harus begini Aletta.” “Aku bahkan tidak menginginkannya, jadi kenapa aku harus menyiksa diri!” Ia harus mendapatkan keadaanya seperti ini. Sedangkan pria b******k itu, ia bahkan tidak mengetahui semenderita apa dirinya atas apa yang pria itu lakukan padanya. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya lebih dulu, ia tidak boleh berhadapan dengan rekan-rekannya dalam keadaan seperti ini. Setelah ia merasa keadaannya sedikit lebih membaik, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari toilet. Betapa terkejutnya ketika ia baru beberapa langkah keluar dari toilet, justru kini dihadapannya ada sebuah tubuh tegap yang menghalangi jalannya. “Jadi berapa yang harus saya bayar atas tubuhmu itu?” Sebuah kalimat yang amat merendahkan Aletta, kini di ucapkan oleh pria b******k yang telah mengubah hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD