Asap rokok yang di hembuskan dari mulutnya Matthew lakukan, sembari membaca sebuah berkas dokumen yang baru saja ia dapatkan dari anak buahnya.
Matthew sangat menantikan berkas tersebut setelah ia harus menunggu selama dua hari.
“Aletta Marrivale.” ucap Matthew saat membaca nama dari wanita yang berhasil mempermalukan dirinya.
“Jadi, kau bekerja di perusahaan milik keluargaku?” ucap Matthew lagi.
Ini seperti mimpi bagi Matthew karena ia tidak harus bersusah payah mencari, karena target sudah berada tepat di depan sasaran.
Matthew mematikan rokoknya, kali ini ia tidak akan meminta orang lain untuk mendapatkan wanita itu, tapi tangannya sendirilah yang akan melakukannya.
***
Marshell menatap ke arah tempat di mana Aletta sering bercerita atau pun bercanda dengannya. Namun, kali ini Marshell tidak dapat melihat sahabatnya itu.
Sudah dua hari dirinya tidak mendapatkan kabar dari Aletta, ia pikir hanya kemarin saja sahabatnya itu tidak akan datang ke kantor, hari ini pun sama ia tidak melihat kehadiran Aletta di sini.
“Lett, kau bilang kau ingin mendapatkan point yang besar, tapi kenapa kau tidak masuk lagi?” gumam Marshell seorang diri.
Meskipun banyak rekannya yang lain. Namun, Marshell masih terasa sendiri di sini.
Ia juga masih memikirkan apa yang telah terjadi kepada Aletta, kejadian dua hari yang lalu masih terus memenuhi pikiran Marshell.
Marshell kembali mengeluarkan ponselnya untuk mengecek apakah pesan dari dirinya sudah di balas oleh Aletta, namun masih tetap sama, Marshell tidak mendapatkan satu pun respon dari Aletta.
Bahkan ia pun sudah berkali-kali untuk menghubungi Aletta tak sedikit pun telepon darinya diangkat oleh Aletta.
Kekhawatiran Marshell semakin bertambah, mau tidak mau setelah jam pulang kerja selesai Marshell harus mengunjungi apartemen miliknya.
Suasana yang awalnya tidak terlalu hening dalam sekejap langsung hening saat Zico, bossnya ada di sini tepatnya kini ada di samping meja Marshell.
“Sir..” ucap Marshell saat melihat Zico ada di sini.
Zico melihat ke arah meja Aletta yang kosong.
Marshell sudah bisa menebak pasti bossnya ini akan menanyakan di mana keberadaan Aletta.
Letta, sepertinya point mu tidak akan aman. gumam Marshell dalam batinnya saat melihat bossnya itu masih berdiri di sampingnya.
Semoga mengenai Aletta yang membuat acara perusahaan sempat terganggu tidak terdengar sampai telinga Zico.
“Di mana temanmu itu?” tanya Zico sembari membetulkan lengan kemejanya.
Sudah bisa Marshell duga pasti Zico akan menanyakan keberadaan Aletta.
“Sakit, Aletta sakit Sir.” ucap Marshell berbohong pada bossnya. Karena, tidak mungkin bila ia mengatakan Aletta tidak masuk tanpa keterangan.
Jadi benar ternyata kondisi wanita itu masih belum membaik.
Zico kemari sebenarnya hanya ingin memastikan saja keadaan Aletta, benar saja ternyata sakitnya bukanlah sakit biasa.
“Saya pikir, Sir kemari ingin mencari saya..” Kini Marshell sengaja mengumpankan dirinya agar Zico tidak membahas lagi mengenai Aletta.
Bahkan ia segera memasang wajahnya secantik mungkin agar bisa memikat Zico.
Zico tak menghiraukan, ia kemari hanya untuk memastikan keadaan Aletta, salah satu pekerja yang menarik perhatiannya.
Ponsel milik Zico pun memecahkan keheningan di kantor, ia pun tanpa berpikir panjang segera mengangkatnya.
“Aku pikir kau tidak mengingatku lagi..” ucap Marshell sembari menyimak perbincangan yang sedang dilakukan bossnya, Zico yang menyadari itu segera pergi dari sini.
Marshell melipat kedua tangannya dengan pandangan masih menatap ke arah Zico yang perlahan menjauhinya.
“Jadi, ia sudah memiliki kekasih?” gumam Marshell lagi dengan hembusan napas pelannya.
“Ayolah Shell, sebelum pria itu menikah masih ada kemungkinan besar yang bisa aku dapatkan untuk memiliki Boss..”
Zico mematikan ponselnya saat ia tahu pasti omong kosong yang dikatakan kakaknya tidak benar, kemudian ia membuka pintu ruangannya sendiri.
Terkejut tentu saja Zico rasakan, ternyata kakaknya itu tidak main-main dengannya, ia benar-benar datang kemari.
“Aku pikir kau akan menjadi pembohong handal lagi.”
Pria dengan set kemeja hitam yang pasti dengan selipan rokok diantara jari telunjuk dan tengahnya.
“Jadi, apa tujuanmu kemari? Sudah siap untuk berada di sini?” tanya Zico sembari duduk di kursi kekuasaannya di sini.
“Aletta Marrivale, wanita itu bekerja di sini?”
Zico menautkan kedua alisnya, ada apa kakaknya itu menanyakan tentang Aletta?
“Ya, kenapa? Kau kenal dengannya?”
“Aku ingin menggunakan kekuasaanku di sini.”
Menanyakan Aletta, lalu ingin menggunakan kekuasaannya?
“Siap untuk memunculkan dirimu di hadapan semuanya? Kalau iya, aku tidak akan keberatan.”
Matthew mematikan rokok miliknya saat adiknya selalu saja menjadi menyebalkan seperti ini.
“Pecat wanita itu.”
Fokus Zico kembali pecah ke arah Matthew yang sedari tadi seperti orang aneh meminta permintaan yang tidak masuk akal.
“Jadi, kau ingin menggunakan kekuasaan yang kau miliki untuk memecat Aletta?”
“Wanita itu tidak pantas berada di sini!” bentak Matthew dengan meninggikan suaranya.
Wow, Zico tidak menyangka bila kakaknya itu akan semarah ini padanya.
“Perusahaan tidak pernah mempertahankan pekerja yang bolos tanpa kejelasan.”
Zico tahu, tapi itu berbeda, ia tahu wanita itu sedang sakit.
“Kau lihat, berkas ini kan, sepertinya aku memiliki hal penting yang harus aku kerjakan sekarang.” ucap Zico yang secara tidak langsung ia mengusir kakaknya.
“Tanpa persetujuan dariku, kau tidak bisa melakukan apa pun.”
Hidup Zico tidak akan tenang bila tidak mengikuti kemauan kakaknya yang sangat menakutkan ini.
“Kalau begitu aku tidak ingin bertemu dengan klien-klien, bagaimana kau saja?” kata Zico tak mau kalah.
Ia pun sebenarnya tak ingin berada dalam posisi ini, tapi ia harus terpaksa menjadi wajah untuk kakaknya yang masih meninggikan egonya karena tidak mau bergabung ke perusahaan.
Sifat mereka sebenarnya tidak jauh berbeda hanya saja Zico masih bisa untuk berpikir dengan jernih bila melakukan sesuatu dan tidak mengencangkan uratnya bila berbicara dengan seseorang.
***
Dua hari sudah, tubuh Aletta terasa tidak enak, suasana hatinya sangat buruk, ia enggan untuk bertemu siapa pun.
Ponselnya, ia bahkan tidak mempedulikan ponselnya.
Makanan pun Aletta tidak bisa memakannya dengan baik, hanya rasa mual saja yang ia rasakan.
“Apa kau tidak bisa untuk tidak menyulitkanku!” marah Aletta dengan janin yang berada di dalam kandungannya.
Aletta tidak ingin menjadi sulit seperti ini, ia tidak mau bayi dari pria b******k sepertinya.
Aletta memukul perutnya sendiri dengan teriakannya yang memenuhi rumahnya.
Bagaimana bila semua orang tahu bila ia hamil.
Marshell? Pasti mereka akan merasa jijik padanya.
Menutupinya? Tidak akan bisa, pasti perutnya lambat laun akan membesar.
Tubuh Aletta bergetar saat semua yang membuat pikirannya menjadi penuh.
Akal sehat Aletta pun mendadak perlahan menghilang dari dirinya.
“Benar, bagaimana kalau aku menghilang saja?”
Terlalu jahat baginya untuk melenyapkan bayi yang tidak berdosa ini. Bagaimana bila ia menghilangkan nyawanya saja?
Sebuah mobil yang bergerak dengan cepat pun kini ada di hadapan Aletta di tengah hujan yang begitu deras.
“Dunia terlalu jahat untukmu, bila tetap berada di sini.” gumam Aletta pada kandungannya, karena ia sudah merasakan bagaimana kehidupan yang ia miliki tak benar-benar ia miliki.