Matthew menarik sudut bibirnya ketika melihat tayangan video. Di mana keluarga Gilberto terus mendapat tekanan dan akhirnya berhasil menyerahkan seluruh harta sekaligus kasino yang ingin sekali Matthew ambil alih.
“Pergantian kepemilikan nama kasino sudah diatur sedemikan rupa, agar pihak yang mengetahui mengenai kasino tidak merasa curiga dan seluruh berita mengenai hilangnya tuan Gilberto telah di hapus secara bersih.” jelas Robert.
Matthew kembali memakan cake miliknya saat putaran video tersebut berakhir.
Robert hanya melihat Matthew yang terlihat cukup aneh baginya.
“Sekarang, lihat keadaan kasino, pertambah keamanan dan jangan sampai musuh memasuki ke dalamnya.” perintah Matthew.
Robert pun segera menjalankan perintah untuk melihat keadaan kasino baru milik Matthew.
Namun sepertinya kesenangan Matthew tidak bertahan lama saat panggilan masuk ia terima dan yang melakukan panggilan itu adalah ayahnya.
Berselang beberapa menit kemudian pun ponselnya kembali berbunyi dering pesan masuk saat telepon tersebut tidak Matthew angkat.
Malam ini kau harus hadir Matthew
Ingat Daddy tidak menerima ketidakhadiran mu!
Keras kepala yang hampir mirip, yang mungkin membuat Matthew tidak bisa menghindarinya.
***
Suara alunan musik klasik mulai terdengar, ketika Matthew memasuki tempat acara yang sebenarnya sangat tidak ingin ia datangi. Namun, karena desakan dari ayahnya membuat ia terpaksa harus kemari.
Benar saja, tatapan yang sudah bisa ia khawatirkan dari awal kini ia dapatkan.
Tatapan para wanita yang menatapnya seolah ingin menggoda dirinya melalui tatapannya.
Namun sayangnya Matthew sama sekali tidak akan tergoda, karena ia tahu ujung dari wanita-wanita yang mendekatinya hanya menginginkan uangnya saja, Matthew benar-benar muak akan hal itu.
Matthew mendecih dan segera mencari tempat yang telah disediakan, di mana ayahnya telah berada di sana.
“Setidaknya perlihatkan senyummu itu.” bisik ayahnya kepada putra sulungnya ini.
Matthew hanya menghela napasnya sembari membetulkan posisi duduknya agar terasa nyaman.
Acara yang sesungguhnya baru di mulai dan pembawa acara pun segera menyambut kehadiran sang pemilik perusahaan.
Tangan ayahnya yang berada di bawah, ia memaksa untuk Matthew agar ikut berdiri menyambut semua para tamu. Hanya saja, Matthew tidak berminat sama sekali dan tetap mempertahankan dirinya di kursi.
“Sampai kapan mau tetap seperti ini?”
“Daddy tahu ini bukan waktunya.”
Ayahnya itu dengan amat terpaksa melepaskan tangan Matthew, ia sangat tahu betul bila putranya tidak akan pernah bisa ia paksa untuk melakukan hal yang tidak ia inginkan.
“Ini bukan waktunya, jadi aku mohon untuk tidak mengatakan apa pun mengenai diriku.” pinta Matthew.
“Jadi, di mana bocah nakal itu?” tanya Matthew kepada ayahnya.
“Adikmu tidak bisa hadir, lagi-lagi ia harus menggantikan posisimu untuk menemui klien.”
Matthew meneguk segelas wine saat daddy-nya terus menerus membahas posisi.
***
Di tempat lain Aletta terlihat begitu banyak masalah yang menghampirinya, namun di satu sisi lain juga ia harus menghadiri acara perusahaan.
Apa yang harus aku lakukan, ini semua tidak mungkin kan? ucap batinnya
Aletta masih terus menepiskan segala fakta yang telah terjadi, tapi ia tidak bisa, testpack dan juga pemeriksaan rumah sakit telah menunjukkan bahwa ia benar positif hamil.
“Aletta..” panggilan Marshell yang rupanya sudah lebih dulu berada di sini.
Melihat Marshell jujur saja Aletta ingin sekali menangis dan meluapkan segalanya, tapi tidak mungkin, bagiamana bila Marshell tidak ingin lagi ber-urusan dengan dirinya?
Ia tidak memiliki apa pun lagi untuk menjadi sandaran.
“Kau kenapa Lett?”
Aletta hanya bisa menggeleng saja tanda bahwa ia baik-baik saja walaupun kenyatannya ia amatlah buruk.
Ia harus pintar-pintar menutupi apa yang tengah terjadi kepada dirinya.
“Aku baik-baik saja Shell..” jawab Letta saat Marshell terus menatapnya dengan tatapan curiga.
“Kenapa terlambat? Aku sudah mengirim pesan dan juga telepon, tapi kau tidak merespon?”
Aletta bahkan tak mempedulikan ponselnya, hari ini ia tidak memiliki kesempatan untuk memainkan ponselnya karena harus mengunjungi rumah sakit untuk mengecek keadaan dirinya.
“Selamat nyonya Aletta, saat ini anda sedang mengandung..”
Sebuah kalimat yang sangat tidak ingin Aletta dengar pun akhirnya terjadi.
Membuat sedikit harapan yang ia miliki mengenai pemeriksaan yang ia lakukan sendiri melalui testpack telah lenyap.
Tangan Aletta yang berada di bawah meja pun tiba-tiba bergetar saat perkataan dokter kembali berputar dalam pikirannya.
Sekarang apa yang harus aku lakukan.. gumam Aletta dalam batin, dunia seolah berhenti berputar.
Di saat otaknya terus berkecamuk memikirkan semuanya, mata Aletta tak sengaja menangkap sosok yang telah membuat hidupnya menjadi seperti saat ini.
Melihatnya membuat Aletta tidak baik-baik saja. Ia pun kembali mengingat bagaimana sosok itu memaksa dirinya untuk melakukan hal yang sangat tidak ia inginkan.
Terlebih saat Aletta melihat pria itu dengan santai dan tanpa beban menarik sudut bibirnya.
Tanpa Aletta sadari ia bangkit dari bangkunya, membuat Marshell dan juga beberapa rekannya yang duduk di belakangnya langsung memfokuskan tatapan ke arah Aletta.
Tanpa ekspresi, Aletta bergerak menghampiri ke arah pria b******k yang membuat hidupnya hancur.
Matthew pada awalnya tidak menyadari dengan kehadiran seseorang di sampingnya, hal itu baru ia sadari ketika ia menghirup aroma yang terasa tidak asing untuknya, menusuk indera penciumannya dan juga informasi yang diberi tahu salah satu tamu di sini, di mana ia menempati posisi kursi yang sempat di duduki oleh ayahnya Matthew yang memilih untuk pergi lebih awal.
Seorang wanita kini berdiri tepat di sampingnya tanpa ekspresi apa pun.
Sebuah tamparan pun Aletta layangkan pada pipi Matthew, tamparan yang begitu nyaring cukup membuat orang yang berada di sekitar ikut merasakan sakit dan terfokus pada sumber suara.
Tentu saja Aletta menampar Matthew dengan tenaga yang ia miliki.
Sedangkan Matthew, pria itu jelas merasakan sakit pada pipinya dan juga telinganya yang terasa berdenging setelah mendapatkan tamparan keras yang ia dapatkan dari wanita yang tidak ia kenali.
Dan ya, ini juga merupakan pertama kalinya Matthew mendapatkan perlakuan buruk dari seorang wanita yang biasanya selalu merunduk padanya.
“Setelah puas melakukan hal buruk padaku, bagaimana kau masih bisa tersenyum selebar ini, b******k!” kata-kata sarkas Aletta keluarkan untuk pria yang saat ini tidak ia kenali posisi dan kedudukannya di perusahaan tempat di mana ia bekerja.
Acara yang sedang berlangsung saat ini pun dalam sekejap langsung hening dengan fokus ke arah Matthew. Di mana sebagian kolega ayahnya mengetahui dirinya siapa dan sebagian lagi tak mengenali sosoknya.
Marshell yang berada di tempatnya ia refleks membulatkan mulutnya saat melihat sahabatnya memberikan tamparan kepada seseorang yang di anggap penting disini, karena pria itu berada di tengah-tengah orang penting.
“Letta, apa yang kau lakukan..” gumam Marshell pelan melihat tindakan Aletta.
Ia sudah bisa menduga bahwa ada yang aneh dengan Aletta sejak ia datang kemari, seolah ada suatu hal besar yang ia tutupi.
Ia pun sangat tahu bila Aletta tidak akan berani melakukan hal tersebut bila tidak memiliki alasan.