Testpack

1200 Words
Segala jenis makanan manis kini ada di hadapan seorang pria dengan rahang tegasnya. Ya, di depan Matthew saat ini ada beberapa cake yang sangat menggugah seleranya sedari tadi. Ini sebenarnya bisa dikatakan gila, ia yang biasanya menolak makanan manis bahkan tidak menyukai cake kini menjadi berbanding terbalik, rasa keinginan untuk memakan cake ini benar-benar sudah tidak bisa ia tahan. Dengan perasaan yang meyakini bahwa ini bukanlah dirinya pun ia rasakan, ketika cake itu benar-benar ia ambil. Ia berusaha meyakini dirinya apakah ia sungguh-sungguh harus memakan ini? Tentu saja tidak, sebuah ketukan pun sudah lebih dulu mendahului ketika cake itu hampir memasuki mulutnya. “Masuk.” singkat Matthew setelah mendengar suara ketukan pada pintu ruangannya. Robert yang sedari tadi berdiri di depan pintu segera masuk ke ruang kerja Matthew di rumah mewahnya ini. “Target berhasil ditemukan..” ucap Robert pelan. Raut wajah Matthew pun dalam sekejap langsung berubah memperlihatkan amarah dan penuh dendam yang ia perlihatkan. *** Ruang yang minim cahaya dan juga amat sangat tersembunyi dan jangkauannya sudah bisa dipastikan tidak akan dengan mudah ditembus oleh siapa pun. Markas besar tersembunyi di mana semua mangsa yang dengan berani macam-macam kepada putra sulung keluarga Gualtiero sudah pasti tidak akan terselamatkan. Benar saja, seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan usia ayahnya kini ada di dalam ruangan ini dengan tangan dan kaki terikat dan juga mulut yang ditutup oleh sebuah lakban hitam. Wajahnya bahkan tidak semulus wajah semula miliknya, kini di wajahnya terdapat luka lebam akibat ulahnya yang berniat melawan orang-orang Matthew. Matthew yang saat ini sudah berada tepat di depan wajah sang pengkhianat sejenak mengambil sebatang rokok kemudian menyalakannya dengan pemantik api. Dengan sebatang rokok yang kini terselip di antara bibirnya, Matthew perlahan berjalan mendekat ke arah rekan brengseknya ini, kemudian menarik secara kasar lakban yang menutupi mulut milik Gilberto. “Katakan semuanya dengan jelas padaku.” ucap Matthew memberi kesempatan kepada Gilberto agar mengatakan rencana konyolnya itu pada dirinya. Namun Gilberto hanya bungkam tak berniat sedikit pun menatap ke arah Matthew. Diamnya Gilberto benar-benar memancing amarah Matthew, ia pun membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya hingga hancur. “Katakan b******k!” tekan Matthew dengan amarah yang ia perlihatkan. Matthew mendecih melihat bungkamnya Gilberto sialan yang ternyata merupakan pesuruh dari klan Flavio. klan Flavio merupakan klan terbesar kedua setelah klan Gualtiero, hanya saja klan Flavio menganggap Gualtiero sebagai musuh besar karena dianggap sebagai ancaman yang bisa membuat Klan Flavio hancur. Kebencian mendarah daging pun semakin menjadi ketika Ibu dari Matthew meninggal dan diduga kuat klan Flavio lah yang telah membunuh Ibunya. Namun hukum tidak bisa menangkapnya. “Kau ingin menjebakku dengan perempuan sialan itu? Menjebakku kemudian menghancurkan segala reputasiku atas perintah dari Flavio?” gumam Matthew pelan dengan tangan miliknya yang terkepal seolah ingin melayangkan tinjuan padanya. “Sial. Bergabung denganku, lalu ingin mengkhianatiku, kau belum tahu konsekuensi yang akan kau dapatkan termasuk seluruh keluargamu.” geram Matthew dengan rencana klien palsunya ini Suara Matthew yang terkesan terdengar tenang, namun tak ada satu pun dari orang-orangnya yang berani untuk mengeluarkan sepatah kata pun bila ancaman berat yang Matthew katakan telah keluar. Gilberto mendongak, ia mulai berani menatap Matthew. “Kau ingin melakukan apa?” cicit Gilberto pelan, bahkan suaranya kini mulai terdengar bergetar. Tak mengatakan apa pun pada Gilberto, Matthew segera membelakangi Gilberto namun ia memberi isyarat dengan mengangkat tangannya ke atas. Suara dari revolver pun terdengar dan menggema di markas besar miliknya. Itu mengartikan bahwa Gilberto dan keluarganya telah masuk ke dalam daftar hitamnya dan siap untuk di hilangkan. Karena siapa pun yang telah masuk ke dalam markas besarnya, itu akan menjadi tempat napas terakhir mereka semua yang melakukan pengkhianatan padanya. *** Matthew meregangkan tubuhnya di mobil miliknya, matanya juga terpejam menantikan kepulangannya untuk memakan cake yang tadi sempat tertunda untuk ia makan. “Makanan manis buruk untukku, tapi lebih buruk lagi bila makanan menyebalkan itu memenuhi otakku!” gerutu Matthew ketika mengingat kembali makanan itu selalu terngiang dalam otaknya. Ia berniat untuk bisa terlelap namun sebuah panggilan masuk di ponselnya justru mengganggu dirinya. Telepon pertama yang masuk ke dalam ponselnya awalnya tidak Matthew angkat, hingga ke tiga kalinya ponselnya berbunyi Matthew pun memutuskan untuk mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Apa yang kau lakukan, kenapa tidak menjawab panggilan dariku? Mulut Matthew baru terbuka sedikit, untung saja kata-kata kasarnya tidak sempat keluar. “Tidak mendengarnya.” jawab Matthew dengan alibinya. Terserah apa yang ingin kau katakan, yang jelas, besok kau harus datang, karena ini sudah yang kesekian kalinya kau tidak hadir Matthew. peringat Emmanuel kepada putranya. Helaan napas pun Matthew lakukan, ia sudah tahu maksud dari perkataan ayahnya untuk memintanya hadir di acara proyek terbaru perusahaan. “Aku belum siap.” singkat Matthew karena ia memang tidak suka bertemu dengan orang-orang yang entah benar bersikap baik atau hanya sandiwara saja hanya untuk sebuah bisnis. Siap tidak siap, kau tetap harus menghadirinya, daddy tidak membutuhkan alasanmu. desak Emmanuel dari sebrang telepon. Matthew menatap layar ponselnya saat panggilan itu tiba-tiba mati dan ayahnya lah yang mematikan telepon tersebut secara sepihak. Helaan napas panjang pun terdengar hingga telinga Robert sang bodyguardnya. Ia sangat tahu betul bagaimana Matthew menolak keras untuk mengikuti perintah ayahnya. Namun, di satu sisi ia harus tetap melakukan untuk meneruskan perusahaan yang telah dirintis keluarganya. *** Di sisi lain Aletta kini tengah menunggu sesuatu dengan perasaan cemas, berharap apa yang ditakutkan tidak terjadi. Ketakutan yang berasal dari celetukan seorang wanita yang tidak sengaja ia temui di apartementnya, menatap dirinya aneh ketika ia mendadak mual saat mencium aroma makanan yang wanita itu bawa. “Menghina makananku seperti itu?!” sungutnya begitu ketus. Aletta masih menutup mulutnya dengan tangan. “Wanita hamil aneh.” Aletta menaikkan pandangannya saat wanita itu menyebut kata hamil kepada dirinya, karena hanya dirinya saja yang ada di sini selain dirinya. “Maksudmu apa?” ucap Aletta yang merasa tersinggung. Namun wanita itu memilih untuk pergi dan tidak menghiraukan Aletta hingga membuat tanda tanya baginya mengenai perkataan mengenai kehamilan. Rasa penasaran itu akhirnya membuat Aletta melakukan searching dan mencari tahu mengenai kehamilan. Dan hampir setiap gejalanya Aletta rasakan termasuk mual. Tunggu, kalau Aletta ingat-ingat lagi, ia memang belum mendapatkan datang bulan semenjak terakhir kali ia mendapatkan kejadian yang memilukan untuknya. Ingatan yang berusaha Aletta hilangkan kembali lagi dan menimbulkan rasa takut lagi dan juga tubuhnya mengalami gemetar. Saat ini ia juga mengikuti perintah yang diberitahu website untuk mengeceknya menggunakan testpack. Tangannya bergetar kala ia melihat dua garis merah terlihat begitu jelas di benda pipih tersebut, garis yang menunjukkan bahwa kehamilan telah terjadi atau bisa di bilang ia tengah mengandung. Tak hanya tangan saja, tubuhnya kembali bergetar jauh lebih hebat mengetahui dirinya kini tengah mengandung anak dari seorang pria yang tidak ia kenali. Gelengan keras ia lakukan saat ia mencoba untuk menepis kenyataan dari testpack tersebut, ia tidak mungkin hamil. Lemparan pelan pun ia lakukan terhadap benda pipih tersebut hingga terjatuh ke atas lantai. “Itu pasti salah, aku tidak mungkin hamil.” sangkalan pun akhirnya terjadi saat ia harus menerima fakta yang sangat sulit untuk ia terima. Kilasan-kilasan malam tersebut kembali terputar di dalam memorinya. Kejadian yang teramat sulit untuk Aletta lupakan pun kembali lagi, memperlihatkan bagaimana paksaan yang dilakukan pria tersebut hingga akhirnya ia berhasil merenggut kesuciannya secara paksa. “Ini pasti salah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD