Gejala Aneh

1117 Words
Bulir keringat yang menetes dari kening dan juga napas yang terengah Aletta lakukan saat mimpi buruk atas kejadian tiga bulan yang lalu Aletta alami. Di mana, kesuciannya harus dirampas oleh seorang pria yang tidak ia kenali. Isakan, penolakan dan hinaan telah Aletta lakukan namun ia tetap tak berdaya berada dalam kungkungan pria yang masih Aletta ingat jelas di otaknya bagaimana wajah brengseknya itu benar-benar ingin Aletta hujamkan dengan tinjuan berkali-kali. Walau kejadian itu telah tiga bulan berlalu. Namun,itu masih menjadi suatu hal yang membuat Aletta trauma bahkan napasnya terkadang terasa sesak, hingga membuat dirinya kesulitan untuk bernapas. Kejadian yang berusaha Aletta lupakan namun harus kembali terputar lagi, saat mengingat tanggal datang bulan dirinya sudah telat lebih dari dua bulan. Aletta menepis semuanya. Tidak, mungkin dirinya hanya stress sehingga menyebabkan siklus datang bulannya menjadi terlambat. Tak ingin membuang waktunya lagi, Aletta pun segera mempersiapkan dirinya untuk berangkat bekerja. *** Jujur hari ini Aletta merasa tubuhnya kurang baik-baik saja, bahkan ia tidak mendengarkan begitu jelas pembahasan yang dibahas melalui meeting hari ini. "Letta, kau baik-baik saja?" tanya Marshell yang sedari tadi menyadari bila Aletta dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Aletta melirik ke arah Marshell kemudian mengangguk, mengisyaratkan padanya bahwa dirinya baik-baik saja. "Kau kenapa?" ulang Marshell lagi dengan perasaan khawatir. "I'm oke." Namun semua perkataannya sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan. Tubuhnya sudah sedari tadi merasakan kondisi yang tidak mengenakkan, dan itu semakin parah ketika meeting ini dimulai dan juga ketika atasannya memasuki ruangan ini. Aroma dari parfum yang bossnya itu pakai benar-benar membuat kepalanya terasa pening dan mual. Ia berharap meeting hari ini segera berakhir, ia benar-benar sudah tidak bisa berlama-lama berada di satu ruang yang sama dengan bossnya. "Meeting hari ini cukup sampai di sini." Sebuah kalimat yang amat ingin Aletta dengar akhirnya terjadi, ia pun segera bangkit dan keluar dari ruangan ini sesegera mungkin tak peduli dengan tatapan aneh padanya. Sedangkan Marshell yang masih berada di dalam ruangan menjadi sasaran tatapan penuh tanya dari rekan-rekannya dan juga bossnya. Marshell pun segera pergi dari ruangan untuk menyusul ke mana Aletta pergi. Rupanya Aletta benar-benar mengeluarkan seluruh isi perutnya di dalam toilet ketika ia tidak bisa lagi menahannya. "Letta.." panggil Marshell sembari mengetuk pintu di mana terdapat Aletta di dalamnya. Marshell hanya mendengarkan bagaimana Aletta mengeluarkan isi perutnya itu hingga sahabatnya itu keluar dari dalam toilet. Wajahnya yang pucat dengan bulir keringat di dahinya dapat Marshell lihat. "Letta, kau kenapa?" tanya Marshell khawatir melihat kondisi Aletta saat ini. Aletta mencoba mengatur napasnya kemudian menuju ke arah cermin untuk melihat dirinya. Apa yang Marshell lihat kini dapat dirinya lihat, wajah pucat yang ia miliki saat ini. "Letta..." panggil Marshell lagi saat Aletta tidak menjawabnya. "Aku hanya sedikit merasa pusing dan mual saja Shell.." jawab Aletta sebisa mungkin walaupun sebenarnya sangat sulit untuk ia lakukan. "Firasatku tidak pernah salah, saat kau datang aku sudah bisa menduganya." kata Marshell. "Tidak tadi aku hanya merasa pusing saja, tapi saat meeting dimulai ruangan terasa bau Shell." gumam Aletta pelan. "Bau?" tanya Marshell sedikit bingung, ia bahkan tidak merasakan bau sedikit pun. "Aku tidak tahu apa yang digunakan Tuan Zico, hanya saja aku merasa baunya begitu menusuk." kata Aleta sembari berusaha menghilangkan bau itu dalam pikirannya. Sungguh Aletta mengatakan Zico bau? Bau dari pria itu justru membuat ruangan menjadi tenang, bau parfum yang pertama kali bossnya itu pakai. "Tapi itu wangi Lett." ucap Marshell. Wangi? Indera penciuman Marshell benar-benar sudah terganggu. "Mungkin kau belum terbiasa dengan baunya." ucap Marshell dengan cepat lagi. Mungkin, yang jelas saat ini Aletta ingin segera mengistirahatkan tubuhnya pada kursi atau apa pun itu yang bisa menopang tubuhnya. Marshell pun dengan kesadaran diri ia membawa Aletta menuju ruang kesehatan. "Di sini lebih baik Lett," saran Marshell kepada Aletta untuk beristirahat di sini. Itu memang benar, tapi bagaimana dengan pekerjaannya? bagaimana dengan pointnya bila ia berada di sini? "Kesehatanmu jauh lebih mahal Aletta, aku yang akan memberitahu kalau kau sakit." kata Marshell mencoba mengingatkannya. "Makan siang nanti aku ke sini, sekarang aku harus kembali bekerja." ucap Marshell kemudian segera pergi. Aletta menghela sembari membaringkan tubuhnya. Jujur ia merasa tubuhnya saat ini ada yang salah, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhnya. Di lain tempat Marshell ia bergegas menuju tempat kerjanya sebelum dirinya dipergoki oleh bossnya. *** Tidur lelap yang amat Aletta rindukan harus berakhir ketika ia kembali merasakan mual dan itu berasal dari aroma tubuh Zico dimana pria itu kini ada di ruangan kesehatan. Sontak hal itu membuat Aletta sedikit terkejut dan berniat bangkit dari ranjang di sini namun Zico dengan cekatan menahan Aletta. "Saya tahu kau sedang tidak sehat." ucap Zico sembari menghampiri Aletta. Kenapa ia kemari? Ucap batin Aletta ketika Zico kini benar-benar di dekatnya. "Kau bisa pulang dan itu tidak akan berpengaruh pada pointmu." Ucap Zico mencoba membuat Aletta gasr tidak memikirkan pekerjaannya lebih dulu. Aletta bahkan sudah melupakan tentang pointnya. "Letta.." panggil Marshell tanpa melihat apakah ada orang lain selain dirinya yang mengunjungi Aletta. Marshell melihat ke arah Bossnya, ia tidak menyangka bila bossnya itu kemari. Pasalnya tadi sesaat setelah ia mengantar Aletta menuju ruang kesehatan ia bertemu dengan Zico dan menanyakan tentang Aletta yang terlihat aneh, setelah ia mengatakan bila Aletta berada di sini pria itu benar-benar mengunjunginya? Melihat Marshell, Zico mendadak menjadi kaku, bahkan memundurkan langkahnya menjauhi ranjang yang Aletta tiduri. "Sir ada di sini?" tanya Marshell berbasa basi. "Masih ada pertemuan yang harus saya hadiri, permisi." ucap Zico secepat mungkin dan segera berlalu pergi. Marshell menatap aneh ke arah Bossnya. "Aku tidak tahu kenapa ia kemari, tapi Marshell aku bersyukur kau datang lebih cepat." ucap Aletta dan langsung mengambil udara bebas yang sedari tadi terasa mengganggu saat kedatangan Zico. "Kau baik-baik saja‘kan?" tanya Marshell melihat kondisi Aletta. Aletta hanya mengangguk dengan perasaan lega. Marshell tentu saja langsung mengeluarkan makanan yang ia pesan khusus untuk Aletta yaitu bubur. Marshell yang tidak ingin kondisi sahabatnya semakin memburuk ia pun segera menyuapi Aletta, namun respon Aletta justru malah menutup mulutnya rapat-rapat. "Aletta.." "Aku tidak ingin makan Shell." ucap Aletta dengan sedikit penolakan. Mau tidak mau Aletta dengan terpaksa memakan sesuap bubur yang Marshell berikan. "Katakan padaku, tadi pagi atau pun kemarin kau salah makan tidak?" tanya Marshell bak Intel. Aletta menggelengkan kepalanya, ia bahkan tidak memakan makanan yang aneh. Mualnya pagi ini semua dipicu dari bau aroma tajam yang Zico pakai. "Aku sudah mengatakan itu karena parfum milik pria itu Shell.” kata Aletta menjelaskan. Marshell merasa bila Aletta aneh karena tidak biasanya ia seperti ini.Tapi tunggu, entah kenapa apa yang Aletta lakukan persis seperti yang dilakukan tetangganya ketika hamil. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aletta saat menyadari Marshell menatapnya bak orang aneh. Apa yang kau pikirkan, itu tidak mungkin. tepis batin Marshel dengan segala pikiran yang amat tidak mungkin Aletta lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD