Aletta meneguk habis minuman ice lemon tea yang dua puluh menit lalu Marshell berikan kepadanya, itu artinya Aletta telah berada di sini selama tiga puluh menit, sepuluh menit dengan Marshell dan dua puluh menit lagi ia habiskan seorang diri di sini.
Membosankan tentu saja Aletta rasakan, beberapa kali pria-pria menghampiri Aletta, namun ia memilih untuk memberikan senyuman kepada mereka saja selebihnya ia mengabaikannya.
Untuk menghampiri Marshell pun tidak mungkin, sahabatnya itu tengah sibuk menyambut rekan-rekannya yang lain hadir di sini.
Lebih baik Aletta menuju toilet sejenak, meminum ice lemon tea itu membuatnya ingin membuang air kecil.
Setelah dari toilet mungkin Aletta akan pamit kepada Marshell untuk segera kembali ke apartemennya, waktu juga sudah cukup larut.
Aletta sudah berjalan dengan sangat hati-hati, seorang wanita kembali menabrak dirinya dan tidak sengaja menumpahkan segelas minuman yang sangat berbau alkohol ke dress bagian bawahnya, walaupun hanya terkena sedikit tapi tetap saja baunya benar-benar tidak Aletta sukai.
"Kau punya mata tidak?!" marah wanita asing yang menabrak tubuhnya.
Aletta menatap dressnya yang basah kemudian menatap wanita yang baru saja memakinya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kau punya mata tidak, jalanan di sini masih luas tapi kenapa menabrakku lalu menumpahkan minumanmu itu?!" cicit Aletta sengit.
"Aku menumpahkan minumanku? Kau yang menabrakku, untuk apa aku menumpahkan minuman mahalku di pakaian murahanmu itu." hardik wanita itu lagi tak mau kalah dari Aletta, karena ia merasa tak bersalah atas apa yang kini menimpa Aletta.
"Murahan?!"
Aletta benar-benar tidak terima dihina seperti itu oleh wanita yang telah membuat pakaiannya menjadi bau seperti saat ini.
Aletta sejenak menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengambil sesuatu untuk ia balaskan kepada wanita tersebut.
Tepat sekali, seorang Bartender tengah menyajikan sebuah minuman, langsung saja Aletta mengambilnya lalu membalas mengotori pakaian wanita itu, menumpahkan minuman yang masih penuh itu ke pakaian wanita tersebut.
"Pakaianmu yang murahan dan tidak memiliki memori sedikit pun. b***h!" geram Aletta puas, lalu memilih untuk pergi meninggalkan wanita yang membuat emosinya ini menjadi naik.
Wanita itu ternganga melihat seluruh pakaiannya kini yang telah berubah menjadi basah.
***
Setelah berada di dalam toilet, ke dua tangan Aletta langsung berpegang pada wastafel, ia juga menatap dirinya di cermin yang terlihat sekali masih menahan kesal.
Aletta mengambil beberapa tissu lalu mulai membersihkan pakaiannya yang basah ini.
"Berani sekali mengatakan pakaianku murahan, memangnya ia siapa berkomentar buruk tentangku!" gerutu Aletta yang tidak ada habisnya.
Sungguh baunya sangat benar-benar menusuk indera penciumannya.
Tidak mungkin ia melepaskan pakaiannya di sini, ia tidak mungkin keluar dari toilet tanpa busana.
Aletta sejenak menarik napas lalu membuangnya untuk meredakan emosinya yang sedari tadi masih meninggi.
Seberusaha mungkin Aletta membersihkan dressnya yang terkena minuman dari wanita tadi, sebisa mungkin ia menghilangkan bau dari minuman alkohol ini, bahkan Aletta menyemprotkan parfum miliknya tepat di bagian pakainanya yang terkena minuman tersebut, tak hanya itu saja ia juga menyemprotkan parfumnya diseluruh tubuhnya.
Wangi parfum yang ia miliki pun kini menyebar ke seluruh ruangan toilet.
Keputusan Aletta untuk segera pulang memang benar, lebih baik ia segera menuju ke Marshell untuk pamit sebelum dirinya benar-benar pergi dari tempat ini.
"Maafkan aku Marshell, aku tidak bisa menemanimu hingga acaramu ini berakhir." ucap Aletta pelan sembari berlatih dengan kata-kata yang akan ia katakan kepada Marshell.
"Ya, aku harus mengatakan itu--"
Aletta memegang sikunya yang terasa sakit. ini adalah ke tiga kalinya tubuhnya ditabrak oleh seseorang.
Aletta menatap pria yang kini berada di atas tubuhnya dengan mata yang sesekali ia kerjapkan.
Mabuk? batin Aletta saat ia mencium bau aroma alkohol dari napas pria bermata biru ini.
Matthew mencoba menyeimbangkan tubuhnya dan berniat bangun setelah dirinya jatuh tersungkur dan menabrak tubuh seseorang.
Wangi tubuhnya yang bisa tercium jelas oleh indera penciumannya membuat rasa panas di dalam tubuhnya sebelumnya semakin menjadi, bahkan niatnya untuk bangkit pun ia tunda sejenak, ia justru malah mendekatkan hidungnya ke sumber aroma yang begitu memikatnya, sial ia ingin menghirup lebih aroma wangi tersebut.
Aletta membulatkan matanya saat pria tak dikenalinya ini dengan beraninya mengendus lehernya seperti ini, bukan hanya mengendus ia juga mulai mencium lehernya ini.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Aletta, ia juga tak segan mendorong pria yang tak bertenaga itu, mendorongnya agar menyingkir dari atas tubuhnya.
Aletta kini merubah posisinya menjadi duduk, napasnya terengah-engah dengan tatapan marah bercampur takut dengan pria di hadapannya ini.
"Brengsek." Desis Aletta kepada pria tak sopan itu.
Samar-samar Matthew melihat bagaimana wanita itu tengah merutuki dirinya.
Sial. Kenapa ia ingin menghirup aroma tubuhnya lagi? Tidak, ia ingin melakukan hal lebih dari sekedar menghirup aroma wangi dari tubuh wanita tersebut.
Aletta pun berniat bangkit untuk beranjak pergi dari sini, namun hal lain justru tidak Aletta sangka, pria yang ia pikir tidak memiliki tenaga itu di luar dugaan Aletta ia ternyata masih memiliki tenaganya itu.
Napas yang tidak beraturan dan juga tatapan penuh nafsu bisa Aletta rasakan, ia menahan tubuhnya dengan ke dua tangan kekarnya di dinding.
"b******k apa yang kau lakukan!!" murka Aletta sedikit berteriak, ia juga mencoba berontak agar terlepas dari cengkeraman pria ini.
Entah tenaga yang berasal dari mana, karena memang sebelumnya Matthew telah kehilangan tenaganya, ia pun memanfaatkan hal itu untuk membawa tubuh Aletta ala bridal style.
Ia butuh tempat untuk ia habiskan bersama wanita yang kini berada dalam genggamannya.
"Lepaskan aku!!" jerit Aletta sekaligus memberontak sekuat tenaga, berharap pria itu tak kuat menahan beban tubuhnya lalu melepaskan dirinya, namun Matthew semakin mendekap erat pegangannya.
"Tolong aku!" teriak Aletta sekeras mungkin, tapi sialnya di lorong ini kenapa sangat sepi?!
Lorong? Pria ini mau membawa ke mana dirinya pergi? Ini bukan jalan menuju tempat yang ia lewati untuk menuju toilet.
Aletta terus berteriak berharap pria ini mau mendengarkan atau melepaskan dirinya tapi ia seolah tuli dan tetap melangkah dengan sedikit gontai.
Setelah berada di sebuah ruangan tubuh Aletta langsung ia lepaskan di atas ranjang, tak lupa sebelumnya Matthew juga telah mengunci rapat pintu kamar di bar ini, sebuah ruangan yang sebenarnya asal Matthew masuki namun ia seperti mendapatkan ruangan khusus untuk ia habiskan berdua menikmati aroma dan lainnya yang wanita ini miliki.
Aletta menatap tempat yang kini ia naiki.
Sebuah ranjang? jangan bilang ini adalah sebuah kamar.
Sial-sial, Aletta tidak boleh berada di tempat ini, ia harus pergi dari sini saat pemikiran buruknya mulai muncul di dalam pikirannya.
Tatapan Aletta kini mengarah ke arah pria yang mulai melepaskan jas miliknya lalu melemparnya asal.
"K-kau mau apa..," resah Aletta sembari bangkit lalu memundurkan tubuhnya di atas ranjang untuk menjauhi pria itu yang justru semakin menghampirinya.
"Jangan macam-macam padaku!" tegas Aletta yang semakin takut.
Suara Aletta? Bahkan suara itu tidak begitu jelas oleh indera pendengaran Matthew, ocehannya hanya sebagai angin berlalu bagi seseorang yang nafsunya telah berada di ujung tanduk.
Matthew mulai melepaskan satu persatu kaitan kancing kemejanya, memperlihatkan bentuk tubuh atletisnya.
Sedangkan Aletta? Ia perlahan-lahan mulai menuruni ranjang, dengan aba-aba yang ia buat sendiri Aletta segera bergegas berlari menuju pintu dengan tubuh yang bergetar takut.
Dengan pandangan yang buram namun Matthew masih bisa melihat pergerakan wanita itu yang mengarah ke pintu, senyum devil nya pun ia perlihatkan.
Aletta menegang saat pintu kamar ini rupanya tertutup dengan rapat, Aletta tidak bisa membuka pintu ruangan ini.
Bagaimana ini Tuhan, ini bukan akhir dari segala kehidupanku‘kan? ucap batin Aletta dengan rasa takut yang semakin menjadi.
Ketakutan Aletta bertambah saat ia merasakan sebuah hembusan yang menerpa lehernya dan juga sebuah bisikan yang benar-benar membuat sekujur tubuhnya merinding.
"Your scent makes me addicted.."