PART 5 (GO PUBLIK)

1359 Words
Panas panas panas, biarpun suhu Acnya 18˚C tapi rasanya panas banget apalagi punggungku yang menjadi pusat perhatian 51 pasang mata penghuni gedung L2-301. Batin Wulan yang menatap tajam papan slide sejak bokongnya menduduki bangku deret depan kelas, efek telat 5 menit padahal dirinya dikenal sebagai penghuni setia deret tengah menuju belakang. “Perasaan daritadi kalian lirik-lirik sebelah kiri terus ada apasih?” Bu Rida yang memiliki watak ramah dan dikaruniai wajah cantik biarpun pernah melahirkan tiga kali, berhasil membuat seluruh fokus mahasiswa EP A 2016 terpusat padanya. “Ada yang go public bu” Diyah k*****t, mulut comberan, tak doain makmur kamu, batinku jengkel karena sudah pasti bullyan akan dilayangkan secara terbuka setelah ini. “Go public ajanih? Kapan go internasionalnya?” “Kalau udah ganti status di KTP bu” Sofia dengan suara 3 oktafnya membalas ceria godaan dosen cantik yang telah berbuntut tiga itu. “Kapan tuh? Saya saranin jangan sampe putus pas masa skripsian ya, berat. Nggak akan kuat kalian”  “Pengalaman bu?” rasa-rasanya ini bakalan jadi ajang gosip karena waktunya juga cuman kurang dari 30 menit lagi selesai, oh matkul yang seharusnya menghadirkan suasana horror malah berubah menjadi cerah ceria begini, Seminar Proposal Ekonomi Regional. Bahkan dalam sejarahnya banyak kating yang hampir tiap minggunya jadi Kalong, kelalawar besar pemakan buah, lantaran dateline dan tuntutan revisi usai bimbingan selalu menjadi hadiahnya. Hanya mereka yang telah merasakan yang akan tahu susahnya nunggu minta bimbingan, yang pasti lebih lama daripada nunggu chat yang punya gebetan gamers, tapi berujung digambari tinta merah. Belum lagi drama jika mengambil topik penelitian sama padahal beda objek, alamat ganti padahal udah klik. Sudahlah, jika diceritakan anti takutnya pada minder duluan padahal belum ngerasain. “Sorry ya, dulu ibu pacarnyakan banyak, jadi putus satu masih punya cadangan dong. Kalau cuman berstatus pacar itu santai aja, nggak perlu setia-setia banget, orang belum ada jaminan jadi jodohnyakok”  “Yang bener bu? Tipsnya gimana bu?” Noufal si playboy cap kadal, padahal dia belum pernah punya pacar karena selalu jadi korban PHP, poor Nouval. “Gampang, perbanyak jaringan pertemanan dan jangan pernah update status sama gebetan apalagi pacarnya. Jadi yang mananih couplenya? Ibu saranin kalau mau cari cadangan jangan dari unniv yang sama apalagi satu jurusan, banyak tikungan dan mata-matanya guys, bisa-bisa belum seminggu kalian putus” “Tuh bu yang pojok kiri pake bajunya couplean lagi” Diyah k*****t, mulut ember, manusia ternyebelin segalaxy bimasakti. Lagian si Genta kenapa pake baju garis-garis jugasih, kayak nggak punya yang lain aja. Tahu gitu aku tadi pake baju pink aja, biarin dikatain anak panti sama Hesti, hari ini aja udah ada 10 orang yang pakai baju warna pink tanpa diriku jadi kalau tambah aku nanti jadi 11. “Enggak bu!” dengan panik kusangkal segala fitnah itu tanpa memperdulikan Genta yang hanya diam saja seolah bukan dirinya yang menjadi bulan-bulanan mulut jahil anak EP A 2016. “Enggak apa? enggak salah? Udah nggak papa, kan udah gede juga malah lebih baik langsung daftar ke KUA” seandainya bu Rida bukan dosen mungkin udah kulempar wajah cantiknya itu dengan buku pegangan setebal 300 halaman ini, Ekonomi Pariwisata. “Enggak ada couple-couple dan kawanan sejenisnya itu” konfirmasiku dengan keringat dingin mulai membanjir dibalik kemeja kuning bergaris yang kupakai kini. “Iyalah kan berubah jadi tunangan atau malah langsung jadi suami-istri? Untuk usia kalian hal itukan sudah lumrah jadi nggak perlu malu, kalau serius mending langsung nikah biar nggak numpuk dosa. Ah, udah jam segini ajanih, kita akhiri pertemuan minggu ini ya. Jangan lupa minggu depan siapkan topiknya dan wajib ikut seminar, awas kalau pada kabur! Assalamu’alaikum wr.wb, selamat siang” Kuhela nafas berat setelah bu Rida mengakhiri jam kuliahnya bahkan salamnya hanya kujawab dalam hati. “Kok ninggal? Mau kemana?” tanyaku begitu melihat Hesti, Anita, Dea, dan Utari melengos melewatiku setelah mengorbankanku duduk di bangku keramat, deretan depan. “Nyari Jhope lokal, biar kita bisa coupleannya satu geng kayak di novel-novel gitu. Kalau lo doang yang punya pacar ntar kita-kita cuman bisa gigit jari, ngenes" Hesti dengan mulut bar-bar kejamnya minta di sleding. “Halah gayamu Hes, tungguinlah” ini kenapa pake nyelip segalasih resletingnya, nggak tahu sikon bangetdih rusaknya, batinku fokus menarik-narik resleting yang macet. “Lah? Hesti k*****t” gumamku begitu menyadari mereka sudah menghilang dari dalam kelas dan hanya menyisakan beberapa orang yang sibuk dengan gawainya masing-masing termasuk lelaki disebelahku ini. “Mau keluar bareng?” tanyanya yang berhasil mengalihkan perhatianku dari kolom chat bersama teman-temanku yang hanya bercentang satu semua, k*****t pasti mereka sengaja pada matiin datanya atau emang pada nggak punya kuota data, tapi rasanya mustahil karena mereka semua kaum sosmed yang susah jauh barang 1 menit dari duniannya itu. “Hah? Nggak, aku lagi libur jadi kamu kalau mau keluar, keluar aja” maksudmu apa Wulan? Batinku begitu menyadari menjawab hal yang seharusnya tidak perlu, maksudnya apa coba? Wulan b**o. “Emangnya keluar cuman buat sholat dzuhur aja? Kantin yuk, ada yang kau aku omongin”  “Apa? Mending disini aja” kenapa kudu di Kantin yang pasti penuh orang daripada di sini yang lebih tenang suasananya, aneh. “Yakin mau disini? Pak Dani kan mulainya nanti jam 1.30 dan sekarang baru jam 12.10 loh. Liat, udah pada keluar tuh, tinggal kita berdualoh" Mati aku, ogah banget berduaan doang sama si Genta, bisa-bisa mereka semakin heboh kalau tahu aku cuman berdua doang nunggu di kelas ini sama Genta. Mending di Kantin, siapa tahu bisa ketemu sama Hesti dan kawanannya jadi suasananya nggak bakalan mgeri-ngeri sedap kayak disini. “Yaudah aku ikut” gumamku terpaksa, tebalkan kupingmu, buang urat malu dan abaikan bisikan setan. ===== “Kamu mau pesen apa?” tanyanya begitu kami mendudukan diri di bangku tengah kantin yang tersisa. “Hah? Emm… es jeruk tanpa gula aja” gumamku ragu. “Nggak makan? Aku pesenin gado-gado kalau gitu makannya” katanya dan berlalu menuju warung pojok yang menjual gado-gado. Ini maksudnya apa? aku sengaja nggak pesen makankan biar nggak lama sama dia , ini malah dipesenin gado-gado. Mana kalau aku makan lama lagi, haahh… lagian Nita manasih? Apa mereka makan di warung bu Dewi, kantin belakang ya? Biasanyakan Nita mageran, dan lebih milih mojok disini sendirian. Batinku jengkel setelah mengedarkan pandangan berharap menemukan sekelompok gadis yang berlabel teman-temanku tapi malah ketemu pandangan menyelidik dari beberapa pasang mata yang tidak kukenali sama sekali. Emangnya mereka pada kenal aku ya? Nggak mungkinlah, kan aku bukan tipikal anak organisasi apalagi pengejar prestasi. Tapikan si Genta anak Hima, entah dia terkenal apa enggak tapi tetep aja dia anak organisasi yang kemungkinan besar jaringan temannya banyak dan bisa jadi malah terkenal, mati aku. "Ciee... yang mulai go publik padahal baru semalem deket" Arafah k*****t, bisa-bisanya aku betah sekamar sama nih orang, jadi nyesel pernah kenal. "Dari semalem ya? Kok lo nggak cerita-ceritasih Wul. Kan kaget tiba-tiba duduk sebelahan mana pake baju pasangan lagi" Ana nakal, batinku jengkel mengamati senyum menggoda yang terpampang nyata dari Arafah, Ana, Bella, Ayu, dan Febri. "Apasih kalian? Enggak ya, couple apaan? Kalian kira ini drama korea? Kan udah kujelasin semalem Fah, ngapain kamu jadi ikut ngeledekin gini?" jengkelku menanggapi senyum lebarnya itu, kudoain gigimu kering. "Eh, udah dateng tuh, yuk pergi. Bye, Wulandari Al Fahreza. Nggak usah takut tikungan tajam karena pasangan lu kayaknya tipe bucin karatan" teriak Ana yang berhasil membuatku menjadi pusat perhatian. "Anaa.." teriaku tertahan karena takut semakin menjadi pusat perhatian dari beberapa pasang mata yang masih betah curi-curi pandang. "Nih, makan dulu nanti habis ini ada yang mau aku omongin" Gentaa... nggak tahu sikon bangetsih, kenapa nggak nyingkir dulusih malah ngasih gado-gado pake senyum lebar gitu lagi, padahal image dia selama ini buat kebanyakan orangkan dingin, bukan ramah dan lemah lembut gini. Batinku meringis ngeri, jengkel, malu, takut, bingung pokoknya campur aduklah apalagi beberapa orang yang sebelumnya cuman berani curi-curi pandang sekarang malah melotot tajam, mati aku. Kalau gini caranya mereka bakalan yakin sama opini soal Go Publik nggak jelas itu, padahal kita nggak ada hubungan sama sekali kecuali teman serombel, hhh... semoga aja bukan anak organisasi hits jadi biar aku nggak jadi bulan-bulanan banyak orang batinku penuh harap menatap sepiring gado-gado dihadapanku dengan hembusan nafas berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD