PART 4 (KHAWATIR)

1362 Words
“Genta?” panggilku ragu disela suara bising knalpot kendaraan yang lalu lalang. “Wulan? Hai” sapanya ramah padahal terlihat jelas sikunya lecet hingga mengeluarkan darah dan mungkin sekujur badannya merasakan ngilu setelah jatuh dari kendaraan beroda dua itu. “Kamu nggak papa?” tanyaku panik begitu melihat sikunya masih setia meneteskan darah, efek gesekan dengan aspal. Jangan salah paham dengan panggilan kamu, Karena itu adalah indikasi jika kami tidak memiliki hubungan dekat, apalagi akrab dengan lelaki asal Bandung ini. “Nggak pa..” “Itu siku kamu berdarah, kamu sama siapa tadi? Nggak ada temennya?” potongku tidak sabar melihatnya yang mengabaikan luka akibat gesekan aspal itu. “Neng, temennya?” tanya bapak-bapak yang usai membantu Genta menyingkirkan motornya dari tengah jalan, mengagetkanku. “Iya pak” jawabku dengan cengiran lebar mencoba ramah padahal suara yang keluar terdengar seperti tikus kejepit, pelan banget. “Di bawa ke klinik Astamedika aja neng, takutnya lukanya nggak cuma disiku itu aja” “Hah?” jeritku spontan hingga membuat beberapa orang yang masih bergerombol melihat disana menatapku aneh. Mampus, niat hati cuman kepo kalau ujung-ujungnya suruh nemenin disana gimanadong?  “Kenapa neng? Bukan mantannyakan?” “Bukan-bukan” jeritku panik dan kulirik Genta yang melipat bibirnya seolah menahan senyum. “Mbak bawa mobil? Soalnya motor masnya remnya blongnih jadi nggak bisa dipake” “Saya tadi kesini sama temen tapi sekarang motornya dipake sama temen saya beli seblak depan Stadion Merdeka pak. Kalau motornya dititipin warung bapak dulu, boleh? biar saya ke klinik Astamedikanya naik grab aja, soalnya kalau nunggu temen saya juga nggak mungkin” “Boleh-boleh mbak”  “Makasih ya pak” jawabku dengan tersenyum lebar karena bisa menghindar dari kerumunan orang itu. “Gen, bisa bangun?” tanyaku canggung karena sedari tadi sibuk mengobrol dengan bapak penjual martabak yang memabantu Genta dikala yang lain cuma sibuk menonton. “Bisakok” jawabnya yakin padahal terlihat jelas ringisannya ketika berhasil menapakan kedua kakinya ditrotoar jalan itu. “Bentar ya , aku lagi pesen grab. Kita tunggu depan indomaret aja yuk biar gampang bapak grab nemuinnya” ajaku menyejajari langkahnya yang pelan. “Aku bantuin ya kayaknya sakit banget gitu” selaku tidak sabar melihatnya menyeret kaki kirinya. “Eh?”  Rasanya canggung banget ya allah, Hesti kenapa kamu lama bangetsih. Batinku menjerit pilu karena jujur aja bulu kuduku merinding begitu dengan nekatnya menyampirkan tangan lelaki asal Bandung itu tanpa ijin dari pemiliknya kebahuku. “Makasih ya, sorry kalau ngerepotin. Lo kesini sama siapa emangnya?” katanya begitu kami sampai di bangku depan indomaret ini. “Sama Hesti, kamu bener nggak papakan? Tunggu disini bentar ya” tanpa perlu menunggunya menjawab pertanyaanku yang hanya sekedar basa-basi itu, kutinggalkan dirinya masuk kedalam indomaret yang tengah ramai, efek diskon. “Minum dulu” kuulurkan sebotol air mineral kearahnya yang menatapku dengan senyum simpulnya. “Makasih buat bantuannya, nanti kalau sopir grabnya udah dateng mending kamu pulang aja Wul, aku bisa sendirikok. Kamu juga udah ngabarin Hesti?” usirnya halus. “Jangan gitu, kamu lagi sakit, nggak papa biar kubantu. Aku udah nyuruh Hesti pulang duluan jadi jangan ngerasa sungkan gitu” sergahku cepat mencoba menghalau rasa tidak nyaman ketika tatapan mata kami tidak sengaja bertemu. “Ya..” belum sempat kalimat sungkan lainnya terlontar dari lelaki asal Bandung itu, suara Honda Brio merah berhasil menarik perhatian kami karena menduga jika itu adalah grab car pesananku. “Atas nama mbak Wulandari Ayudia?” sapa lelaki dengan rambut tipis menghiasi sekitar rahangnya. “Ya, saya” sergahku cepat dan menarik Genta pelan untuk menghampiri Honda Brio merah yang terparkir tidak jauh dari kami. “Kesrempet motor mas?” sapa sopir grab itu ramah begitu Honda Brionya berhasil berbaur dengan keramaian jalan malam itu. “Rem motor saya blong dan jalannya juga lagi licin jadi ya kena srempet motor dikit tadi” jelasnya singkat memblokir pertanyaan selanjutnya yang mungkin saja akan dilontarkan sopir grab itu. ===== “Makasih ya pak” pamitku ceria pada supir grab itu setelah perjalanan yang tak sampai 10 menit penuh kecanggungan itu usai. Gimana nggak canggung, kalau si Genta selalu masang muka lempeng dan sorot mata tajam setelah pertanyaanyan sopir grab itu. Untung aja perjalanan ke kliniknya cepet sampe, kalau lamakan bisa nangis darah disana tadi. “Kamu bawa kartu asuransi, Gen?” tanyaku begitu kami sampai di depan meja administrasi. “Ahkk… boleh minta tolong ambilin dompetku di tas?” tanyanya begitu menggerakan tangan kanannya pelan. “Nggak ada Gen, udah masalah ini biar aku yang urus, kamu masuk aja buat periksa” perintahku begitu melihat ditasnya tidak ada dompet yang dimaksudnya. “Tapi…” “Udah nggak papa, sana! Apa perlu aku anterin ke dalam?” sergahku begitu melihatnya mulai menunjukan gelagat keberatan dan berakhir memilih masuk sendiri. Kalau aku ikut kedalam bisa menimbulkan salah paham nanti, tadi dikira mantan aja bikin kikuk apalagi kalau dikira pacar bisa jantungan aku. Klinik Astamedika memang lokasinya tidak jauh dari kawasan kampus tetapi karena harganya sedikit lebih mahal bagi kaum mahasiswa membuat tidak banyak mahasiswa yang datang kemari jika memiliki masalah kesehatan kecuali yang darurat seperti kasus Genta ini. Kalau mau ke Puslakes yang harganya lebih mahasiswa harus nunggu besok waktu jam operasional, bisa-bisa tanganya si Genta keburu busuk karena infeksi. Sebenernya khawatir dan pengen liat sendiri keadaannya tapi gengsi dan maludong, tadi pas ngisi administrasi aja digodain mbaknya karena dikira pacarnya. Untung keadaannya nggak parah karena tidak sampai 15 menit genta keluar dengan siku tertutup kasa dan kaki yang berjalan sedikit terpincang. “Gimana? nggak ada yang patah atau geserkan? Resepnya mana biar kutebus sekalian?” serbuku begitu dia berdiri menjulang dihadapanku. “Nggak papakok, cuman lecet dikit dan kesleo, buat obat nanti biar temen aku aja yang beliin. Kosmu dimana?”  “Jalan Madukara 5, Kos Putri Kinasih. Aku pesenin grab dulu ya, alamat kosmu mana?” “Nggak usah, temenku jemput kesini nanti sekalian anterin kamu pulang. Sorry ya kayaknya aku ngerepotin banget, besok aku ganti uangnya buat biaya kesini sama administrasi tadi”  “Eh? Nggak usah aku bisa pulang sendirikok, nggak jauh juga jaraknya dari sini” tolaku sungkan. Dikelas ngobrol selain masalah tugas kuliah aja nggak pernah masak tiba-tiba dianterin pulang, bisa geger Hesti sama Arafah belum lagi mbak Risa sama mbak Dina, mati aku. “Nah itu udah dateng, yuk” katanya begitu terlihat sebuah pajero hitam menepi. Anjir, ini si Genta anak siapasih? Nggak mungkinkan dia anak Kolongmelarat, eh Konglomerat maksudnya, gayanya sehari-hari bersahaja dan sederhanakok nggak kayak Sofia. Apa jangan-jangan emang akunya yang kudet sampe nggak tahu kalau segala t***k-bengek yang dipake nih orang perlu mengorbankan berlembar-lembar uang bergambar persiden pertama Indonesia? “Yuk” ajaknya ramah mempersilahkanku mendekati kendaraan beroda empat yang masih menyala sementara pengemudinya keluar mendekati kami, lelaki berkulit putih dengan tshirt hitam dan celana denim selutut berwarna gelap hingga menonjolkan warna kulit terangnya, ganteng. “Kirain udah sekarat ternyata masih napas, tau gitu nggak usah cepet-cepet kesini, dasar penipu” ini beneran bisa diakui sebagai temen? Tau temennya cuman kena kecelakaan kecil kok menyesal banget, edan. “Sialan, diem lo! Em, Wul kenalin dia Rangga” baru tahu aku kalau genta ternyata bisa ngomong kasar begitu juga padahal keliatannya alim banget. “Oh iya, Wulan” balasku menjabat tangannya singkat dengan senyum sungkan. “Cantikkok Gen” celetuknya usai berjabat tangan denganku dan berlalu menuju mobilnya yang masih menyala. Ini maksudnya apa, ya? mereka nggak ngegosipin akukan dibelakang? Nggak mungkinlah ya, masak iya cowok kayak mereka ngegosipsih, ah udahlah pusing mikirnya mending sekarang mikirin gimana caranya menghindari ledekan penghuni kos lainnya. Suasana hening sepertinya hobi sekali menemani perjalananku kalau ada si Genta, buktinya nih Pajero hitam yang melaju lambat ditengah keramaian menuju Kosku adem-adem aja padahal keliatannya si Rangga-Rangga ini tipikal cowok ceriwis. “Yang mana, Wul?” tanya Genta yang berhasil membuyarkan lamunanku yang tengah berpikir keras menghindari bullyan yang sebentar lagi akan kuterima. “Itu gerbang hitam ujung”  “Makasih ya” pamitku singkat begitu membuka pintu Pajero untuk keluar. “Aku yang harusnya makasih, sorry ya kalau ngerepotin mana aku pake lupa bawa dompet lagi” kok aneh ya rasanya Genta ngomong begitu, kesannya kek sok akrab, hiii serem. “Hah? Ya, sama-sama. Duluan ya, kalian hati-hati dijalan” singkatku dan berlalu tergesa-gesa membuka gerbang untuk menghindari manusia penghuni Pajero hitam yang baru saja kunaiki dan juga rintik hujan yang mulai menetes deras. “Ekhemm…” Hesti, Arafah, mbak Dina, mbak Risa, Septi, Indah, Afifah, Asri, Tias, bahkan mbak Novi yang biasanya sibuk, dengan kompak ikut menyambutku yang baru saja menginjakan kaki di teras lengkap dengan sorot mata menggoda, mati aku. “Cieee…” asem, kompak bangetsih mereka kalau ngerusuhin ketenangan batin anak orang. Ibu, pengen pulang mereka nakal, hiks batinku begitu menyadari jika malam ini akan berakhir dengan keruwetan batinku akibat godaan mereka yang nggak akan berakhir bahkan dalam kurun waktu satu minggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD