Dengan terburu-buru aku menyetop angkot yang melintas di jalan depan rumah, tak sabar ingin segera meluncur ke tempat temu janji bersama sahabatku, Nely Setiawan. Ada hal penting yang ingin aku diskusikan bersamanya mengenai masa depan.
“Pak, agak cepat ya! Saya terlambat,” pesanku pada sang supir sebelum akhirnya masuk dan duduk di kursi belakang. Pak Supir hanya mengangguk, mungkin itu adalah kalimat kesekian kalinya yang ia terima dari puluhan penumpang hari ini.
Mereka yang terlambat, kenapa dia yang harus di buru waktu? Sedangkan dirinya pun butuh penumpang banyak untuk mengejar uang setoran.
Aku merogoh seluruh saku celana, mencari benda pipih yang tak pernah luput dibawa kemana-mana. Sekian lama mencari, benda itu tak juga ditemukan. Segera kubuka tas, kembali mengorek isinya. Berharap apa yang kucari tersimpan di dalam sana. Sayangnya harapanku kali ini sia-sia.
Ya Rabb! Seperti aku lupa mengambil ponsel yang tengah ku isi dayanya di ruang tengah. Bagaimana jika Pak Marcel mengangkat teleponku? Atau ada pesan yang tidak-tidak masuk dan dibaca olehnya? Bahkan aku tidak mengunci layar ponsel karena dilarang oleh Bapak angkatku yang over posesif.
"Pak pak pak, kiri pak! Berhenti!" Sontak aku berteriak dari arah kursi penumpang. Tak lupa mengetuk-ngetuk jendela agar kode yang kuberikan terbaca oleh supir, sebelum angkot itu melaju lebih jauh lagi.
Supir menepikan angkot. Gegas kuberikan ongkos perjalanan, meskipun belum tiba di tujuan. Supir menerima lembaran uang dari tanganku dengan pandangan penuh tanda tanya. Mungkin ia heran, tadi aku memintanya buru-buru tapi malah menyetop di tengah jalan.
Tanpa memperdulikan ekspresi supir angkot, aku buru-buru menyebrang jalan untuk mengambil angkot arah sebaliknya, kembali menuju rumah.
Perlahan kubuka pagar besi yang menjulang tinggi menutupi jarak pandang dari luar ke seluruh halaman rumah, berharap kedatanganku tak mengejutkan orang di dalam rumah. Sebab telah berpamitan pergi beberapa menit yang lalu.
Hatiku berdebar, tidak tenang. Setengah berjinjit melangkah masuk, membuka sepatu di teras kemudian melangkah pelan menuju ruang tengah tempat ponselku mengisi daya.
Seketika mataku terbelalak, tenggorokanku tercekat, nafasku terasa sesak, melihat sosok Pak Marcel tengah asyik mengotak-atik ponsel dengan gaya berkacak pinggang. Kemudian perhatian itu beralih padaku yang sudah berdiri tak jauh dari hadapannya.
Mata memerah, mulut mengatup dengan gigi bergemeletakan, menampilkan ekspresi yang tidak bisa di katakan baik-baik saja. Ya, dia sedang marah, lebih tepatnya dikatakan murka.
Lima tahun lebih tinggal bersama keluarga Pak Marcel, membuatku tau betul berbagai ekspresi yang beliau miliki.
"Ass--assalamu--alaikum." setengah mati kuucapkan salam kepadanya, berharap Pak Marcel menjawab dan dapat mengalihkan rasa amarahnya.
"Siapa ini!?"
Satu bentakan mampu membuatku terlonjak dari tempatku berdiri. Hatiku yang sensitif dan halus, terasa seperti di hantam godam besar. Membuatnya sakit dan hancur tak terbentuk. Kalimat yang dapat kurangkai sebagai penjelasan, menguap begitu saja dikalahkan rasa takutku.
"Jawab Key! Siapa ini!!" Pak Marcel kembali berteriak, bahkan menaikan nada bentakan beberapa oktaf. Tangannya mengacungkan layar ponsel milikku, memperlihatkan sebuah pesan dari Nelly Setiawan. Ia menanyakan keberadaanku yang belum juga tiba. Sedangkan waktu telah lewat dari jam temu janji kami. Sayangnya isi pesan tersebut memuat panggilan sayang kedekatan kami.
[Dimana Beibs? Aku sudah di lokasi. Buruan ya! Kangen neh!] Sebuah emoticon hati menyertainya.
Aku dan Nely memang sahabat dekat sekali. Panggilan sayang dan candaan menggoda seperti itu adalah hal biasa dalam percakapan kami.
"Jawab Key! Jangan cuma mematung seperti itu!!"
Bahuku terangkat, mengkerut ketakutan. Suara teriakan Pak Marcel memenuhi gendang telinga. Mempercepat laju degup jantungku.
"Dia teman Key." Hanya potongan kata itu yang mampu terucap dari bibirku. Tak juga mampu menenangkan hati Pak Marcel yang sedang meradang.
"Teman? Hanya teman?? Kamu pikir saya Bodoh!?" Lengkingan suara itu masih terus menggema di ruang tengah.
Untung saja kedua adikku tidak ada dirumah. Mereka sedang bersekolah, aku sendiri yang memastikan mereka tiba di sekolah dengan aman pagi ini. Hal itu pula yang membuatku terlambat dan terburu-buru pergi tadi. Akhirnya melupakan ponsel dan menciptakan atmosfer penuh kemarahan saat ini.
Para pekerja rumah sepertinya sedang bersembunyi di suatu tempat, mengintip. Memastikan apa yang akan terjadi kepadaku. Menikmati suguhan real drama gratis yang lebih menarik daripada sinetron di layar kaca dengan logo ikan terbang.
"Sungguh Pak, dia teman Key." Aku berusaha membuat Pak Marcel percaya. Karena memang demikian adanya.
"Ini, apa ini? Kamu pikir Bapak akan percaya? Dimana ada pesan seorang teman menggunakan emot hati seperti ini!?"
Aku terdiam, rasa takut bercampur rasa ingin tertawa melihat ekspresi tidak masuk akal Pak Marcel. Tapi rasa takut begitu kuat mendominasi, membuatku menundukkan pandangan ke bawah kakinya.
"Dia memang teman Key, Pak. Dia bahkan seorang perempuan."
Pak Marcel tertawa menyeringai. "Kau pikir aku tidak pernah muda? Lihatlah siapa yang sedang kau bodohi, Neng!!"
Aku memberanikan diri mengangkat kepala, menatap wajah penuh amarah di hadapanku. Jika Pak Marcel berbicara dengan panggilan dekat seperti itu, artinya ia sedang berbicara sebagai seorang pria, bukan sebagai orang tua.
"Bapak tidak percaya pada Key?"
Percaya atau tidak, aku memang mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa memanggilmu beibs dan menggunakan emot cinta seperti itu?"
"Dia sahabat Key, Pak. Kami biasa memanggil dengan panggilan sayang seperti itu! Nelly juga sudah beberapa kali Key ajak kerumah. Bapak masih nggak percaya?" Aku masih terus berusaha membangun kepercayaan yang selalu di runtuhkan oleh prasangka Pak Marcel sendiri.
"Ada berapa, kontak laki-laki di ponselmu yang kau samarkan dengan nama perempuan!?"
Aku kehabisan kata mendengar tuduhan Pak Marcel. Kontak laki-laki di ponselku bisa dihitung jari. Itupun hanya mereka yang benar-benar dekat dan aku butuhkan untuk pemenuhan tugasku di kampus. Pak Marcel bahkan sering melakukan sweeping semua kontak dan isi pesan di ponsel.
Jika dirinya ketika muda dulu melakukan hal seperti itu, tapi aku tidak. Jika dirinya menipu orang dengan cara seperti tuduhannya, tapi aku tidak. Kenapa harus disamakan antara masa mudaku dengan masa mudanya?
Jelas semua tidak sama. Tidak akan pernah sama!
"Kalau Bapak tidak percaya, silahkan Bapak hubungi sendiri. Buktikan, penerima panggilan disana laki-laki atau perempuan!" tantangku, jengah dengan semua tuduhan yang tidak beralasan.
Kali ini Pak Marcel terdiam, sepertinya tantanganku bekerja. Deru nafas yang tadi memburu, kini terdengar kian melemah. Seiring dengan turunnya tingkat amarah di hati Pak Marcel.
"Sini Key yang sambungkan!" Aku merebut ponsel di tangan Pak Marcel, mencoba membuktikan kebenaran yang benar adanya.
"Tidak perlu!" Ucapan Pak Marcel menghentikan gerakan jariku yang hendak memencet icon bergambar telepon di layar ponsel.
Aku bernafas lega, drama ini akan segera berakhir juga, dan aku bisa pergi memenuhi janji bersama Nely.
Dengan penuh semangat aku membuka resleting tas punggung yang kini menyampir miring di pundak kanan, ingin meletakkan ponsel di dalam sana. Satu kecerobohan yang kubuat kali ini membuat duniaku benar-benar tamat.
Beberapa lembar brosur dan flyer tentang beasiswa Pascasarjana di beberapa Universitas di luar kota juga luar negeri memburu, berhamburan keluar dari tasku yang miring. Beberapa kliping koran berisi potongan lowongan kerja tak luput berloncatan dari tasku. Seperti sebuah aib yang tak mampu lagi menyembunyikan diri.
Pak Marcel jongkok, membungkukkan tubuhnya meraih lembaran yang berhamburan tersebut. Sedangkan aku kembali berdiri mematung tak mampu bergerak, seperti tengah menghadapi malaikat maut yang bersiap menjemput.
"Apa ini!?"
Tuhan!! Ekspresi murka Pak Marcel kembali dipertontonkan. Bahkan kali ini lebih murka dari yang sebelumnya.
"Jawab aku, apa ini!?" Kali ini Pak Marcel maju meraih bahuku, menggoncangnya dengan begitu keras. Membuatku semakin kaku dalam ketakutan yang mencekam. Bentakannya, sorot mata penuh amarahnya, semua membayangi kepala. Membuatku tak mampu berpikir maupun menyiapkan jawaban yang mampu dicerna otak yang tengah memanas itu.
"Key!!" Pak Marcel mencengkeram bahuku lebih kuat lagi dari sebelumnya.
"Itu, itu...," Aku memejamkan mata penuh ketakutan, membenci lidahku yang tiba-tiba menjadi kelu tak mampu berucap apapun.
"Key!!"
Bentakan itu kembali melengking, membuatku ingin menutup kedua telinga. Atau menusuknya hingga tak berfungsi lagi! Mungkin itu lebih baik.
"Kau ingin lari dariku, Key?"
Kulihat nafas Pak Marcel terus memburu, dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Membuatku hanya menangis sambil mengerutkan bahu, ketakutan.
"Kau ingin pergi dariku, Key!?" Tangannya terus mengguncangkan bahuku, membuat tubuh yang jauh lebih kecil darinya, terlempar kedepan dan belakang mengikuti irama tangannya.
"Bukan, bukan seperti itu Pak!" Setengah mati aku berjuang mengeluarkan getaran bunyi dari pita suara. Di iringi derasnya air mata yang terus saja mengarus.
Aku takut! Aku benci di bentak, hal itu seperti memutuskan banyak syaraf di otakku, membuatku tak mampu berpikir cepat.
"Lalu apa ini? Brosur kuliah di luar, lowongan pekerjaan di luar. Apa yang kau rencanakan Key? Apa!! Kau benar-benar ingin pergi dariku?"
Andai saja...,
Seandainya saja, kalimat itu di ucapkan dengan lemah lembut. Mungkin sisi wanitaku akan tersentuh. Tapi kini, jangankan tersentuh. Aku bahkan ingin Tuhan mencabut nyawaku saat ini juga.
"Pak dengarkan dulu, Pak! Key bisa jelaskan."
Pak Marcel tak lagi mendengar permohonanku. Tangannya mencengkram kuat lenganku. Menyeretnya menuju sebuah kamar, menghempaskanku dengan kasar ke atas ranjang.
Serasa merontokkan semua persendian, diserang rasa takut sedemikian besar. Tatapan yang biasanya penuh lemah lembut dan rasa sayang, lenyap entah kemana. Tatapan Pak Marcel kini telah berubah seperti serigala kelaparan, menatap hidangan segar di depan matanya.
Tuhan, ambil nyawaku sekarang juga!!