"Kau selalu ingin lari dariku? Akan kubuat kau tidak akan pernah bisa lari dariku!" Pak Marcel mengunci pintu lalu menatapku dengan tajam dan liar.
Aku gemetar memeluk lutut di atas ranjang, tak berani menatapnya yang semakin mendekat ke arahku.
Pak Marcel meraih wajahku, mengusap kedua pipiku dengan gemas.
"Kau takut? Kau takut kepadaku?" Pak Marcel mulai mendekatkan wajah ke mukaku. Setengah mati kujauhkan wajahku dari hembusan nafasnya yang tak teratur, tak sudi mendapat perlakuan binatangnya.
Setengah mati kujaga diriku dari para pria remaja sejawat di luar sana. Setengah mati juga kutahan hasrat mudaku pada Rony, laki-laki yang kucintai. Setengah mati kuperjuangkan harga diri dan martabat sebagai wanita. Aku tidak ingin dia yang malah menghancurkan diriku.
"Mari sayang, mendekat. Jangan seperti itu. Aku hanya ingin membuatmu tak bisa lepas dariku. Itu saja!"
Aku bangkit, berlarian menjauh darinya. Tapi apa yang bisa kulakukan di ruangan yang tidak luas itu. Kemanapun aku berlari, masih bisa terjangkau olehnya.
Pak Marcel menarik tanganku, memaksa tubuhku kembali berbaring di ranjang. Sedangkan tubuhnya mengintimidasiku dari atas.
"Pak, tolong jangan, Pak!" jeritku memohon.
"Jangan takut sayang, kau tau kesungguhan hatiku bukan? Kau yang membuatku harus melakukan ini!"
Pak Marcel berusaha membuka kancing kemejanya menggunakan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain menahan tangan diatas kepalaku. Kekuatannya jauh lebih besar dariku, dan aku terlanjur di serang oleh ketakutan yang begitu kuat menjalar.
"Pak, sadar, Pak. Key anaknya Bapak!" Aku masih berusaha membuat lelaki yang menjadi orang tuaku sejak beberapa tahun lalu itu sadar.
"Kau hanya anak angkat, Key. Tidak ada aturan agama yang melarang hubungan kita!" Pak Marcel masih terus berdalih.
"Tapi Agama melarang melakukan zinah meskipun kepada anak angkat!" jeritku tak berdaya.
Sepersekian detik Pak Marcel terdiam, seperti ucapanku membekas dalam hatinya. Tapi pada detik selanjutnya semua kembali berlanjut. Pakaiannya telah terbuka sempurna, kini ia memaksaku untuk membuka baju. Sekuat tenaga aku berusaha mempertahankan harga diri dan harta pusakaku.
"Kau yang memaksaku berbuat begini, sayang. Ini karena ulahmu sendiri!" Pak marcel terus membeo.
Dengan beringas Pak Marcel berusaha merobek baju yang terus kupertahankan agar tidak terlepas dari tubuhku.
"Pak, Key mohon jangan, Pak! Key janji Pak, Key akan patuh kepada Bapak. Bapak ingin Key di rumah, Key akan di rumah. Tolong Pak, Key mohon!"
Setengah mati aku berusaha bernegosiasi dengan manusia yang telah di kuasai oleh nafsu binatang tersebut.
"Benarkah? Apapun itu? Meskipun aku memintamu untuk menjadi isteriku?"
Aku terdiam, berusaha menimbang. Apakah harus menjawab iya atau tidak, sedangkan nasib kesucianku tengah berada di ujung tanduk.
Tapi jika aku berlindung pada kata ia, itu akan menjadi senjata Pak Marcel dalam memperalatku seperti yang sudah-sudah.
"Kenapa diam? Kau tak bisa menjawab bukan? Biar kubantu mempermudah segalanya." Pak Marcel kembali liar berusaha mengambil yang bukan haknya dariku. Aku terus memberontak sebisa mungkin, karena tangisku tak lagi meluluhkan hati lelaki yang sebelumnya berkata bahwa ia tak tahan melihatku menangis.
Pada satu kesempatan, serangan dan rontaanku mengenai benda miliknya. Membuat Pak Marcel meringis dan melepaskan cengkraman di tanganku, sibuk meredakan rasa sakit yang dideritanya.
Aku memanfaatkan kesempatan yang ada, mencari peluang untuk dapat meloloskan diri dari nafsu binatang lelaki yang pernah kuanggap memiliki sayap malaikat.
Aku beringsut mundur, bersandar pada dinding saat Pak Marcel telah pulih dari rasa sakitnya. Kutatap pintu, mencari celah untuk dapat keluar dari ruangan ini. Tak ada anak kunci tergantung di sana.
Dimana disembunyikan kuncinya?
Aku melemparkan pandangan ke seantero ruangan, mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk melindungi diri. Tapi apa? Aku frustasi memikirkan semuanya. Rasanya kali ini aku akan di habisi oleh lelaki di hadapanku ini.
Pada titik habisnya harapan, aku melihat sebuah gunting di meja belakang Pak Marcel. Tapi aku harus melewati tubuh besar itu terlebih dahulu. Apa yang harus kulakukan? Rasa takut dan sedih membuat pikiranku benar-benar buntu.
Aku hanya bisa waspada dan siaga, berusaha meloloskan diri saat Pak Marcel bergerak, menerkam ke arahku. Beberapa kali aku berhasil loloskan diri dari serangannya. Meja yang sedari tadi kuincar kini berada beberapa meter di samping. Dengan kekuatan penuh, aku berlari menuju meja, meraih gunting yang berada disana.
Kuacungkan gunting di tanganku ke arah Pak Marcel. Membalik keadaan, kini aku yang berusaha mengintimidasinya.
"Apa yang kau lakukan, Key! Sadar Key, aku Bapakmu!"
Pak Marcel berusaha mengambil hatiku, membuyarkan konsentrasiku. Kali ini aku tidak akan tertipu oleh ucapan ataupun permohonan maaf darinya. Berkali-kali ucapan itu keluar darinya, mengatakan bahwa dirinya telah insyaf dan menganggapku sebagai anak. Nyatanya hal menakutkan itu terjadi berulang kali. Dia selalu kembali menampakkan perasaan yang tak pernah aku dan Ibu Dina inginkan.
"Key, sadar, Key!" Pak Marcel mundur.
"Buka pintunya!" jeritku, sedangkan tanganku gemetar. Entah tangan itu mampu melakukan hal yang buruk kepada lelaki di hadapanku atau tidak.
"Key!"
"Buka!!" Bentakku.
Pak Marcel berjalan menuju pintu, memutar anak kunci. Tapi kembali membalikkan badannya, tanpa membuka pintu. Kali ini tatapannya kembali mengintimidasiku. Dengan senyum smirk berjalan maju ke arahku, seolah mengerti bahwa aku takkan pernah bisa menyakitinya.
"Berhenti, jangan mendekat! Key, tidak akan segan-segan menyakiti Bapak!" jeritku, sedang tanganku semakin gemetar.
Rasa ragu tiba-tiba menyergap begitu kuat.
Benarkah tangan ini akan melukai orang yang telah menanam budi dalam kehidupanku?
Pak Marcel terus mendekat dengan penuh waspada.
Sial! Gertakanku tidak berhasil! Apa lagi yang harus aku lakukan? Akh, kepalaku sakit memikirkan semuanya.
Jarak Pak Marcel semakin dekat denganku. Aku tak mampu lagi mundur, karena punggungku telah terbentur tembok. Segera kubalik arah tajamnya gunting menuju leherku sendiri.
"Bapak maju lagi selangkah, gunting ini akan menembus leher Key!!" Tidak ada lagi getaran ditangan. Sebaliknya, wajah Pak Marcel berubah menjadi pucat pasi.
"Key! Tidak, tidak..., Jangan Key! Aku mohon!" Suara Pak Marcel terdengar terputus-putus.
"Key sungguh-sungguh, Pak! Key tidak bisa menyakiti Bapak! Tapi Key bisa menghabisi diri Key sendiri!!" Jeritku sekuat tenaga.
Tatapan mata Pak Marcel terus menatap ujung gunting yang telah menempel di kulit leherku.
"Bapak tak percaya?!" Aku menekan gunting hingga sedikit menembus kulitku. Menciptakan rasa perih dan lelehan cairan syarat rasa nyeri.
"Tidaakk!!" jerit Pak Marcel. "Baik, baik. Aku pergi. Aku mohon jangan lakukan itu!" Pak Marcel mundur menuju pintu, mengambil anak kunci. Menghilang di balik pintu.
Sejurus kemudian terdengar suara pintu terkunci dari luar. Bersamaan runtuhnya seluruh persendian seorang Keyra Wardani ke lantai. Menangis lesu meratapi yang baru saja terjadi. Pakaian yang melekat di tubuhnya sudah tidak terbentuk lagi. Kusut penuh sobekan di sana-sini.
Aku mengusap leher yang terasa perih, tapi tak seperih luka di hati yang akan tergores abadi. Kutatap ujung gunting yang tajam, disana tertempel bercak darah dari leherku. Menimbang dalam bimbang, haruskah ku akhiri hidup yang telah nyaris tak terbentuk. Mengakhiri kesakitan yang telah dirasakan berkepanjangan.
Entah berapa lama aku tergeletak tak berdaya di lantai dengan gunting tergenggam erat di tangan. Mungkin seharian. Tatapanku memandang sayu ke arah pintu. Menatap bayangan pekerja rumah yang beberapa kali keluar masuk membuka pintu menyodorkan makanan dan minuman yang sama sekali tidak tersentuh.
Pada malam harinya Ibu Dina, Isteri Pak Marcel yang tak lain merupakan Ibu angkatku, masuk membawa baki berisi santap malam untukku.
Dari raut wajahnya aku membaca kebencian yang begitu mendalam. Bagaimana tidak, Aku adalah gadis yang di harapkan bisa menjadi kakak bagi anaknya, malah melewati batas. Hampir menjadi Ibu tiri mereka, dan menjadi adik madunya.
Ada juga rasa iba di wajahnya. Ibu Dina paham betul bagaimana perasaanku kepada Pak Marcel. Aku hanya menganggapnya sebagai pengganti Ayah, tidak lebih. Ibu Dina tau bagaimana besarnya cintaku kepada Rony. Sayangnya kami sama-sama tak memiliki kekuatan lebih untuk mematahkan keinginan hati Pak Marcel yang telah tersesat jauh dari jalan yang semestinya.
Aku bisa apa?
Ibu Dina bisa apa?
Kami bisa apa?
Kesunyian dan kegelapan kembali menyapaku, seiring dengan bantingan pintu yang di tutup dari luar. Sayup-sayup kudengar suara Pak Marcel meminta anak kunci di balik pintu kamar. Di menit kemudian kudengar adik-adikku menanyakan keberadaan kakak angkatnya. Lalu Pak Marcel hanya mengatakan bahwa aku sedang memiliki tugas kampus di luar, dan merekapun melupakanku.
Aku letih, ingin memejamkan mata. Tapi aku takut saat itu terjadi, pintu terbuka, dan Pak Marcel akan memberikanku pelajaran kepatuhan seperti yang akan dilakukannya tadi siang. Tapi aku lelah, aku tak tau, sebesar apa kantung mataku. Yang kutau, aku bisa terlelap saat mendengar deru mobil meninggalkan rumah di hari berikutnya. Lalu pekerja rumah membawakanku makanan seraya berkata bahwa Pak Marcel pergi berangkat kerja.
Ya, tepat sedetik setelah telinga mendengar kalimat itu, mataku menjadi gelap. Telingaku berubah tuli, dan aku tidak sadarkan diri, hingga beberapa jam kemudian dikejutkan oleh klakson mobil yang meminta dibukakan pintu gerbang.