“Maaf, kamu harus putus sekolah, Key!”
Bagaikan guntur yang menggelegar kencang pada indera pendengaran. Aku menoleh pelan, menatap wajah Mas Neo yang tengah tertunduk menatap ujung sepatunya sendiri.
Mas Neo membawa berita buruk di malam berkabut.
Ada bulir yang tengah kutahan. Meskipun akhirnya berloncatan juga saat melihat wajah Mas Neo telah basah.
Ingin rasanya meyakini bahwa itu hanya sebuah mimpi. Aku hanya perlu terbangun saja untuk menghapus semua jejak kesedihan ini.
Tapi kenapa semua terasa terlalu nyata untuk kunafikan sebagai mimpi belaka.
Tapi aku bisa apa?
Kecuali pasrah mengikuti skema takdirku yang entah akan seperti apa.
“Ayah sedang ada masalah. Ibu tidak bisa membiayai pendidikan kita semua. Mas minta kamu sebagai satu-satunya anak perempuan mengalah untuk saat ini.”
Aku terdiam, lantai yang kupijak serasa amblas. Menyedotku masuk ke dalam inti bumi.
“Mas harap kamu mengerti dan tidak membenci kami. Bukannya Mas memandang remeh pendidikan untuk perempuan. Tapi Mas dan kedua adik kita, laki-laki. Lebih membutuhkan pendidikan untuk masa depan.”
“Andai saja Ayah tidak sedang berurusan dengan kepolisian—,”
“Key ikhlas berkorban Mas, demi Mas Neo dan adik-adik. Key tidak akan menyalahkan siapa-siapa,” potongku. Percuma dijelaskan panjang kali lebar. Intinya sama, keluarga sedang ada masalah dan aku yang harus berkorban.
Kusapu jejak kesedihan di wajah. Berusaha melempar senyum ke arah Kakak Tertua. Meskipun suaraku terdengar serak dan bergetar.
Untung saja hanya ada kami berdua di ruang tamu kos. Tidak ada yang melihat pemandangan menyedihkan ini.
Kami berpelukan untuk saling menguatkan. Berharap ada keajaiban datang di antara masa-masa sulit yang memeluk erat. Lalu berpisah dalam gelapnya malam.
Aku terpaku menyaksikan punggung ringkih Mas Neo hingga menghilang di kelokan perempatan jalan. Menatap iba sosok Kakak yang begitu sabar dan mengerti keadaan. Jika saat ini aku diminta untuk mengalah, itu artinya memang keadaannya benar-benar mendesak.
Selepas kepergian Mas Neo, aku mengunci diri di kamar. Tak lagi ingat bahwa kami bertemu di depan pagar saat aku berencana pergi untuk mencari makan malam. Menuku malam ini hanya isak tangis pada sebuah bantal.
Sejujurnya aku masih ingin belajar Ya Allah…, Aku masih ingin sekolah!Tolong tunjukan keajaiban-Mu!
Entah berapa lama aku menangis di kamar kos berukuran single ini. Yang kutau mata ini terasa panas dan bengkak.
Gegas kuambil saputangan di lemari. Membasahinya dengan air, lalu meletakkannya di atas wajah agar mata yang sudah semi sipit ini tidak semakin menghilang ditelan efek bengkak gara-gara menangis semalaman.
Rasa dingin dari kain kompres di kedua mata, membuatku mengantuk. Rasa lelah membuatku terbuai dan terjaga dalam impian di malam yang panjang.
Langit malam yang tak pernah membenci gelap dan kesunyian. Karena meyakini masih ada bulan, bintang dan hewan nokturnal lainnya yang setia menjadi teman.
Semoga bintangku tetap di atas sana, menemani langitku yang membutuhkan teman. Hingga tiba saatnya mentari berseri di langit keemasan.
**
Waktu menunjukkan pukul sepuluh tepat, bel tanda waktu istirahat berbunyi. Murid-murid berlomba keluar dari kelas seperti ratusan burung pipit yang tersentak oleh bunyi-bunyian di setiap sudut persawahan.
Atau seperti ribuan koloni laron yang keluar dari sarangnya di musim penghujan. Mencari tempat nyaman untuk membangun koloni baru.
Beberapa dari mereka ada yang langsung menyerbu Kantin Sekolah, ada pula yang menghabiskan waktu istirahat di Perpustakaan. Tidak sedikit dari mereka yang bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan Shalat Sunnah Dhuha di Mushalla Sekolah. Aku sendiri belum memutuskan akan pergi kemana.
“Key jajan yuk!” Lengan Iren sudah melingkar di leher.
“Males ah, nggak mood.” kulepas rangkulan itu. Lebih memilih meletakkan kepala beralas tangan di atas meja.
“Kenapa seh?” Iren mencari jawaban di mata Alice, dijawab oleh bahu yang terangkat.
“Ayolah Key, aku traktir.” Alice mengedipkan mata, berusaha merayu sambil merangkul.
“Aku malu sering kalian traktir.” Kembali membebaskan leher dari belenggu kedua sahabatku.
Nggak enak loh, sering di traktir tapi jarang mentraktir. Malu! Kecuali penikmat gratisan. Mental parasit.
Bukannya tidak mau membalas, tapi uang bulananku saja pas-pasan. Paling-paling kalau pas akhir bulan ada sisa, baru berani balas membelanjakan mereka.
“Ayo Key, santai aja! Asal enggak lebih banyak dari kita-kita.” Alice memancing tawaku.
Iya kali, aku se-enggak tau diri itu!
Alice dan Iren kompak menyeretku dari sisi kanan dan kiri. Membuatku pasrah mengikuti keinginan keduanya.
“Aku malu ditraktir terus!” jeritku. Membuat Iren dan Alice melotot, tanpa melepaskan lenganku.
Anugerah tersendiri memiliki sahabat sebaik mereka. Secara ekonomi mereka baik-baik saja. Tidak kembang-kempis seperti ekonomi keluargaku.
Alice seorang yang feminim. Berkulit putih sepertiku, tapi bermata bulat. Sedangkan Iren sedikit tomboy, dengan warna kulit yang lebih gelap diantara kami bertiga.
Kami berteman akrab sejak masa orientasi siswa. Entah kenapa sinyal kami menangkap frekuensi yang sama, meskipun pembawaan masing-masing kami berbeda.
Kami selalu meluahkan keluh kesah bertiga. Apapun masalah diantara kami tidak ada kata rahasia.
Kecuali soal hati.
Adakalanya Alice bercerita soal Hansen, murid lelaki yang dia sukai. Dan ternyata, aku menyukai lelaki itu dalam diam. Tapi memilih untuk menutup rapat dalam hati. Aku tak ingin persahabatan kami rusak hanya karena cinta.
Bukan masalah besar bagiku untuk menyingkirkan perasaan yang tak penting itu. Lagipula bukan masaku untuk cinta-cintaan. Hari esok masih bisa sekolah saja sudah bersyukur. Untuk apa menambahkan beban pikiran dengan hal-hal berbau percintaan.
Akupun belum yakin kalau perasaan yang hinggap itu adalah cinta. Bisa saja hanya sekedar suka, karena dia tampan. Dia baik dan sopan.
Suka tidak berarti cinta, kan!?
**
Mengumpulkan Keberanian
Aku mondar-mandir di depan ruang kesiswaan. Entah sudah hitungan keberapa. Ingin berbicara dengan Kepala Sekolah mengenai permasalahan yang tengah kuhadapi. Tapi hati masih belum siap.
Mulutku masih belum mampu merangkai kalimat apa yang harus diutarakan sesampainya di dalam nanti.
Masih belum bisa membayangkan apa yang terjadi selepas keluar dari ruangan itu.
Langsung mengambil tas di kelas, lalu pulang ke rumah kos untuk mengepak pakaian. Gegas menaiki Bus umum tanpa menoleh lagi ke belakang.
Ataukah akan ada drama antara aku dengan Alice dan Iren. Dimana aku dan Iren saling tarik-menarik tas di depan kelas, sedangkan Alice menutup pintu. Tak mengizinkanku pergi dan menghilang dari pandangan mereka selama-lamanya.
Lalu kami akan menjadi tontonan memilukan penghuni satu kelas.
Ish! aku kesal sendiri membayangkan hal apa yang akan terjadi berikutnya.
“Ngapain di sini, Key?” Suara Alice mengagetkanku.
“Aaa.., anu enggak apa-apa.”
Aku tergagap, tidak siap dengan jawaban atas pertanyaan itu.
“Katanya mau ke toilet malah bengong di sini, ayo masuk ke kelas.” Alice menarik tanganku.
Aku mengikuti tanpa berani menengok ke ruangan itu lagi.
--
Selepas jam istirahat pertama kuraih buku yang sesuai dengan jadwal Mapel saat itu di dalam tas. Tak sengaja dompet usangku ikut tersentuh, meminta perhatian. Perlahan kubuka untuk mengetahui berapa lama lagi bisa bertahan hidup di sini.
Film horor yang selama ini kulihat di layar kaca, ternyata tidak sehoror isi dompetku sendiri. Aku bahkan tak sanggup menatapnya lama-lama.
Fiuuh, Tinggal untuk beberapa hari lagi.
Aku jadi tak bersemangat menjalani sisa hari ini.
Aku harus segera memberanikan diri berbicara dengan pihak Sekolah. Atau uang di dompetku habis tak tersisa sampai ongkos untuk pulang ke rumah pun tak kumiliki.
Pedahal Mas Neo memintaku untuk segera pulang sebelum uang di dompet benar-benar habis.
Berkali-kali kuhela nafas panjang menyesakkan. Apapun yang terjadi, aku harus berbicara dengan Kepala Sekolah. Hari ini juga!
Dalam masa jam pelajaran menuju waktu istirahat kedua, aku lebih fokus mengumpulkan keberanian dibandingkan konsentrasi pada pelajaran. Berusaha membulatkan tekad untuk dapat melangkah ke ruangan KepSek beberapa saat kedepan.
Ya! Harus berani. Apapun hasilnya nanti, setidaknya aku telah meluahkan segala beban di kepala.
Berkali-kali Alice menyentuh lenganku, mengingatkan. Mungkin aku tampak banyak melamun hari ini. Kata Alice aku tampak termenung dengan tatapan kosong.
Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman. Memastikan padanya bahwa aku baik-baik saja.
Jam pelajaran yang hanya sekitar enampuluh menit per sesi mata pelajaran, terasa satu abad bagiku. Tak sabar rasanya menanti waktu bel istirahat kedua berbunyi. Lalu aku bisa segera melepas beban dari dalam hati.
-
Bel istirahat kedua berdering. Tanpa menunggu lama lagi, aku bergegas menyelinap keluar kelas. Menghindari tatap juga tanya Alice dan Iren. Serasa tengah bermain petak umpet dengan mereka. Tak ingin keberadaanku diketahui kedua sahabatku.
Waktu istirahat kedua lebih panjang. Selain untuk makan siang, ada hak menunaikan kewajiban Shalat Dzuhur bagi murid dan staf guru yang mayoritas dan hampir keseluruhan beragama muslim.
Kembali kuhela nafas panjang di depan pintu ruang Kepsek. Berharap 30 menit yang tersedia cukup untuk mengutarakan maksud dan tujuan kedatanganku menghadap beliau.
Tampak jelas tangan yang gemetar saat kuketuk pintu dengan ragu, berharap masih bisa mundur untuk kembali menata kesiapan hati.
“Ya, masuk!” terdengar sahutan dari dalam ruangan, mempersilakan Sang Tamu di balik pintu masuk dan mengutarakan maksud.
Aku terkena panic attack. Hanya diam mematung. Persendian seperti kaku tak mampu melangkah maju. Kedua telapak tangan terasa dingin. Untuk memutar tuas pintu pun rasanya tak mampu.
Bagaimana bisa aku jadi sepengecut itu? Memulai ketukan di pintu tanpa bisa bertanggung jawab melanjutkan sisanya.
Ingin rasanya berlalu saja pergi dari situ. Biarlah orang di dalam sana menganggap ada hantu, iseng mengetuk pintu. Atau membuatnya beranggapan bahwa ia salah dengar soal ketukan itu.
“Masuk saja, pintu tidak dikunci!” Kembali terdengar suara. Membuat mulutku benar-benar terbuka.
Lebih baik aku pergi sekarang!
Belum sempat kusiapkan langkah kaki seribu, masih berhitung sampai angka seratus sembilan puluh. Pintu tiba-tiba terbuka, mengejutkan kedua orang yang berada di balik pintu.
Aku dan orang itu, tentu.
“Ooo kamu Key, ayo masuk sini. Gimana, gimana? Ada yang bisa Bapak bantu?” sapa Pak Kadir dari dalam ruangan, mempersilakan masuk dengan sangat ramah.
Ingin rasanya aku mencair di tempat, sehingga tidak perlu melanjutkan perbincangan ini.
“Key, masuk! Malah bengong!”
Pak Kadir yang sudah masuk terlebih dahulu, kembali menengok dari balik pintu. Telapak tangannya digoyangkan, menyapu pandanganku.
Meskipun sedikit terkejut, akhirnya membuntuti Pak Kadir masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di sofa tamu Ruangan Kepsek.
Pak Kadir merupakan guru salah satu mata pelajaran kelasku yang merangkap jabatan sebagai Wakil Kepala sekolah.
Sekolahku adalah sekolah swasta baru. Baru jalan tiga tahun. dan aku adalah angkatan ke tiga. Meskipun masih mencari nama, aku bangga menjadi bagian dari sekolah ini. Bahkan rasa haru selalu menelisik di hati kala menyanyikan Mars Sekolah setiapkali upacaya bendera di hari Senin.
Para guru dan staf sangat ramah dan bersahabat. Mereka senantiasa merangkul para murid dengan kasih sayang. Luwes dalam berinteraksi, mampu meruntuhkan benteng kekakuan antara guru dan murid. Tapi tetap menjunjung tinggi nilai kesopanan.
Satu-satunya Mr Killer di sekolah hanya Pak Hamid. Suka sok nampang galak supaya di segani murid-murid yang melanggar aturan sekolah. Tapi di sisi lain beliau pun sangat bersahabat dengan para murid.
Beliau sering bercerita tentang pengalaman heroiknya saat menjadi tentara. Membuat beberapa murid di depannya terpaku, terpana dan iri ingin menjadi seperti beliau saat dewasa nanti.
Hhhh, kalau bukan karena keadaan yang menghimpit, aku pun tidak ingin berhenti di tengah jalan seperti ini.
“Gimana Key, ada yang bisa Bapak Bantu?” tanya Pak Kadir, begitu aku duduk di sofa yang begitu empuk. Rasanya tubuhku ikut tersedot masuk saat mendudukinya.
Sejuknya terpaan udara yang berasal dari pendingin ruangan, seolah membekukan tubuhku yang sedari tadi sudah terasa tegang dan kaku.
Kuhela nafas panjang berkali-kali, berusaha menemukan kalimatku yang ikut menciut, bersembunyi.
“Key??”
Lagi-lagi aku kedapatan tengah termenung dalam wajah tertunduk.
“Anu Pak, saya…,” Aku ragu meneruskan kalimat. Seolah-olah ada sesuatu yang menyekat di kerongkongan.
“Ia kenapa Key, katakan saja. Nanti kalau bisa Bapak bantu, Bapak pasti bantu kamu.” Pak Kadir membantuku mengumpulkan kekuatan.
Ingin rasanya mendongakkan kepala menatap bola mata Pak Kadir yang tampak begitu tulus. Berusaha mentranfer kekuatan dan energi positif yang selalu terpancar dari beliau.
Tapi aku khawatir malah tangisan yang pecah di hadapannya. Akhirnya hanya mampu menunduk lesu sambil memainkan jemari di atas pangkuan. Hanya sesekali mencuri pandang ke arah beliau, agar tidak dianggap sedang berbicara dengan tembok.
“Sebenarnya saya ingin berbicara dengan Kepala Sekolah Pak, tentang permasalahan saya.” Aku memulai percakapan dengan susah payah.
Pak Kadir mengangguk-anggukan kepala, sabar menanti kelanjutan kalimatku. Meskipun akhirnya hanya kalimat itu saja yang singgah di telinga beliau.
“Bapak Kepala Sekolah ada urusan di luar kota beberapa hari ini. Kalau Key percaya, kamu bisa bercerita kepada Bapak. Nanti Bapak coba carikan solusinya. Seandainya kewenangan memutuskan ada di Bapak Kepala Sekolah, Bapak akan sampaikan ke beliau.” Pak Kadir tampak mengambil nafas, lalu melanjutkan kalimat. “Tapi kalau Key tidak bisa cerita sama Bapak, Key boleh kembali pada hari Senin. Saat Pak KepSek sudah hadir.”
Pak Kadir bertutur kata sambil memainkan tangan, mengikuti intonasi bicaranya. Berakhir dengan menepuk punggungku sambil tersenyum.
Akh, beliau adalah Guru idaman. Selain muda, tampan juga memiliki empati yang tinggi.
Pak Kadir membawakan mapel Bahasa Pemrograman Komputer. Mapel penuh rumus pasti yang sulit difahami otak kami yang hanya semangat di depan komputer jika sedang berhadapan dengan game.
Beliau tidak pernah marah saat nilai para murid erorr dan berwarna merah. Persis pemrograman yang salah menginput rumus pascal-nya.
“Ini bukan salah kalian. Ini salah Bapak. Bapak yang gagal mengajar kalian” Ungkapan penyesalan beliau sukses membuat seluruh siswa tertunduk merasa bersalah.
“Bagaimana, Key?” Pak Kadir membuyarkan lamunan. Mengembalikan kesadaranku pada kenyataan yang sulit dihadapi.
“Se—Senin, Pak?”
Guru berperawakan tinggi besar, berkulit putih, dan memiliki khas gingsul di samping itu mengangguk seraya tersenyum. Seolah ingin menyudahi pembicaraan.
Tapi pesona senyum gingsulnya membuatku terpaku di tempat.
Maksudnya jawaban yang beliau berikan tak memuaskan hati untuk bisa beranjak dari tempat.
Aku terdiam membeku. Mencoba menerawang apakah dompetku masih bernafas sampai hari Senin esok.