Buka pintumu!
Saat hidup menutup pintu untukmu, buka saja lagi. Itu hanya pintu. Seperti itulah cara kerjanya.
-
“Ya Allah, Astagfirullah!!” Aku melompat bangun dari tempat tidur bak seorang pemain silat yang sedang show gerakan kip up. Kaget melihat jarum jam yang menempel di dinding, sejajar di atas kaki.
Waktu menunjukan pukul 6.45 menit. Artinya lima belas menit lagi bel sekolah akan dibunyikan.
Masih sementara mengumpulkan nyawa, gegas menyambar handuk, berlarian menuju kamar mandi.
Semoga tidak antri...,
Pintu kamar mandi terbuka, Lia teman kos beda kamar denganku keluar dari sana. Buru-buru aku menyerbu masuk ke dalam, tak ingin ada yang mendahului. Lia sampai beringsut ngeri, tak ingin tertabrak lariku yang masih tampak oleng.
Bersamaan dengan tertutupnya pintu berbahan lempengan baja ringan tersebut, terdengar pula jeritan orang yang mungkin sudah antri terlebih dahulu dibanding aku.
“Key!! Kamu nyerobot antrian Teteh!!” Suara Vale, teman kos yang merupakan seorang mahasiswi mengetuk kasar dari luar, disertai jeritannya. Sukses memenuhi ruang kamar mandi yang tidak terlalu besar.
“Maaf, Teh. Aku kesiangan. Besok jatah antrian Key buat teteh enggak apa-apa!” aku menyahut, sambil terus menggosok gigi. Entah sempat mandi atau tidak.
Tak lebih dari lima menit aku sudah keluar. Nampak Vale dengan wajah cemberut menantiku beberapa langkah di depan pintu kamar mandi.
“Maaf ya Teteh cantik, Teteh kan masuk jam setengah delapan. Masih punya banyak waktu.”
“Udah kesiangan, malah ngatur orang!” sungut Vale. Wajahnya tampak ditekuk.
Aku hanya cengengesan khas bocah yang salah tingkah. Kembali berlari menuju kamar. Gegas memakai seragam.
Akh, aku enggak sarapan lagi!
Selain tidak ada waktu, juga tidak ada budget. Miris memang untuk seorang penghuni kos dengan ekonomi menengah ke bawah sepertiku.
Nggak usah mellow pagi-pagi deh! Sudah bisa sekolah dan membayar kos saja sudah cukup.
Kenapa harus membayar kos? Karena aku tinggal di perkampungan yang menjorok dari kota. Untuk mendapatkan Sekolah Menengah Atas terdekat saja, harus menempuh jarak puluhan kilo. Jika dihitung-hitung, sama saja dengan biaya sekolah unggulan plus biaya kos-nya.
Jadilah aku terdampar di Kota Manis ini. Memilih sekolah swasta plus Informatika dan kewirausahaan.
Dari namanya seh keren! Sekolah dengan program teknologi masa depan. Tapi masuk ke sana tidak lantas menjadikan diriku keren dan favorit seketika.
Gimana mau keren kalau minim budget!
“Baru berangkat Key?” Mbak Chia menyapa. Dia adalah pekerja yang bertugas menjaga ketertiban dan kebersihan rumah kos.
Aku membalas basa-basi Mbak Chia dengan senyum yang entah dilihatnya atau tidak, karena lekas berlalu mempercepat langkah menuju sekolah.
Sebenarnya jarak antara sekolah dengan rumah kos tidak begitu jauh, hanya sekitar 200 meter. Tapi tetap saja, kalau bangunnya sudah terlambat, ya mana terkejar.
Ini saja aku sudah berpeluh, melakukan jalan cepat. Manalagi sambil memegangi perut.
Heran, kenapa bisa selapar ini? Biasanya juga masih bisa ditahan sampai waktu istirahat pertama, sekitar jam sepuluh.
Akh, aku lupa. Semalam Mas Neo datang, memberikanku uang sebanyak seratus limapuluh ribu rupiah, plus berita buruk.
Gara-gara berita buruk itu juga aku jadi tidak bernafsu untuk makan malam. Malah nangis semalaman entah sampai jam berapa. Inilah akibatnya, bangun terlambat, perut sekarat.
Hmm..., semoga saja Pak Hamid, security yang berjaga di depan gerbang sekolah sedang baik situasi hatinya.
Beliau sebenarnya sosok yang ramah dan baik hati. Hanya saja ia mampu bertransformasi menjadi monster pembunuh saat berhadapan dengan pelaku indisipliner di sekolah.
Macam aku saat ini.
Terlambat.
Lihatlah! Beliau tersenyum menyeringai kepadaku dari balik gerbang yang telah terkunci. Tangan kanan memegang penggaris kayu besar, selalu diketuk-ketuk ke telapak tangan kiri.
Aku ngeri jika harus membayangkan penggaris itu terayun ke betis mungilku. Kan enggak lucu kalau tiba-tiba ada tato abstrak di kulit putihku.
“Baris!” titah Pak Hamid, tak dapat ditolerir.
Aku bergabung dengan beberapa murid yang juga terlambat hari ini.
Beberapa menit kemudian, Pak Hamid menghampiri kami dengan sebuah buku besar di tangannya. Semua yang berbaris menuliskan nama beserta alasan keterlambatan kami satu persatu.
Macet, sedang tidak enak badan, terlambat bangun, dan berbagai alasan lainnya meluncur dari para murid yang terlambat. Sudah menjadi sarapan rutin bagi Pak Hamid.
“Kamu kenapa, Key? Kos kamu kan dekat?” Pertanyaan yang membuat diriku malu sendiri.
Aku meringis, bingung untuk memberikan alasan apa. “Banyak pikiran Pak!” akhirnya kalimat itu yang kujadikan sebagai pembenaran sikap indisipliner kali ini. Dibalas dengan bibir Pak Hamid yang mengatup khas orang yang sedang menahan gemas.
Aku memang sering sekali berlaku jahil pada beliau. Untung saja Pak Hamid tidak gampang marah kalau tidak sedang bertugas.
Catat!
Kalau tidak sedang bertugas!
Sayangnya pagi ini adalah jam beliau memunculkan taring dan cakar tajamnya.
“Semua, berlari lima putaran di lapangan!” titah Pak Hamid, final.
Ketika yang lain berhamburan menuju lapangan untuk memenuhi hukuman, aku malah mendekati Pak Hamid. Berusaha menego hukuman.
Aku tidak sarapan, tidak juga makan malam. Bagaimana bisa kuselesaikan lima putaran yang tidak sedikit itu?
“Pak, buat Key diskon ya!” Kumainkan alisku agar beliau luluh. Tak lupa memanyunkan bibir memasang wajah memelas.
“Diskon, diskon! Dikira mall!!” Pak Hamid malah menyentak, tapi sejurus kemudian tersenyum, menampakkan lesung pipit di wajah berahang tegas dengan kulit berwana cukup eksoktis. Sawo matang, kelebihan sedikit.
Beliau mantan Tentara Nasional Republik Indonesia. Abdi negara dari kesatuan Angkatan Darat. Bentuk tubuh tegap dan potongan rambut yang selalu cepak memang menggambarkan postur sempurna sebagai seorang algojo sekolah. Eh, Tentara Angkatan Darat maksudnya.
Entah kenapa beliau memutuskan keluar dari kesatuannya dan terdampar menjadi security di sebuah sekolah swasta yang masih berusaha merintis nama.
Hidup..., hidup...!
Aku akan terdampar kemana?
“Ayolah, Pak! Key belum sarapan. Nanti kalau Key semaput gimana?” Aku masih berusaha bernegosiasi dengan trik dan intrik yang cantik.
“Nggak usah banyak alasan! Dilaksanakan hukumannya. Semakin banyak protes, akan semakin Bapak tambah!”
“Pak, ayolah, Pak! Tiga aja ya, untuk Key.” Aku mengikuti Pak Hamid menuju sisi lapangan. Memastikan semua murid melaksanakan hukuman dengan baik.
“Khusus untuk Keyla Wardhani—,” Pak Hamid tampak menggantung kalimatnya agar menjadi perhatian semua siswa yang terlambat. “Hukuman lari sebanyak tujuh putaran!”
Aku yang harap cemas menunggu akhir dari ucapan Pak Hamid, melotot tak puas diri.
Bukannya berkurang, malah bertambah?
“Pak...,”
“Hukuman akan bertambah kalau semakin banyak protes!” teriaknya lagi.
Pada akhirnya aku memutuskan mulai berlari, bergabung dengan murid lainnya yang telah menyelesaikan dua putaran. artinya saat mereka selesai, aku masih harus berputar empat putaran penuh sendirian.
“Makanya, jangan banyak protes! Sudah tau salah!” Rony berlari menjajariku. Aku memasang wajah cuek padanya.
Teman kelas yang super jahil dan menyebalkan itu hanya tersenyum. Lalu bergabung dengan murid laki-laki yang lain.
Hari ini, aku sendiri murid perempuan yang terlambat. Malu rasanya berlari di antara para murid lelaki yang bebas membuka baju seragam mereka agar tidak basah oleh keringat.
Masa hukuman untuk perempuan disamakan dengan laki-laki? Enggak adil kan!?
Tapi, melakukan protes rasanya percuma. Yang ada hukumanku akan semakin ditambah Si Mister Hamid.
Aargh! Aku sebal padanya.
Lariku melambat, perutku benar-benar menuntut untuk di isi. Belum lagi dahaga karena tak segelas air pun masuk ke kerongkongan pagi ini. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan santai saja. Tak ingin menyiksa kaki, perut juga kerongkongan.
Sungguh sangat tidak lucu jika aku semaput beneran di tengah lapangan.
Yang lain sudah menyelesaikan hukumannya. Sedangkan aku baru menyelesaikan dua putaran. Rasanya ingin menangis membayangkan berjalan mengelilingi lapangan sendirian. Apalagi moodku sedang tidak baik, bisa-bisa air mata menitik sepanjang sisa putaran.
“Key, cukup satu putaran lagi!” jerit Pak Hamid saat murid lainnya telah menghilang dari lapangan.
Kepalaku yang sedari tadi menunduk, terangkat naik, menatap Pak Hamid yang sedang bertolak pinggang, namun tersenyum ke arahku. Segera kuberlari, memenuhi putaran terakhir.
“Terimakasih, Pak. Pak Hamid memang the best!” kuacungkan jempol ke arahnya sambil berjalan mendekat, menuju tangga keluar dari lapangan, tempat Pak Hamid berada.
“Jangan terlambat terus! Bapak enggak tega hukum kamu. Tapi enggak suka lihat kamu tidak tertib!”
Aku cengengesan sambil berjalan menuruni tangga menuju kelas.
“Langsung ke kelas!” perintah Pak Hamid.
“Siap Pak, 86! Tapi Key mau ke toilet dulu, cuci muka.”
Bagaimana bisa aku langsung ke kelas dengan peluh di sekeliling wajah. Terlebih aku haus, sepertinya tak mengapa meneguk sedikit air dari kran. Sewaktu kecil pun aku sering meminum air mentah saat mandi di sungai dan tak pernah sakit perut.
Dari toilet aku membasuh tangan di westafel yang berada di dekat pintu masuk toilet, bersiap meneguk air yang telah terkumpul di telapak tangan.
Tiba-tiba satu tangan menjulur ke depan wajahku. Tangan itu memegang sebuah air mineral dingin dalam kemasan botol kecil.
Aku mendongak, mencari tau siapa malaikat yang tiba-tiba turun di hadapanku itu. Sekalian berharap prince charming ala-ala Goblin yang bisa ujug-ujug hadir.
“Heh! Kamu!” Aku cukup kaget, karena yang memberikan air tersebut adalah Rony. Lelaki jahil yang hampir tidak pernah kudapati kebaikan darinya.
Ini seh bukan goblin, tapi gob—, jangan dilanjut deh. Dirty talk!
“Mau enggak? Capek nih!” Rony menggoyangkan botol itu di depanku.
Kusingkirkan sejenak ego juga rasa enggan, meraih botol tersebut setelah sebelumnya Rony membantu membukakan tutup botol air mineral tersebut karena aku gagal memutar botol berkali-kali.
Ya ampun! Sampai membuka tutup botol saja tanganku tidak mampu!
“Ayo, buruan. Pak Willy Mapel pertama. Nanti kena masalah kalau belum ada di kelas.” Rony berbicara dengan lembut.
Terasa sedikit geli mendengarnya. Biasanya kami berbicara saling berteriak, saling mengejek, saling berkejaran dan saling memukul. Tidak ada yang namanya berbicara baik-baik, ataupun bersikap lemah-lembut.
Apakah laki-laki itu terbentur kepalanya pagi ini? Kenapa tiba-tiba bersikap sebaik itu?
Akh, mungkin laki-laki itu iba karena aku tampak lelah dan menyedihkan.
Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih dan segera menjajari langkahnya menuju kelas XA, kelas kami.
Kami jalan beriringan dan baru berpisah di depan pintu kelas. Karena tempat duduk kami berjauhan. Aku di sisi paling kiri, sedangkan Rony di sisi paling kanan.
Kedua sahabatku Alice dan Iren menatapku gemas dari kursi tempat mereka duduk.
“Kos di depan gerbang sekolah masih aja terlambat?” Alice bertolak pinggang.
“Tidur di sekolah aja, biar nggak terlambat!” Iren ikut menimpali.
“Yang nemenin siapa?” tanyaku sambil mengerlingkan mata kepada mereka.
“Pak Hamid!!” jerit kami bersamaan lalu tertawa. Semua orang berbalik ke arah kami. Aku, Alice dan Iren segera menutup wajah karena malu menjadi pusat perhatian.
“Ayoo, jangan ribut! Kalau Kepala Sekolah sidak, nanti Bu Tantri, wali kelas kita malu.” Ketua kelas berusaha mengendalikan keributan. Lalu menginformasikan tugas Matematika, sesuai pesan dari Pak Willy.
“Dikerjakan ya, nanti dikumpul!”
“Uuuuu!!” Tepat setelah Ketua Kelas berbicara, seluruh murid bersorak tidak puas.
“Ssst!! ayo mulai dikerjakan.” Ketua kelas memberi instruksi dengan menempelkan telunjuknya di mulut, lalu menunjuk ke arah luar jendela.
Ada Pak Hamid, tengah melongok di jendela. Melihat raut wajah ekstrim Pak Hamid, kelas pun berangsur tertib.
“Key, mau aku bilangin nggak?” Iren menyolek punggungku dari bangkunya di belakang.
“Apa?”
“Yang tadi, soal pindah kesini.” Irene menunjuk ke arah Pak Hamid.
“Kalau mau ini!” aku mengacungkan kepalan tangan, disambut suara tawa Iren yang tertahan.
Lalu berbalik, memelototi Alice yang ikut cekikikan di sampingku. Alice segera mengacungkan jari tengah dan telunjuknya, membentuk huruf V. Tak ingin benar-benar aku telan.
Kami lanjut mengerjakan tugas Matematika sambil sesekali berdiskusi tentang rumus, Atau sekedar meminjam koreksi pen untuk memperbaiki kesalahan penulisan.
“Kenapa putih semua begitu, Lis ?” tanyaku. Hampir setengah lembar jawaban Alice dicoret menggunakan Tipe-X.
“Tuh, Si Iren salah kasih rumus! Sudah di tulis sampai akhir, baru ketahuan salah.” Sungut Alice. Aku dan Iren tertawa.
“Makanya jangan langsung ditulis di situ. Kan bisa di kertas lain untuk coret-coret hitungannya dulu.” Iren mencibir, tak merasa bersalah.
“Mau aku ambilin Cat sekuas-kuasnya di gudang sekolah nggak Lis?” Aku menambahkan, dibalas tatapan tajam Alice. Membuat aku dan Iren semakin tak bisa menahan tawa.
“Ayoo!! kerjakan latihannya tidak pakai mulut!” lengkingan suara ketua kelas mengingatkan dari mejanya.
“Baik, Pak Ketua!” sahut Iren sambil terus menutup mulut, menahan tawa.
Aku memberi isyarat pada Iren untuk menyudahi tawa. Lanjut mengerjakan soal yang belum dikerjakan.
Andai saja, dalam menghadapi persoalan hidup itu seperti saat kita mengerjakan soal di buku diktat sekolah. Tentu ingin juga dapat mengkoreksi setiap langkah yang salah. Atau menjalaninya dengan ringan dan penuh senda gurau.
Sayangnya hidup tidak seperti itu. Waktu terus berputar, tak bisa kita hentikan ataupun kita putar balik. Sekedar ingin menapaki jalan yang lain. Jalan yang mungkin berbeda dengan kenyataan saat ini.