Pada pelarian awal, tidak ada banyak hal yang kami lakukan. Taufan hanya mengajakku ke sebuah danau kecil, dengan sebuah jembatan papan kayu tidak terlalu lebar yang menjorok beberapa meter ke tengah air. Duduk berdiam diri saling membelakangi. Selama beberapa jam pertama, aku masih asik terisak sendiri. Sedangkan Taufan, entah apa yang dia pikirkan. Ia hanya terlihat menatap danau dengan alat penyumpal telinga. Mendengarkan entah musik apa tengah ia putar. "Semalam siapa?" tiba-tiba saja pertanyaan itu ia lontarkan. Aku yang sudah mulai tenang, kembali berurai air mata. Teringat kejadian menyebalkan bermula dari bentakan Pak Marcel saat mengajak pulang, hingga kegiatan gilanya di keheningan malam. "Dia orang tuaku. Ayah angkatku." Aku tidak tau bagaimana ekspresi Taufan saat ini. Kam

