"Kk–kita mm–mau apa?" Kali ini kami berhenti di sebuah lintasan rel kereta api. Aku ikut berdiri tanpa tau hendak melakukan apa. Juga tidak tau Taufan hendak berbuat apa. Hanya mencoba menerka, dari semua hal yang bisa terbaca. Eh..., sebentar, sebentar. Dia enggak lagi mau bunuh diri kan? Di lintasan kereta api?? Aduh, masa seh Taufan yang sekuat batu itu jadi serapuh ini? Aku gak ikut-ikutan ih, kalau bunuh diri mah. Meskipun masalahku tidak beda jauh besarnya, tapi aku masih mau berusaha. Tidak ada yang tau tentang masa depan kita seperti apa, kan? "Fan, kita gak perlu melakukan ini. Hidup kita tuh sangat berharga. Sakit boleh, kecewa boleh, tapi kalau menyerah, jangan!" Taufan melayangkan lirikan maut. Sepertinya aku memang sudah melantur kelewat jauh. "Maksudmu?" Kedua alisnya

