Kami berjalan-jalan di dalam sana. Pak Marcel tampak antusias. Menunjuk ke sana-kemari. Memilih stand pakaian, tas, sepatu menawarkannya kepadaku. Tidak puas dengan satu penolakan, ia akan segera pindah ke stand satunya. Aku memijit kening perlahan. Sudah kukatakan, jika bersamanya tidak akan lagi bernama refreshing. "Kamu kenapa? Gak suka sama sepatunya? Kita pilih lagi yang sesuai dengan selera kamu," tawar Pak Marcel. "Kita makan dulu, laper." Aku hanya menurut. Jika lelaki itu melakukan dengan senang hati, aku tidak lebih dari seekor kerbau yang tercucuk saja. menurut kemana saja arah langkah kakinya terayun. "Sepatu Key masih bagus, Pak. untuk apa punya banyak?" Aku terus menolak di setiap stand yang kami lalui. Juga di stand lainnya. "Kan bisa untuk ganti, Neng. Masa itu-itu saja

