"Jadi, mau ya aktif di kegiatan kali ini!" pinta Fauzan setelah memberikan penjelasan secara berapi-api hingga akhir. Seharusnya ia mengucapkan pertanyaan. Bukan pernyataan bertanda seru. “Maaf, tidak bisa." Fauzan menghembuskan nafas panjang. Mungkin lelah setelah berbicara panjang lebar tapi malah mendapatkan penolakan. Dan bukan yang pertama kalinya. Entah sudah kegiatan ke berapa, selalu kutolak mentah-mentah. "Serius? Tidak bisa atau tidak mau?" Apa bedanya? Sama-sama tidak. "Aku harus pergi." "Tunggu, sebentar, sebentar saja!" Tanganku tergenggam lagi. Sorot mataku menyala lagi, gerakanku terhenti lagi. "Sorry, sebentar lagi. Janji!" lelaki berkulit bersih itu meminta dengan sungguh. Fauzan memang figur aktivis yang sempurna. Supel juga berpenampilan super. Tidak heran kal

