Mentari mengintip di ufuk timur, masih malu-malu. Tapi mampu menggerakkan roda kehidupan di pagi yang masih buta itu. Suara kicau burung saling bersahutan dari atas atap rumah, seolah mengajak siapa saja untuk menyanyi bahagia menyambut kesempatan hidup hari ini. Pagi ceria, meskipun hatiku tak seceria sebelumnya. Tentu kejadian kemarin masih meninggalkan jejak dalam ingatan. Tak mudah dihapuskan. Kupilah pakaian kotor untuk di cuci sebelum mandi nanti. Tak lupa mengeluarkan pakaian dalam tas yang Ibu Dina serahkan kemarin sore sepulang berolahraga. “Enggak usah dicuci, Key! Biar nanti Bik Murni.” Sulis berteriak dari pintu dapur. Aku mengiyakan. Lagi pula waktuku takkan cukup kalau mengurusi pakaian dalam jumlah banyak pagi ini. Cukup pakaianku saja. “Key, sebelum beberes, tolong bik

