- Manisnya Penantian -

2194 Words
Setelah menuliskan nama di buku tamu, segera kupilih tempat bersemedi. Menyelami perasaan sekedar membohongi diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Tak peduli walau hanya duduk beralas lantai keramik dingin. Yang terpenting sunyi dan jauh dari tempat lalu-lalang orang. Kututupkan buku ke wajah, menyamarkan gelinang air mata yang minta dipuaskan. Menahan sekuat tenaga agar tak keluar suara isakan dan menarik perhatian. “Doyan banget duduk di lantai! Yang tadi pagi belum puas?” Satu suara yang begitu kukenal mengacaukan konsentrasi kesedihan. Buru-buru kusapu jejak air mata di balik buku. Lalu mengangkatnya demi memastikan bahwa tebakanku tidak salah. Rony berdiri di sampingku dengan ekspresi cuek memegang dan membaca buku di tangannya. “Nggak boleh ribut di perpus!” sahutku malas. Rony mengambil posisi duduk tepat di sampingku. Bersandar pada rak yang sama. “Yang mau cari ribut siapa?” bisiknya, membuat tubuhku condong menjauh. Ganggu aja nie cowok! Heran!! Enggak cukup apa, selalu ganggu di kelas? “Ngapain disini?” protesku. Ini tempatku. Aku yang terlebih dulu berada di sini. Kugeserkan tubuh sedikit menjauh dari Rony. Malas sekali harus bersentuhan dengannya. Lagi pula aku tidak pernah sedekat itu dengan teman berlawanan jenis sebelumnya. “Cari ketenangan.” Rony ikut bergeser, kembali menempelkan lengan dan bahunya dengan lengan dan bahuku. “Geseran sana, Ron. Sempit tau!!” Kudorong bahu Rony agar tubuhnya menjauh. Mendesis tertahan, tak ingin menimbulkan keributan. Dasarnya suka cari ribut, Rony malah balas mendorongku, tak ingin kalah. Pada akhirnya Kami saling berbalasan hingga Rony mendorongku terlalu kuat. Akibatnya tubuhku terjatuh ke samping, disusul oleh tubuhnya karena tidak tertahan baik oleh tubuhku. Untung saja tangannya sigap terjulur ke lantai. Sedangkan aku menutup mata, ngeri. Juga menahan nafas agar kembang kempis perutku tak mengenai tubuhnya. Jarak kami sangat dekat. Aku yakin, kalau bernafas semaunya, kerja otot diafragma yang berkontraksi, akan mengakibatkan kembang kempis perut dan dadaku bersentuhan dengan tubuh Rony. Entah berapa lama posisi kami seperti itu, seolah waktu terhenti dan begitu mendukung. Lambat laun kuberanikan membuka mata. Rony tampak memandangiku dengan seksama pada jarak yang begitu dekat. Bagaimana bisa dia begitu santai? Sedangkan tubuhku begitu menegang. Berharap tak ada hal lain akan terjadi disana. Lupakan scene romantis ala film manis. Aku hanya penikmat adegan manis, bukan pelaku. Rasanya terlalu bodoh jika hanyut dalam suasana yang justru menjerumuskan kepada kebebasan dan kehancuran. Lama saling berpandangan, tiba-tiba Rony menghembuskan udara melalui mulutnya tepat di kelopak mataku. Membuatku mengerjap beberapa kali, lalu menutup mata. Ngeri membayangkan apa yang berikutnya akan terjadi. Argh, kurasakan kedua pipi mulai memanas. Wajahku pasti telah merona, berubah menjadi semu merah. Untung saja Rony bergegas bangun memperbaiki posisi tubuhnya. Mungkin dia sadar posisi itu membuatku tidak nyaman. Aku menyusul. Jika Rony kembali duduk, aku bangkit berdiri. Ingin mencari tempat lain atau bahkan keluar dari perpustakaan. Malu membayangkan posisiku seperti tadi. Belum sempat melangkah, Rony menarik lenganku. Memintaku kembali duduk seperti semula. “Duduklah, aku janji nggak ganggu,” Pinta Rony. “Aku Cuma mau baca.” lanjutnya kembali acuh. Mulai membuka buku yang dipegangnya sejak tadi. Tenggelam sendiri disana tanpa memperdulikanku lagi. Bisa-bisanya dia bersikap biasa seperti itu? Sedangkan aku merasa kikuk dan serba salah. Bahkan mempertimbangkan untuk tetap disana atau pergi saja. Tanpa sadar, kupandangi wajah serius Rony yang sedang asyik sendiri pada buku yang ia buka. Baru kali ini aku menikmati sajian wajahnya yang sebenarnya cukup tampan. Cukup tampan? Tentu saja, karena aku menilai secara objektif. Bukan subjektif. Aku tak memiliki perasaan apapun padanya selain gemas ingin mencubitnya saat rese dan tingkah jahilnya kumat. Rony bertubuh tegap atletis. Rambut lurus sedikit gondrongnya sering ia mainkan. Di sisir dengan jari atau dikibaskan begitu saja agar rambut yang mirip poni itu tidak masuk di matanya. Iris mata Rony berwarna kecoklatan dan jernih, bentuk rahang cukup tegas. Sepertinya ia bukan seorang perokok. Bibirnya tidak hitam seperti kebanyakan remaja perokok. Dan nafasnya tak beraroma nikotin. Hmm, Rony nyaris sempurna untuk membuat para wanita menjadi b***k cinta monyetnya. Tapi aku tak pernah melihatnya berdekatan dengan murid perempuan. Seenggaknya tidak seperti Adit, teman sefrekuensi Rony yang sering kudapati tengah bergandengan dengan beberapa murid perempuan yang berbeda. Sepertinya sikap tengil Rony-lah yang membuat para wanita ilfil. Tak sadar kepalaku mengangguk-angguk menimbang dalam hati. Lalu terkekeh sendiri, tanpa suara “Lihatin aja terus, tapi awas jatuh cinta!” serunya merasa diperhatikan, lalu melanjutkan membaca bukunya dengan acuh. Whats!! Gemas sekali mendengarnya. Segera kualihkan pandangan dari wajah manisnya. Duh, hati mulai memuji. “Sok Cool!” hanya umpatan itu yang meluncur dari mulutku. Kembali kusandarkan kepala di dinding rak seperti sebelumnya. Tanpa menutupi wajah dengan buku. Keinginan untuk menangis lenyap entah pergi kemana. Kututup mata, menikmati suasana hening dan sepi. Menghirup aroma khas, berasal buku-buku yang tersusun. Juga dari kertas yang disibak oleh tangan Rony di sebelahku. “Key, kamu tau nggak kenapa matahari masih bersinar setiap paginya?” tiba-tiba Rony melontarkan pertanyaan. Lagi-lagi mengganggu konsentrasi ketenanganku. “Padahal ia selalu dilupakan di waktu senja. Tapi tak pernah bosan dan menyerah untuk kembali hadir setiap pagi di sana!” Rony tampak menunjuk. Meluruskan lengannya melewati depan wajahku. Hish, sok filosofis banget! Salah tunjuk arah pulak! “Sejak kapan matahari terbit dari barat? Apa sudah kiamat?” Aku melotot, memasang muka sewot. “Ooh salah, disana!” Rony menggaruk kepala lalu memindahkan telunjuknya ke arah yang masih salah. Aku menggelengkan kepala gemas. Bagaimana bisa matahari terbit di Utara? “Saanaa!!” kutuntun telunjuk Rony, mengarahkannya ke arah Timur. “Timur disana!” tegasku disambut kekehannya. “Ok, selalu terbit disana,” ulangnya memantapkan diri. Aku tersenyum geli, tapi mencoba diam sejenak. Memikirkan jawaban yang bisa membuatnya kesal. “Karena bumi berputar. Capek kalau diem terus. Lihat matahari terus. Pasti dia rese juga, kayak kamu. Makanya Si Bumi muter, biar ada cuci mata. Jadi deh mataharinya timbul tenggelam di timur sama di barat,” jawabku sambil menahan tawa, tak ingin menganggu pengunjung lain. Seketika Rony menoyor kepalaku. Kubalas dengan mencibirnya. “Kurang tepat,” “Terus apa?” tanyaku bingung. “Karena matahari ingin menunjukan bahwa peri malam telah menjelma jadi gadis seperti kamu di bumi.” Rony kembali mendorong bahuku seperti tadi. Aku mendelik, menatapnya tajam. Jika tidak takut adegan memalukan tadi terulang kembali, sudah kubalas dorongannya. “Becanda, jangan dimasukkan ke dalam hati.” Sejak kapan dia bercanda bawa-bawa hati? “Mana ada, peri mukanya merengut terus kayak kamu!” Sepertinya Rony memang hanya ingin membuatku kesal jika sedang berdekatan. Tak tertahankan lagi, sebuah cubitan manis kudaratkan tepat dan cepat di pinggangnya. Rony meringis kesakitan. Tangannya sibuk menangkup mulut, menahan suara jeritannya sendiri. Aku tersenyum puas. Pikirku itu akan menghentikannya. “Karena Matahari ingin mengajari kita, bahwa akan selalu ada harapan di hari-hari gelap kita. Bahkan jika malammu tanpa bulan dan bintang sekalipun.” Rony mengelus pinggang. Meredakan rasa nyeri akibat ulah jariku. “Perlahan tapi pasti, sinar harapan akan muncul dengan konsisten. Dan menelan habis kegelapan yang ada. Dan jangan pernah bersedih ketika langit malammu terasa begitu gelap …,” lanjutnya. Aku menoleh ke arahnya. Memperhatikan sosok yang tumben ucapannya dapat kubenarkan, menyejukkan, mencerahkan seperti skincare zaman now. Pedahal biasanya menjengkelkan. “Kadang langit kelihatan seperti lembaran kosong. Hitam, pekat. Pedahal sebenarnya tidak. Mataharimu tetap disana. Bumi hanya sedang berputar saja.” Rony menyatukan kedua jari telunjuk dan ibu jari, membentuk sebuah bingkai di depan wajahku. Tak ketinggalan ia menutup satu mata seolah sedang membidik. “Gaya!! Tumben ucapanmu bertuah,” Cibirku dengan senyum sedikit mengembang. “Baca dari buku. Hihihi!” Rony terkekeh sendiri. Suasana diantara kami mulai cair, meskipun harus berbicara pelan. Sepertinya ini pertama kali kami berbicara banyak satu sama lain. Setelah sebelumnya hanya menampilkan kejahilan yang menyebalkan. “Ssst…, Sssttt...!” Kepalaku berputar mencari sumber suara. Seperti ada yang memanggil menggunakan isyarat. “Ssstt…!“ Alice dan Iren terlihat di balik rak buku sedang melambaikan tangan meminta perhatian. Ooh, mereka..., Eh, aduh! Waah…, kacau!! Sejak kapan mereka ada disana. Aku kebingungan sendiri. Kenapa juga si Rony harus ada disini. Akan ada salah paham dan bibit gosip baru bagi mereka untuk meledekku seharian ini. Juga beberapa hari berikutnya. “Ooo, ternyata ini yang bikin ogah ke kantin bareng kita,” ucap Alice setengah berbisik saat mendatangi kami. “Jangan salah sangka!” tukasku. Ingin segera mencuci otak mereka. “Enggak kok, tapi kita nggak salah lihat kan! Hihihi,” goda Rani. “Kan, kan, mulai kan!” Aku bangkit dari duduk. Bergegas menarik kedua sahabatku menuju kelas. Tak ingin terjadi kehebohan di perpustakaan. “Mana??” Kucoba mengalihkan suasana saat menuju kelas. Tak ingin pikiran mereka berhenti pada apa yang mereka lihat di perpustakaan. “Apanya yang mana?” Alice dan Iren saling beradu pandang. Tampak ekspresi kebingungan dari wajah keduanya. “Makanan sama minuman. Kalian kan habis dari kantin!” Telapak tanganku terulur, menagih. “Emang tadi pesen?” Iren mencoba mengingat. “Kalian nggak perhatian banget.” Aku memasang muka cemberut. “Kan tadi waktu diajak ke kantin bilang nggak mau karena masih kenyang.” Alice membela diri. “Kan! Kan!” tuntutku. “Apa?” Iran dan Alice menuntut penjelasan bersamaan. “Nggak pengertian kan!!” Aku melipat tangan di d**a. Berjalan dengan menghentak kaki di lantai. “Iya, iya, maaf sayang. Kita kirain kamu diet atau mogok makan. Ya udah, nih aku kasih coklat.” Alice menengahi, menyodorkan sebatang cokelat Diary Milk dengan kemasan berwarna ungu berukuran mini. Kuraih dengan senyum lebar. Tapi masih ingin mengerjai mereka. “Kok yang kecil seh? Kan ada yang ukurannya lebih—,” Aku tak melanjutkan kalimat saat mendapati ekspresi Alice dan Iren gemas dan bersiap untuk menerkamku. Aku terkekeh. “Bel masuk sudah bunyi tuh. Becanda terus!” Rony menabrak barisan kami bertiga yang memang berjalan beriringan menutupi jalan. “Mulai deh, Ron!” jerit Iren sambil mengelus bahu yang tersenggol. Aku ikut mengelus bahu dan kembali teringat kejadian tadi di perpustakaan. Tiba-tiba Rony berbalik dan berkata, “Wanita itu unik, ingin mengerti tapi enggan menjelaskan.” Tangannya terangkat seolah sedang bersyair. “Maksudnya??” tanyaku, Iren dan Alice bersamaan. “Ini!!” Rony mengambil coklat dari tanganku, lalu berlari meninggalkan kami bertiga. Tawanya membahana di sepanjang koridor sekolah. Meninggalkan senyum kecut di bibirku. Milikku terenggut. “Kalian lihatkan, bagaimana menyebalkannya dia? Lalu kalian nuduh aku ada apa-apa sama dia,” protesku sedih. Alice menepuk punggungku pelan, sementara Iren mengusap kepalaku. “Nggak apa-apa, nanti aku beliin lagi coklatnya,” janji Alice . “Sabar Key! Namanya cinta, memang butuh pengorbanan. Meskipun coklat itu hanya pemberian. Iya enggak, Lis?” Iren meminta dukungan Alice. “Ho oh!” Alice mengangguk, mengamini. Kupandangi Alice dan Iren bergantian, menengok ke kanan dan ke kiri. “Apa? Gimana, gimana?” Aku berpikir sejenak. Iren dan Alice berlari meninggalkanku dibelakang. “Ireen, Aaliicee!!“ Aku bergegas mengejar mereka. Jemariku gatal tak sabar mencari mangsa. Keduanya terus berlari meninggalkanku, dengan tawa pecah di sepanjang lorong jalan menuju kelas. -- Kembali kulayangkan pandang menuju meja Pak Kadir saat melewati ruang guru. Masih nihil! Tak nampak sosok yang dicari sedari tadi pagi. “Key, tolong bawakan buku catatan punya teman-teman ke kelas.” Pak Dirwan Guru Pendidikan Agama mengagetkanku yang masih asik mencuri pandang. Kuraih tumpukan buku dari tangannya untuk dibawa ke kelas. Setelah jam istirahat memang jadwal beliau mengajar. “Masih ada yang bisa Key bantu bawakan Pak?” Aku mendekati meja Pak Dirwan sambil terus mencari sosok Pak Kadir. “Itu saja Key. Tolong langsung dibagikan ke teman-teman ya. Sampaikan, lima menit lagi Bapak masuk kelas.” “Baik, Pak.” Aku mengangguk seraya meminta diri. Mengakhiri harapan pada kekecewaan dalam hati. Lagi-lagi kudapati mata ini mulai mengembun. Harus kembali membulatkan hati. Mengulangi kembali kalimat yang mengiris hati di depan Kepala Sekolah selepas istirahat kedua nanti. Siapkan dirimu, Key! Kuhembuskan sisa hasil nafas melalui mulut. Berharap genangan yang hampir meluap dapat segera menguap. “Sini kubantu!” Entah darimana datangnya, Rony sudah mengambil setengah tumpukan buku dari tanganku. Terus berlalu dan menghilang di balik pintu kelas. Bukankah tadi dia sudah duluan di depanku? Hhh, bodo amat! setidaknya dia berhasil melenyapkan genangan di pelupuk mataku. Aku pun bergegas menyusul Rony ke kelas. Menyampaikan pesan Pak Dirwan kepada Ketua Kelas, turut membantu membagikan buku kepada pemiliknya. “Pak Dirwannya mana Key?” tanya Alice setibaku di kursi duduk. “Katanya lima menit lagi masuk.” Jawabku, lanjut berteriak pada Bayu-Ketua Kelas “Oia Bay, pesan Pak Dirwan jangan ribut.” Ketua Kelas mendelik seperti tak percaya aku mengatakan hal tersebut. “Yang suka ributkan kamu sama genk-mu itu!” tuduhnya sangat valid. Aku tertawa. Tidak salah! Kubuat diri ini seceria mungkin. Beberapa jam kedepan, tak yakin keceriaan itu masih tergambar di wajah. Teringat apa yang Rony katakan soal malam, gelap, dan cahaya. Ron, apakah mentari itu masih ada untuk menyinari pagiku? Atau akan tenggelam ditelan awan gelap di siangku? Huft, kenapa aku mulai memanggil-manggil namanya? Aku tak mampu menjawab pertanyaan yang muncul dari kepalaku sendiri. -- Aku berjalan tertunduk menuju Mushola. Tak sabar rasanya ingin meletakkan kepala di bawah kran yang mengalir agar dapat mendinginkan isinya. Terasa penat sekali. Biar kutemui KepSek selepas shalat Dzuhur. Berharap pertolongan itu selesai kupinta pada Sang Maha Mampu. “Key, sini Key!” Satu suara yang begitu kukenal, seketika membuat perasaanku teraduk sedemikian rupa. Ingin rasanya mengamuk padanya yang telah mempermainkan emosiku seharian ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD