- Solusi -

2353 Words
Bruce Lee berkata, Jangan berdoa untuk kehidupan yang mudah, doakanlah kekuatan untuk menanggung kehidupan yang sulit. - “Ikut Bapak, Key!” Pak Kadir memberi instruksi. Mataku berkaca-kaca melihat sosok itu. Seperti tengah menemukan barang milikku yang telah lama hilang. Sosok yang dicari sejak tadi pagi, kini berdiri di hadapanku. Andai Pak Kadir tau bagaimana perasaanku saat ini. Rasanya seperti tengah berdiri di depan pintu, menanti kepulangan Ayahku dari tempat bekerjanya di luar kota. “Kita bicara dimana ya bagusnya?” Pak Kadir tampak menimbang. “Ruang Guru saja Pak.” “Jangan! Jangan di ruang guru. Telalu ramai.” Beliau menimbang, aku hanya terdiam. Memangnya kenapa kalau ramai? “Ruangan Kepala Sekolah?” “Pak KepSek sedang ada tamu. Kalaupun kita berbicara disana beliau akan mengetahui masalah kamu. Kamu mau?” Aku menggeleng, tak ingin permasalahan ini terlalu banyak orang yang mengetahui. Cukup Pak Kadir saja yang mengetahui kelemahan perekonomian keluargaku. “Kalau di perpustakaan, bagaimana?” “Di perpustakaan kan dilarang bicara, Pak.” “Kita bicaranya pelan saja, nggak usah teriak-teriak.” Pak Kadir mengakhiri ucapan dengan senyuman. Aku menurut. Mengikuti langkah kaki beliau menuju perpustakaan. Tak sabar mendengarkan solusi apa yang akan Pak Kadir berikan. “Mau kemana?” tanya Alice saat kami berpapasan. Ia baru saja dari toilet diantar Iren. Keduanya memasang raut wajah penuh tanda tanya. “Ketemu di mushola ya! Aku ada keperluan.” Kulambaikan tangan ke arah mereka, gegas menyusul langkah Pak Kadir yang semakin menjauh. Tak lagi memperdulikan rasa penasaran mereka yang ingin dituntaskan. Aku duduk di tempat yang telah dipilihkan Pak Kadir. Kebetulan tidak terlalu banyak murid-murid yang mengunjungi perpustakaan saat ini. Mungkin mereka sedang khusyu di mushola atau sibuk mengisi perut yang sudah waktunya diisi ulang. “Sebelumnya Bapak minta maaf, baru datang.“ Pak Kadir membuka percakapan. Aku mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan rasa berkecamuk dalam hati. Beliau tidak tau besarnya harapan yang kupupuk sejak tadi pagi. Mempersiapkan diri untuk semua solusi terburuk yang mungkin akan diketuk. “Ini juga sebenarnya Bapak ke sini Cuma sebentar, nanti lanjut keluar lagi. Kalau nggak ingat ada janji sama kamu, mana mau bela-belain dateng.” Ada rasa haru menyeruak dalam kalbu. Dibarengi rasa bersalah yang kian menguat. Betapa aku telah merepotkan beliau yang bukan siapa-siapa. Hanya seorang guru. “Maaf saya begitu merepotkan Bapak,” sesalku dengan pandangan tertunduk. “Jangan bicara seperti itu, Key! Sudah menjadi kewajiban Bapak, untuk bisa membantu permasalahan yang dialami anak murid Bapak.” Kuangkat kepala, menatap wajah Pak Kadir. Mendapati kesungguhan dalam kalimatnya. Masih dengan senyum yang senantiasa menghiasi raut wajahnya. “Gimana, sudah siap mendengarkan solusi yang akan Bapak berikan?” Aku mengangguk perlahan, antusiasku masih tertahan. “Ayolah Key, semangat! jangan lesu seperti itu.” bujuk beliau. Menepuk-nepuk punggung tanganku diatas pangkuan. “Saya hampir putus asa mencari Bapak seharian ini.” jujurku mulai terisak. Pak Kadir mengedarkan pandangan, seperti khawatir tangisku terdengar oleh pengunjung lain perpustakaan. “Bapak minta maaf, sudah membuat Keyla berharap sebesar itu.” Beliau mengusap pundakku menguatkan. Berusaha untuk menghentikan isak tangisku. “Tidak, Pak. Key yang salah. Key terlalu menggantungkan harapan kepada Bapak. Tidak seharusnya juga seperti itu.” Aku berusaha menguasai diri. Pak Kadir bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju meja petugas perpustakaan. Meraih sebuah kotak tissue, lalu menyodorkan ke depanku. “Sudah, dihapus dulu air matanya. Setelah itu, Bapak sampaikan solusi yang Bapak punya.” Aku mengambil beberapa helai tissue, mulai membersihkan sisa airmata di wajah. Mengatur nafas, berusaha menguasai emosi. “Siap?” tanyanya. Kuanggukkan kepala, berusaha mengulas senyum yang dipaksakan. Tak sabar mendengarkan keputusan yang ingin diketahui sejak pagi. “Begini Key, terimakasih atas kepercayaan kamu terhadap Bapak. Sanggup berbagi, menceritakan masalah yang sedang kamu alami untuk mendapatkan solusi. Beberapa hari ini Bapak sungguh-sungguh memikirkan kamu. Bapak tidak ingin ada anak murid sini mengalami putus sekolah. Sebenarnya Bapak ingin kamu ikut Bapak …, “ Pak Kadir menggantungkan kalimat. Membuatku mau tak mau menatapnya dengan penuh. Lalu senyum khas beliau terpancar, menyejukkan hati yang tengah gundah gulana. “Kamu jangan salah paham dulu! Bapak pernah bilangkan kamu itu mengingat diri Bapak zaman dulu?” Aku mengangguk. Siapa juga yang salah paham? Aku hanya tak sabar untuk mengetahui solusi apa yang sebenarnya Pak Kadir bawa. “Bapak ingin kamu ikut Bapak. Jadi anak Asuh Bapak.” Hah? Anak asuh?? Aku tercengang, membayangkan apa yang terjadi jika menjadi anak Asuh Pak Kadir. Pulang dan pergi bersama beliau, menjadi anak emas di kelas, mendapat perlakuan khusus dari para guru dan staf lainnya. Alice dan Iren pasti akan iri. Begitu juga dengan murid lainnya. “Tapi setelah berdiskusi dengan isteri, sayangnya beliau tidak setuju.” Tampak sekali ada nada penyesalan dalam kalimat Pak Kadir, juga dalam hatiku. Hari ini aku merasa patah hati berkali-kali. Merasa semakin terpuruk. Memikirkan hari esok yang berat dan tak berbayang sama sekali dalam hidup. Kekecewaan melahirkan protes pada Tuhan. Merasa dipermainkan oleh takdir yang mencengangkan. Awalnya aku cukup bisa menerima kenyataan harus putus sekolah. Hingga saat mengutarakannya pada Pak kadir, aku telah memutuskan takdir. Tapi angin surga itu datang menggelitik, membuaiku pada harapan penantian empat hari. Lalu bagaimana drama hari ini terjadi, melemparkanku pada kenyataan pahitnya menunggu kepastian. Lalu, kini Pak Kadir mengatakan solusi yang akhirnya dipungkiri isterinya sendiri. Permainan takdir macam apa ini? “Cukup Pak, Saya mengerti. Bapak tidak perlu merasa bersalah seperti ini.” Aku cukup sadar diri. Ingin rasanya beranjak dari sana. Berpamitan pada semua orang yang kukenal. Mengakhiri semua permasalahan yang melebar kemana-mana. “Tapi Key,” Potongan kalimat itu mampu membuatku mengurungkan diri untuk bangkit dari kursi. Kutatap dengan seksama raut wajah Pak Kadir. Masih seperti biasa. Tenang, berkharisma dan senantiasa tersenyum. “Bapak punya kabar baik yang lainnya.” Kabar baik? Apa lagi? “Bapak mendapatkan Orang Tua Asuh untuk kamu.” lanjut beliau. Aku melongo mencoba memahami maksud dari ucapan beliau. “Dia teman Bapak. Bapak rasa, beliau orang yang tepat untuk solusi permasalahan kamu, mereka sekeluarga bersedia membantu kamu. Jadi Orang Tua Asuh kamu.” Tampak binar di mata Pak Kadir, melebihi binar mataku sendiri. Seolah ada dua bintang yang bisa kupetik dari wajahnya. Aku belum bereaksi, takut itu hanya ilusi. Khawatir harus kecewa kembali. “Nanti sepulang sekolah Bapak antar kamu bertemu dengan mereka.” lanjutnya tanpa memperdulikan perasaanku yang tengah bercampur aduk. Pak Kadir memperhatikan jam yang melekat ditangan, kemudian bangkit dari duduknya. “Nanti kita ketemu setelah jam pulang sekolah. Kita sama-sama ke sana. Tetap semangat dan ingat! Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya.” Beliau menepuk bahuku. Berlalu begitu saja meninggalkanku. Orang Tua Asuh? Orang yang bersedia menanggung biaya hidup, sekolah sebagai anak, yang bukan anaknya sendiri atas dasar kemanusiaan. Aku masih tak percaya, ada manusia berhati malaikat seperti itu. Bagaimana mereka bisa yakin dan mengiyakan menjadi orang tua asuhku sedangkan kami sama sekali tidak saling mengenal dan belum pernah bertemu. Seketika aku beristighfar, merasa sangat berdosa telah menyalahkan Tuhan beberapa waktu lalu. Inikah pertolongan-Nya yang begitu dekat itu? Pertolongan yang datang dari arah yang tak disangka-sangka itu? Kuayunkan langkah kaki menuju mushala. Menunaikan shalat Dzuhur yang tertunda karena perbincanganku dengan Pak Kadir. Bagai berjalan di atas awan, rasanya begitu ringan. Seolah seluruh bebanku lenyap tak berjejak. Alice dan Iren menatap kedatanganku penuh keheranan. Sepertinya mereka menyadari suasana hatiku berubah cepat dalam satu hari ini. Begitu tiba di hadapan keduanya, kupeluk tubuh mereka satu persatu. Lega dan bersyukur kami tak jadi berpisah. Bahagia akhirnya bisa menyebrangi jurang terjal yang selama ini untuk kupandangi saja bergidik tak mampu. “Loh loh, kenapa lagi ini?” Iren membalas pelukanku penuh keraguan. Aku hanya tersenyum sambil membenamkan diri dalan pelukan. “Aku sayang kalian.” Hanya itu kalimat yang mampu terucapkan. Tak juga mampu mengobati wajah keheranan kedua sahabatku. “Sudah shalat?” tanyaku. “Belum, kan nungguin kamu dari tadi.” jawab Alice seraya mengerucut bibir. “Aku wudhu dulu ya.” Kutinggalkan mereka yang masih saling berpandangan. Ingin segera membersihkan diri sebelum menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta. “Mau donk, di peluk juga.” Rony muncul di depan pintu sembari merentangkan tangan. Senyum menggoda tak terlepas dari bibirnya. Sepertinya ia baru saja berwudhu. Tampak jelas dari sisa-sisa basahan di wajah juga kedua tangannya. Serta celana panjang yang masih tergulung di atas matakaki. Aku bersiap menyergap, membalas candaannya dengan nyata. Kali ini Rony menghindar, takut wudhunya batal tersentuh olehku. “Nanti ya, aku shalat dulu.” Rony mencibir sambil berlari menghindariku. Namun baru beberapa langkah dari posisinya menghadang, Rony terpeleset, sepertinya kakinya belum dikeringkan dengan benar sebelum akhirnya berlari. Ia jatuh dengan posisi terduduk, pantatnya mengenai lantai terlebih dahulu. Tanpa membuang waktu kusentuh tangannya lalu tertawa puas. “Batal, wee!!” ledekku. Rony meringis kesakitan, sedang murid lain yang melihat adegan itu tertawa terbahak-bahak. Alice dan Iren yang mencari tau ada keributan apa yang terjadi di luar mushala ikut tertawa. “Awas kau Key!” ancamnya tampak geram. Cuek kutinggalkan Rony. Segera menuju bilik air khusus perempuan. Tak lagi memperdulikan Rony yang masih berusaha bangkit sambil menahan sakit. Dan malu tentu! “Yuk berjamaah!” ajakku setelah sempurna mengenakan mukena. Tanpa komando, Alice dan Iren mundur. Menunjukku sebagai imam. Aku berdecak sambil menggelengkan kepala. Mereka selalu seperti itu. Belum sempat kuucap niat dalam hati, Rony muncul menawarkan diri. “Aku imam, ya!” Tanpa menunggu persetujuan, Rony Langsung mengangkat tangan membaca takbir. Sepertinya ia membaca niat sambil berjalan. Aku mundur bergabung dengan Alice dan Iren. Pandanganku tiba-tiba terfokus pada lengan belakang Rony. Ada goresan berwarna merah, seperti luka baru. Apakah itu luka ketika dia terpeleset tadi? Seketika ada rasa penyesalan menjalar di hati. Meskipun sebal selalu diganggu, tapi tak pernah berniat membalas hingga mengakibatkan luka di tubuhnya. Setelah salam, kutenggelamkan diri dalam dzikir dan doa. Menghaturkan rasa syukur dan memohon ampunan atas dosa-dosa. Semua milik Allah, semua campur tangan Allah. Tak ada sedikitpun kuasaku untuk menolak takdir-Nya. “Ayo, Key! Nanti keburu masuk.” Iren mengingatkan. Kusudahi doa panjang, melipat mukena dan mengembalikannya ke lemari tempat perlengkapan shalat di pojok belakang. “Lis, Ren, aku ke kantin dulu ya!” pamitku pada keduanya. “Mau cari sesuatu.” lanjutku saat melihat keduanya menyilangkan tangan di d**a. Protes jadi suka menghilang. “Nanti aku beliin permen deh,” godaku tengil sambil mencubit manja kedua pipi mereka. Alice dan Iren merespon dengan dengusan. “Ditungguin dari tadi, yang ditunggu malah ninggalin!” protes Iren saat dengan cueknya kutinggalkan mereka, menuju kantin sambil berdendang kaki. “Bu, beli plester, sama obat luka kalau ada.” Pintaku pada Ibu kantin. “Cuma ada plester, Dek.” Sesaat aku menimbang. Mungkin ada di tas kecilku. Tinggal sendiri jauh dari Ibu, membuatku harus menyiapkan sendiri obat-obatan ringan yang mungkin dibutuhkan setiap waktu. “Ya sudah, nggak apa-apa Bu.” Kuserahkan satu lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Meraih sebuah coklat batang berukuran kecil untuk kuberikan pada Alice dan Rani. Anggap saja perayaan kecil-kecilan atas kabar baik yang diterima hari ini. Ibu penjaga kantin menyerahkan plester yang kuminta. Seketika mataku melotot. Tak puas melihat motif plester yang sudah pindah ke tanganku. “Nggak ada yang polos Bu, plesternya?” Aku ragu menerima plester dengan motif hati berwarna merah itu. “Kosong Dek, belum sempat nyetok lagi.” Aku menarik nafas panjang menyayangkan jawaban Ibu Kantin. Plester ini bukan untukku. Tapi untuk Rony. Bagaimana mungkin kuberikan plester dengan motif begini pada cowok tengil seperti itu. Kalau saja tak ingat aku yang menyebabkan luka di lengannya. Mana mau bersusah payah membelikan plester untuknya. “Kalau motif cowok, ada enggak Bu? Jangan yang hati kayak gini.” “Ooh, untuk cowoknya ya?” Tampak Ibu kantin tersenyum begitu menyudahi kalimatnya. Cowoknya? Aku tersenyum kecut mendengar hal itu. “Bukan Bu, aa—anu,” Aku kebingungan sendiri bagaimana harus menjelaskan. “Motif bintang mau? Pedahal lebih bagus yang hati kalau untuk dikasih ke cowoknya.” Ibu kantin berubah menjadi komentator. Aku tersenyum kecut, berusaha menelan air liur yang tiba-tiba terasa membatu. Cowok apaan? Iya seh, cowok. Tapi cuma untuk si cowok tengil. Kalau bukan karena rasa bersalah, tidak mungkin aku mau bersusah payah. “Ya sudah dua-duanya nggak apa-apa Bu, masing-masing tiga ya Bu.” Kuterima barang dan uang kembalian. Ingin segera berlalu dari sana. “Akhirnya mau juga yang motif hati!” seru Ibu kantin, dengan senyum menggoda. “Untuk stok Bu, motifnya lucu.” Aku beralasan. Memang plesterku sudah habis. Karena itu juga, kini aku berada di kantin. Lucu kalau dipakaikan pada Alice atau Iren. Pasti akan menambah keimutan mereka berdua. “Nih, dibagi dua ya sama Rani.” Kuulurkan cokelat mini kepada Alice setibanya di kelas. Disambut senyum manis Alice serta tatapan antusias Iren. Akh, sesimpel itu untuk bahagia. Berbagi dan melihat senyum terpancar dari wajah mereka. Mungkin itu juga yang dirasakan para orang tua asuh. Bahagia melihat senyum yang mengembang dari wajah mereka yang terbantu. “Habis beli apa? Enggak mungkin donk cuma beli cokelat aja!” tanya Iren sambil menikmati potongan cokelat dimulutnya. Membuatku teringat pada plester bermotif hati berwarna merah itu. Kusobek perlahan bungkus plester sesuai alur. Menyerahkan satu persatu kepada Alice dan Iren. Sisanya kuselipkan di saku baju. “Kok plester?” Iren terheran-heran. “Ia, plester di kantung obat kosong. Mau beli yang polos tapi kosong. Adanya motif ini. Imut kan? Lucu banget kalau kita pakai bareng-bareng.” Aku tertawa kecil membayangkan genk plester hati beraksi. Kuedarkan pandangan menuju bangku milik Rony. Tak nampak sosoknya di sana, tidak juga di setiap sudut kelas. Kemana dia? Kuraih kantung obat dari dalam tas. Meraih obat luka yang sudah hampir habis. Memasukkannya kedalam saku baju bersama satu plester bintang yang telah disobek satu. Lalu meletakkan sisanya di kantung obat. “Aku ke toilet dulu ya Lis!” pamitku, khawatir ada guru masuk dan memulai presensi kehadiran. “Dianter nggak?” Alice menawarkan diri. “Nggak usah, nggak usah.” Jawabku sedikit panik. Buru-buru meninggalkan meja. “Ok!” Alice mengangkat jempolnya. Kubalas dengan lambaian tangan. Bergegas menghilang di balik pintu, mencari sosok yang begitu menyebalkan itu. Tapi hal yang lebih menyebalkan lagi adalah, aku harus merasa bertanggung jawab atas lukanya. Padahal itu akibat dari ketengilannya sendiri. Aku menyusuri koridor sekolah, berusaha mencarinya. Tak juga kutemukan. Dimana Rony berada? Kenapa hatiku belum lega sebelum menemukan dan menempel plester pada luka di lengannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD