Dimana dia?
Aku masih berusaha mencari sosok yang menyebalkan itu. Aku tidak pernah bergaul dengannya, tidak tau tempat mana saja yang biasa ia kunjungi. Lalu kini harus terjebak dalam situasi harus mencari.
Aku harus mencari kemana?
Masih belum menyerah, Aku terus mengedarkan pandangan ke setiap tempat yang dilalui. Berharap segera menemukan sosok yang mulai meracuni pikiran.
Senyumku merekah saat melihat sosoknya terlihat samar dari kejauhan.
Itu, dia!!
Rony tampak baru keluar dari toilet pria. Begitu tiba di depan cowok tengil itu, kutarik paksa lengannya untuk mengikutiku. Menghilang di balik pintu ruangan kelas XC yang kosong karena mereka sedang berolahraga di lapangan.
Tidak mungkin juga kuobati lukanya di luar. Aku tak siap dengan pandangan aneh yang meminta jawaban yang tidak-tidak.
Rony tampak terkejut, mungkin bingung kenapa tiba-tiba aku menghampiri dan menariknya menuju ruangan. Tapi tak ada pertanyaan ataupun penolakan yang ia tampakan. Sibuk mengekor, bak kerbau di cucuk hidung.
“Duduklah!” perintahku.
“Mau ngapain?”
“Duduk aja!”
Kudorong tubuhnya hingga terduduk di kursi. Sedangkan aku berlutut di depannya dan mengangkat lengan Rony tanpa menghiraukan rok bawahku yang menyapu lantai. Juga tatapan tak dapat diartikan cowok tengil itu. Terus saja sibuk pada luka Rony masih belum terurus.
“Eh, Ada luka? Pantas perih.” ucapnya lirih. Ikut melirik bawah sikunya yang baret dengan luka tidak terlalu panjang tapi cukup dalam.
Aku mengeluarkan obat dari saku baju. Sibuk menyapukan ke luka itu. Rony meringis, menjerit lirih merasa perih.
“Jangan manja!” tukasku, sambil terus meniup lukanya agar obat itu kering dan bisa segera kututup dengan plester.
Kuambil plester dari saku baju, membukanya, lalu menempelkan di atas luka Rony tanpa memperhatikan lagi. Fokusku malah beralih pada wajah Rony yang sesekali masih meringis.
Manja!!
Sangat menggelikan, bagaimana bisa cowok seatletis dia meringis hanya karena goresan luka kecil seperti itu.
Baru separuh sisi plester yang menempel disana raut wajah Rony tiba-tiba berubah. Persis saat dia hendak mengerjaiku selama ini.
“Makasih ya. Motifnya lucu!” ucapnya menahan tawa, membuatku curiga.
Aku membulatkan mata, syok melihat plester yang tertempel di sana. Bukan motif bintang seperti yang kusiapkan. Melainkan motif hati berwarna merah.
Bagaimana bisa plester itu yang kuberikan?
Ingatanku meniti pada kejadian beberapa menit yang lalu. Setelah kubagi tiga, plester itu memang dimasukkan ke saku baju. Setelah itu aku menyobek satu plester motif bintang dan kusimpan ditempat yang sama.
Ya ampuun!!
Bagaimana bisa aku seceroboh itu.
Aku menyesali kecerobohanku sendiri.
“Heh, bukan yang ini. Ini punyaku.” Aku berusaha mencabut kembali plester yang telah setengah menempel di lengan Rony.
Si empunya tangan menahan gerakan tanganku. Dengan sigap menarik lengan, lanjut menempel setengah sisa plester itu secara mandiri.
“Plester kamu yang ini,” Aku mengeluarkan sebuah plester lain dari saku. Tak ingin Rony salah paham hanya karena motif imut itu.
Aargh!
Kenapa juga harus kubeli motif hati itu! Harusnya fokus pada plester yang ingin kuberikan pada Rony saja.
“Ini motif bintang. Di kantin nggak ada yang motif polos,” sesalku.
“Nggak usah, aku suka yang ini. Wee!” Rony kembali bersikap tengil.
“Tapi, tapi,” Aku kehabisan kata. Tak tau harus bagaimana.
Gimana kalau Alice sama Iren lihat?
“Ini lebih manis kok. Yang bintang untuk kamu aja. Biar kamu ingat, kalau langit malam sedang gelap, bintangnya ada di sini.” Rony mengembalikan plester bintang ke tanganku.
Ya sudah, mau gimana lagi!
Aku menyerah. Bangkit dari duduk berlutut. Disusul Rony ikut berdiri. Membuat jarak kami dekat lagi setelah kejadian di perpustakaan tadi.
Aku mundur, menjaga jarak aman. Walau bagaimanapun aku tidak terbiasa sedekat itu dengan teman lawan jenis.
“Maaf, ya!” ucapku tulus, tanpa mengulurkan tangan.
“Apa?” Rony tampak keheranan.
“Soal yang tadi. Gara-gara candaanku, kamu jatuh sampai luka,” sesalku sambil tertunduk memainkan ujung sepatu.
Rony tertawa renyah.
Ada yang lucu? Apa?
“Nggak apa-apa. Cuma luka kecil gini doang. Kayaknya bukan karena terpeleset juga kok. Tadi aku nyenggol paku di pintu waktu keluar dari tempat wudhu.”
Rony tampak cengengesan. Mengusap tengkuk sedikit menunduk.
Hah, jadi bukan salahku?
Lalu untuk apa aku sesibuk ini menyesal dan minta maaf.
Aku merasa jadi orang bodoh.
“Kirain nggak sampai luka. Tapi makasih ya!” lanjut Rony sambil mengusap lengannya yang tertempel plester milikku.
Sungguh, aku tak rela melihat plester itu tertempel disana. Apalagi tau luka itu bukan aku penyebabnya.
“Yaaa, tapi tetap maaf ajalah! Tadikan kamu jatuh beneran. Diketawain banyak orang.” Aku mencoba mengikhlaskan plester itu. Hanya memikirkan bagaimana caraku menjawab kalau Alice atau Iren tau kalau plester itu tertempel di lengan Rony.
“Iya, aku maafin. Tapi jangan di ulangi ya,” pinta Rony sambil memasang muka sok imut.
“Lagian, kamu juga seh!” Aku mulai menyalahkannya. Menyulut api pertikaian yang baru saja sama-sama kami padamkan.
“Apa?”
“Kamu!”
“Kok aku? Kamulah!”
“Kamu!” Kami kembali saling beradu mulut. Tak ada yang mau mengalah.
“Apa?”
“Nyebelin!”
“Kamu juga!”
“Apa?”
“Ngegemesin!”
“Hah! Apa?” Aku tak ingin salah dengar.
“Enggak, salah denger pasti!”
“Tadi kamu bilang apa?” ulangku.
“Kamu nyebelin juga!” terangnya.
“Nggak, tadi kamu nggak bilang gitu, telingaku masih normal.”
“Apa?”
“Kamu tadi bilang apa??”
“Ngarep ya?”
“Apa?”
“Pengen aku bilangin kamu ngegemesin lagi.”
“Hah?” Aku syok untuk yang kedua kalinya.
Salah sendiri, mau mastiin yang sudah pasti!
“Iiuuww!” kupasang muka ogah.
“Kenapa, nggak terima aku bilang kamu ngegemesin?!”
Eh, eh, kenapa dia jadi ngegas??
Rony maju selangkah memasang raut wajah mengeras. Membuatku otomatis mundur selangkah.
Rony kembali maju begitu aku mundur, sampai akhirnya punggungku membentur dinding kelas dan tak mendapati celah untuk kembali mundur.
Rony mengangkat satu tangannya, bertumpu pada dinding, mengunci. Membuatku tak bisa meloloskan diri.
Entah apa yang ada di pikirannya, Rony menatapku dengan intens. Membuat tubuhku merasakan sensasi menegang, kaku. Otakku seolah membeku tak dapat memberi perintah pada organ tubuh yang lain.
Aku menahan napas, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk meronta saat kulihat wajah itu perlahan bergerak mendekati wajahku.
Dalam hati mulai menghitung jarak yang semakin terkikis habis sejak dari dua puluh centimeter.
Dua puluh,
Lima belas,
Sepuluh,
Lima!
Tepat jarak lima centimeter kekuatan dan kesadaranku terkumpul. Baru bisa melepaskan jerat hipnotis itu.
“Kyaaaa!!”
Aku menjerit ngeri seraya mendorong d**a bidangnya. Wajah itu tampak tersentak kaget lalu tersenyum saat melihatku mendengus kesal kepadanya.
Kupukul lengan yang masih menghalangi pergerakan. Segera melarikan diri dari hadapannya. Tak ingin terjebak dalam keadaan yang sama.
Gila, Rony sudah gila!
Laki-laki itu hanya tertawa saat melihatku tak henti mengomel lalu berlari meninggalkan ruang kelas XC. Tak lagi peduli jika plester di tangannya akan dilihat siapapun.
Beberapa menit setibaku di kelas, Rony datang. Menggunakan sweater warna abu-abu miliknya.
Akh, aku terselamatkan. Plester itu tersamarkan.
Alice dan Iren pun tak tertarik pada kedatangan Rony yang tak berselang lama dari kedatanganku ke kelas.
--
Seperti janji Pak Kadir, begitu jam sekolah usai, beliau sudah menunggu. Sengaja kuperlambat gerakan persiapan pulang. Berharap sekolah segera sepi dan tidak menimbulkan desas-desus jika harus pergi bersama guru idaman tersebut.
“Aku duluan ya Key! Ada janji sama Ibu.” Alice bergegas merapihkan tasnya.
“Ibu atau Ibunya dia?” selidikku menggoda.
“Apaan seh Key. Ibuku lah.”
“Duluan ya, bye.” Pamitnya tak lupa salam cipika-cipiki sebelum berpisah.
“Aku juga duluan ya.” Pamit Iren.
“Kok pada buru-buru semua seh?” Aku pura-pura mempermasalahkan kedua sahabat yang bergegas pulang.
“Ia aku mau ke toko alat jahit, cariin pesanan My Mommy.”
Aku memanyunkan bibir tanda protes.
“Ya udah, ikut yuuk. Biar aku ada temennya.” Iren mengedipkan matanya. Bersiap meraih lenganku.
Tak ada jawaban berarti dariku.
“Traktir es krim deh!” rayunya membuat mataku berbinar. Andai saja tidak ingat janji temu dengan Pak Kadir, sudah kuiyakan ajakan itu.
“Mmm, Lain kali deh Ren.” Jawabanku membuat Iren memonyongkan mulut, kecewa.
“Jangan ketawa gitu lah!” pancingku, menggoda Iren.
“Maraaah! Aku tuh marah! Kecewa!” Jeritnya Iren, membuatku tertawa melihat ekspresi gemasnya.
“Ya udah duluan ya!” pamit sahabat tomboyku. Aku mengangguk, mengiyakan. Kami pun berpelukan dan Salam tempel pipi seperti biasa.
Kelas mulai sepi. Gegas meraih buku dan alat tulis lainnya dari laci meja, memindahkannya kedalam tas. Hanya tinggal beberapa murid yang masih betah duduk sekedar bercanda atau bergosip ria.
Rony pun masih bermalas-malasan membereskan alat tulisnya ketika temannya dari kelas lain mengintip di pintu.
“Ron ayoo! kan mau main lagi.” Adit, teman karibnya yang merupakan anak kelas XC berteriak. Suaranya memenuhi seantero kelas.
Enggak bisa ya, dateng dulu baru ngobrol. Enggak teriak-teriak gitu!
Mungkin mereka berbicara dari kejauhan karena malu seragam Adit sudah basah karena keringat. Atau mereka memang tinggal di pelosok, pegunungan juga sepertiku. Jadi setiap orang di seberang gunung bisa saling sapa dengan teriakan.
Meskipun, pada akhirnya Adit masuk. Menghampiri meja Rony, mengajaknya Bergegas pergi.
Menit berikutnya, mereka melewati mejaku dengan acuh. Aku pun berusaha bersikap sama. Sekilas kudapati Rony melirik ke arahku lalu sengaja membuang mukanya ke arah lain. Pergi begitu saja bersama teman-temannya.
Iiiiyy! Sok Cool banget! Sebelnya!!
Tas yang tidak tahu menahu tentang pertikaianku dengan Rony, pasrah menjadi sasaran. Demi menuntaskan rasa kesalku.
Aku uring-uringan sendiri, gemas melihat ekspresi Rony. Setelah apa yang terjadi seharian ini, masih bisa bersikap acuh seperti itu.
Memangnya harusnya Rony bersikap seperti apa?
Entah!
Tapi bagaimana bisa dia bersikap seperti itu. Harusnya malu kek, segan kek, merasa bersalah kek. Bukan malah sok imut seperti itu.
Aku saja..., malu!
Ada aliran rasa yang aneh saat mengingat kejadian di perpustakaan dan di ruang kelas XC tadi. Berkali-kali kutarik nafas panjang demi menetralkan debaran itu.
Entah kenapa memori kepalaku terus saja memutar kejadian tadi.
Tatapan matanya saat tubuh kami mengikis jarak.
Hembusan nafasnya yang begitu teratur saat wajahnya mendekat menuju arahku.
Aaaarggh!!
Aku memejamkan mata. Menggelengkan kepala cepat. berusaha menghapus memori itu dari pusat otak.
“Nggak pulang, Key? sudah sepi loh!” Nana mengingatkanku.
Kuedarkan pandangan. Hanya tersisa aku dan Nana yang masih berada di kelas.
“Aku ada tugas nutup gerbang, Na,” selorohku. Disambut tawanya yang nyaring.
“Duluan ya, Key.” pamitnya. Aku mengangguk seraya memintanya hati-hati di jalan.
Begitu Nana menghilang di balik pintu, segera kuselempangkan tas di bahu, lalu berlarian menuju pintu. Khawatir Pak Kadir telah lama menunggu.
Baru juga membuka pintu, lagi-lagi kejadian kaget-kagetan terulang kembali. Pelakunya masih sama. Aku dan orang dibalik pintu seperti waktu itu. Pak Kadir.
Aku yang memang berlari dan terburu-buru, kaget setengah mati saat membuka pintu dan hampir bertubrukan dengan sesosok tubuh.
Secara bersamaan Pak Kadir juga membuka pintu dari luar kelas. Beliau pun tampak terkejut begitu mendapatiku sudah berada dibalik pintu seperti tengah diburu. Bedanya, Beliau bersikap tenang sedangkan aku heboh tidak ketulungan.
Aku sontak menghentikan gerak tubuh berusaha menghindari kecelakaan yang akan membuatku malu tujuh turunan delapan tanjakan.
Dasarnya aku suka grasah-grusuh. Kaki yang terlanjur melangkah ke depan tapi dipaksa berhenti secara tiba-tiba, membuat tubuhku cenderung ke belakang dan kehilangan keseimbangan.
Hampir saja aku terjengkang. Dengan sigap Pak Kadir menangkap lenganku. Mencegah tubuhku dari terjatuh ke belakang.
Perbandingan kekuatan yang jauh berbeda antara dorongan tubuhku ke belakang dengan tarikan tangan Pak Kadir gagalku imbangi. Mengakibatkan tubuhku yang berukuran jauh lebih kecil dan imut dari tubuh beliau, sukses menabrak tubuh itu dengan sempurna.
Pedahal aku sudah berusaha, sebisa mungkin menghindari kecelakaan itu.
Bruuk!
Aish, malunya!!
Rasanya lebih baik jatuh terjengkang daripada terjerembab manja dalam d**a guru menawan itu.
“Aduh!”
Aku mangaduh, meringis kesakitan sambil memegangi pelipis yang terantuk kancing baju kemeja beliau. Tapi rasa malu itu lebih besar dibanding rasa sakit yang tidak seberapa. Setelah menguasai diri, aku segera meminta maaf.
“Maaf pak, saya buru-buru tadi. Jadi kurang konsentrasi.” Kugigit bibir, menahan rasa malu dan bersalah.
“Kenapa tergesa-gesa?” Pak Kadir membaca raut muka merasa bersalahku.
“Saya takut Bapak menunggu terlalu lama.”
Pak Kadir tampak tersenyum. Entah untuk alasan apa.
“Dari tadi Bapak nungguin kamu di depan ruang guru. Kenapa lama sekali? Sampai khawatir kamu lupa, jadi Bapak ngecek ke sini.”
“Maaf Pak, saya menunggu agak sepi dulu.” sesalku.
“Kenapa nunggu sepi?” tanya beliau lagi dengan tenang, membuatku justru menjadi tidak tenang.
“Saya merasa tidak enak kalau banyak yang melihat Pak. Saya menjaga pandangan orang terhadap Bapak. Jangan sampai mereka salah paham.” Aku menjelaskan sambil terus tertunduk tidak berani menatap wajah Pak Kadir.
“Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Sudah tidak terlalu ramai kan?” ucapnya datar, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa barusan.
Aku memberanikan diri menatap Beliau. Selalu senyuman yang nampak dari wajah Sang Guru Idaman.
Ah, Mantan Calon Ayah Angkat.
Terasa geli sendiri jika mengingat hal ini.
“Kenapa malah bengong? Ayoo!”
“Eh, Saya kira Bapak marah.”
Pak Kadir tertawa, memperlihatkan barisan giginya dengan gingsul manisnya di samping. Pasti isterinya dulu terkena jerat senyum gingsul itu.
Kenapa seh aku terlambat lahir, dan kenapa Pak Kadir terlalu cepat lahir?
Huhuhu!
“Kenapa harus marah? Ayo kita pergi sekarang.”
Kami berjalan beriringan. Karena kejadian tadi, aku jadi merasa kikuk tak nyaman. Mulai merutuki diri, kenapa sampai terjadi kecelakaan seperti tadi.
Ada apa dengan hari seninku ini?
Kenapa banyak sekali adegan-adegan tak masuk akal seperti di film-film romansa manis dan mendebarkan.
“Ayo Key!” Pak Kadir menghentikan langkah, mulai memanggil. Mendapatiku tertinggal dan terdiam di belakang.
Aku bergegas menyusul Pak Kadir. Sedikit kewalahan, mencoba mengimbangi langkah kaki beliau yang jauh lebih lebar dari langkahku.
“Nih, dipakai helmnya!” Pak Kadir memberikan sebuah helm. Segera kukenakan bersiap naik di belakang sepeda motor sport miliknya.
Tingginya!!
Bagaimana caraku naik?
Pak Kadir tersenyum geli, mendapatiku kesulitan menaiki kursi penumpang motornya.
“Manjat aja nggak apa-apa Key!” titahnya. “Pegang disini!” Pak Kadir memberikan bahu untuk kujadikan pegangan. Tak lupa membuka stand kaki belakang untuk kujadikan pijakan saat memanjat.
“Motornya tinggi banget Pak!” protesku begitu berhasil duduk di atas motor. Pak Kadir malah tertawa.
“Bukan motornya yang ketinggian. Kamunya yang kekecilan!” Terdengar seperti ada nada ejekan dari kalimatnya.
Aku tersenyum kecut. Tanganku refleks ingin menjitak kepalanya, tapi diurungkan begitu sadar beliau adalah pahlawan hidupku hari ini.
Lagipula mana boleh berlaku tidak sopan seperti itu. Untung saja Pak Kadir tak melihat tanganku yang sempat terangkat, hampir melayang manja di belakang kepala.
“Siap Key?” Pak Kadir memastikan.
“Bismillah, siap Pak!” jawabku mantap.
“Jangan lupa pegangan, nanti jatuh.”
Aku kebingungan harus berpegang kemana. Apakah ke jaketnya? Atau kemana?
Kututup kaca helm agar tidak dikenali orang. Tapi rasanya orang akan tetap mengenaliku dari postur tubuh dan tas yang digunakan.
Setelah sekian lama bergulat dengan batin sendiri, akhirnya handle besi bagian belakang jok motor menjadi sasaran peganganku. Sedikit sulit, tapi aman.
Motor pun melaju, membelah jalanan kering yang berdebu karena kemarau panjang.
Lagi-lagi, secara tiba-tiba,
Ciiitttt!!
Motor yang dikendarai Pak Kadir mengerem secara mendadak. Motor yang kami tumpangi menghindari sebuah mobil.
Tak dapat dihindari, sontak saja tubuh yang mungil ini terlempar keras ke depan. Menghantam punggung Pak Kadir. Beruntungnya kedua tanganku memiliki refleks yang baik. Secara naluri langsung melindungi harta bendaku di sisi depan dari kecelakaan yang kedua itu.
Syuuut, buuk!!
Tubuhku bergegas mundur memperbaiki posisinya setelah menubruk punggung Pak Kadir.
Aduuuhh, apalagi ini!!
Kembali kuggigit bibir, menahan rasa maluku pada Pak Kadir.