- Perkenalan Keluarga Baru -

2572 Words
“Astagfirullah …!” Aku dan Pak Kadir berteriak bersamaan. Sepertinya debaran jantung kami pun sama cepatnya. Kagetnya loh ya! Bukan macem-macem! Motor yang dikendarai Pak Kadir direm mendadak saat menghindari sebuah mobil yang melaju ugal-ugalan. Tanpa memberi isyarat lampu, mobil tersebut berbelok tepat di depan jalur lintasan kami. Akhirnya tragedi bertubrukan itu tak dapat dihindari. “Kamu nggak apa-apa, Key?” tanya beliau memastikan keadaanku. Aku mengangguk sambil memperbaiki posisi duduk agar tidak terlalu menempel pada tubuh beliau. “Aman Pak, Cuma kaget.” jawabku masih belum bisa menguasai rasa terkejut. “Ada yang sakit?” Pak Kadir kembali memastikan. “Enggak Pak. Aman Pak, aman!” jawabku sambil berusaha baik-baik saja. Pedahal dadaku terasa nyut-nyutan akibat benturan itu. Belum lagi wajah yang terasa memanas. Rasa sakitnya tidak seberapa Pak, dibanding malu-nya! Ingin rasanya mempelajari ilmu meringankan tubuh seperti kapas. Agar tubuhku bisa melayang terbang tanpa Pak Kadir sadari. “Kita singgah beli air minum dulu ya!” Motor itu berbelok parkir di halaman sebuah minimarket. Beliau memberikan isyarat padaku untuk turun. Setelah melepas helm, Pak Kadir langsung masuk ke dalam minimarket. Aku menunggu di samping motor dengan hati tak karuan. Membayangkan repotnya menaiki motor tersebut dengan cara yang seperti tadi. Tak lama Pak Kadir datang membawa dua botol air mineral dingin di tangannya. “Minum dulu, Key.” Beliau memberikan satu miliknya kepadaku. Aku menerimanya tanpa bisa menolak. Haus cuy!! Deg-degan juga! “Kaget?” tanya Pak Kadir. Aku mengangguk sambil meneguk air yang beliau berikan. “Syok malah Pak. Lutut saya sampai lemas.” Lanjutku begitu air minum telah masuk ke kerongkongan. “Maaf ya, tadi Bapak menghindari mobil yang tiba-tiba pindah jalur.” Aku hanya meringis, namanya kecelakaan tidak ada yang tau. Yang penting semua aman dan baik-baik saja. Setelah beristirahat sekitar lima menit Pak Kadir memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan. Artinya perjuangan untuk menaiki motor sport itu dimulai lagi. Setelah permisi dan minta izin, kembali kuraih bahu beliau agar dapat naik ke atas motor. “Posisi kamu salah Key. Bahaya kalau seperti itu.” Hah !? Terus harus Bagaimana “Tas kamu simpan di tengah, digendong dari arah depan.” Aku mengikuti instruksi Beliau. “Kalau berboncengan harus rapat, adanya celah antara pengemudi dengan penumpang harus diminimalisir.” Aku memajukan tubuhku dengan ragu. Entah berapa gelindingan air liur yang kupaksa masuk kembali ke kerongkongan. “Handle besi yang di belakang, sebenarnya tidak aman kalau kamu jadikan pegangan.” Sampai disini aku mulai berkeringat menantikan lanjutan instruksi Beliau. Hatiku berdebar-debar menebak kalimat apa yang akan menjadi kelanjutanya. “Kamu pegang ujung jaketnya Bapak aja.” Beliau memperagakan memegang jaket bagian samping tubuh beliau. Ya ampuun!! Aku kira Beliau menyuruhku memeluknya juga!! Aku memaki diri sendiri karena berpikiran terlalu jauh. Konyol sekali! “Se—seperti ini Pak?” tanyaku ragu. “Mmm, Sepertinya sudah lebih baik daripada tadi.” Pak Kadir bersiap memacu kendaraannya lagi. “Maaf Pak, Saya tidak nyaman seperti ini,” ucapku hati-hati. Khawatir Pak Kadir tersinggung. Tubuh kami terlalu dekat, belum lagi tinggi badan Pak Kadir yang jauh lebih tinggi. Aku tidak bisa melihat ke arah depan untuk menghafal jalan. Soal tangan, masih oke seh! Aku masih bisa mentolerir yang ini. Pak Kadir tertawa kecil. “Ya sudah senyamannya kamu saja Key. Nanti Bapak bawa motornya lebih pelan.” Syukurlah beliau memahami ketidak-nyamananku. Segera kuatur ulang posisi yang aman dan nyaman menurut versiku sendiri. Ternyata yang rupawan tak selalu membuat nyaman. Eh...! “Apakah rumahnya masih jauh, Pak?” tanyaku sedikit berteriak. Helm full face beliau pasti menjadi dinding penghalang suaraku untuk sampai ke telinga Pak Kadir. Belum lagi laju angin yang mengikis getaran suara yang terlontar. Jangan sampai aku bertanya A, Pak Kadir menjawab B. Enggak lucu kan Pria se-perfect Pak Kadir jadi punya minus di mataku. Bisa ilfil seumur hidup, aku! “ Nggak terlalu jauh. Sekitar lima belas menit lagi kita sampai.” Syukurlah, aku merasa lega. “Nanti kamu berangkat sekolah bisa naik angkutan umum.” Pak Kadir memperlambat laju motornya. Lebih santai dari sebelumnya. “Kalau masih belum paham jalur transportasinya, nggak apa-apa nanti awal-awal disana Bapak antar jemput kamu.” Tak sadar aku tertawa mendengar ucapan beliau. “Tidak perlu Pak. Nanti Key learning by doing saja.” “Bapak sudah bantu sejauh ini saja, Key sudah sangat berterima kasih sekali Pak.” “Jangan sungkan seperti itu. Bapak jadi merasa tidak enak.” sahutnya. Jiwa kebapakan yang di tampilkan Pak Kadir mengalirkan perasaan nyaman di sanubari. Melemparkan ingatan pada Ayahku sendiri. Membuatku jadi merindukan sosok tubuh ringkihnya. Andai saja saat ini kulupakan sejenak soal tatakrama, Ingin rasanya merapatkan duduk dan memeluk Pak Kadir dengan erat dari belakang. Menyesapi rasa rindu yang belum juga bertepi. Segera keluar dari belenggu besimu Ayah, banyak yang hilang arah tanpamu. Aku bahkan seperti kehilangan nafas. Hening selama perjalanan, selama itu pula aku larut dalam perasaan sedihku. Menangis perlahan tanpa isakan. Tak ingin menarik perhatian orang yang di depan. “Dari perempatan kita lurus, tapi kalau angkutan umum jalurnya kesana. Tidak boleh lewat sini.” Suara Pak Kadir memecah keheningan. Kuedarkan pandangan mencari titik sebagai jejak untuk menandai tempat itu. Selama di kota, aku jarang berkeliling. Hanya keluar untuk hal penting saja. Seperti membeli lauk jika sedang tidak memasak. Itupun jaraknya hanya sekitar tiga puluh meter. Atau jika malam minggu tiba, secara berkelompok berjalan kaki menikmati suasana malam. Melangkah menuju alun-alun kota untuk melepas penat. Walaupun pada akhirnya merasa letih karena perjalanan yang lumayan jauh. “Seratus meter lagi, kita sampai,” Pak Kadir memberitahu. Beliau lebih memperlambat laju motor. Menyalakan lampu isyarat untuk menepi. Aku segera mempersiapkan diri. Mengeringkan jejak air mata yang belum puas terkuras. Tak ingin orang melihat keadaanku yang kacau balau. -- Kami memasuki sebuah perkantoran. Setelah di persilahkan oleh satpam di pos penjagaan, kami masuk melintasi bagian samping kantor. Tepat di belakang kantor, terdapat sebuah rumah yang sangat asri. Tidak terlalu megah, tidak juga terlalu sederhana. “Beliau memiliki jabatan penting di kantor ini, itu rumah dinas mereka. Isterinya juga bekerja dikota yang berbeda.” Aku mengangguk, mencoba menyimpan semua informasi yang beliau sampaikan. Motor sport Pak Kadir berhenti pada sebuah halaman rumah yang cukup asri. Tidak terlalu mewah tapi syarat dengan kehangatan. Kuedarkan pandangan menyapu halaman sekitar. Terdapat sebuah mini garden dengan rumput hijau dan tanaman Bougenville sebagai pagarnya yang terpangkas rapi, hijau terawat. Pasti sangat indah saat berbunga. Di sudut halaman terdapat sebuah Pohon Kersen yang rimbun. Dibawahnya terdapat ayunan kecil. Mungkin untuk anak si pemilik rumah bermain. Rasa nyaman seketika menyergap. Begitu kunikmati, seperti sudah tinggal lama di tempat ini. “Ini!” Pak Kadir menyodorkan tissue basah tanpa penjelasan. Apakah ada bekas air mata di wajahku? Atau beliau mendengar isak tangisku? Apakah karena hal itu juga Beliau memperlambat laju kendaraannya? Tanpa penolakan dan pertanyaan, kuraih beberapa lembar. Mulai membersihkan wajah yang terasa lengket dan berdebu. Setelah itu kami mulai bertamu. “Assalamualaikum,” Pak Kadir mengucap salam dengan sangat ramah di depan pintu rumah. Seperti biasa, senyum manis merekah di wajah rupawan beliau. “Ee..., Walaikumussalam...! Yang ditunggu akhirnya datang.” Balas seorang pria seusia Pak Kadir lebih sedikit, dari dalam rumah tak kalah ramah. Sepertinya mereka sahabat karib. Terlihat dari gestur dan cara mereka saling sapa dan berbicara. “Maah, ini loh Mah, sudah datang!” Nampak pria itu memanggil istrinya yang sedang berada di dalam. “Maaf terlambat. Jalanan sedikit macet.” Pak Kadir berbasa-basi. Untung saja beliau tidak menceritakan kejadian konyol yang terjadi dalam perjalanan. Tak lama seorang wanita dengan balutan pakaian sopan, keluar dari dalam ikut menyalamiku juga Pak Kadir. Usianya kurang lebih sama dengan Bapak yang ramah itu. “Saya kira tersesat, ditunggu-tunggu kok tidak muncul-muncul. Apa mungkin bablas ke terminal sana.” Seloroh Pria itu disambut gelak tawa semua orang kecuali aku. Aku hanya tersenyum simpul saat jeda pembicaraan mereka. Masih merasa kikuk, asing diantara mereka. “Ini Pak Marcel, Bu Dina, murid saya yang sudah saya ceritakan sebelumnya.” Pak Kadir menepuk bahuku pelan. Kulemparkan senyum dan seramah mungkin sambil menyalami pasangan yang Pak Kadir sebut Pak Marcel dan Ibu Dina tersebut. Keduanya mengusap kepalaku dengan lembut. “Ayo mari silahkan duduk.” Ibu Dina mempersilahkan, lalu meminta seseorang di belakang untuk menyiapkan minuman. “Tidak perlu repot-repot Pak Marcel, Bu Dina. Kami Cuma sebentar saja.” “Ooo, tidak, sama sekali tidak. Tidak perlu sungkan!” seru Pak Marcel lalu melempar kelakar yang lain. Menciptakan suasana yang hangat dan cair. Aku sangat bersyukur, mendapatkan kesan pertama yang baik soal keluarga baru yang akan kutinggali. Mereka keluarga yang sangat ramah. Semoga ini jadi awal yang baik. Setidaknya mimpi buruk putus sekolah tidak lagi membayangi. “Begini, Pak, Bu. Ini Keyla murid saya yang membutuhkan Orang Tua Asuh. Kiranya Bapak, Ibu dan keluarga disini bisa menerima, mendidik murid saya dengan baik. Jika Key melakukan kesalahan, kekhilafan, tolong diberi nasihat. Dan Semoga Key bisa berbaur dan bergaul dengan cara yang baik didalam keluarga.” Pak Kadir panjang lebar menjelaskan maksud kedatangan kami. Gayanya seperti seorang Ayah yang menitipkan putri kesayangannya pada sebuah asrama putri. “Oia, Pak Kadir. Dengan tangan terbuka, kami menerima Neng Keyla sebagai keluarga kami yang baru. Semoga betah disini dan bisa berbaur dengan cepat. Disini ada banyak orang. Nanti bisa berkenalan jika sudah pindah kesini. Sekarang tinggal dimana Neng?” tanya Pak Marcel menggunakan dialek panggilan khas untuk anak perempuan sunda. “Saya kos di dekat sekolah Pak.” “Ooo, gitu. Rencana mau pindah kesini kapan? Langsung sekarang juga nggak apa-apa, mangga nanti langsung di tunjukan kamar untuk Neng Keyla.” Karena sedikit risih dipanggil Eneng, aku meminta dipanggil Teteh saja. Terasa seperti menjadi anak manja saat mendengar sebutan itu disandingkan dengan namaku. Pak Marcel lebih banyak berbicara di banding Sang Isteri. Ibu Dina cenderung diam. Beliau hanya sesekali melempar senyum saat Sang Suami selesai berbicara. “Gimana Key, pindah sekarang atau kapan? Kalau sekarang Bapak langsung tinggal.” tanya beliau diakhiri dengan tawa. Membuatku takut ditinggalkan. “Mungkin sebaiknya besok saja Pak, Bu. Saya masih perlu membereskan baju dan buku-buku. Insyaa Allah sepulang dari sekolah saya langsung ke sini.” “Ooo, Begitu.” Pak Marcel mengangguk-anggukkan kepalanya. “Barangnya banyak tidak Teh, mungkin butuh mobil untuk membawanya. Biar nanti Bapak atau Supir yang bantu ambilkan barang-barang punya Teh Keyla.” Pak Marcel menawarkan diri. “Tidak perlu Pak, barang saya cuma sedikit, dekat dengan sekolah. Saya bisa nyicil bawanya.” Aku berusaha menolak sehalus mungkin. Tidak mungkin harus merepotkan mereka dengan persoalan t***k-bengeknya yang masih bisa kuatasi sendiri. “Siap! Mangga gimana baiknya menurut Teteh.” “Pak Marcel dan Ibu Dina ini punya dua anak Key. Satu pasang ya Pak?” Pak Kadir bertanya memastikan. Dijawab dengan anggukan kepala Pak Marcel dan Ibu Dina. “Iya, ada Bian usia sepuluh tahun kelas tiga SD, dan Neng Dian usia lima tahun baru TK. Coba Mah, kayaknya Neng Dian ada di dalam, Mah.” Pak Marcel meminta isterinya untuk memanggilkan anak perempuannya. Ibu Dina bangkit, dan kembali membawa seorang gadis kecil yang begitu manis dan cantik. Gadis itu menurut saat diminta untuk bersalaman denganku. Mempernalkanku sebagai bagian dari keluarga mereka kedepannya. Dian mendekat, mencium punggung tanganku. Sorot matanya tampak malu-malu. Pipi gembulnya membuatku gemas gatal ingin menjawil. “Hai, Ini Teteh Keyla, nama adek cantik siapa?” tanyaku mencoba mengakrabkan diri. “Dian Teh.” jawabnya pelan, malu-malu. “Sepertinya kakaknya lagi main di luar. Maklum anak laki-laki.” Lanjut Pak Marcel Aku mengangguk. “Neng Dian mau Teh Key temenin main Neng Dian nggak?” Tanya Bu Dina yang sedari tadi memperhatikan. Dian kecil mengangguk perlahan, lalu pamit berlari untuk menonton film kesukaannya di dalam. Pak Marcel menjeda percakapan dengan mempersilahkan kami minum teh dengan beberapa kue yang disajikan. “Disini banyak syaratnya loh Teh, mungkin lebih ketat dari tempat kos yang sebelumnya Teteh tempati.” “Syarat apa Pak?” Di kos yang kutempati pun ada peraturan yang harus di ikuti. Seperti tidak boleh membawa pacar ke kamar, pulang dibawah jam sepuluh malam, menjaga kebersihan dan sederet peraturan lain yang telah tertempel di depan pintu kamar masing-masing. “Kalau Teteh disini, tidak boleh berpacaran selama sekolah. Sebisa mungkin tidak membawa teman laki-laki ke rumah.” Aku mengangguk dengan mudah. Syarat yang mudah! Aku memang tidak memiliki pacar. Dekat dengan lawan jenis pun tidak. Syukurlah, semua dipermudah-Nya. Setelah bercerita panjang lebar mengenai syarat dan semua hal berkenaan kepindahanku, Aku dan Pak Kadir pamit mohon diri. “Gimana Key, ikut dengan Bapak lagi atau langsung disini?” Pak Kadir terus berseloroh. Tentu aku ingin kembali ke kamar kos terlebih dahulu. Berpamitan dengan semua penghuni kos yang telah tinggal bersama selama satu semester lebih. Di perjalanan pulang, Pak Kadir kembali mengajariku arah jalan serta jalur transportasi umum. “Didepan sana ada kumpulan ojek,” terang Pak Kadir seraya menunjuk. “Kesini arah angkutan umum menuju Pasar dan Terminal.” “Kamu naik Angkutan disini. Nanti turun disana. Ongkos anak sekolah sekian.” Aku mendengarkan arahan Beliau dengan seksama. Menyimpannya dengan baik dalam kepala. Setelah sekitar setengah jam berputar-putar mengajariku arah, kami kembali ke jalur menuju ke sekolah. “Saya turun disini saja Pak. Bapak kan harus pulang juga.” Aku meminta diri agar tidak merepotkan Pak Kadir mengantarkan kembali ke Sekolah. Segan karena terus saja merepotkan beliau. “Nggak apa-apa. Bapak juga ada yang ketinggalan di sekolah. Mau sekalian diambil. Oia, kalau belum paham jalurnya bilang ya! Nanti Bapak antar jemput beberapa kali, sampai bisa mandiri.” Ish, apakah Pak Kadir meremehkan kemampuanku? “Tidak perlu pak. Akan sangat merepotkan Bapak.” Aku menolak dengan halus. “Nggak kok Key. Masih satu jalur dengan arah rumah Bapak disana. Mantan calon tempat tinggal, hiks! ‘Tapi sayang isteri Bapak tidak menginginkan.’ Kalimat itu seketika membuatku kembali menapak pada kenyataan. Bahwa semua telah diatur dengan baik dan sempurna oleh Yang Maha Kuasa. Motor yang dikendarai berhenti tepat di depan jalan setapak menuju rumah kos. Aku turun menyerahkan helm serta mengucapkan terimakasih pada Pak Kadir. Sadar semua hal baik pada hari ini melalui panjang tangan beliau. Pak Kadir menyempatkan diri membuka helm, lalu tersenyum padaku. “Semangat ya! Harus lebih giat belajar. Dan jangan nangis lagi,” pesan Beliau sebelum akhirnya mengenakan kembali helm. Hah? Jadi tadi Pak Kadir tau aku nangis? “Mau cari makan dulu nggak, Key?” tanya Pak Kadir sebelum memutar kunci dan menyalakan mesin. Laah, sudah turun baru nanya? “Tidak perlu, pak!” tolakku. Sudah terlalu sore. Keluarga beliau pasti tengah menunggu. “Sudah masuk sana! Bapak sebenarnya masih ingin ngobrol banyak sama kamu. Tapi kamu kelihatan capek. Lain kali saja ya.” Pak Kadir menutup perbincangan kami. Kami berpisah, menutup cerita hari ini dengan penuh rasa lega dan syukur yang amat sangat. Kurebahkan raga yang letih ini di tempat tidurku, menghirup dalam-dalam aroma kamar kesayangan. Kotak Privacyku yang akan kurindukan. Sesak rasanya, mengetahui akan pergi dari lingkungan yang membersamai selama satu semester lebih. Tapi lebih sesak jika harus putus sekolah. Tak sadar aku tertidur dengan lelapnya hingga hari gelap. Ketukan keras di pintu kamar mengusikku dari mimpi indah tak berujung. Sedikit terkejut mendapati kamar gelap gulita. Akh, aku lupa menyalakan lampu. Mbak Chia sampai berteriak di depan kamar. Memastikan keberadaan penghuni kamar ada di dalam. Aku terdiam, tak berniat menjawab suara itu. Meraih plester dari saku baju. Tak sadar tersenyum lebar saat memandangnya. Rony benar. Meskipun semua gelap gulita, bintang ini tetap menemani, tetap bersinar untukku. Tiba-tiba kudapati plester mengeluarkan cahaya bintang terang sekali, banyak sekali dan indah sekali. Tenyata aku bermimpi kembali, hingga perlahan mentari keluar lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD