Sesuatu yang didapatkan bukan karena kerelaan, tidak akan sama ketenangannya. Setelah hari itu aku tidak lagi memburu waktu untuk datang paling awal di kelas. Ibu Dina dan Pak Marcell sampai menertawakanku yang menyerah setelah satu kali mencoba bersaing dengan Taufan. “Loh kok rajinnya cuma satu kali aja?” goda Pak Marcell, terus mengejekku. Tidak seperti itu, sungguh, aku punya alasan lain. Aku hanya tidak ingin ribut dan menghasilkan satu orang musuh. Pada akhirnya aku hanya menutup telinga dan segera berlalu dari hadapan mereka saat berpamitan. Hari ini meskipun aku datang lebih lambat, belum tampak tanda-tanda kedatangan Taufan. Heran, biasanya dia cepat datang demi kursi yang menjadi barang taruhan. Terserahlah, ngapain juga mikirin dia! Kali ini aku memilih duduk di ku

