Sudah diputuskan, hari ini aku akan pergi lebih awal tanpa menunggu waktu liburan habis total. Tidak nyaman rasanya bertemu Papih masih dengan wajah dinginnya. Dia tak mau menatapku, berbicara, bahkan menerima salam pamitku. "Jangan di ambil hati. Nanti juga Papihmu akan membaik." Mamih membesarkan hati. Mamih juga yang membekaliku uang. Biasanya Papih yang melakukan hal itu. Mengulurkan lembaran sesaat sebelum aku turun dari mobilnya di depan rumah kos. Mamih mencium keningku sambil menyuapkan sepotong roti yang baru saja di oles selai kacang. Jika akan melakukan perjalanan aku memang malas makan. Malas jika harus ribut mencari bilik air jika tiba-tiba ingin berhajat. Toh hanya perjalanan beberapa jam. Setibanya di tempat tujuan aku bisa memikirkan isi perut. “Ish, serasa Mamih punya

