Matahari mulai merangkak naik memperlihatkan cahayanya yang indah kepada seluruh dunia. Bel masuk baru saja berdering, para murid pun segera duduk di kursi masing-masing menantikan guru pelajaran pertama mereka datang.
Pagi hari memang identik dengan semangat yang masih membara. Namun, ada pula yang justru tidak bersemangat sama sekali. Mungkin malas dan masih mengantuk karena semalam bergadang mengerjakan pekerjaan rumah atau justru menyaksikan drama Korea sampai pagi.
Lain halnya dengan Ailee dan Aiden yang selalu semangat orangnya. Mereka terkenal sebagai orang yang selalu ceria seolah tidak pernah mendapatkan masalah atau kesedihan suatu apa pun sampai banyak yang iri dengan mereka. Padahal sebenarnya mereka juga selalu menyimpan kesedihan, salah satu di antaranya adalah waktu yang singkat bersama orang tuanya karena orang tuanya itu terlalu sibuk bekerja.
Di sana, tepat dua anak yang sudah duduk di kursi masing-masing itu masih asyik berbincang membahas obrolan semalam yang terputus. Mereka kembali melanjutkannya pagi ini.
"Apa yang mau kamu ceritakan semalam?" tanya Aiden dengan malas kepada adiknya. Teringat semalam saat pulang dari rumah Binar, Ailee hendak bercerita sesuatu. Akan tetapi Aiden yang mengantuk lebih memilih untuk tidur daripada mendengarkan cerita Ailee.
Ailee pun tersenyum sumringah, gadis yang berkepang dua itu segera mendekat ke telinga kakaknya bersiap membisikkan sesuatu. Hanya kakaknya yang boleh mengetahui hal ini supaya yang lain tidak iri.
"Aku kemarin malam memeluk Pak Binar, terus aku suapin dia. Dan dia mau!" bisik Ailee. Sangat menggelitik di telinga Aiden.
"Apa ini mimpi kamu?" Aiden tak percaya. Mana mungkin seorang Binar yang terkenal galak dan dingin mau dipeluk atau disuapi Ailee. Saudaranya itu pasti hanya bermimpi saja, tidak mungkin sesuai dengan realitanya.
"Ini nyata! Harusnya semalam kamu ikut masuk ke kamar Pak Binar biar bisa lihat aku memeluknya dan juga menyuapinya."
"Harusnya semalam aku memang ikut denganmu, untuk memastikan kalian baik-baik saja. Kalian nggak melakukan itu, kan?" tanya Aiden berbisik. Anak remaja itu penuh selidik. Entah kenapa dia khawatir dengan Ailee.
"Melakukan apa?"
"Sama yang seperti Papa dan Mama lakukan." Aiden masih berbisik, takut jika teman-teman yang lain mendengar dan berpikir macam-macam.
"Sialan! Aku masih waras, mana mungkin hal itu akan terjadi!" Ailee marah dan langsung mencubit perut Aiden. Tidak serius, supaya Aiden tidak sakit. Ailee mana tega menyakiti saudara kembarnya.
"Bagaimanapun juga Pak Binar itu lelaki dewasa yang nafsunya tinggi. Bisa saja dia khilaf dan melakukannya padamu!"
"Diam saja kamu! Pak Binar bukan seperti itu!"
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa dari tadi berbisik?" tanya Sora membuat Aiden dan Ailee berhenti berdebat.
"Bukan apa-apa, eh itu gurunya udah datang."
Aiden dan Ailee mengalihkan pembicaraan. Lagi pula tidak ada yang perlu dilanjutkan lagi. Mereka harus fokus dengan pelajaran karena sebentar lagi akan dihadapkan dengan beragam ujian.
Di tengah pelajaran, Ailee tak sengaja menatap pintu kelasnya yang terbuka. Nampaklah Binar yang sedang berjalan melewati kelasnya. Hatinya pun tergerak untuk menghampiri lelaki itu. Tapi, bagaimana dengan pelajarannya? Ah, sebentar saja mungkin tak masalah.
"Bu Ron, izin ke kamar mandi sepuluh menit, ya," seru Ailee kepada Bu Rona yang kala itu mengajar kelasnya. Guru yang tadinya sedang menulis pokok pembelajaran di papan tulis pun berbalik dan menatap sumber suara.
"Bu Rona!" tegur guru muda nan cantik itu karena Ailee seringkali memanggil namanya tak lengkap dan jadi terkesan aneh.
"Ah, sama saja itu. Terima kasih, Bu Ron!" Ailee langsung berlari meninggalkan kelas padahal Bu Rona belum memberinya izin.
"Bu Ron... Bu Ron... Buronan polisi?" gumam Bu Rona yang ditertawakan seisi kelas.
Langkah kakinya begitu cepat, dia melewati lorong yang sangat sepi. Semuanya tengah mengikuti pelajaran. Dia pun sumringah tatkala mendapati Binar yang ternyata belum jauh darinya. Dia tidak lagi melangkah, melainkan berlari supaya Binar tidak semakin jauh darinya.
Lelaki itu berjalan pelan dan terlihat masih lemas. Ailee pun dengan mudah mengikutinya. Dia tidak kewalahan mengejar seperti biasanya.
"Pak Bin!" teriakannya membuat langkah Binar terhenti dan menoleh ke belakang.
"Pak Bin sudah baikan?" tanya Ailee ketika sudah dekat dengan Binar. Ailee menghalangi langkah Binar dengan berdiri di hadapan lelaki yang masih pucat tersebut.
"Sudah. Kenapa kamu keluar kelas?" Binar kembali bertanya. Wajah lelaki itu menyedihkan dan terlihat lesu, Ailee jadi sedih melihatnya. Sepertinya Binar belum pulih total.
"Cuma pengen ketemu Pak Binar he he...."
"Jangan main-main. Kembali ke kelasmu atau kamu minta dihukum?" Binar mengancam Ailee, tapi sepertinya gadis itu tidak takut sama sekali.
"Dihukum aja, Pak!" jawab Ailee antusias membuat Binar langsung menepuk keningnya. Binar lalu menarik tangan Ailee dan mengantarkan gadis itu kembali ke kelasnya. Lelaki itu jadi kesal dibuatnya.
"Aku akan kembali ke kelas tapi nanti. Tadi izinnya sepuluh menit dan ini baru lima menit," ujar Ailee, dia pun memberontak dan berusaha melepas cekalan Binar. Tapi Binar tidak mau melepasnya, lagi pula memastikan muridnya menerima pelajaran dengan baik juga sudah kewajibannya.
"Tidak ada tapi-tapian! Orang tuamu membayar sekolah ini mahal-mahal dan kamu malah seenaknya saja!"
Binar berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Dia tahu betul jika Ailee izin karena hanya ingin bertemu dengannya, sangat tidak penting. Dan meski hanya izin sepuluh menit tapi Ailee akan tertinggal beberapa materi yang sedang diajarkan di kelasnya, dan itu sangatlah disayangkan karena akan rugi.
Sekolah internasional itu tentu saja memerlukan uang yang tidak sedikit. Jika murid yang bersekolah di sana tidak serius, maka hanya sia-sia saja. Binar juga ingin menjadi wali kelas yang baik. Dia harus memastikan murid kelasnya belajar dengan baik, terutama anak yang seperti Ailee.
"Belajar yang baik dan benar. Jangan memikirkan hal lain, Okay?" Binar berkata dengan penuh keseriusan, tangannya mengusap kepala Ailee.
Ailee pun menahannya supaya tak berpindah, dia begitu senang akhir-akhir ini Binar lembut padanya. Sepertinya Binar memang sudah luluh.
"Cepat masuk!"
Lelaki itu belum pergi karena ingin memastikan Ailee benar-benar masuk ke kelasnya. Ailee belum juga masuk dan masih bersandar di pintu kelasnya, dia masih tersenyum-senyum menatap Binar. Dan tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, Ailee pun tersungkur ke lantai. Kemudian seisi kelas menertawakannya.
Gadis itu mengaduh kesakitan. p****t dan punggungnya sakit sekali. Ini yang dinamakan sakit tidak berdarah. Lebih sakit lagi karena seisi kelas menertawakan dirinya. Memalukan sekali, apalagi Binar masih di sana dan ikut menertawakan dirinya juga. Tapi setelah puas tertawa, lelaki itu pergi begitu saja. Sepertinya harus segera mengisi kelas. Ailee akhirnya harus merelakan Binar pergi meninggalkannya.
"Hey! Siapa yang menyuruhmu membuka pintunya? Nggak lihat apa lagi ada orang di luar?!" Ailee marah, pantatnya masih sakit. Dia belum tahu siapa orang yang membuka pintu hingga membuatnya terjatuh.
"Kamu menyalahkan saya? Berani-beraninya, ya!" Bu Rona yang tadi membuka pintu lalu dimarahi Ailee pun jadi kesal. Dia menjewer telinga Ailee dan menyeretnya ke dalam.
"Aduh, maap, Bu Ron!" Ailee benar-benar tidak tahu bahwa yang membuka pintu adalah Bu Rona, jika dia tahu maka dia tidak akan menyalahkan orang yang telah membuatnya tersungkur.
Sudah jatuh dan pantatnya sakit, masih dijewer pula oleh Bu Rona. Sakit yang bertubi-tubi. Tapi Ailee tidak menganggap ini hari sial, justru sebagai hari yang membahagiakan karena Binar tadi perhatian dengannya. Bahkan juga mengusap kepalanya dengan lembut. Sungguh kejadian yang tidak akan dilupakannya.
Jam olahraga pun dimulai, anak-anak kelas IPA satu telah berganti dengan kaos olahraga dan bersiap di lapangan sekolah. Ada yang sudah memainkan bola basket, melakukan pemanasan, dan lain sebagainya.
Ailee masih memegang punggung dan pantatnya yang sedikit nyeri akibat terjatuh tadi. Tapi senyumnya tidak pernah berhenti terukir jika mengingat kelakuan Binar padanya tadi. Dia ingin sekali mengulangnya.
"Ailee! Tolong ambilkan bolanya!" teriak Aiden menyuruh Ailee mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya.
Namun, Ailee tak mendengar apa pun. Dia melamun dan senyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang dia bayangkan. Sora yang duduk di sebelahnya pun menggelengkan kepala, dia kemudian mengambilkan bola dan melemparkannya kepada Aiden yang sudah menunggu lama. Jika harus menunggu Ailee mungkin bola itu tidak akan kembali lagi pada Aiden.
"Hey! Ngelamunin apa sih?" tanya Sora menyenggol lengan Ailee. Dia penasaran dengan hal yang membuat Ailee melamun cukup lama.
"Ada, deh!"
"Hati-hati nanti kesambet loh. Apalagi di bawah pohon gini," ucap Sora terkekeh sendiri dengan perkataannya. Tapi ada benarnya juga bagi orang yang percaya dengan hal mistis di dunia ini. Mereka akan mengira bahwa pohon dan tempat-tempat lain ada yang menunggu, hanya saja tidak dapat dilihat begitu saja oleh manusia.
Guru Olahraga telah datang, mereka pun diminta berbaris rapi melakukan pemanasan sebelum olahraga dimulai. Guru Olahraga itu adalah perempuan, cantik dan juga masih muda. Body-nya sangat proporsional, banyak guru maupun siswa yang menyukainya.
"Bu Rik, hari ini olahraga apa?" tanya Ailee. Nama guru itu adalah Rika Anastasia. Entah kenapa jika Ailee memanggil seseorang itu tak pernah lengkap hingga terdengar tak baik seperti menjelekkan. Itu terjadi sejak dirinya kecil. Jika memanggil nama yang sesuai justru terdengar aneh bagi Ailee, makanya gadis itu selalu memanggil sesuai keinginannya saja.
"Panggil nama saya lengkap, jangan ada yang dihilangkan meskipun hanya satu huruf saja." Bu Rika selalu saja kesal jika ada yang memanggil dirinya setengah nama karena itu tidak mencerminkan dirinya yang memang cantik rupawan.
"Ah, sama saja."
"Terserah!" Bu Rika menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau lagi meladeni Ailee yang selalu memanggil namanya tidak lengkap.
"Hari ini kita akan bermain basket, berlatih lay up shoot dan akan saya ambil penilaiannya hari ini juga. Oh ya, untuk UTS-nya akan saya kasih materi lewat website sekolah kita," ujar Bu Rika.
Usai berlatih sesuai dengan ajaran Bu Rika, satu persatu murid pun melakukannya dengan serius dan dinilai. Beberapa kali kesempatan untuk memasukkan bola ke dalam ring, Ailee, Sora, maupun Aiden bisa dengan mudah melakukannya. Nilai mereka pun sempurna, karena mereka sering sekali bermain basket jadi sudah terbiasa melakukan lay up shoot.
"Aww..." pekik Ailee ketika kepalanya terkena bola basket. Pusing tak karuan, tapi dia masih bisa bangkit dan menghampiri siapa yang melempari bola ke kepalanya.
"Upss... Sorry, aku ngga sengaja," ucap Khansa, orang yang selalu mencari masalah. Dia merupakan teman sekelas yang dari dulu iri dengan Ailee yang selalu menempati posisi tiga besar di kelas maupun paralel, sedangkan dirinya hanya masuk sepuluh besar saja. Sebenarnya Khansa merupakan murid pindahan sejak kelas sebelas dulu, dan kali ini dia menjadi teman sekelas Ailee.
"Kamu pasti sengaja, kan? Kurang ajar!" gertak Sora. Dia lalu menghampiri Khansa yang terlihat biasa saja dan tak merasa bersalah. Padahal tindakannya tadi bisa menimbulkan dampak negatif.
"Aku kan udah bilang nggak sengaja. Lagi pula hal seperti ini juga sering terjadi saat olahraga!"
Gadis yang juga cantik, namun tidak pernah memiliki teman dekat itu menyangkal tuduhan Sora yang tidak terima jika temannya dinakali. Dia selalu merasa benar.
Dia memang seperti itu, tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Maka dari itu banyak yang memilih untuk tidak menjadikannya sebagai teman karena sifatnya memang tidak pantas untuk dijadikan sebagai teman. Bahkan beberapa anak di sekolah itu menganggap Khansa sebagai orang yang berbahaya, harus dihindari jika tidak mau mendapat masalah.
"Aku melihatmu sedari tadi! Dan kurasa kamu memang sengaja! Apa maksudmu melempari bola ke kepala adikku?" Kali ini Aiden angkat bicara dengan menatap sengit Khansa. Aiden sendiri juga kesal dengan Khansa yang selalu mengusik dirinya dan Ailee.