Botol Minum

1782 Words
"Aku kan udah bilang nggak sengaja. Lagi pula hal seperti ini juga sering terjadi saat olahraga!" Khansa tetap saja menyangkalnya, membuat semua yang ada di sana kesal dengannya. "Aku melihatmu sedari tadi! Dan kurasa kamu memang sengaja! Apa maksudmu melempari bola ke kepala adikku?" Kali ini Aiden angkat bicara dengan menatap sengit Khansa. Aiden sendiri juga kesal dengan Khansa yang selalu mengusik dirinya dan Ailee. "Sialan kamu! Kenapa dari dulu selalu cari gara- gara sih sama aku?!" teriak Ailee seraya menarik rambut Khansa. Emosinya meluap, Khansa harus dia beri pelajaran supaya tidak lagi mengusik dirinya dan teman-teman yang lain. Ailee hanya ingin membalaskan kekesalannya pada Khansa. "Heh! Aku bilang nggak sengaja ya nggak sengaja! Ngapain pake ngejambak rambut aku segala sih?! Dasar anak nakal!" Khansa yang tak mau kalah pun membalas perlakuan Ailee. Bahkan dia membalasnya lebih, Khansa tak segan-segan mencakar kulit Ailee. Mereka berkelahi dengan emosi yang semakin meluap. Ailee dan Khansa sama-sama tipe orang yang tidak mau kalah. Sungguh, mereka akan sulit dihentikan. Ailee yang biasanya tidak membuat kegaduhan, kali ini justru sebaliknya. Namun sebenarnya dia hanya berusaha membela dirinya sendiri yang memang tidak salah. Gadis itu akan tetap memberikan pelajaran kepada orang yang mengusiknya terlebih dahulu, terutama pada Khansa. Bosan sekali jika tiap hari selalu dirundung. Dia ingin bebas dan tidak mau dirundung lagi, apalagi sama Khansa. "Ah, sialan!" "Kamu lebih sialan!" Keduanya saling beradu mulut dan menjelekkan satu sama lainnya. Perkelahian antara Khansa dan Ailee pun tak bisa dielakkan. Bahkan, Bu Rika yang sudah kembali dari kamar mandi tak bisa melerai mereka. Khansa dan Ailee sama-sama kuat, saling menjambak, mencakar, dan juga memukul. Kini posisi mereka berbaring di tengah lapangan. Tidak peduli dengan baju olahraga yang sedang dipakai kotor karena debu. Saling menindih dan tangan masih menjambak rambut satu sama lain. Keduanya belum puas. Sementara teman- teman yang lain merasa khawatir. Tontonan gratis itu sudah pasti memberikan dampak yang buruk bagi si penyaji, yakni Khansa dan Ailee. Tubuh mereka berdua sudah dipastikan akan sakit semua. "Sialan kau!" seru Khansa. "Diam kamu!" "Argghhh!" "Khansa sialan!" "Ailee yang lebih sialan!" Ailee membabi buta, dia terjatuh dan menindih Kansa. Mereka masih cakar-cakaran. Teriakan demi teriakan menggema di lapangan itu, suara keramaian bahkan mengundang murid di kelas mengintip mereka. Teriknya matahari membuat pertarungan dua siswi itu semakin memanas. Baju olahraga telah kotor bercampur dengan debu di lapangan itu. Rambut yang tadi diikat rapi kini telah berantakan dan entah kemana ikatan rambutnya pergi. Yang jelas, mereka masih mencari kepuasan. "Ailee! Hentikan, jangan dilanjutkan!" teriak Aiden. Dia mencoba menarik adiknya yang masih memukuli Khansa dengan ganasnya. Aiden kesulitan karena Ailee masih fokus memukuli Khansa. Hebat juga, gadis itu mempraktekkan apa yang diajarkan sang Papa. Ya, jika ada waktu luang Pak Aksa selalu mengajari anak-anaknya bela diri untuk melindungi diri mereka maupun orang yang disayang. Dan kali ini pelajaran dari sang Papa sangat berguna. Ailee menerapkannya. "Biarkan aku membunuhnya sekalian! Dia selalu mencari masalah denganku!" seru Ailee, dia tidak mau dilerai sebelum puas. Dia masih ingin berkelahi dengan Khansa sampai dirinya menang. "Ailee, Khansa, cukup...." Kali ini Sora yang berteriak mencoba menghentikan perkelahian. "Tidak akan!" Teriakan begitu sengit terlontar dari mulut Ailee. Gadis itu mungkin juga lelah karena Khansa selalu mengganggunya. Dia ingin menuntaskannya hari ini juga. Tak peduli jika dirinya menjadi tontonan satu sekolahan itu. Dengan susah payah, Aiden dan Sora berhasil menarik tubuh Ailee. Dia langsung mendekapnya erat karena Ailee terus memberontak. Sedangkan Khansa masih menggelepar di lapangan itu. Lemas dan lelah. Menyesal dia melawan Ailee yang ternyata jauh lebih kuat darinya. Sementara Bu Rika malah jadi pusing karena dia juga tidak bisa melerai anak-anak didiknya yang terus saja berkelahi membela diri mereka masing-masing. "Kalian berdua benar-benar memalukan! Minta maaf sekarang atau saya akan membawa masalah ini ke kantor Bimbingan Konseling?" seru Bu Rika. Ailee dan Khansa pun enggan sekali mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Tapi tak ada pilihan lain mereka akhirnya mau berjabat tangan, daripada harus berurusan dengan guru BK yang galaknya minta ampun dan urusan akan lebih panjang bahkan bisa mendatangkan orang tua mereka untuk menyelesaikan masalahnya. Ailee tidak mau mengecewakan orang tuanya. "Karena kalian berdua membuat onar di sini maka saya akan menghukum kalian. Jalan jongkok memutari lapangan ini hingga bel istirahat berbunyi dan jangan lupa memunguti daun kering yang berjatuhan!" ujar Bu Rika sebelum dirinya pergi meninggalkan lapangan itu. Kelas olahraga sudah selesai. Teman sekelas Ailee pergi setelah guru mata pelajaran tersebut juga pergi meninggalkan lapangan. Kini lapangan sepi menyisakan Ailee dan Khansa saja. "Bu Rik, kita kan udah minta maaf. Kenapa masih dihukum?" teriak Ailee dan Khansa. Guru olahraga yang menghukum mereka tidak peduli lagi. Hukuman tetap harus berjalan supaya dua anak nakal itu jera dan tidak mengulang kejadian yang sama. "Lakukan saja, saya akan memantau kalian dari jauh!" Bu Rika menyahut setelah dirinya cukup jauh dari dua anak tadi. Sungguh menyebalkan dengan para remaja yang tumbuh di era seperti ini. Sulit dinasihati. Aiden dan Sora cekikikan mendengarnya. Tak bisa dibayangkan betapa lelahnya Ailee dan Khansa nantinya karena bel istirahat akan berbunyi lima belas menit lagi. "Sabar ya, yuk mulai jalan jongkoknya," ledek Sora. "Aku dan Sora akan nyemangatin kamu, dari kantin..." tambah Aiden meledek juga. Mereka pun segera meninggalkan Khansa dan Ailee. Aiden dan Sora tidak bisa berbuat lebih, karena hukuman memang harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. "Ini semua gara-gara kamu!" seru Khansa. "Kamu duluan yang memulai, kenapa menyalahkan aku!" Ailee dan Khansa lalu berjongkok dan berjalan mengitari lapangan di kala matahari menyengat. Mulut mereka tak henti-hentinya berdebat dan masih menyalahkan satu sama lain. Bahkan mereka juga saling mendorong tubuh hingga seringkali terjatuh. Daun kering di lapangan itu begitu banyak hingga terkumpul setengah karung. Dahaga mulai menyerang, tapi tak ada satu pun yang memberi mereka minum. Aiden dan Sora pun mendadak tak tahu apa yang terjadi, mereka tak iba sedikit pun dengan Ailee. Hukuman belum juga selesai, entah kenapa rasanya bel istirahat lambat sekali bunyinya. Lima belas menit terasa seperti tiga puluh menit, lama sekali. Akhirnya bel istirahat pun berbunyi, berhentilah mereka berjalan jongkok mengitari lapangan yang sangat luas itu sembari mengumpulkan daun kering. Mereka langsung terkapar di bawah pohon besar yang terdapat di pojok sekolah. Mengatur napas dan menyeka keringat yang bercucuran. Ailee dan Khansa saling pandang, kemudian mengalihkan beberapa saat kemudian. Enggan menatap wajah lawannya. Mereka seolah masih menyimpan dendam. Bughh.... "Auww...." "Lebay amat, sih!" Khansa kemudian pergi karena dia ingin pergi ke kantin. Hausnya harus segera diatasi. Dia tidak mau mati kehausan. Tadi Ailee memekik saat ada sebotol air mineral dilemparkan mengenai kakinya. Dia pun langsung mencari sumber air itu. Sangat ramai, banyak orang yang berlalu lalang. Ailee tak bisa menebak dari manakah air mineral itu. "Hey! Siapa yang melemparkan air mineral ini?" teriaknya yang tidak dihiraukan siapa pun. Anak-anak di sana sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan yang jelas, di kerumunan itu ada Binar. Apa dia yang melemparkannya? Ah, kalau iya Ailee tak akan mengucap sumpah serapah dan malah akan syukuran karena ternyata Binar yang menaruh perhatian dengannya. Cukup lama dia bermonolog dengan dirinya, hingga Binar mulai menghilang dari pandangannya. Dia pun segera bangkit dan mengejar Binar. Dia berlari meskipun tubuhnya lelah, intinya dia harus menghampiri Binar. "Pak Bin! Pak Bin!" Berhasil, Binar belum terlalu jauh darinya. Dia pun menarik kemeja lelaki itu hingga berbalik menghadapnya. Binar seperti biasa, memasang wajah dingin dan acuh. "Apa?" tanya Binar acuh seraya menepis tangan Ailee yang memegang kemejanya hingga lusuh. "Apa ini darimu, Pak?" Ailee memperlihatkan botol air mineral di mana isinya telah habis dia minum sembari mengejar Binar tadi. Binar tak menjawab, dia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Ailee. Dan gadis itu pun tetap mengejarnya seperti biasa. "Kalau memang iya, terima kasih ya, Pak," seru Ailee dengan riangnya. "Lain kali bertengkarlah lagi supaya tak hanya jalan jongkok mengelilingi lapangan saja, tapi juga membersihkan sekolahan ini sampai tak ada kuman satu pun," ucap Binar menahan tawanya. Dia tahu karena Bu Rika tadi curhat tentang Ailee dan Khansa yang bertengkar dan berkelahi. "Pak Binar senang? Kalau Pak Binar senang aku akan melakukannya!" Binar kembali menghentikan langkahnya dan menunduk menatap Ailee yang hanya setinggi dadanya. Tak habis pikir dengan jawaban-jawaban yang Ailee berikan. Cetak! Binar menyentil kening Ailee. Kebiasaan yang tak pernah hilang dan Ailee justru menyukainya. Aneh. Tapi tunggu, ini bukan hanya aneh saja tapi juga bodoh. "Sentil lagi, Pak! Aku menyukainya," ucap Ailee tersenyum- senyum. Dia menantikan sentilan lagi di keningnya yang sebenarnya sudah cukup merah, namun tidak sakit. "Ganti baju sana! Rapikan rambutmu!" ucap Binar. "Maunya digantiin baju sama Pak Binar!" Binar terkejut mendengarnya, dia pun bersiap untuk memarahi Ailee tapi gadis itu terlebih dahulu berlari meninggalkannya. "Ailee hanya bercanda, Pak! Jangan marah!" teriak Ailee lagi di tengah pelariannya. Dia berlari cukup jauh karena menghindari Binar yang mungkin saja akan menghukumnya juga seperti Bu Rika. Tingkah Ailee selalu saja membuatnya gemas dan membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Kini Binar merasa bahwa Ailee adalah hiburan untuknya. Binar lambat laun menerima kehadiran Ailee. Ailee sedang dalam mood yang baik. Dia memeluk dan menciumi botol air mineral dari Binar hingga memasuki kelas. Hal itu membuat murid yang berpapasan dengannya pun berpikir jika Ailee sudah stress. Mereka jadi bertanya-tanya hal apa yang membuat Ailee seperti itu. "Ailee, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Sora yang kemudian duduk di samping Ailee. "Nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit. Kamu bener-bener udah nggak waras!" seru Aiden. Dia pun memeriksa kening Ailee memastikan anak itu sakit atau tidak. Tidak panas, Ailee tidak sedang sakit. "Ini dari Pak Binar! Aku senang sekali," ucap Ailee memperlihatkan botol dan kembali memeluk serta menciuminya. Aiden dan Sora pun memutar mata malas, hanya air minum itu saja Ailee sampai tergila-gila. Jatuh cinta memang membuat orang bodoh dan melupakan dunia sekitar. Ailee sedang berada dalam fase tersebut. "Sepertinya dia akan menyimpannya sampai kiamat nanti," ucap Sora yang diangguki Aiden. Sora dan Aiden memandang prihatin pada gadis yang asyik dengan botol minum itu. Cinta membuat orang benar-benar menjadi gila, termasuk pada Ailee. "Tentu saja aku akan menyimpannya! Ini sangatlah berharga!" sahut Ailee. Dia kembali memeluk botol yang sudah hampir lecek dan layak untuk dibuang. Ailee sangat senang karena itu adalah botol minuman dari Binar yang mana airnya sudah diteguk hingga tandas olehnya. "Pak Binar perhatian denganku, hi hi..." Ailee masih saja memeluk botol itu layaknya boneka. Dia benar-benar senang mendapatkan botol itu. Fix, Aiden dan Sora harus membawa Ailee ke psikiater setelah pulang sekolah nanti. Tak bisa dibiarkan, jika Ailee seperti itu terus yang ada membuat mereka malu setengah mati. Aiden dan Sora lantas meninggalkan Ailee. Mereka takut tertular penyakit tidak warasnya Ailee. Akhir-akhir ini dia merasa bahwa Binar memiliki perasaan lebih padanya. Terbukti dari beberapa perhatian kecil dari lelaki yang sebenarnya berstatus duda itu. Ailee menantikan hal baru yang akan diberikan Binar padanya. Dia berharap ini merupakan hal baik untuk ke depannya. Ailee benar-benar sangat yakin bahwa Binar merupakan orang yang tepat baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD