Pensil Terbang

1785 Words
Tiga bulan sudah lelaki itu menjadi guru di SMA ternama dan berstandar internasional yang juga menjadi sekolah menengah atas favorit para siswa di Nusantara. Banyak yang berkeinginan untuk menempuh pendidikan di sana, namun banyak pula hal yang harus diperhatikan. Mulai dari ekonomi, IQ, dan lain sebagainya. Kehadiran guru itu membuat suasana baru di sana. Ketampanan, perilakunya, tubuhnya atletis, dadanya bidang. Siapa pun pasti akan berdesir melihatnya. Ingin berlabuh dan tak mau melepas pula. Tapi sampai saat ini belum ada yang mampu menarik perhatian Binar selain Ailee. Ya, hanya Ailee yang mampu menarik perhatian Binar karena gadis itu memang lain daripada yang lain. Guru-guru yang dulu mengeluh dan kadang tak bersemangat tatkala memberikan pelajaran pun menjadi sangat semangat setelah ada Binar. Mereka selalu menggoda dan mencari perhatian dari duda idaman hati itu. Binar terkadang jengah dengan segala godaan dari para rekan kerjanya. Tidak hanya para guru saja, melainkan juga pada murid di sana. Soal-soal ujian tengah semester telah berada di tangannya. Dia bertugas menjadi pengawas di kelas IPA 1 bersama Bu Rika, guru cantik yang juga tergila-gila dengan Binar. Huft, semoga besok bertugas bersama guru lelaki saja, batinnya berseru. Bagaimanapun juga Binar harus tetap bertanggungjawab atas pekerjaannya. Namun, pikirannya sudah melayang jika harus mengawasi ujian bersama Bu Rika. Segala macam godaan sudah melayang di pikirannya. Binar harap-harap cemas. Dia takut juga jika sesuatu terjadi. "Selamat pagi!" ucap Binar ketika memasuki kelas. Bu Rika mengikutinya di samping. Hendak menggenggam tangan Binar, tapi lelaki itu menepisnya dengan cepat. Bu Rika pun kewalahan menyejajarkan langkah Binar yang lebih cepat darinya. Ailee yang melihat bahwa Binar akan mengawasi ujian di kelasnya pun langsung berjingkrak-jingkrak. Kalau pengawasnya Binar, dia pasti akan selalu semangat mengerjakan ujian tengah semesternya. Bahkan, jika semua mata pelajaran diujikan saat itu juga dirinya juga sanggup– asalkan Binar bersamanya. Orang yang jatuh cinta memang berbeda. Tidak peduli apa pun lagi. "Yey! Pak Bin ngawasin di sini!" seru Ailee dengan tubuhnya yang masih berjingkrak-jingkrak. Lucu sekali gadis itu. "Hey, kenapa kamu jingkrak-jingkrak? Kembali duduk di tempatmu!" ujar Bu Rika sembari membuka soal di tangannya yang dimasukkan ke dalam map sebelum dibagikan. "Karena aku senang sekali, Bu Rik. Ada pujaan hatiku!" "Woooooo! Lebay!" Seisi kelas bersorak saat mendengar alasan Ailee. Mereka tahu siapa yang dimaksud pujaan hati, siapa lagi jika bukan Binar yang pertama kali datang sudah menarik perhatian Ailee dan yang lainnya juga. Meski disorak, Ailee tidak peduli sama sekali. Bu Rika mengerutkan dahinya mendengar ucapan Ailee. Ah, pasti yang anak itu maksud adalah Binar. Dia tidak terima jika Ailee berkata bahwa Binar adalah pujaan hatinya. Bu Rika ternyata juga jatuh hati pada Binar. "Maksudmu pujaan hati saya?" tanya Bu Rika. Tangan guru cantik itu bergerilya di d**a Binar membuat Ailee terkejut dan panas. Binar pun sama, dia jijik sekali dan langsung menepis tangan Bu Rika. Guru itu gatel sekali. Binar langsung membagikan lembar jawab komputer dan juga soalnya kepada murid-murid yang sedari tadi telah menunggu dan siap mengerjakan. Dia datangi satu persatu meja muridnya dan memberikan lembar dan soal pada mereka. Tidak lupa memberi semangat untuk mengerjakannya. "Jangan dekat-dekat sama Bu Rik," bisik Ailee kepada Binar saat lelaki itu sampai di bangkunya membagikan soal dan lembar jawaban kepadanya. Dia memperingatkan seolah Binar itu sudah menjadi miliknya, makanya tidak boleh dekat dengan yang lainnya. Padahal dia dan Binar belum terikat apa pun, mereka baru sebatas murid dan guru yang memang mengenal sangat jauh. "Kerjakan saja ujiannya, jangan memikirkan hal lain!" balas Binar sungguh-sungguh. Dia hendak menyentil kening Ailee seperti biasa, tapi banyak yang menatapnya. Dia tidak jadi melakukannya karena malu. Anak-anak pun segera mengerjakan ketika bel tanda mengerjakan telah berdering seantero sekolahan. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang tengah diujikan. Entah kenapa pelajaran itu selalu menjadi yang utama ketika ujian baik dari SD, SMP, maupun SMA. Sepertinya negara hanya ingin mengajarkan bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa utama yang harus dijunjung tinggi. Bahasa Indonesia juga menjadi landasan bagi ilmu lain. Intinya, Bahasa Indonesia merupakan salah satu hal yang mempersatukan bangsa. Mungkin ada dua puluh lembar soal, tentu saja membuat jenuh karena bacaan yang disajikan sangatlah panjang dan membutuhkan ketelitian lebih. Memang terlihat mudah, tapi jika benar-benar tidak teliti bisa salah sepenuhnya. Selain matematika, mata pelajaran ini juga sangat membutuhkan ketelitian dan kefokusan. Dan anak-anak sering menganggapnya remeh karena Bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-hari mereka, serta sangatlah mudah ditaklukkan. Padahal bahasa Indonesia tetap memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Waktu berjalan seperti biasa. Lembar jawaban Ailee hampir terisi semua dengan bulatan dari nomor satu hingga empat puluh lima telah hitam. Kurang lima soal dan waktunya ternyata masih cukup banyak. Dia nantinya bisa leluasa mengamati wajah Binar yang duduk tepat di depannya. Tapi dia harus tetap memastikan bahwa jawabannya telah benar sebelum bersantai dan menatap pujaan hatinya. "Kerjakan sendiri, jangan melirik pekerjaan teman," seru Binar kepada Aiden ketika anak itu hendak menyontek pekerjaan Ailee. Galak sekali ternyata jika sedang mengawasi ujian. Tapi itu merupakan hal wajar. Seorang guru memang sudah seharusnya memperingatkan anak muridnya supaya tidak menyontek dan percaya dengan kemampuan mereka masing-masing. "Aku melirik pekerjaan adikku, bukan temanku," tukas Aiden membuat seisi ruangan tertawa. Aiden selalu pandai memberikan alasan, sama seperti Ailee. Namanya juga anak kembar, beberapa sifat akan sama. Namun, tidak menutup kemungkinan juga keduanya memiliki sifat yang berbanding terbalik. "Jangan membantah, lanjutkan pekerjaanmu!" Binar melanjutkan membaca buku yang dibawanya tadi setelah kelas kembali tenang. Dan tiba-tiba saja kepala Bu Rika bersandar di pundaknya. Wanita yang duduk di sebelahnya itu acuh dan malah nyaman bersandar, sedangkan Binar sangat risih dibuatnya. "Aduh, nyaman banget sih pundaknya, Pak," celetuk Bu Rika senyum-senyum sendiri. Tak peduli dengan murid-muridnya. Yang penting dia dekat dengan Binar. Lelaki itu terus menggeliat berusaha menghindari kepala Bu Rika. Tapi semakin menggeliat, Bu Rika malah semakin melekat saja bersandar di pundaknya. Bahkan guru mata pelajaran olahraga itu tidak segan memeluk lengannya. Sungguh menyebalkan, Binar ingin segera mengakhirinya. Lembar jawab Ailee sudah hitam semua, dia pun sudah menelitinya berulangkali dan memastikan bulatan itu sempurna hingga bisa dikoreksi di komputer nantinya. Sudah saatnya menatap pujaan hatinya. Ah, pemandangan yang membuatnya sesak– Bu Rika menyandar di pundak Binar. Ini tak bisa dibiarkan. Ailee harus memikirkan hal yang kemungkinan bisa menjauhkan Bu Rika dari Binar. Cetak! Pensil Ailee melayang sempurna dan mendarat tepat mengenai kepala Bu Rika. Sontak saja, guru itu langsung menegak dan menatap murid-muridnya. Marah sekali dengan kejadian tadi. Sementara Binar justru senang karena akhirnya Bu Rika terlepas dari tubuhnya. "Pensil siapa ini?" tanyanya dengan nada tinggi. Dia berdiri dari kursinya dan bersiap untuk memarahi orang yang telah melemparkan pensil ke kepalanya. "Aduhh, Bu Rik! Pensilnya terbang sendiri tadi, ya ampun hebat banget ya pensilku!" celetuk Ailee terkekeh. Dia lalu maju ke depan mengambil pensil yang dipegang Bu Rika. Seisi kelas tertawa, heran sekali dengan Ailee yang selalu tidak masuk akal saat memberikan alasan. "Jaga yang benar! Jangan sampai terbang lagi, kalau perlu kunci di sangkarnya," sahut Bu Rika. Entah kenapa Bu Rika mendadak bodoh, mungkin gara-gara terlena dengan lelaki tampan di sampingnya. Seseorang memang mudah berubah ketika menemukan hal yang disenanginya. "Iya, Bu Rik." Ailee tak kembali duduk di tempatnya, dia menatap Binar terlebih dahulu dan mengisyaratkan supaya menjauhi Bu Rika. Binar pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Ailee padanya. "Kenapa masih berdiri di situ? Kembali ke tempat dudukmu dan selesaikan ujiannya," seru Bu Rika. Mata gadis itu tak berhenti menatap dua guru yang berada di hadapannya. Hatinya kembali memanas ketika Bu Rika kembali menyandarkan kepalanya di pundak Binar dengan mata yang terpejam seakan begitu terlena dengan kenyamanan dari pundak lelaki itu. Ailee langsung mengambil penghapus dari kotak pensilnya dan hendak dilemparkan ke Bu Rika. Binar yang tahu pun segera mengisyaratkan matanya supaya Ailee tak melempari Bu Rika dengan penghapus. Dan Ailee tak menghiraukan, penghapus di tangannya sudah melayang mengenai Bu Rika. "Ailee!" gertak Bu Rika. Guru itu langsung berdiri dan menghampiri Ailee. "Maaf, Bu! Alat tulisnya terlalu aktif, jadi terbang-terbang sendiri deh," jawab Ailee meringis. Lagi-lagi seisi kelas tertawa dengan alasan yang Ailee berikan. "Jadi orang kok aneh, sih!" celetuk Khansa. Tatapannya seolah jijik, tapi Ailee tidak peduli. "Alasan saja kamu!" Bu Rika kembali duduk setelah mengambil kotak pensil Ailee. Kini, meja itu pun hanya terdapat lembar jawab dan soal ujian, tak ada barang yang bisa dilemparkan jika Bu Rika bergelayut lagi pada pujaan hatinya. Dan Binar sebisa mungkin menahan tawanya melihat ekspresi Ailee yang sudah tak bisa mengganggu Bu Rika lagi. "Arghhh!" Bu Rika memekik, guru itu terjatuh saat hendak bersandar di pundak Binar lagi karena lelaki itu berdiri menghindarinya. "Aduh, Bu Rika nggak papa, kan?" tanya Binar. "Sakit, Pak!" sahut Bu Rika memegang kepalanya yang terbentur kursi. Seisi ruangan pun terpingkal-pingkal melihat adegan itu, dan Ailee yang paling heboh. Dia tertawa seraya memukul meja. Puas sekali dengan Bu Rika yang akhirnya mendapatkan balasan. Ailee yang tadi cemburu akhirnya bisa merasa puas karena orang yang membuatnya cemburu mendapatkan balasan setimpal. Dia kemudian menatap Binar yang juga menatap ke arahnya cukup lama. Meski demikian Binar tetap dingin, sementara Ailee tidak berhenti untuk senyum. Ailee yakin Binar tadi juga menjaga jarak dengan Bu Rika karena ingin menjaga perasaannya supaya tidak semakin cemburu. Ah, apakah pikiran Ailee itu memang benar seperti apa yang ada dalam benak Binar? Tidak tahu, tapi intinya Ailee senang sekali melihat Bu Rika terbentur kursi. Salah sendiri telah menggoda Binar dan membuat Ailee terbakar api cemburu. Teetttt... tetttt.... Bel pertanda ujian akan segera berakhir lima menit lagi pun berdering. Para siswa yang belum selesai pun gelagapan mencari contekan dari teman-temannya. Suasana seperti ini memang kerap terjadi. "Bagi yang sudah diteliti lagi, jangan sampai ada satu nomor yang terlewat. Dan periksa lembar jawabnya jangan sampai pekerjaan kalian tak terbaca komputer," ujar Binar memperingatkan. Dia berkeliling kelas supaya anak-anak tetap tenang tak berisik mencari contekan karena sudah berada di detik terakhir. Dan mata Ailee pun terus mengikuti kemana pun lelaki itu berpijak. Dia tambah senang saat lelaki itu berdiri di dekat tempat duduknya. Dia mendongak menatap Binar yang tetap tampan dilihat dari sisi mana pun. Binar tetap mengawasi anak-anak yang lain, tidak tahu bahwa Ailee sedari tadi menatapnya. "Pak Bin..." bisik Ailee. "Pakkk...." Lelaki itu menunduk menatap Ailee yang tengah membentuk finger love dan senyum selebar mungkin. Ingin sekali rasanya menggigit jari-jari itu supaya tak lagi membentuk finger love yang menurutnya sangatlah alay. Tapi bagi Ailee dan anak remaja lainnya itu adalah hal yang biasa dan romantis, sesuai drama Korea, Cina, atau lainnya yang mereka tonton. "Apa sudah selesai semua?" tanya Binar kepada semua murid di kelas itu memastikan bahwa semuanya benar-benar sudah selesai. "Sudah, Pak!" "Diam di tempat kalian jangan keluar dulu, saya akan mengambil lembar jawabnya." Dibantu Bu Rika, lembar jawaban dari tiga puluh murid kelas IPA 1 telah terkumpul dan tersimpan rapat di map semula. Ketika bel berbunyi, para murid pun segera berhambur keluar menuju kantin untuk istirahat sembari belajar mata pelajaran yang akan diujikan berikutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD