Nomor Ponsel

1782 Words
Senja adalah waktu yang sangat dinanti-nantikan setiap orang. Kehadirannya yang sekejap mata membuat orang antusias dan berusaha tak melewatkannya. Jika melewatkan maka mereka akan sangat menyayangkan dan merasa menyesal sekali, karena tak bisa menatap keindahan langit senja. Matahari yang berkelana akan kembali ke peraduannya dan meninggalkan semburat warna jingga kemerahan ketika sore harinya. Banyak yang menyaksikan langit jingga kemerahan tersebut dengan berbagai cara dan dengan orang tercinta. Intinya, benar-benar banyak orang yang menikmatinya. Dua anak itu masih bergelut dengan buku catatan dan juga laptop yang memperlihatkan materi pelajaran, ditemani senja dan secangkir kopi supaya kantuk tak menyerang. Beberapa makanan ringan juga turut menemani mereka, ada pula yang sudah menyisakan bungkusnya saja pertanda sudah cukup lama berada di sana hingga akhirnya habis tertelan. Mata pelajaran yang akan diujikan besok adalah Kimia dan juga Fisika. Entah kenapa pelajaran yang cukup sulit malah dipersatukan. Ah, besok adalah perjuangan yang luar biasa. Kimia dan Fisika memang tidak akan bisa terlepas dari jurusan IPA, dan bagi sebagian anak tidak menyukainya, padahal hal itu adalah kuncinya. "Aku akan membantumu mengerjakan Kimia, tapi kamu harus membantuku mengerjakan Fisika," ucap Ailee kepada kakaknya. Dia menawarkan sesuatu yang akan menguntungkan keduanya. Ailee memang tipe orang yang akan menawarkan sesuatu jika hal itu menguntungkan. Jika tidak ya dia tidak akan melakukan kerjasama dengan seseorang sekalipun itu sahabat atau saudaranya. Sementara Aiden yang ditawari hanya mengangguk, ini adalah hal yang menguntungkan. Ailee sangat pandai Kimia, sedangkan dirinya kurang paham. Dan sebaliknya, Aiden sangat pandai Fisika. Oleh sebab itu, mereka selalu bertukar jawaban ketika ujian mata pelajaran Fisika dan Kimia. Tapi itu kembali lagi dengan pengawas. Jika pengawasnya baik hati, maka mereka bisa bertukar jawaban. "Kak?" Ailee membuka obrolan lagi saat dirinya teringat sesuatu ketika menyaksikan kopi di cangkirnya yang sudah hampir habis. "Hm...." "Kafe yang berada di toko kue Oma Aira masih kosong, kan? Bagaimana kalau tempatnya dijadikan kedai kopi Pak Binar?" "Bukankah Pak Binar sudah memiliki kedai sendiri? Dan kurasa kedainya cukup bagus." "Tapi sempit, sering sekali pengunjungnya kehabisan tempat dan harus menunggu lama. Kalau di Kafe punya Oma Aira kan luas. Kedai kopi Pak Binar nanti juga pasti akan lebih terkenal." "Ah, terserah. Itu bukan urusanku, kembalilah belajar jangan memikirkan yang lain!" Kembali berkutat dengan materi pelajaran, Aiden dan Ailee tak lagi berbicara. Mereka sudah asyik dengan latihan soal Kimia maupun Fisika yang terkadang mudah tapi terkadang juga sulit dipahami. Tergantung bagaimana mereka mempelajarinya. Jika serius, maka akan lebih mudah paham. Lain halnya jika sebaliknya, apa pun itu maka tetap akan tidak bisa dipahami. Kegelapan mulai menggantikan senja. Anak kembar itu belum juga beranjak dari balkon. Suasana balkon kamar sampai kapan pun akan selalu nyaman dan menyenangkan. Cocok sekali untuk belajar atau sekedar bersantai. Balkon tersebut juga menjadi tempat favorit Aiden dan Ailee. Rumah mereka memang luas dan besar, akan tetapi balkon tetap menjadi tempat utama mereka. "Aiden, Ailee, masuk sayang. Sudah gelap," seru Bu Aza seraya menutup gorden kamar. "Mah, apa Papa belum pulang?" tanya Ailee. Dia pun membereskan buku serta mematikan laptopnya. Cukup lama dirinya belajar, sudah saatnya untuk istirahat supaya otak juga tidak lelah. "Sudah sayang, lagi mandi sekarang. Ada apa?" "Enggak kok, Mah. Aku hanya merindukannya saja," jawab Ailee cengar cengir sendiri jadinya. "Bohong! Bilang aja kalau kamu mau izin untuk les privat sama Pak Binar," timpal Aiden. Beberapa saat yang lalu Ailee sempat membahas hal itu dengannya. Aiden tahu betul apa yang menyebabkan Ailee bertanya tentang Papanya. Bu Aza langsung tersenyum mencolek pipi anaknya yang merah. Dia terus saja menggoda anak perempuannya itu. Tahu betul apa yang tengah terjadi, Ailee pasti sedang merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Dan tak disangka jika dia akan jatuh cinta pada gurunya sendiri. Ibu dua anak itu kemudian bertanya alasan yang menyebabkan anaknya itu ingin sekali les privat dengan Binar. Pasalnya, bimbel untuk anak-anaknya itu adalah bimbel offline terbaik dan mereka juga mengikuti bimbel online, lalu kenapa anaknya meminta les privat dengan Pak Binar? Pasti ada hal lain, dan Bu Aza harus mendengarkan alasannya langsung dari anaknya. "Apa kamu menyukai Pak Binar? Pasti kamu mau les privat sama Pak Binar biar bisa dekat dengannya terus, kan?" goda Bu Aza menyenggol lengan anaknya. Dia gemas sekali dan ingin terus menerus menggoda putrinya yang sedang berbunga-bunga hatinya. "100 buat Mama!" ucap Aiden yang semakin membuat Bu Aza gemas. Wajah gadis itu telah memerah, dia tak menjawab dan menyahuti perkataan Kakak maupun Mamanya. Dia memilih untuk pergi dari sana dan mencari Papanya karena ingin mengutarakan sesuatu. Dia pun terus berdoa supaya misinya kali ini berhasil dan berjalan dengan baik. Gadis itu berjalan mengendap-ngendap memasuki kamar Papa dan Mamanya. Benar dengan yang dikatakan mamanya tadi jika sang Papa sedang mandi karena terdengar gemercik air dari kamar mandi. Ailee pun berdiri di depan pintu menantikan Papanya. "Papah!" seru Ailee ketika pintu kamar mandi terbuka. Pak Aksa pun terkejut mendapati Ailee di hadapannya. "Allahu akbar!" pekiknya seraya mengusap d**a. Lelaki yang rambutnya masih basah itu pun hanya menggelengkan kepala melihat anaknya yang selalu saja membuatnya terkejut. Dia lalu berjalan meninggalkan Ailee sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Euhmmm, Papa wangi banget sih...." Gadis itu langsung memeluk Papanya dan mengikutinya ke mana pun dia melangkah. "Tunggu sebentar, Papa ingin mengeringkan rambut dulu." Pak Aksa mulai terganggu dengan Ailee yang terus mendekapnya. "Ailee, lepaskan...." "Enggak mau." Bu Aza yang baru saja masuk pun terkekeh melihat anak dan suaminya yang menempel seperti perangko. Ekspresi suaminya yang mulai kesal dengan Ailee pun semakin membuatnya terpingkal-pingkal. Mereka memang selalu menggemaskan jika sudah bersama, dan Bu Aza sangat menyukai kebersamaan itu. Tidak hanya dengan Ailee saja, tetapi juga dengan Aiden. Akan sangat menggemaskan jika mereka berkumpul. "Sayang, tolong lepaskan anakmu ini. Aku ingin mengeringkan rambutku terlebih dahulu," seru Pak Aksa kepada Bu Aza. "Biar aku saja yang mengeringkan, Hubby. Biarkan anak nakal itu bergelayut di tubuhmu," jawab Bu Aza terkekeh. Dia lalu mengambil hair dryer dari tangan suaminya dan mulai mengeringkan rambutnya seperti biasa. Sepasang suami istri itu memang gencar mengumbar keromantisan. Ailee tetap duduk di samping Papanya dan tetap memeluk lelaki yang selalu membuatnya nyaman itu. Pak Aksa juga merupakan cinta pertama Ailee. Sepertinya di dunia ini cinta pertama anak perempuan adalah Papanya sendiri. Gadis itu teramat menyayangi dan mencintai lelaki utama dalam hidupnya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada Papanya. Yang jelas, Ailee benar-benar tidak mau kehilangan sesosok lelaki itu. Dia ingin tetap bersama sampai selamanya. "Pah, Ailee dan Kak Aiden boleh nggak les privat dengan Pak Binar?" tanyanya pelan, bahkan hampir tak didengar. Dia takut jika Papanya langsung menentang dirinya. "Bicara yang serius, jangan pelan seperti itu. Nggak jelas!" "Dia ingin les privat sama Pak Binar, guru matematika Aiden dan Ailee," tegas Bu Aza. Dia mewakili anaknya yang sudah pasti tidak berani berbicara tegas. "Kenapa harus dia? Dan ada apa dengan guru les privat-mu yang lama?" tanya Pak Aksa menyelidik. "Kan Pak Binar guru matematika di sekolah, jadi lebih mudah dimengerti aja gitu dan Pak Binar itu kalau ngajar asyik, Pah," jawab Ailee. Alasan itu telah disusun sebelum dirinya memberanikan diri untuk meminta izin pada orang tuanya. Dia tidak ingin gagal untuk hal ini, makanya sudah ada persiapan yang matang. "Bukan karena hal lain?" tanya Pak Aksa sekali lagi untuk memastikan. Entah kenapa kali ini dia kurang percaya dengan anaknya. "Bukan, Ailee benar-benar mau belajar sama Pak Binar. Lagi pula kan sebentar lagi ada ujian, jadi harus belajar lebih giat lagi supaya nilainya bagus." Ailee kembali memberikan argumen penguat yang diharapkan bisa menumbuhkan kepercayaan Pak Aksa padanya. Dia sendiri harap-harap cemas karena Papanya itu sulit untuk memberikan sesuatu dengan mudah. "Sudahlah, kamu kembali ke kamar. Nanti Papa akan membicarakan dengan Binar." Ailee berteriak girang mendengarnya. Akhirnya Papanya setuju. Dia bernapas lega, karena usahanya membuahkan hasil. "Yessss! Eh, Papa mau ke sana langsung? Aku ikut ya?" "Nggak, Papa capek. Nanti lewat w******p saja." Ailee membelalakkan mata, bagaimana bisa Papanya malah mempunyai nomor Binar. Sedangkan dirinya tak pernah dapat. Binar memang low profile. Bahkan, di grup kelas saja Binar tak ikut padahal dia adalah wali kelasnya. Tapi tenang, Ailee akan segera memilikinya. Dia harus mengatur strategi untuk mencuri nomor Binar dari ponsel Papanya. Mungkin Binar memilih untuk menyembunyikan segala tentangnya karena memang tidak ingin dijadikan bahan pembicaraan orang lain. Cukup keluarga dan teman dekatnya saja yang berhak mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam lebih tiga puluh menit. Ailee sengaja mengatur alarmnya untuk bangun menjalankan misinya– mencuri nomor Binar dari ponsel papanya. Sebuah misi yang harus tuntas malam ini juga. Anak itu sudah berhasil masuk ke kamar orang tuanya. Dia berjalan mengendap-endap supaya Papa dan Mamanya tak terbangun. Ponsel Pak Aksa ternyata sedang dicas dan diletakkan di atas nakas sampingnya. Ailee berusaha menghampiri dengan pelan. Kurang tiga langkah lagi dirinya mendekat ke arah nakas. Tapi tiba-tiba kakinya kaku dan dia terdiam karena sang Papa bergerak. Keringat dingin pun mulai bercucuran. Dia takut ketahuan dan dimarahi. Ailee lantas berdoa supaya Tuhan melindunginya. "Aku menyayangimu..." lirih Papanya mengecup kening Mamanya dan matanya masih terpejam. Romantis sekali. Ailee terharu melihatnya. "Aku juga menyayangimu..." balas Mamanya dengan mata yang masih terpejam pula. Mereka pun saling memeluk. Sangatlah mengharukan, bagai di dalam drama saja. Ailee tak habis pikir dengan mereka, tertidur tapi masih bisa berbicara dan saling menyahut. Benar-benar cinta mati. Salut sekali. Dirinya lalu berdoa supaya kelak bisa membina keluarga seperti papa dan mamanya sampai akhir waktu. Dia kemudian melanjutkan aksinya untuk mengambil ponsel Pak Aksa. "Yesss," ucap Ailee dengan pelan. Dia berhasil menyentuh ponsel Papanya. Segeralah dia mengambil dan membukanya. Ponsel tak disandi atau pun dipola, Ailee pun dengan mudah membukanya. Dia kemudian membuka daftar kontak dan mencari kontak Binar. Matanya bersinar-sinar ketika mendapati kontak Binar di sana, segeralah dia membuka ponselnya sendiri dan mencatat nomor lelaki tampan itu. Mencatat dengan teliti supaya tak ada yang salah meski satu angka saja. Pokoknya misinya kali ini harus berhasil supaya kelak dirinya bisa menghubungi Binar dengan mudah. Dirinya sudah tidak sabar membayangkan tiap waktu bisa bertukar pesan dan bertukar kabar dengan Binar. Berhasil. Tapi semesta ternyata tidak selalu berpihak padanya. Dia kembali dihadapkan dengan kondisi yang benar-benar mengkhawatirkan. "Aduh!" "Aku lupa mentransfer uang untuk Panti Asuhan. Kasihan mereka..." pekik Pak Aksa yang kemudian langsung bangun hendak mengambil ponselnya. Dan Ailee masih berada di sana, dia tengkurap di lantai dan terus berdoa supaya Papanya tak menyadari kehadirannya. Gadis itu mengkondisikan tubuhnya sebaik mungkin supaya tidak ketahuan. Ingin sekali segera keluar dari zona tidak nyaman tersebut. Tengkurap bagi Ailee merupakan posisi yang sangat tidak nyaman, namun untuk kali ini dia akan bertahan. Pak Aksa menarik ponselnya yang masih dicas dan tak lupa mencabut charger dari stop kontak. Dia lemparkan charger tersebut sembarang arah hingga kepala charger itu mengenai kepala Ailee, memekiklah gadis itu– membuat Pak Aksa terkejut dan Bu Aza langsung terbangun mendengar suara Ailee. Gadis itu ketahuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD