Panggilan Video

1785 Words
Dan Ailee masih berada di sana, dia tengkurap di lantai dan terus berdoa supaya papanya tak menyadari kehadirannya. Gadis itu mengkondisikan tubuhnya sebaik mungkin supaya tidak ketahuan. Ingin sekali segera keluar dari zona tidak nyaman tersebut. Pak Aksa menarik ponselnya yang masih dicas dan tak lupa mencabut charger dari stop kontak. Dia lemparkan charger tersebut sembarang arah hingga kepala charger itu mengenai kepala Ailee, memekiklah gadis itu– membuat Pak Aksa terkejut dan Bu Aza langsung terbangun mendengar suara Ailee. Ailee merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga suaranya. Tapi kepalanya memang sakit karena lemparan charger milik Pak Aksa tadi. Itu karena kepalanya memang sakit, wajar jika dia memekik. Bu Aza dan Pak Aksa menatap heran dengan anaknya yang tengkurap di lantai kamar mereka. Sementara itu, Ailee justru berusaha seolah baik- baik saja. Dia tersenyum dan bangkit dari posisinya. "Hehe, Hello Papa..." ringis Ailee, dia berdiri dan kini memegang kepalanya yang masih sakit karena kepala charger papanya tadi. Andai saja dia tahu bahwa Papanya akan melempar charger, maka dia tidak akan bersembunyi di sana. "Hello, Mama...." Kali ini dia menyapa Bu Aza yang juga masih setengah sadar. Namun, perempuan itu tetap tahu bahwa ada Ailee di sana. "Kenapa kamu di sini? Bikin orang kaget aja, kamu tuh!" ujar Bu Aza menggelengkan kepalanya. Sangat heran dengan Ailee yang entah apa keinginannya sampai seperti orang yang mencuri di kamarnya. "Tau, tuh! Kaya maling aja," sahut Pak Aksa turut menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan anaknya. Mata mengantuk dan setengah nyawa masih tertinggal di alam mimpi. Pak Aksa dan Bu Aza bergantian menanyai putri mereka yang tiba-tiba saja berada di kamar dan mengejutkan layaknya jailangkung. "Ehm... itu...." Ailee kelabakan. Dia berpikir keras alasan apa yang sekiranya cocok dan tidak menimbulkan kecurigaan lebih pada Papa dan Mamanya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia sedang mencuri nomor ponsel Binar dari kontak Papanya. Orang tuanya menatapnya lekat membuatnya jadi salah tingkah dan sulit mencari alasan supaya tak kena marah. Tapi, bukan Ailee namanya jika tak pandai mencari alasan. Dia akhirnya menemukan alasan meskipun aneh sekali. "Aku-" "Aku mau tidur sama mama. Aku takut..." jawab Ailee sekenanya. Dia pun bergabung dengan mamanya yang masih berbaring di ranjang, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang dipakai Mama dan Papanya tadi. Dia berbaring di tengah orang tuanya yang masih tak percaya dengan kelakuannya ini. "Tumben sekali?" tanya Bu Aza. Dia kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang. "Mah, kepalaku sakit kena charger Papa tadi," adu Ailee sembari menunjukkan bagian kepalanya yang masih sakit. "Sudah tidak apa, lagian kamu kenapa tidak bilang kalau di sana," ujar Bu Aza. Dia mengusap kepala Ailee dan memberinya kecupan. Itu adalah hal yang selalu dilakukannya ketika suami atau anak-anaknya sakit. Hanya mengsugesti saja sebenarnya, lalu anak-anak dan suaminya itu percaya bahwa kecupan yang penuh cinta akan mengobati segalanya. "Mah, aku mengantuk. Peluklah aku, aku ingin tidur," seru Ailee. Dia mendekap mamanya erat dan menelusupkan wajahnya di d**a wanita itu. Tangan mamanya pun terulur mengusap kepalanya, sangat nyaman. Tak peduli lagi mama atau papanya itu masih terheran-heran dengannya atau tidak. "Kembali ke kamarmu! Papa nggak suka kalau tidur bertiga, papa mau tidur sama mamamu saja," gerutu Pak Aksa. Dia bingung sekali dengan Ailee yang menguasai tempat. Bahkan gadis itu tidak segan mendorongnya supaya jatuh dan tidak tidur di sana. "Hey, Tuan Aksa, bukankah kamar di rumah ini masih banyak sekali? Kenapa Anda tidak pergi ke kamar lain saja? Jangan mencari gara-gara dengan Nona Ailee!" ujar Ailee yang sebenarnya bermaksud bercanda saja dan sepertinya berhasil membuat sang papa marah dengannya. Kebiasaan yang tidak bisa hilang sejak dulu. "Anak kurang ajar kamu! Hanya malam ini saja, awas kalau besok kamu masih tidur di sini!" ucap Pak Aksa yang akhirnya mengalah. Sudah larut, tidak baik jika terus berdebat. Pak Aksa akhirnya menuju sofa meskipun malas sekali, tidak lupa membawa bantal yang dipakainya tadi. Meski banyak kamar, dia tak mau tidur di kamar lain. Lebih baik tidur di sofa kamarnya saja karena yang penting masih dekat dengan istrinya. Lelaki itu salah satu b***k cinta, dia tidak bisa jauh dari istrinya yang sebenarnya juga cinta pertamanya. Romantis sekali, tapi juga manja. "Aduhhh, pelukan mama benar-benar hangat dan nyaman. Pantas saja papa nggak mau tidur sendirian," sindir Ailee, dia tahu betul jika Papanya belum melanjutkan tidurnya lagi. Ailee jadi semakin gencar menggoda papanya. Dia juga senang sekali karena bisa menguasai mamanya. "Diam saja kamu itu!" Pak Aksa mendengus kesal. Dia berusaha segera memejamkan matanya, namun sang anak selalu saja bertingkah menggoda dirinya. Dia benar-benar kesal malam itu. "Euhhmmm... Malam ini kayaknya ada yang nggak bisa tidur nih gara-gara nggak dipeluk Nyonya Aza Sanjaya!" Lagi -lagi Ailee menyindir Papanya membuat lelaki yang sudah berbaring di sofa itu kembali mendengus kesal. Ingin rasanya menyeret Ailee dari kamar itu dan menyuruhnya kembali ke kamarnya sendiri. Tapi itu tidak mungkin, yang ada malah dirinya kena marah sang istri. "Iya sayang, besok pasti ada yang matanya bengkak gara-gara nggak bisa tidur," timpal Bu Aza ikut menggoda suaminya. Dia sendiri juga tahu betul bagaimana suaminya jika tidak tidur sambil memeluknya erat. "Tunggu besok! Aku akan membalas kalian berdua, terutama Ailee!" "Ahh, aku menunggu pembalasanmu, Pah...." Ketiga orang itu masih asyik berdebat membicarakan suatu hal yang sebenarnya tak penting sama sekali. Entah hal apa yang kemudian membuat tiga pasang mata itu tertutup bersiap mengarungi mimpi. Sepertinya ketiganya memang sudah mengantuk sampai akhirnya menyelesaikan perdebatan. Ailee bernapas lega. Kepintarannya ternyata bisa menyelamatkan dirinya dari situasi yang mencekam tadi. Beruntung Papa dan Mamanya itu tak berpikiran macam-macam kepadanya. Dia jadi tidak sabar untuk beraksi lagi setelah mendapatkan nomor ponsel Binar. Rumah itu selalu ramai dengan tangis maupun tawa anak- anak yatim piatu. Anak yang masih memerlukan kasih maupun sayang dari orang tua tersebut berhati baja. Mereka sebenarnya remuk redam, tapi selalu berusaha setegar mungkin. Beruntung mereka masih bisa bertegur sapa dengan yang lain, tak pernah lapar, dan yang penting yaitu masih bisa mengecap pendidikan. Panti asuhan itu merupakan kehidupan bagi mereka. Jika tak ada entah apa yang akan terjadi. Mungkin mereka akan berada di jalanan, kesulitan mencari makan, tidak terawat sama sekali, dan bahkan tidak akan bisa merasakan bagaimana dunia pendidikan sesungguhnya. Sangat miris. Berkat Binar dan Bu Melati, anak-anak itu tak lagi merasa sepi dan sendiri karena akhirnya mendapatkan keluarga baru di panti asuhan. Mereka sangat bersyukur karena dipertemukan dengan dua orang baik yang berusaha semaksimal mungkin menghidupi mereka. "Ayo, habiskan sarapan kalian. Jangan sampai ada yang tersisa, kita harus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya," ujar Binar ketika anak-anak panti tengah menikmati sarapan mereka. "Siap, Pak Binar!" jawab mereka serempak. Sembari memastikan anak- anak panti sarapan dengan baik, Binar memangku Clarissa dan mengajaknya bermain sama seperti pagi yang telah lalu. Dia akan berangkat jika urusan Ibunya sudah selesai dan bisa dititipi Clarissa. Bayi itu masih asyik dengan botol s**u yang isinya hampir habis. Bertambahnya hari bertambah pula usia anak itu, dia semakin aktif. Binar juga sedikit demi sedikit mengajarkannya merangkak. Pertumbuhan Clarissa yang cukup cepat membuatnya senang sekali. Ting... Suara pesan masuk terdengar, lelaki itu langsung mengambil ponselnya yang dia letakkan di sampingnya. Segeralah ia buka pesan tersebut, takut jika itu pesan penting dari sekolah atau guru yang memiliki nomor ponselnya. "Dari siapa ya, Sayang. Pagi-pagi kok udah ada yang nge-chat," seru Binar mengajak Clarissa berbicara. Dan anak itu memberikan gelengan kepala seolah tahu maksud dari perkataan Papanya saja. Lucu sekali. Selamat pagi, Pak Binar ❤️ ❤️ ❤️ Bagaimana kabarmu hari ini? Matahari bersinar cerah dan terlihat ceria, semoga dirimu pun sama. Binar mengernyit membaca pesan tersebut. Dari nomor tak dikenal, tak ada foto profilnya pula, identitas w******p benar-benar tak jelas. Ponsel itu dia letakkan kembali, hanya orang iseng jadi tak perlu dibalas. "Muachhh... muachhh...." Binar kembali bermain dengan anaknya. Dia menciumi Clarissa yang sangat wangi. Aroma bayi memang tak ada yang bisa mengalahkan. Dan siapa pun pasti akan menyukainya. Drrttt... drrtt... Ponsel lelaki itu kembali bergetar, bukan pesan yang diterima melainkan sebuah panggilan video. Binar masih acuh, dia mengabaikannya hingga panggilan ketiga. Merasa penasaran, akhirnya dia menggeser tombol hijaunya ketika panggilan keempat. Dia tatap ponselnya dan bersiap mengetahui pemilik nomor misterius itu. Perlahan dia pun menerima panggilan video tersebut. Ponsel pun diarahkan ke wajahnya, dia tidak sabar mengetahui siapa yang berani mengganggunya pagi sekali. "Allahu akbar!" pekik Binar dan langsung menjatuhkan ponselnya, terkejut mengetahui orang yang meneleponnya. Sang penelepon malah cekikikan sendiri dibuatnya. Gadis yang sering menggoda, menemui, dan mengikutinya kemana pun dia pergi tertera di layar ponselnya. Siapa yang tidak terkejut? Ah itu tidak penting, yang paling penting adalah bagaimana anak itu bisa mendapatkan nomor ponselnya? Padahal dia sudah mati-matian tidak menyebar nomor ponselnya. Ini tidak bisa dibiarkan. "Pak Binar! Pak Binar! Ayo ambil ponselmu, perlihatkan wajahmu!" seru Ailee, gadis yang pagi- pagi sudah menelpon Binar. Di ponselnya hanya gelap saja, tidak tertera wajah Binar lagi. "Hey! Dari mana kamu mendapat nomor ponsel saya?" tanya Binar tanpa mengambil ponselnya terlebih dahulu. "Perlihatkan wajahmu dulu, Pak. Nanti akan kuceritakan bagaimana mendapatkan nomormu," jawab Ailee. Binar mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai, dia mendekatkannya ke wajah anaknya, bukan dirinya. Malas sekali jika memperlihatkan wajahnya kepada anak nakal itu. Clarissa bingung mendapati wajahnya tertera di laya ponsel, tapi dia juga senang melihat wajah orang yang sering bermain dengannya. "Bukan Clarissa, tapi wajahmu, Pak!" "Baby, suruh papamu memperlihatkan wajahnya," tambah Ailee yang justru ditertawakan Clarissa. "Nih, sudah!" Binar mendekatkan ponselnya ke hidungnya hingga Ailee pun hanya bisa melihat dua lubang saja, bukan wajah tampan Binar. Ada upil kecil pula, sungguh tidak aestethic. "Hufftt, Dasar!" "Cepat katakan dari mana kamu bisa mendapat nomor ponselku? Bikin emosi aku aja sih!" "Ciyee, panggilnya Aku dan Kamu, bukan Saya lagi..." ledek Ailee, Binar jadi salah tingkah. Begitu saja dipermasalahkan. Binar mengusap wajahnya dengan kasar, dia pun berusaha menahan emosinya. "Berhenti bercanda atau aku blokir nomormu?" ancam Binar. Dia berharap Ailee bisa berhenti menggodanya. "Jangan dong, nanti kalau Pak Binar diblokir kita nggak bisa video call lagi. Nanti kalau kangen gimana?" Fix, sebelum Binar naik darah lebih baik dia mematikan panggilan itu. Ponselnya segera dia matikan juga supaya tak terkecoh jika Ailee kembali menelponnya. Dia simpan benda pipih itu ke dalam kantung kemeja yang tengah dia kenakan. "Bin, Mama sudah selesai. Sini biar Mama jaga Clarissa. Kamu cepat berangkat, nanti telat," ujar Bu Melati menghampiri Binar dari dapur. Binar yang masih sedikit emosi pun berusaha seolah tidak terjadi apa-apa. Bu Melati mengambil alih Clarissa. Binar bisa segera berangkat setelah ini. "Siapa yang menelepon tadi? Kenapa sepertinya membuatmu marah, Bin?" tanya Bu Melati terheran dengan anaknya yang langsung memerah wajahnya usai menerima telepon, pasti Binar sedang marah. "Siapa lagi kalau bukan Ailee, Mah." Binar kemudian mengambil kunci motor dan menggendong tasnya. Dia sudah siap untuk ke sekolah. Tapi sebelum itu dia tentu saja berpamitan dengan anak dan Ibunya terlebih dahulu. Beruntung sekali kali ini Clarissa tidak menangis saat ingin ditinggal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD