Cantik tapi Aneh

1830 Words
Binar sudah tak bisa menahan emosinya lagi, dia menghampiri Ailee dan menarik tangannya. Binar menyeretnya menuju ke depan kelas dan menghadap siswa siswi yang sedari tadi mendengarkan penjelasan guru baru mata pelajaran matematika itu. Ailee yang menggodanya terus menerus harus diberi hukuman supaya dia tidak berulah lagi. Itu harapan Binar, tapi tidak tahu realitanya nanti bagaimana. "Ya, ampun! Tanganku dipegang sama pangeran! Ahhh, mimpi apa aku semalam!" seru Ailee. Bukannya takut tapi dia malah senang karena Binar menggenggam tangannya. Tangan Binar sangat kekar dan menggoda sekali. Ailee tidak mau melepasnya, tapi akhirnya genggaman Binar terlepas saat mereka sudah sampai di depan kelas. "Berdiri di sini, angkat satu kakimu dan tarik kedua telingamu!" seru Binar. Dia berharap dengan cara itu Ailee lekas tersadar dan tak lagi menggodanya karena itu sangat membuatnya tidak nyaman. "Iyah, tapi nanti kalau capek pijitin ya, Pak." Ailee cengengesan. Dia seolah malah senang saat dihukum karena pikirnya itu nanti akan membuatnya memiliki perhatian lebih dari Binar. Sementara Binar tak habis pikir dengan anak tersebut, yang malah semakin gencar menggodanya. Sebisa mungkin dia mengabaikan segala tingkah Ailee yang memang menjengkelkan. Mungkin Binar akan sering terserang darah tinggi jika Ailee terus bersikap demikian. Intinya, Binar harus terbiasa dengan lingkungan dan orang baru. "Oke, kita lanjut pelajaran. Abaikan saja teman kalian yang berada di depan jika kalian tidak mau dihukum juga!" Binar melanjutkan pelajaran dengan baik, begitu juga dengan para siswa siswi kelas itu berusaha menerima pelajaran dengan baik. Ailee juga tetap memperhatikan dan memahami apa yang disampaikan Binar, meskipun dalam kondisi masih dihukum karena slengean tadi. Dia yang pandai memang lebih mudah menangkap pelajaran meskipun kondisinya kurang nyaman baginya. Tiga puluh menit berlalu, Ailee sudah mulai lelah menopang tubuhnya dengan satu kaki. Tangannya pun gemetaran dan pegal karena harus menjewer telinganya sendiri. Tapi Binar malah sepertinya melupakan Ailee, lelaki itu asyik menjelaskan materi. Sebenarnya Ailee ingin membiarkan Binar sadar sendiri. Tapi, sudah cukup lama dirinya menunggu dan guru barunya tersebut tak kunjung sadar bahwa ada salah satu siswanya yang sedang dia hukum. Dia pun memberanikan diri memanggil dan membuat Binar tersadar. "Pak...." Binar pun menoleh kepada orang yang memanggilnya. Dia menatap Ailee yang berdiri tak tegap, goyang-goyang, dan hampir jatuh. Merasa kasihan, akhirnya dia segera membebaskan anak itu dari hukuman. "Duduk!" serunya cuek. Spidol hitam kembali berada di tangannya. Dia bersiap untuk melanjutkan pembelajaran. Gadis itu menghembuskan napas lega. Dia lalu kembali duduk di bangkunya. Bolpoin dan buku tulisnya segera dikeluarkan, dicatatlah apa yang berada di papan tulis sebelum dihapus oleh gurunya. Biasanya dia selalu malas untuk mencatat, akan tetapi kali ini berbeda. Ada hal lain yang membuatnya semangat meskipun materi yang harus dicatat sangatlah banyak. "Besok diulangi lagi ya, Nak," ledek Aiden yang kemudian langsung disentil Ailee. "Berani meledekku, aku akan mendoakanmu semoga sukses!" ancam Ailee. "Ancaman macam apa itu? Kalau begitu, semuanya juga mau kali," timpal Aiden terkekeh. Cetak! Spidol hitam mendarat tepat di kening Aiden, dia kemudian jatuh di lantai setelah membuat kening lelaki itu sedikit memerah. "Berdiri di depan!" perintah Binar kepada Aiden. "Jangan, Pak! Janji nggak akan berisik lagi," ucap Aiden seraya mengatupkan tangannya memohon. "Udah sana gantian ha-ha-ha, biar kamu ngerasain apa yang aku rasain tadi," ucap Ailee menyuruh Aiden. "Jangan ikut campur kamu tuh!" "Kamu mau berdiri di depan lagi?" Ailee langsung mendelik ketika Binar berbicara seperti itu, dia lalu berpura-pura mencatat sesuatu. "Ailee, Aiden, jangan berisik lagi! Ikuti pelajarannya dengan baik!" Sora terus saja memperingatkan Ailee supaya diam dan tak aneh-aneh. Hampir bosan karena saat pelajaran dia selalu memperingatkan anak kembar tersebut. Ailee dan Aiden memang susah sekali diam. Tapi, meskipun mereka selalu berisik dan asyik sendiri di kelas, mereka tetap bisa menerima pelajaran dengan baik dan selalu mendapat ranking kelas maupun paralel. Hal itulah yang membuat guru segan untuk memperingatkan atau memberi hukuman. Tidak heran pula jika Ailee dan Aiden merupakan idola di sekolah itu. Banyak yang berusaha mendekati mereka, tapi tak ada satu pun yang mampu menaklukkan hati anak kembar tersebut. "Jika kalian tak bisa diam lebih baik keluar dan tak perlu mengikuti kelas saya hingga ujian akhir." Kelas kembali kondusif setelah Binar memberikan ultimatum seperti itu. Satu setengah jam telah berlalu, bel pergantian mata pelajaran pun sudah terdengar. Segeralah Binar membereskan bukunya dan menutup kelas. Segala macam coretan di papan tulis berwarna putih itu dihapus sebelum dia berpamitan pada siswa siswi kelas tersebut. "Jangan lupa pelajari materi berikutnya, kelas saya cukupkan. Sampai bertemu hari Rabu." "Pak, boleh diulang nggak?" celetuk Ailee, semuanya pun menoleh ke arahnya. Binar mengernyit tak paham apa yang harus diulang. "Apanya yang harus diulang?" Binar bertanya karena memang tidak tahu apa maksud dari Ailee tadi. Dia jadi penasaran. "Senyumnya Bapak boleh diulang nggak?" jawab Ailee membuat semuanya bersorak. Binar tadi sempat tersenyum tapi tak berlangsung lama, oleh karena itu Ailee menyuruh untuk mengulangnya lagi. Senyumnya Binar sangat manis, Ailee jadi ingin melihatnya selalu. Guru matematika itu mengusap wajahnya secara kasar sebelum pergi meninggalkan kelas MIPA 1. Sebenarnya dia tak lelah meskipun harus mengajar seharian penuh, tapi untuk menghadapi Ailee dia rasa tak sanggup bila hanya satu atau dua jam saja. Ailee benar-benar membuatnya kesal. "Eh, kamu sama guru jangan gitu dong. Nggak sopan namanya," ucap Sora menyenggol lengan Ailee. "Biarin! Aku tuh lagi jatuh cinta! Pak Binar, I'm fall in love with you...." Ailee sudah seperti orang gila, dia menyangga dagunya dengan kedua tangannya, senyum- senyum sendiri membayangkan wajah tampan Binar. "Jangan gila jadi orang, tuh! Dia itu guru kita!" timpal Aiden. "Punya kekasih guru itu nggak masalah kok! Banyak yang seperti itu." "Tapi kan dia duda." "Dia itu perfect teacher and perfect duda!" ucap Ailee tak terima. Aiden dan Sora hanya bisa mengiyakan. Biarkan Ailee berbuat semaunya, lelah juga memberikan gadis itu pengertian. Jam istirahat pun tiba, Ailee dan Sora segera menuju ke kantin mengisi perut yang telah kosong. Sedangkan Aiden memilih untuk ke lapangan basket. Sudah lama dia tak bermain basket di lapangan sekolahnya. Antrian cukup panjang, Ailee dan Sora takut jika jam istirahat selesai sebelum mereka mendapatkan makanan untuk santap siang. Dan pada akhirnya mereka mendapat giliran untuk memesan makanan. "Bu Tut, bakso tanpa kuah seperti biasanya, ya," ucap Ailee kepada Bu Tutik, salah satu pemilik kedai di kantin yang menjajakan aneka ragam makanan bergizi serta lezat dan salah satunya adalah bakso. "Dari kelas sepuluh kok pesennya bakso tanpa kuah terus sih, Neng? Nggak mau nih sekali- kali pakai kuah?" Bu Tutik selalu berkata seperti itu, dia heran dengan Ailee yang enggan sekali untuk memakai kuah saat memakan bakso padahal rasanya akan jauh lebih nikmat. "Ish, kalau pake kuah malah nggak enak, Bu." Ailee selalu memberikan alasannya tidak menyukai kuah bakso, karena dia selalu merasa aneh jika ada kuah dan rasanya tidak enak. Jauh lebih enak jika tanpa kuah. Lima buah bakso berukuran sedang dengan tambahan bawang goreng serta potongan daun bawang kesukaan Ailee sudah siap, begitu juga dengan pesanan Sora. Tapi Sora memesan bakso seperti orang normal, tak seperti Ailee. "Gabung sama Kimmy sama Bryan yuk!" ajak Sora. Kimmy dan Bryan adalah anak kelas dua belas tapi berbeda kelas dengan Aiden, Ailee, dan juga Sora. Mereka merupakan sahabat dari kecil. Itu juga karena orang tua mereka sahabat sebelumnya. Semacam mengikuti jejak orang tua mereka dan akhirnya Sora, Aiden, Ailee, Bryan, serta Kimmy bersahabat pula dari kecil sampai saat ini. "Halo, cantik. Bagaimana hari pertama kalian?" tanya Kimmy riang seperti biasanya. Lucu, gokil, dan terkadang menjengkelkan, itulah Kimmy. "Seneng banget dong, apalagi wali kelasku itu tampan banget," jawab Sora. "Jangan terlalu memujinya, dia itu milikku. Jangan jatuh cinta apalagi mencoba mendekatinya," ucap Ailee membuat Sora memutar matanya karena malas. "Siapa sih emangnya? Kepo nih," ucap Bryan, lelaki yang sedari tadi duduk di samping Kimmy yang merupakan teman sekelasnya wanita itu. "Ah, itu orangnya!" Ailee berteriak menunjuk Binar yang saat itu membawa bakso dengan segelas jus jeruk dan mencari tempat duduk. Ailee langsung berlari menghampirinya, tak lupa membawa baksonya dan juga jus jeruk miliknya. Tanpa basa basi lagi, dia duduk di hadapan Binar yang kebetulan kursi itu kosong. Bryan, Sora, dan Kimmy hanya mengangahkan mulut mereka. Bahkan siswa siswi yang berada di kantin itu juga mengangahkan mulut. Berani sekali Ailee mendekati guru sampai seperti itu. Mereka mencoba memperingatkan Ailee untuk pergi dari sana, tapi anak itu malah cengengesan dan tak mau beranjak. "Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" seru Binar. Dia kesal sekali, kenapa dirinya selalu bertemu dengan anak yang selalu membuatnya darah tinggi. "Nggak ada sih, Pak. Inisiatif aku sendiri, aku kasihan lihat bapak makan sendiri jadi aku temenin deh," jawab Ailee sembari menggigit baksonya. Binar merasa risih, karena Ailee terus melihatnya saat makan. Ingin sekali dirinya pergi dari sana, tapi sudah tak ada tempat duduk lagi. "Pak Binar tampan banget, sih?" Ailee terus saja melontarkan kalimat pujian untuk Binar, dia tidak pernah bosan saat mengatakannya. Entah sudah berapa kali dalam sehari ini dia mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Ailee. Binar cepat-cepat menghabiskan baksonya, supaya bisa pergi dari sana. Jika tak segera pergi, yang ada Ailee akan semakin menjadi-jadi. Dia tak sengaja melihat mangkok Ailee yang ternyata tak ada kuah bakso dan mie di sana. Anak itu benar-benar aneh. "Kenapa senyum-senyum sendiri, Pak? Aku cantik ya," ucap Ailee kepedean, padahal Binar tersenyum karena melihat dirinya makan bakso tanpa kuah yang bagi lelaki itu sangat aneh. "Cantik tapi aneh!" batin Binar. Dia segera berdiri meninggalkan kantin. Baginya Ailee memang cantik, bahkan sangat cantik. Tapi di balik kecantikannya itu tersirat keanehan. Ailee menatapnya terkagum-kagum, menyorot lelaki itu hingga hilang dari pandangannya. Mau dilihat dari mana pun Binar tetap tampan. Ah, dia jadi ingin memilikinya. Pokoknya dia harus mendapatkan lelaki itu, batinnya menyeruak. Dia telah bertekad. Akan tetapi, apakah keinginannya itu akan terwujud mengingat banyak hal yang berlainan? Tidak hanya usia, tapi juga hal lainnya. Status mereka pun bertentangan, intinya kurang cocok untuk bersama. Hari itu Ailee sangat senang. Hari pertama dirinya duduk di bangku kelas tiga diberi kejutan tidak terkira. Wali kelas yang juga mengajarkan mata pelajaran yang dia sukai merupakan Binar, yang mana merupakan lelaki yang membuatnya jatuh hati. Sementara Binar sepertinya menyesal karena menyetujui untuk pindah sekolah. Akan tetapi, jika tidak ada Ailee mungkin dia akan betah dan lebih cepat beradaptasi. "Sabar, Bin! Anak yang seperti Ailee cuma satu di sekolah ini, dan mungkin di dunia juga," batin Binar berusaha menyemangati diri sendiri. Dia berharap tidak menemukan orang lain yang memiliki sifat seperti Ailee. Cukup anak itu saja yang membuatnya kesal. Guru Matematika itu berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya yang memang jauh dari tempatnya mengajar dulu. Sekolah dengan akreditasi Internasional sudah pasti bagus dan siswa siswinya juga berasal dari kalangan yang berada karena uang bulanan sekolah tersebut tidak main-main jumlahnya. Begitu pula dengan uang pangkal atau biaya untuk masuknya. Namun semuanya juga berimbas dengan apa yang didapat seperti fasilitas atau pun pelajaran. Intinya, siswa siswi di sekolahan itu dididik sebaik mungkin demi masa depan yang cemerlang. Cukup lama dirinya berkeliling kawasan sekolahan itu dan berusaha untuk mengenalinya. Benar-benar mengagumkan. Bangunan sekolahan sangat elit dan sepertinya dirancang oleh arsitek ternama. Bangunan sekolah tersebut tidak seperti sekolah pada umumnya. Sangat megah dan fasilitas serta pra sarana sangat mendukung untuk pembelajaran siswa siswi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD