Wali Kelas

1058 Words
Pagiku cerahku matahari bersinar, kugendong tas merahku di pundak... Hari ini adalah hari pertama kembali sekolah setelah berlibur panjang kenaikan kelas. Tak disangka, Aiden dan Ailee sudah duduk di bangku kelas tiga SMA. "Selamat pagi, Mamaku sayang, Papaku sayang..." sapa Ailee dengan riangnya. Seperti biasa, ia mengecup pipi kedua orangtuanya terlebih dahulu sebelum duduk dan menyantap sarapannya. "Kak Aiden di mana, Sayang?" tanya Pak Aksa karena tak mendapati anak lelakinya yang biasanya selalu bersama Ailee. "Tidak tahu, Pah," jawab Ailee, gadis itu tampak acuh dan langsung menyantap pancake dengan siraman cokelat sarapan favorite- nya. "Aileeeeeee!" teriak Aiden, lelaki itu berlari terburu- buru menuruni anak tangga dan menghampiri adiknya. "Aiden, hati- hati, Nak! Jangan terburu- buru," teriak Bu Aza kepada anaknya yang saat itu belum memakai seragamnya dengan benar, sepatu pun baru sebelah saja yang dipakai. "Ada apa kakakku sayang?" Aiden semakin marah dengan Ailee, ia langsung menjewer telinga adiknya yang sangat menjengkelkan itu. "Kamu ngerubah alarmku lagi, kan? Rasakan!" Aiden tak menghiraukan teriakan adiknya karena sakit telinganya dijewer. "Enggak, Kak!" Pak Aksa dan Bu Aza menghela napas melihat dua anaknya yang selalu saja bertengkar setiap paginya. Ailee sangatlah iseng, ia selalu merubah set alarm milik kakaknya. Aiden selalu mengatur alarmnya tepat pukul lima pagi, dan Ailee selalu merubahnya menjadi jam enam. Aiden memang tak bisa bangun jika tak ada alarm atau seseorang yang membangunkannya. Dan lagi- lagi, pagi ini Aiden dibuat bangun siang dan akhirnya tergesa- gesa mempersiapkan semuanya. "Ailee, jangan diulangi lagi. Kalau kamu sampai merubah alarm Aiden lagi, Mama akan memotong uang jajanmu." "Iya, Mah." "Dan Aiden, jangan langsung menghukum seseorang. Jika ada sesuatu bicarakan baik- baik, kasihan adikmu telinganya hampir putus tuh tiap pagi kamu jewer terus," seloroh Pak Aksa. "Biarkan saja putus, nanti aku ganti dengan telinga kambing sekalian!" "Jangan, Kak. Ganti telinga gajah saja yang lebih besar," ucap Ailee menggelakkan tawa. Usai sarapan, Ailee dan Aiden pun segera berangkat. Pak Aksa sudah memberikan mereka kebebasan untuk mengendarai mobil sendiri karena mereka juga sudah memiliki surat ijin mencintai, aduh salah, maksudnya surat izin mengemudi. Yang terpenting Aiden dan Ailee mematuhi semua peraturan. Aiden selalu menyetir mobilnya, ia tak membiarkan sang adik yang menyetir. Karena apa? Ailee jika mengendari mobil sangatlah berbahaya, ia selalu mengendarai di atas rata- rata membuat jantung Aiden hampir copot. Maka dari itu Aiden tak memperbolehkannya. "Sepertinya kita akan sekelas lagi," ucap Aiden setelah mobil terparkir di parkiran sekolahan. "Tak apa, bukankah itu sangat menyenangkan? Kita bisa belajar bersama dan mengerjakan tugas bersama." "Bosan! Tiap hari bertemu kamu terus!" "Hey, kita kan kakak adik, kembar lagi. Jadi wajar lah kalau bersama terus," cebik Ailee. Ia kemudian turun dari mobil mengikuti langkah kakaknya menuju ke papan pengumuman untuk melihat di kelas manakah mereka. Dan yang menarik perhatiannya adalah pada kolom wali kelas. "Binar?" tanya Ailee terheran- heran. Ia seperti tak asing dengan nama itu. Ah, ia baru ingat jika itu adalah nama lelaki yang kemarin ia temui. "Kita sekelas lagi?" tanya Sora, sahabat Aiden dan Ailee sedari kecil. "Iya nih, wali kelasnya Pak Binar. Dia siapa ya? Kok aku baru denger namanya?" "Mungkin guru pindahan," sahut Aiden. Bel tanda masuk pun berbunyi. Para siswa yang sedari tadi masih berada di luar kelas pun langsung berhambur masuk ke kelas masing- masing. Begitu pula dengan Aiden, Ailee, dan juga Sora. Bangku kelas telah penuh, tersisa tiga saja dan itu berada pada urutan paling depan. Aiden dan Sora pun biasa saja, tapi tidak bagi Ailee. Ia tak suka jika duduk di depan apalagi tepat di hadapan meja guru. "Tukeran yuk..." tawar Ailee kepada teman di belakangnya. Semuanya menolak, Ailee pun mendengus kesal. Kelas yang tadinya gaduh langsung senyap tatkala ada seorang laki- laki dengan paras menawan memasuki kelas. Siapa lagi jika bukan Binar Arusatya, lelaki itu merupakan guru baru di sana yang ternyata juga wali kelas 12 IPA Satu. "Ailee, lihat tuh siapa yang datang!" Aiden menggoyangkan Ailee, gadis itu masih kesal karena duduk di depan hingga acuh dengan siapa yang datang. "Apa?" tanya Ailee dengan malasnya. "Selamat pagi semuanya!" sapa Binar dengan senyum tipis membuat siswi di kelas itu ternganga karena pesonanya. "Pagi, Pak!" Ailee menatap tak percaya dengan lelaki yang berdiri di depan kelas. Lelaki dengan kemeja biru tua tanpa dasi itu sangatlah tampan. Lelaki yang beberapa waktu lalu ia temui, lelaki yang merupakan ayah dari Clarissa. "Selamat Pagi, Pak Binar yang tampan melebihi Lee Min Ho!" seru Ailee, ia berdiri dan memberi finger love kepada Binar. Semuanya pun lantas tertawa, Ailee benar- benar tak tahu malu. "Siapa yang menyuruhmu berdiri? Dan itu kenapa tangannya gitu? Minta duit?" sahut Binar menggelakkan tawa. "Ailee jangan mempermalukan dirimu sendiri! Duduklah!" gertak Aiden yang mampu membuat Ailee patuh. Gadis itu pun kembali duduk di tempatnya, senyumnya terus mengembang menatap Binar yang sudah seperti artis. Binar menggelengkan kepalanya menatap Ailee yang sedari tadi senyum- senyum sendiri. Ia tak habis pikir jika dirinya akan dipindahkan di sekolah ini. Sekolah yang menjadi tempat belajar Aiden dan Ailee. Anak kembar yang membuatnya kesal. Lelaki itu lalu memperkenalkan dirinya. Sebagai guru baru sekaligus wali kelas, ia harus pandai- pandai beradaptasi. SMA itu merupakan sekolah elit, mayoritas siswa serta siswinya adalah anak orang berada. Beda jauh dengan tempat mengajarnya dulu yang sangat sederhana. "Saya rasa sudah cukup perkenalannya. Dan mulai hari ini kelas sudah bisa dimulai," ucap Binar. Nama, status, alamat, hobi, dan lain sebagainya sudah ia jelaskan. Para siswanya pun tampak antusias mendengarkan, bahkan banyak siswi yang mencatat biodata Binar, termasuk Ailee. "Pak, masih kurang nih. i********:, w******p, dan ID Tik Toknya belum," celetuk Ailee. Para siswi di kelas itu pun bersorak mengiyakan, mereka juga ingin mengetahui media sosial milik Binar. "Tidak ada! Kelas sudah bisa dimulai hari ini, kebetulan sekali mata pelajaran kalian adalah Matematika dan saya sendiri yang akan mengampu." Binar lalu mengambil spidol dan menuliskan nama materi yang akan ia jelaskan. "Jangan pelit- pelit dong, Pak," rengek Ailee. "Emangnya kalau kamu udah dapet mau diapain? Paling juga kalau chat Pak Binar cuma dibaca doang!" ujar Aiden. "Hahaha, bener tuh! Jangankan dibalas, dibaca aja enggak," timpal Sora tertawa meledek. "Kalian bertiga kalau tidak bisa diam lebih baik keluar dari kelas ini!" gertak Binar menunjuk Aiden, Ailee, dan Sora yang sedari tadi malah mengobrol. "Nomor w******p dulu nanti baru bisa diam hehe..." Ailee cengengesan, ia menyangga dagunya menatap Binar yang semakin tampan saat emosi melanda. Lelaki itu pun sudah tak bisa menahan emosinya lagi, ia menghampiri Ailee dan menarik tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD