Kedai Kopi

1902 Words
Setelah makan, Binar langsung menuju ke kedai kopi miliknya dengan Clarissa yang tetap di gendongan. Sedangkan Ailee, terus saja mengikutinya di belakang. Dia ingin sekali menggendong Clarissa, tapi Binar belum memperbolehkannya. Sepertinya seorang Ayah itu masih mau bermanja-manjaan dengan anaknya sendiri. Kedai kopi tersebut dibangun tidak jauh dari rumah tempat tinggal Binar dan juga tidak jauh dari panti asuhan. Selain hanya ada lahan kosong di sana, Binar juga memiliki kesempatan untuk bisa mengawasi anak-anak panti maupun anaknya sendiri. Itu semacam sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitu yang berada di benak Binar. "Kenapa nggak pulang? Nanti dicariin Mama sama Papamu," seru Binar. Dia heran karena Ailee terus saja mengikutinya, seolah tidak ada pekerjaan dan tidak akan ada yang mengkhawatirkannya jika tidak pulang. "Kalau Kak Aiden belum pulang, aku juga belum, Pak. Nanti Kak Aiden bakalan jemput aku ke sini kok, tenang aja," jawab Ailee. Dia baru teringat bahwa Kakaknya itu tadi pergi latihan bersama Sora, makanya belum pulang. Dia lalu beralasan untuk pulang bersama Aiden jika sudah selesai. Dengan begitu baik dirinya maupun sang kakak tidak akan kena marah oleh Mama dan Papanya. Binar pun acuh, dia membiarkan muridnya itu berbuat semaunya. Lagi pula, orang seperti Ailee memang susah diperingati. Apa yang dia inginkan maka harus tetap terwujud. Begitu salah satu sifat yang dimiliki Ailee yang juga diketahui dengan baik oleh Binar. Ailee menurunkan kursi yang diletakkan di atas meja, dia pun duduk dan bermain dengan Clarissa. Sedangkan Binar berbenah dan mempersiapkan semua keperluan kedai kopinya. Beragam kue pun tidak lupa disajikan di kedai. Kursi yang diletakkan di atas meja juga sudah diturunkan dan ditata sedemikian rupa. Semua alat dan bahan untuk membuat kopi telah tersusun rapi di tempatnya. Dia pun sudah selesai menyapu dan mengelap meja. Kini dirinya tinggal membuat gorengan seperti bakwan, mendoan, dan gorengan lain. Kopi dan gorengan memang sangat serasi dan cocok, mereka tak bisa dipisahkan. Kedai kopi kampung memang tidak akan jauh dari gorengan. "Pak Binar, kopi pahit satu, ya! Seperti biasa!" seru Pak RT seraya duduk di kursi yang telah disediakan. Dia kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memainkannya. Sepertinya sedang membalas chat dari saudara atau rekan kerjanya. "Tumben rapi, Pak? Dari mana mau ke mana nih?" tanya Binar, tidak lupa melayangkan senyum pada pembeli pertama sejak kedai kopi buka hari itu. Tidak hanya kepada pengunjung pertama, tapi Binar juga ramah dengan pengunjung lainnya. Karena kodrat sebagai penjual memang harus melayani pengunjung layaknya seorang raja. "Hehehe, tadi habis kondangan di kampung sebelah, Pak. Anak Pak RT kampung sebelah itu ternyata sudah akad nikah enam bulan lalu, tapi baru hari ini tadi acara resepsi," jawab Pak RT. Obrolan pun berlanjut, Ailee mendengarkannya dengan seksama. Jarang sekali dia mendengar obrolan seperti itu. Biasanya yang dia dengar hanyalah obrolan Mama serta Papanya yang membicarakan bisnis, bisnis, dan bisnis. Tidak hanya Papa atau Mamanya, tapi juga Oma dan Opa serta saudara yang lain. Maklum, keluarga itu memang penggila bisnis. Beragam bisnis digeluti dengan baik dan akhirnya bisa sukses. Keluarga Ailee sebenarnya tidak menomor satukan penghasilan, tapi mereka hanya ingin membantu orang lain. Yakni dengan membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin supaya masyarakat bisa meningkatkan taraf kehidupan dengan baik. Secangkir kopi hitam telah siap, Binar menyodorkannya kepada Pak RT yang menunggunya sedari tadi sembari mengobrol ringan. Kopinya masih panas, Pak RT menuangnya sedikit di cawan. Dia tiup sebentar dan kemudian diseruput hingga kopi di cawan tandas. Tentu saja sebelumnya dihirup aroma kopi itu sejenak. Aroma kopi memang tidak ada tandingannya. Seakan menjadi obat pula dari segala lelah, dan terkadang juga dijadikan pembangkit semangat setiap individu. Dan bagi para penikmat kopi memang tidak puas jika belum menghirup aroma kopi sebelum diteguk hingga tandas. "Ah, mantab! Kopi Pak Binar ini memang berbeda, rasanya luar biasa," katanya setelah meneguk kopi buatan guru matematika itu. Terkagum-kagum karena kopi Binar memang senikmat itu. Selain nikmat, harganya pun terjangkau. Tidak heran jika pengunjung akan selalu kembali lagi di lain hari. "Mas Binar, esspreso macchiato satu, ya, kaya biasanya," ucap gadis berambut ikal yang baru saja datang dengan sepeda motor berwarna putih yang diparkirkan di parkiran kedai kopi. Dia kemudian mengambil ponselnya dan membuka kamera. Cukup lama dia memilah dan memilih efek mana yang bagus, kemudian dia beraksi. "Okeeyyy, guyyysss, sore ini aku lagi di kedainya Mas Binar nih. Biasalah ngapelin doi, hihi. Lihat tuh... Mas Binar lagi bikinin aku espresso macchiato! Kalian pokoknya harus coba guys, kopi- kopi di sini itu enak banget dan murah lagi. Yuk langsung kepoin aja, yang mau alamatnya jangan lupa komentar, ya..." Gadis itu nge- vlog, membuat Ailee sedikit cemburu karena dia juga tak segan menyandarkan kepalanya di bahu Binar saat nge- vlog tadi. Beruntung tidak lama, tidak sampai sepuluh menit. Kalau gadis itu melakukannya lebih dari sepuluh menit, maka sudah dipastikan Ailee akan seperti cacing kepanasan karena terbakar api cemburu. "Makasih ya, Mbak, sudah di promoin," ujar Binar. Espresso Macchiato yang diletakkan di cup telah siap, gadis itu segera membayarnya dan pergi dari sana. Ternyata, tak hanya kopi hitam favorite para bapak- bapak saja yang dijual di kedai kopi milik Binar, tetapi juga berbagai macam kopi yang juga digendrungi para kaum intelektual muda seperti caramel macchiato, espresso macchiato, americano, latte, dan lebih banyak lagi yang lainnya. "Pak, aku juga mau espresso macchiato-nya dong!" seru Ailee. "Mau dibanyakin espressonya atau susunya?" tanya Binar. "Banyakin susunya, Pak." Ailee menyahut dengan cepat, dia tidak sabar mencoba kopi buatan Binar. Binar pun mengangguk, Ailee menyaksikannya dengan seksama bagaimana lelaki itu menyajikan kopi pesanannya. Binar sudah terlihat seperti barista ternama. Tampan, lihai, dan menggoda. Begitu karakter Binar yang sepertinya juga dimiliki oleh para barista di berbagai kedai kopi yang tersebar. "Nih..." ucap Binar menyerahkan espresso macchiato ke depan Ailee. Gadis itu pun langsung meneguknya, dia tak sabar mengetahui bagaimana rasanya. Aromanya sudah seperti aroma kopi di kedai ternama. Seteguk kopi membuat mata Ailee berbinar. Lebih enak daripada kopi buatan di kedai ternama yang sering dia kunjungi. Sungguh, dia tidak berbohong. Pantas saja pengunjung sangat menyukainya. Sepertinya Binar akan mengalahkan kedai kopi lain. Tak perlu waktu lama, para pelanggan Binar berhamburan datang dan memesan kopi yang mereka inginkan. Mayoritas pelanggannya adalah anak muda. Kedai itu dijadikan mereka tempat nongkrong atau sekadar mengerjakan tugas. Mereka datang bersuka ria dengan teman sebaya. Ada pula yang memilih sendirian karena ingin menikmati waktu yang ada untuk dirinya sendiri. Yang jelas, kedai kopi itu ramai sekali. Bahkan beberapa di antaranya ada yang tidak kebagian meja kursi dan akhirnya memilih untuk pergi sejenak dan akan kembali lagi jika sudah ada meja dan kuris yang kosong. Melihat Binar kewalahan melayani pelanggan, Ailee pun berinisiatif membantunya tapi sebelum itu dia menitipkan Clarissa kepada Bu Melati terlebih dahulu. Memang tidak pernah menyentuh alat-alat kopi sebelumnya, tapi ada hal yang bisa dilakukannya. Yakni mengantarkan kopi yang sudah disiapkan Binar kepada pengunjung. Binar memberikannya celemek supaya seragam Ailee tak kotor. Dia menyuruh gadis itu untuk membawakan kopi ke para pelanggannya saja. Cukup terbantu, dia pun jadi tidak keteteran. Justru Binar sangat senang karena mendapat bantuan gratis dari Ailee. "Pak, sepertinya Pak Binar harus renovasi kedai kopinya biar lebih besar deh. Lihat tuh, ada yang nggak kebagian tempat duduk," ucap Ailee. Di sana hanya ada beberapa tempat saja oleh karena itu jika ramai banyak yang tak kebagian. Beberapa di antaranya bahkan memesannya ketika pagi atau sehari sebelumnya demi bisa menikmati sajian kopi milik Binar. "Maunya sih gitu, tapi uangnya belum cukup buat renovasi," sahut Binar. Kedai kopinya memang mungil dan sempit. Sudah jauh-jauh hari dirinya ingin merenovasi atau pindah ke lokasi yang jauh lebih besar. Akan tetapi uang miliknya selalu tidak cukup karena terkadang terpakai untuk kebutuhan lain yang memang lebih penting. "Aku bisa membantumu!" Ailee berkata sungguh-sungguh karena dirinya memiliki rencana hebat. "Bantu apa? Anak kecil nggak usah ikut campur urusan orang dewasa!" "Aku ingat kalau toko kue Oma Aira itu sebenernya ada coffee barnya, dan itu udah lama nggak berjalan. Gimana kalau Pak Binar ke sana? Nanti aku bantu bilang ke Oma Aira jika Pak Binar mau. Oma Aira pasti juga senang karena coffee barnya tidak akan menganggur lagi." "Saya mana ada uang buat nyewa tempatnya. Sudah jangan aneh-aneh, nih anterin ke mas-mas bertopi!" ucap Binar menyodorkan nampan berisikan kopi dan snack kecil, obrolan dengan Ailee terputus seketika. Ailee pun mengangguk, dia segera melaksanakan perintah Binar. Para pengunjung sangat mengagumi keramahan Ailee ketika melayani. Mungkin karena selain ramah, Ailee juga cantik dan manis hingga membuat pengunjung betah. Pengunjung yang sering ke sana pun merasa heran dengan kehadiran Ailee. Biasanya memang tidak ada yang membantu Binar, tapi kali ini ada yang membantunya— gadis cantik yang sangat ramah pula. Banyak pula yang menyukainya. "Wahhh, ramai sekali kedaimu kali ini, Bin," seru Melati dengan senyum yang merekah melihat para pelanggan Binar. Dia senang karena semakin hari kedai milik anaknya itu semakin ramai pengunjung. "Itu karena ada Ailee..." jawab Ailee dengan kepercayaan diri level tinggi. Binar dan Bu Melati terkekeh menanggapinya. "Ya ya ya, terserah kamu saja!" Binar terkekeh, tangannya mengacak-acak rambut Ailee karena gemas sekali. Ailee terkejut tak menyangka jika Binar akan seperti itu. Rambutnya yang diacak- acak, tapi hatinya yang tak karuan rasanya. Begitu yang sedang dirasakan Ailee. Sepertinya tidak hanya Ailee saja yang merasa demikian, tapi juga para gadis lain yang tentu saja senang karena mendapat keromantisan dari orang yang disukainya setengah mati. "Pak! Jantungku mau copot!" teriak Ailee mengusap dadanya yang berdetak tak normal. Masih tak percaya dengan perlakuan Binar padanya. Perlakuan yang sering didapat dari Papa, kakak, dan keluarganya yang lain, tapi baru kali ini mendapat perlakuan tersebut dari orang lain yang juga sangat disukai Ailee. "Ehem... ehem..." Bu Melati terus menggoda mereka hingga Binar jadi salah tingkah sendiri dan malu. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam terparkir mulus di depan panti. Ya, Aiden yang datang. Dia hendak menjemput Ailee. Lelaki itu baru saja selesai latihan dan langsung menghampiri adiknya sesuai pesan singkat tadi. Tadinya Aiden berpikir bahwa Ailee akan memesan ojek online dan segera pulang. Tapi ternyata saudara kembarnya itu malah pergi ke rumah Binar. Pandai sekali memanfaatkan kesempatan yang ada. "Pak, aku pulang dulu, ya. Jangan kangen..." pamit Ailee kepada Binar. Dia merasa geli sendiri dengan perkataannya yang dipikir-pikir terlalu lebay. Tapi tak masalah, itu hanya berusaha untuk menghibur Binar. "Kalau ngomong tuh yang bener!" Binar malah menyentil kening Ailee, entah hari ini sudah yang ke berapa kalinya ia menyentil gadis itu. Tapi Ailee tidak mempermasalahkan, dia justru senang meski terkadang sedikit sakit. Ailee enggan untuk pergi dari sana, sebenarnya dia ingin lebih lama lagi bersama Binar dan Clarissa. Tapi tak apa, masih ada hari esok. Apalagi besok adalah hari libur, Ailee bisa main seharian penuh dengan Clarissa. Ya, Ailee akan memanfaatkan liburannya dengan bermain bersama Clarissa sembari mengapeli Binar. "Bye, Pak Binar tampan," ucap Ailee sebelum masuk ke mobil. Dia memperlihatkan jari tangannya yang membentuk finger love— yang juga sering dilakukan oleh orang Korea. Binar langsung mengambil sandalnya dan bersiap melemparkannya kepada Ailee, gadis itu pun buru-buru memasuki mobil. Dia terpingkal- pingkal melihat ekspresi guru tercintanya itu. Lucu sekali melihat ekspresi Binar yang seperti itu, rasanya Ailee jadi ingin melihatnya setiap waktu. Mobil pun perlahan meninggalkan rumah Binar, sesekali gadis itu melirik Binar melalui kaca spion hingga hilang dari pandangan. Hari ini ada banyak hal yang dilalui dengan Binar, semuanya menyenangkan. Apalagi saat membantu lelaki itu melayani para pembeli. Dan terlebih lagi tatkala Binar gemas dan mengacak-ngacak rambutnya. Ah, gadis itu bisa saja tak tidur semalaman dan akan terus memikirkannya. Dan mungkin saja dia tidak akan keramas supaya jejak tangan Binar tidak hilang dari rambutnya. Ah, anak remaja itu benar-benar dimabuk cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD