Akhir Pekan

1788 Words
Hari Sabtu, hari yang selalu dinantikan. Kedatangannya dirasa cukup lama. Semua orang menantikannya. Penat bekerja ataupun sekolah seakan lenyap jika hari itu datang. Semuanya pun berusaha menikmatinya karena akhir pekan tak berlangsung lama. Entah itu menghabiskan waktu untuk bersantai dengan keluarga, berolahraga, berwisata, dan masih banyak lagi cara untuk menikmatinya. Pagi itu, Ailee sudah bersiap untuk mengayuh sepeda menyusuri jalanan ibukota. Dia sengaja bangun seperti biasanya, yakni pagi sekali meskipun ini akhir pekan. Tapi, akhir pekan kali ini akan dia pastikan berbeda dengan akhir pekan biasanya. Topi berwarna putih melekat di kepalanya. Rambutnya diikat setengah seperti biasa. Sweater berwarna mustard atau yang kerap dikenal sebagai warna kuning kunyit itu dipadukan dengan celana pendek setengah lutut berwarna hitam melekat cantik di tubuhnya. "Pakai parfum biar wangi dan Pak Binar suka, ehe..." ucapnya seraya menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Hampir habis setengah botol, dia pun jadi pusing sendiri saat kembali mencium tubuhnya. Benar-benar aneh dan akan membuatnya mabok kepalang. "Harusnya aku memakai dua atau tiga semprot saja..." Keluhnya ketika kembali mencium aroma yang menyengat di tubuhnya. Ingin sekali berganti baju dan mandi lagi, tapi itu hanya akan menghabiskan waktu saja. Dia membiarkannya begitu saja. Nanti juga akan hilang jika terkena angin atau berkeringat saat mengayuh sepeda. Tapi tidak tahu juga kalau parfum itu tetap melekat sempurna di tubuhnya. Biar saja. Pintu kamarnya pun segera dia buka, kakinya melangkah menuju ke ruang santai yang kemungkinan Papa atau Mamanya berada di sana. Dia harus meminta izin dulu supaya pulang-pulang tak dimarahi. Pernah dulu pergi tak izin, dan pulangnya dia langsung jadi bahan omelan sang Papa dari pagi ke pagi berikutnya. Ailee sampai lelah mendengar beragam omelan yang tidak ada habis-habisnya. Tapi dia memaklumi karena Papanya itu hanya khawatir dan tidak mau dirinya kenapa-kenapa. "Pah, Ailee mau bersepeda keliling sekitar sini. Boleh?" ucapnya membuat Papanya yang sedang memakai sepatu olahraga itu terhenti dan menatap dirinya. Sepertinya Pak Aksa juga akan berolahraga akhir pekan ini. "Papa juga mau bersepeda sama Mama, nggak mau barengan aja?" Ucapan papanya itu membuatnya masygul. Kalau dia barengan sama Papa dan Mamanya, pasti tak bisa bertemu dengan Binar. Ah, tidak, tidaaakk. Itu tidak boleh terjadi. Kali ini dirinya harus pergi sendiri dan mencari kebebasan untuk dirinya. "Ailee berangkat duluan aja, Pah. Sampai bertemu di jalan!" seru Ailee, dia berlari secepat mungkin setelah mencium tangan Papanya. Takut jika tetap dipaksa untuk bersepeda bersama Papa, Mama, dan Kakaknya, Aiden. "Aneh, biasanya juga barengan. Kenapa sekarang anak itu maunya sendiri?" gumam Pak Aksa. Dia menggelengkan kepala melihat kelakuan salah satu anaknya itu. "Bukannya kamu juga malah senang ya karena kita nanti bisa berduaan?" sahut Bu Aza dengan senyum menggoda. "Ehh, iya sayang..." Aksa merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya ke garasi untuk mengambil sepeda. "Masih ada Aiden, Pah, Mah," celetuk Aiden dengan sedikit kesal. Tentu saja kesal, karena dirinya dilupakan Papa dan Mamanya. "Upss...." Pak Aksa dan Bu Aza benar-benar lupa dengan anaknya yang satu itu. Mereka pun membiarkan Aiden pergi sendiri karena mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja karena sudah lama tidak menikmatinya. Mereka ingin kembali mengenang masa-masa dulu yang romantis. Jalanan rumah Binar pagi itu sangat sepi, hanya terlihat satu dua pengendara sepeda saja. Berbeda dengan komplek perumahannya yang malah ramai ketika hari Sabtu atau Minggu datang karena semua orang keluar untuk berolahraga setelah lelah dengan pekerjaan dan berbagai kegiatan lain selama berhari-hari. Kayuhannya dipercepat, dia sudah tak sabar bertemu dengan guru matematika idola sekolah. Pemandangan yang indah, Binar sedang berada di depan rumah dengan selang air di tangannya. Lelaki itu tengah menyirami tanaman yang sepertinya kehausan karena semalam tak turun hujan. Jika tidak ada kesibukan lain, Binar memang menyempatkan diri untuk membantu merawat tanaman Ibunya. Tidak ada salahnya pula menyirami tanaman yang telah mempercantik halaman rumahnya. "Pak Binar!" teriak Ailee. Kayuhan sepedanya mulai lambat karena dia sudah lelah. Binar terkejut, dia segera mematikan keran airnya dan berlari masuk ke rumahnya tak lupa menutup pintunya rapat-rapat. Sudah seperti melihat setan saja. Ailee pun cemberut dan langsung memarkirkan sepedanya di depan rumah Binar dengan baik. Kemudian gadis itu mengetuk pintu rumah berharap Binar mau membuka dan mempersilakannya masuk. "Pak Binar, bukain dong. Ailee mau bertemu dengan Clarissa...." Tak ada sahutan dari dalam. Bu Melati pun entah di mana dan sepertinya wanita itu sedang mengurus anak-anak panti. Ailee mengatur napasnya sebelum ia kembali berteriak. Dia berteriak sekencang mungkin berharap Binar mendengarnya. Tapi sepertinya Binar berpura- pura tidak mendengarnya kali ini. "PPPAAAAAKKKKK BBBBIIIIIINNNNAAAAARRRR, BU-" teriakannya terhenti karena pintu terbuka, terlihatlah lelaki yang tengah menyirami bunga tadi sembari menutup telinganya yang sepertinya sakit mendengar teriakan Ailee. Memang suara Ailee menyakitkan, apalagi jika sudah berteriak. Mungkin satu kampung mendengarnya. "Ohhh, jadi Pak Binar tadi masuk gara- gara malu nggak pakai baju?" goda Ailee. Binar tadi hanya memakai kaos dalamnya saja, dan sekarang lelaki itu sudah memakai sweater yang ternyata warnanya juga sama dengan sweater yang Ailee pakai. Mustard atau kuning kunyit. "Pak Binar sengaja kan tadi nggak pakai baju gara-gara pengen lihat Ailee pakai baju warna apa dulu biar samaan bajunya? Couple-an gitu, iya kan iya kan????" Ailee jadi malu sendiri, hatinya bergejolak luar biasa padahal hanya memakai baju dengan warna yang sama. Binar pun melirik bajunya dan baju yang Ailee pakai, dia tadi buru-buru dan asal mengambilnya, tak disangka malah sama warnanya. Sial. Pantas saja gadis itu berpikiran yang tidak-tidak. "ALLAHU AKBAAAARRRRR!" seru Binar menepuk keningnya, dia pun kembali masuk dan menutup pintunya hendak berganti baju supaya Ailee tak lagi berpikiran yang aneh-aneh. Tidak lupa mengunci pintunya supaya anak itu tidak menyelenong masuk. "Ehhh... Kok ditutup lagi pintunya?" Ailee kembali sedih karena Binar mengabaikan dirinya dan tidak memperbolehkannya masuk. Dia pun bersiap untuk berteriak lagi memanggil Binar. Belum sempat berteriak, tak lama kemudian, Binar kembali membukakan pintu untuk Ailee. Dan lelaki itu telah mengganti bajunya yang semula memakai sweater mustard, kini memakai sweater biru langit. "Yahh, kok ganti baju, sih? Yaudah deh nggak papa, baju Pak Binar biru, tapi celana yang dipakai hitam celanaku kan juga hitam. Tetap ada yang sama, ciyeeee ciyeee..." seru Ailee cengar cengir sendiri. Padahal sebenarnya itu hal biasa, tapi gadis itu menganggapnya luar biasa. Ailee memang menggemaskan, tapi bagi Binar juga cukup menyebalkan. Binar mengucap istighfar berulang kali di dalam hatinya dan menghela napas panjang. Dia kemudian berlalu mengganti celanannya dengan warna beige supaya tak sama dengan Ailee. Intinya tidak boleh ada yang menyamai gadis itu supaya Ailee tidak semakin menggila. "Yahh, kok diganti sih celananya. Jadi nggak ada yang samaan dong kita." Keluh Ailee itu tak dipedulikan Binar lagi, dia berlalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti. Masih ada banyak tanaman yang belum disapa air. Menunggu Binar menyirami tanamannya, Ailee duduk di teras menyangga dagunya dengan kedua tangan. Matanya terus menatap lelaki itu. Sayang sekali tak membawa ponsel, harusnya Ailee memotret kegiatan Binar. Lumayan juga fotonya nanti bisa jadi penghantar tidur. "Wahhh, ada aunty cantik, Sayang," celetuk Bu Melati. Wanita itu mendorong kereta bayi Clarissa mendekati Ailee. "Hai Clarissa...." Ailee senang sekali akhirnya yang dia tunggu- tunggu tiba juga. Dia beranjak dari duduknya dan menghampiri Clarissa yang juga terlihat girang di kereta bayinya. "Ibu masuk dulu ya, Nak," ucap Bu Melati berpamitan dengan Ailee. Sepertinya ada hal yang harus dilakukannya. "Clarissa, kamu dari mana? Kok nggak ngajak, sih?" tanya Ailee sembari memberikan kecupan di dua pipi anak itu dengan gemas. Dan Clarissa hanya tersenyum, dia selalu senang saat dicium Ailee dengan penuh cinta dan sayang. Ailee selalu saja mengajak anak itu mengobrol meskipun tidak akan ada jawaban selain senyum atau celotehan kecil. Namun, yang dia tahu mengajak bayi mengobrol adalah hal yang baik yang akan meningkatkan kemampuan bayi. Dia yang cerewet memang sulit untuk diam dan selalu mengajak Clarissa mengobrol. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, pasti kecerewetan Ailee akan menurun pada Clarissa. "Dia mana bisa menjawabnya! Ada ada saja kamu ini," sahut Binar menghampiri anaknya. Dan memberi Ailee ultimatum supaya tak menggoda anaknya. Tapi sepertinya tetap tidak menghentikan Ailee yang memang selalu gemas dengan Clarissa. "Jangan terlalu gemas dengan Clarissa." "Lepasin, Pak," seru Ailee ketika tangannya dicekal Binar. Usai dilepas, Ailee pun langsung menghampiri dan mencium pipi gembul Clarissa. Berulang kali dan setiap kecupan lama sekali. Ailee benar-benar tidak mau berhenti. Pipi gembul itu membuatnya candu sekali, Ailee jadi ingin mengecupnya setiap saat. "Kamu mau aku gendong? Yuk, yukkk...." Melihat Clarissa mengulurkan kedua tangannya, Ailee pun hendak menggendongnya. Tapi kalah cepat dengan Binar, lelaki itu terlebih dahulu menggendong anaknya. Tentu saja Clarissa terlihat bingung karena Papanya yang menggendong dirinya, padahal seharusnya gadis cantik yang selalu membuatnya senang tiap bertemu. Clarissa hampir menangis karena realitanya tak sesuai dengan ekspektasinya tadi. Menyebalkan. "Jangan sama dia ya, nanti ketularan nggak waras," bisik Binar kepada Clarissa. "Ah, menyebalkan sekali!" Binar mengecupi Clarissa tanpa ampun, dirinya juga tak membiarkan Ailee untuk melihatnya. Lelaki itu terus menghindar saat Ailee hendak melihat Clarissa. Nakal sekali sampai Ailee jadi kesal dan ingin memberi pelajaran untuk Binar. "Baby, kenapa papamu menyebalkan huhuuu..." Ailee kesal, dia berusaha melihat Clarissa, tapi selalu dihalangi tubuh kekar Binar. Ailee tidak bisa melihat Clarissa sama sekali. Ah, ini menyebalkan, padahal dia datang untuk menemui Clarissa. "Baby...." Dan Binar pun terus menghalangi Ailee, dia terkekeh melihat Ailee yang hampir putus asa karena tak bisa melihat Clarissa. Akhirnya Ailee mempunyai ide, dia menggigit kuat-kuat lengan Binar. Tak peduli lagi. Yang penting kekesalannya diluapkan. "Argghhhh, kenapa kamu menggigitku?!" Lelaki itu pun mengaduh. Dan saat seperti itu Ailee buru-buru mengambil alih Clarissa dan membawanya masuk ke rumah meninggalkan Binar yang masih kesakitan dengan gigitan di lengannya. "Baby, ayo kita pergi. Jangan sampai Papa memisahkan kita lagi, Okay?" ucap Ailee lebay. Dia menutup pintu rumah Binar rapat- rapat membuat Binar menggelengkan kepalanya, akan tetapi senyumnya justru terukir indah. Binar tak habis pikir, seharusnya Ailee yang dia kunci di luar tapi kenyataannya malah dirinya yang dikunci. Ah, sangat menggemaskan. "Hey, ini rumah siapa? Bukain nggak?" seru Binar menggedor-gedor pintu rumahnya. Para tetangga yang tak sengaja lewat pun terheran-heran melihat Binar yang berusaha masuk ke rumahnya sendiri. Aneh sekali, apa Binar sudah gila? Aih, ada-ada saja. "Pak Bin, di rumah sendiri kok gedor-gedor pintu, sih?" tanya salah satu dari gerombolan Ibu-ibu yang baru saja selesai dari tukang sayur depan gang. Mereka terkekeh melihat Binar. Ada yang merasa aneh juga melihat Binar seperti itu. "Ah, ini pintunya sedikit rusak, Bu," jawab Binar sekenanya. Dia jadi malu sendiri dibuatnya. Beruntung gerombolan Ibu-ibu itu segera pergi. Tapi Binar yakin bahwa Ibu-ibu itu sudah berpikiran yang tidak-tidak padanya. Ah, terserah. Ceklek Pintu pun terbuka, nampaklah wajah sangar Ailee. Tangan kirinya menggendong Clarissa, sedangkan tangan kanannya bergerak mengancam Binar. Dia gerakkan telunjuknya untuk mengitari lehernya bermaksud akan membunuh Binar jika dirinya macam-macam lagi. "Dasar nggak waras!" Binar kesal dengan Ailee. Ingin sekali memberinya pelajaran yang setimpal. Cetak! Kesal dengan gadis itu, Binar langsung menyentil keningnya hingga memerah. Kebiasaan Binar terhadap Ailee selama mengenalnya, yakni menyentilnya dengan harapan lekas sadar. "Sakit, Pak! Ini namanya sudah KDRT!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD