Pasar Tradisional

1798 Words
Cetak! Kesal dengan gadis itu, Binar langsung menyentil keningnya hingga memerah. Kebiasaan Binar terhadap Ailee selama mengenalnya memang seperti itu. "Sakit, Pak! Ini namanya sudah KDRT!" Ailee mengusap keningnya yang memerah. Dia marah dengan Binar yang selalu saja menjadikan keningnya itu sebagai sasaran. "KDRT apanya? Emangnya kamu siapa saya? Jangan ngawur deh jadi orang!" Binar langsung masuk dan tak menghiraukan Ailee lagi. Dia bersiap untuk pergi ke pasar membeli keperluan kedai dan anak- anak panti. Kebiasaan ketika akhir pekan memang seperti itu. Binar akan berbelanja sendiri ke pasar tradisional untuk membeli segala kebutuhan untuk minggu berikutnya. "Aku kan calon istri Pak Binar dan calon Mama barunya Clarissa! Jangan nakal dong!" sahut Ailee seraya mengikuti langkah Binar. Dia memberi alasan sekenanya. Tapi dirinya memang menginginkan hal tersebut, yakni menjadi istri Binar dan Mama baru bagi Clarissa. Sementara Binar menggelengkan kepala mendengar perkataan Ailee yang tidak masuk akal. Hendak diladeni lagi pasti akan semakin panjang dan tidak akan ada habisnya. Binar tahu benar bagaimana watak Ailee yang selalu saja pandai mencari beragam alasan dan pandai pula menanggapi suatu apa pun, jadi Binar akan selalu kalah jika harus berdebat dengan gadis itu. "Mahhh...." serunya memanggil Bu Melati hendak pamit terlebih dahulu. "Iya, sebentar...." Bu Melati pun buru- buru menghampiri anaknya. Dia memberi uang untuk Binar– uang donasi yang akan dibelikan keperluan anak panti nantinya. Sedangkan uang untuk membelai keperluan kedai kopi tentu saja menggunakan uang Binar sendiri. Dia tidak pernah mengacaukan dana donasi dan selalu bertanggungjawab atas hal itu. Tidak lupa memberikan kertas yang berisi daftar barang apa saja yang harus dibeli nantinya. Dengan daftar belanjaan tersebut tentu saja akan memudahkan Binar saat belanja dan juga tidak akan ada yang kelupaan atau apa. "Binar berangkat dulu ya, Mah." Binar berpamitan dan tidak lupa mencium tangan Ibunya sebelum pergi. "Ajak Ailee, kamu pasti membutuhkannya," ucap Bu Melati, dia langsung menghampiri Ailee yang sedang bermain dengan cucunya. Dia tahu kali ini Binar akan kewalahan karena barang belanjaan akan sangat banyak. Kali ini Binar harus berbelanja kebutuhan kamar mandi juga, tidak hanya kebutuhan makanan pokok saja. "Kamu mau nggak ikut Binar belanja? Biar ibu yang jaga Clarissa?" tawar Bu Melati. Dia langsung mengambil alih menjaga cucunya. "Mau!" Tentu saja gadis itu mau, dia sangat semangat dan antusias sekali. Saking semangatnya, dia bahkan mendahului Binar naik motor. Binar dan Bu Melati pun mengangahkan mulut tak percaya jika Ailee akan semangat seperti itu. "Hati- hati ya, Nak," ucap Melati tergelak melihat ekspresi anaknya yang selalu saja kesal dengan Ailee, apalagi ketika membonceng gadis itu. Binar sengaja melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata- rata. Dia hanya ingin membuat Ailee ketakutan dan tak mau lagi diboncengnya. Tak bisa dibayangkan ekspresi Ailee yang ketakutan. Jantung gadis itu hampir saja terbang terbawa angin. Jantung Ailee memang berdegup cepat, takut jika dirinya jatuh dan terlempar. Namun, dia tetap berusaha menikmati perjalanannya dengan Binar kali ini. "Awwww, sakiiittttt!" pekik Ailee mencengkram pinggang Binar. Pantatnya terhentak saat ada polisi tidur. Binar tak pelan- pelan, memang sengaja mengerjai Ailee. Aduh, pantatnya pasti memerah. Sakit sekali rasanya. "Makanya kalau ditawarin Bu Melati jangan mau ikut, tahu sendiri kan saya kalau bawa motor pasti ngebut," ujar Binar diselingi tawa kecil. Puas sekali melihat gadis yang menumpang motornya itu kesakitan karena gajlukan polisi tidur. "Nggak papa, hanya sakit saja pantatku. Yang penting nggak jatuh," jawab Ailee, dia kembali memeluk Binar karena motor benar- benar melaju dengan kencang. Ailee tidak mempermasalahkannya. Lagi pula baik kencang atau lambat, ketika ada polisi tidur maka akan mempengaruhi p****t seseorang. Beberapa kali memboncengkan Ailee, Binar mulai bisa menerimanya. Dia cukup senang dengan Ailee yang memeluknya dari belakang, rasanya nyaman dan hangat. Akan tetapi lama kelamaan berubah menjadi geli. Jari- jari tangan Ailee bergerilya menggelitik perutnya, gadis itu terkikik saat beraksi. Sementara Binar mulai terpengaruh. Geli sekali dan ingin untuk segera mengakhirinya. Namun, dia juga senang mendapatkan perlakuan seperti ini. Perlakuan yang belum dia dapat dari siapa pun sebelumnya. Perlakuan yang sebenarnya hanya hal kecil dan menyebalkan, tapi sesungguhnya itu merupakan hal romantis bagi siapa pun yang mampu menikmatinya dengan baik. "Pak Binar nggak geli nih aku gelitikin?" tanya Ailee. Tangan kiri Binar pun tergerak untuk mencubit tangan Ailee yang masih asyik menggelitik perutnya. Sebenarnya itu cara Ailee mengalihkan perhatiannya dan supaya Binar melajukan motor dengan normal. Dan usaha Ailee itu berhasil. Perlahan Binar mulai memelankan laju motornya. Dia sudah tidak fokus lagi karena merasakan geli akibat gelitikan Ailee. "Berhenti atau aku lempar ke got?" Binar memberikan ultimatum supaya gadis yang asyik menggelitik perutnya itu berhenti. "Iya- iya, galak banget, sih, jadi orang!" Tak butuh waktu lama untuk sampai ke pasar rakyat yang sering dikunjungi. Binar langsung masuk dan mencari berbagai kebutuhan makanan. Seperti sayur mayur, lauk, bumbu masakan, cemilan, dan lain sebagainya. Sementara itu, Ailee mengikuti Binar dari belakang. Kedua manik matanya berpencar mengamati segala hal yang ada di pasar tradisional. Hiruk pikuk antara pedagang dan pembeli diamati dengan jeli. Gadis itu jarang sekali ke pasar tradisional seperti ini. Makanya dia takjub saat datang. Suasana yang ada benar- benar berbeda dengan suasana pasar modern atau kerap disebut supermarket yang dia kunjungi setiap saat. "Bu, bawang merahnya tidak bisa dua puluh lima ribu saja satu kilo?" "Aduh, bagaimana kalau kamu tambah dua ribu lagi? Sudah termasuk murah itu," sahut pedagang. "Ya sudah, Bu. Dua puluh tujuh ribu saya bayar," jawab Binar. "Sekalian sama bawang putih, ya, Bu." Ibu tersebut segera mengemas apa yang ingin dibeli Binar. Meskipun tidak mendapat harga yang sesuai dengan tawaran pertamanya tadi, Binar tidak mempermasalahkannya. Potongan sedikit saja itu sudah membantu sekali, dari pada tidak ada potongan sama sekali. Ailee terkagum, Binar tak malu sedikit pun meskipun harus berbelanja. Dan lelaki itu tak malu tatkala harus menawar sesuatu yang harganya dianggap mahal dan melonjak dari biasanya. Padahal biasanya tawar menawar hanya berlaku pada emak- emak saja. Sungguh, Binar sangat luar biasa. "Bu, seperti biasanya, ya? Jangan lupa harganya dimiringin, he he," seru Binar menyodorkan kertas berisikan daftar belanjaan kepada ibu gendut pemilik kios yang menjajakan berbagai sayuran lengkap dengan bumbu masakan. "Siap atuhhh! Oh ya, itu gadis di samping kamu saha eta?" tanya Bu Maryam, pemilik kios. Ailee yang tadinya melihat- lihat isi pasar pun langsung berbalik dan mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, saya...." "Murid saya, Bu," potong Binar, dia harus bergerak lebih cepat sebelum Ailee berkata yang tidak- tidak. Jika tidak segera dihentikan, maka sudah dapat dipastikan bahwa Ailee akan bertindak jauh di luar dugaan. "Tapi sebentar lagi jadi istrinya!" ucap Ailee dengan cepat. Binar pun langsung membungkam mulut Ailee dengan kedua tangannya. Ailee senang sekali karena mampu mengatakan sesuatu, meskipun akhirnya mulutnya dibekap dengan cepat oleh Binar. "Dia memang suka bercanda, Bu. Jangan dihiraukan he he...." "Nggak papa atuh, kalian cocok, loh. Lebih cantik dan menggemaskan dari mantan istrimu, Bin," ucap Bu Maryam menggoda. Ailee merasa senang karena ada yang mendukungnya, tapi tidak bagi Binar. Rupanya Ibu itu tahu betul dengan kondisi Binar. Sepertinya Binar memang sering datang ke pasar hingga banyak yang akrab dan terlihat menyayangi dirinya. "Saya cari belanjaan yang lain dulu ya, Bu," pamit Binar, ia masih membungkam mulut Ailee dan mengajaknya pergi dari sana. "Lepasin, Pak," ucap Ailee tercekat. "Jangan bicara aneh- aneh lagi!" Binar berjalan terlebih dahulu menuju kios selanjutnya. Ailee pun mengikutinya di belakang, dia memegang kaos Binar karena takut jika kehilangan jejak lelaki itu. Pasar sangat ramai, berjalan pun harus bergantian karena jalannya sempit. Beberapa kali Ailee terlepas dari Binar. Dia terdorong ke sana kemari dan kesulitan mencari keberadaan Binar. Sementara itu Binar yang menyadari bahwa tidak ada lagi yang menggenggam kaosnya pun segera berbalik dan mencari Ailee. Lelaki itu langsung menggenggam erat tangan Ailee ketika sudah bertemu kembali. Tentu saja Ailee senang. Beruntung Ailee tadi dipinjami sandal oleh Bu Melati, kalau saja dia memakai sepatu saat ke pasar. Sudah dipastikan akan susah dibersihkannya apalagi jika sepatu itu putih maka akan langsung berubah menjadi hitam karena pasar sangat becek dan kotor, tapi Ailee malah senang dan ingin sering-sering ke sana asalkan dengan Binar, hehe. Jika tidak, ya, dia tidak akan datang ke pasar tradisional ini. Tidak akan seru pula. Ternyata pasar tradisional tidak terlalu buruk. Suasana di pasar tersebut jauh berbanding terbalik dengan suasana di supermarket. Pedagang dan pembeli terlihat ramah. Semuanya berinteraksi dengan baik. Tawar menawar selalu terjadi setiap saat. Barang yang diperjualbelikan pun tidak kalah dengan kualitas barang di supermarket. Hanya saja tempatnya memang kurang baik. Meski demikian pasar tradisional tetap saja menjadi pilihan bagi para pembeli karena harga barang jauh lebih murah padahal kualitasnya pun tidak kalah. Dua plastik hitam besar dan satu kardus berada di tangan Binar, dan satu plastik hitam sedang berada di tangan Ailee. Kebutuhan satu minggu ke depan, sudah terbeli tak kurang satu apa pun. Kini mereka sudah bersiap pulang. Belum sempat memakai helmnya, Ailee tergoda dengan penjual odading dan cakwe yang dikerumuni pembeli. Dia menginginkan jajanan yang hanya bisa dilihat ketika lewat. Biasanya jika menginginkan sesuatu, pasti asisten rumah tangganya yang akan membuatnya. Ailee jarang membelinya langsung dari pedagang pinggir jalan karena ada banyak hal yang perlu ditakutkan. "Pak, aku beli itu dulu, ya? Jangan ditinggal!" "Hm...." Setelah izin dengan Binar, Ailee pun berlari menghampiri tukang odading dan cakwe itu. Binar tetap memperhatikannya dari jauh, takut Ailee kenapa-kenapa. Binar yang membawa Ailee, maka dari itu dia pula yang harus bertanggungjawab jika terjadi sesuatu. Binar memang lelaki yang tidak pernah mengabaikan tanggungjawab. Tak lama kemudian, Ailee pun kembali dengan dua kantung plastik putih bening dan besar berisikan odading dan cakwe. Sangat banyak, padahal anak-anak panti tak terlalu banyak dan pasti tak bisa menghabiskannya. Dia hanya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membeli jajanan pinggir jalan. Maka dari itu dia harus mencapai kepuasannya. "Ayo, kita pulang, Pak!" seru Ailee dengan senyum merekah, dia senang telah mendapatkan makanan yang dia inginkan. "Cepat pakai helmnya," ucap Binar menyodorkan helm kepada Ailee. "Nggak bisa, Pak. Nggak lihat nih tanganku lagi bawa apa?" Ailee berkata dengan malu-malu. Dia sedang merencanakan sesuatu. "Biar saya yang membawanya sebentar, ayo berikan." Binar hendak mengambil makanan di tangan Ailee, tapi gadis itu tak mau memberikannya juga karena ada hal yang dia inginkan, yakni dipakaikan helm oleh Binar biar seperti drama yang kerap ditontonnya. "Aduhh, sepertinya penjual odading tadi memberikan sedikit lem untuk merekatkan tanganku dengan plastik-plastik ini supaya tak jatuh," seru Ailee. Dia berpura-pura melepaskan plastik itu dari tangannya tapi tak bisa dilepaskan juga. Ah, anak itu pandai akting juga ternyata. "Ada-ada saja kamu ini!" Binar mendengus, dia segera memakaikan helm ke kepala Ailee. Gadis itu pun bersorak dalam hatinya, rencananya berhasil. Cukup lama Binar menatap wajah Ailee yang juga tengah menatap dirinya. Manik matanya sangat indah, bulu matanya lentik. Wajahnya yang ayu menggemaskan tanpa polesan make up sedikit pun. Bibirnya pun merah ranum tanpa lipstik atau sejenisnya. Benar-benar cantik alami. "Ayo tatap aku lebih lama lagi, Pak. Biar Pak Binar jatuh cinta," ucap Ailee seperti seseorang yang hendak menghipnotis. Binar pun lekas sadar, ia jadi salah tingkah dan langsung naik ke motornya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD