Danau yang Indah

1791 Words
"Ayo tatap aku lebih lama lagi, Pak. Biar Pak Binar jatuh cinta," ucap Ailee seperti seseorang yang hendak menghipnotis. Binar pun lekas sadar, dia jadi salah tingkah dan langsung naik ke motornya. Tidak lupa untuk mengatur letak belanjaan supaya nyaman dan aman. "Cepat naik! Sudah siang!" Ailee segera naik dengan kewalahan. Dia tidak terbiasa menaiki motor dengan barang bawaan di tangannya. Cukup kesulitan, tapi akhirnya bisa. Binar sampai terpingkal-pingkal melihat caranya naik motor tadi. Binar melajukan motornya dengan pelan tak sama seperti berangkat tadi. Dia lebih hati-hati karena barang bawaannya kali ini cukup banyak. Plastik-plastik berisikan sayur mayur dan kebutuhan lain tersusun rapi di motor maticnya hingga menjulang setinggi dagunya. Ada kardus juga di pangkuan Ailee, jika tak begitu tak tahu harus bagaimana lagi membawanya. Benar kata Ibunya jika Binar akan membutuhkan Ailee, firasat seorang ibu memang tak pernah salah. Sesampainya di rumah, tidak ada yang membantu Binar atau pun Ailee untuk menurunkan barang belanjaan. Ailee pun akhirnya dengan hati-hati berusaha turun dari motor meskipun tangannya penuh dengan barang belanjaan dan jajanan tadi. Meski bersusah payah, akhirnya dia berhasil turun. Lega sekali rasanya. "Hey, bantuin nurunin ini dulu!" seru Binar ketika sudah sampai. Dia kesal dengan Ailee yang bukannya membantunya terlebih dahulu tapi malah buru-buru masuk ke rumahnya. Tidak ada niatan baik sama sekali. Binar menggelengkan kepalanya. "Eh, iya lupa, Pak!" Ailee nyengir, dia kemudian membantu menurunkan barang-barangnya. Cukup kesulitan karena barang tersebut berat. Dan Binar dengan sabar menanti Ailee. "Katanya tadi tanganmu dikasih lem sama penjual odading? Itu kok bisa lepas odadingnya?" sindir Binar ketika mengingat bahwa Ailee tadi bilang odading tidak bisa terlepas dari tangannya. "Anu- itu- kata penjual odading tadi kalau udah sampai di rumah bisa lepas, Pak. Hebat ya lemnya bisa tahu kalau kita udah sampai rumah apa belum he he he...." Jawaban tidak masuk akal selalu menjadi jalan keluar bagi Ailee. Dia memang sering seperti itu. "Astaghfirullah hal adzim...." Binar menggelengkan kepala mendengar jawaban aneh dari Ailee. Pandai sekali menjawab. Ah, maksudnya somplak bukan pandai. Bukannya membantu Binar membawa masuk barang belanjaannya, Ailee malah langsung ke panti. Anak-anak panti langsung mengerubunginya, apalagi saat melihat makanan di tangan Ailee. Mereka sangat antusias menerimanya. Ailee segera membaginya dengan adil dan sama rata. Semuanya senang meskipun hanya odading dan cakwe. Tapi makanan itu sangatlah nikmat, sampai ada yang kurang. Usai membagikannya, Ailee pun menyisakan beberapa untuk Binar dan Bu Melati. Dia segera mengambil piring dan meletakkan odading berbentuk hati di atasnya. Memang sudah seperti rumah sendiri saja, apa pun dia lakukan karena sang pemilik rumah juga memperbolehkannya berbuat semaunya. "Kok love sih bentuknya? Biasanya kan kotak?" seru Binar sembari menyomot satu odading dan memakannya. Dia ikut duduk di kursi ruang tengah rumahnya. Rasanya tidak terlalu buruk ternyata. "Iya tadi emang aku pesen bentuk love khusus buat Pak Binar. Rasanya beda pastinya, soalnya bumbu cintanya tadi kebanyakan," ucap Ailee memberikan finger love tepat di hidup Binar. Lelaki itu pun lantas tersedak mendengar ocehan Ailee yang semakin tak bermutu. Menyesal dia menanggapi bentuk odading tadi. "Ya ampun terlalu banyak cinta, Pak Binar jadi tersedak! Maafkan diriku, Pak! Lain kali akan ku kurangi kadar cintanya biar nggak overdosis!" Binar segera menyumpal mulut Ailee dengan odading dan juga cakwe sekaligus supaya anak itu tak lagi berbicara omong kosong. Namun, tidak disangka hal itu justru membuat Binar tersenyum meski sekejap. Dia gengsi jika Ailee tahu bahwa dirinya cukup senang dengan kehadiran gadis itu. Ailee selalu saja membuatnya kesal sekaligus senang. Cukup lama mereka berdiam diri. Ailee berbaring di kursi dan manik matanya menatap langit- langit rumah. Menyesal dia tidak membawa ponsel tadi, jadi kesepian akhirnya. "Pak..." lirih Ailee menatap Binar yang kala itu berbaring di kursi panjang dengan mengotak- atik ponselnya. Sedangkan dirinya tadi tak membawa ponsel dan akhirnya bosan karena tidak ada kegiatan lain. "Hm...." "Bosan!" "Pulang sana! Dari tadi pagi nggak pulang- pulang, nanti dicariin Papa kamu, loh." "Ajak aku ke suatu tempat dong, Pak," rayu Ailee. Dia sungguh tak mau pulang dan masih ingin bersama pujaan hatinya. "Boleh- boleh, yuk!" Binar langsung bangun dan bersiap membuat Ailee senang sekali. "Kemana, Pak?" "Ke kuburan mau nguburin kamu hidup-hidup biar nggak gangguin orang terus!" jawab Binar kemudian, ia merasa senang karena akhirnya bisa membuat Ailee ketakutan. "Sama Pak Binar, kan? Romantis ya, se-liang lahat berdua!" Binar memijat pelipisnya mendengar penuturan Ailee yang malah jauh dari perkiraannya. Dia membiarkannya sejenak, dan Ailee tetap merengek memintanya untuk mengajak ke suatu tempat. Sungguh, Binar jadi pusing mendengar rengekan Ailee. "Pak Bin, Ayolah...." "Tidak!" "Pak Bin...." Jenuh mendengar rengekan Ailee, Binar pun mengajak Ailee ke suatu tempat dengan jalan kaki. Lumayan jauh, Ailee yang tak biasa jalan kaki sejauh itu pun mulai letih. Sengaja memang Binar seperti itu. Senang sekali melihat lawannya keletihan. "Pak...." "Hm..." sahut Binar tanpa menoleh kepada Ailee yang berjalan di belakangnya. "Capek!" Ailee terus saja mengeluh. Dia benar-benar lelah dan merasa tidak sanggup untuk berjalan lagi. Maklum, Ailee lebih sering bermobilitas dengan kendaraan. "Nanti kalau udah sampe pasti capeknya hilang." Ailee pun berjalan lebih cepat, dia memeluk Binar dari belakang. Langkah Binar pun terhenti, dia merasakan getaran yang berbeda saat gadis itu memeluknya erat. Jantungnya bergemuruh, tangannya terulur untuk melepas tangan Ailee yang melilit di perutnya. "Nanti kalau aku mati bagaimana?" ujar Ailee kemudian. Ada sesuatu yang dia inginkan, yakni digendong Binar. Makanya dia berusaha keras supaya Binar menurutinya. Dia pun memasang wajah melas biar Binar kasihan dan menurutinya. "Naik ke punggung!" ucap Binar sembari merendahkan tubuhnya supaya Ailee lebih mudah naik ke punggungnya. Kasihan juga melihat Ailee yang letih dan keringat bercucuran di dahinya. Ailee pun langsung naik, dia mengalungkan tangannya di leher Binar. Kepalanya disandarkan di bahu kanan lelaki itu. Aroma tubuh Binar leluasa terhirup olehnya, benar-benar menyenangkan. Ailee tidak mau berpaling dari posisinya saat ini. Langkah pun berlanjut. Senyum terukir di keduanya. Binar merasakan hal aneh saat menggendong Ailee, apa itu artinya dia memiliki perasaan terhadap orang yang baru- baru ini hadir di hidupnya? Ah, persetan dengan itu. Binar segera membuang jauh pikiran yang menurutnya sangat buruk itu. Ailee juga sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia sangat senang. Matanya terus mengamati alam sekitarnya yang jarang sekali dilihatnya. "Udaranya segar ya, Pak." "Hm, dan di sana nanti jauh lebih segar." Tak lama kemudian, mereka berdua pun telah sampai di suatu tempat. Danau hijau. Danau yang begitu luas, sejuk sekali mata memandangnya. Bersih dan terawat. Burung-burung kecil serta kupu-kupu berputar-putar seakan menggoda air danau yang tenang itu. Sangat cantik. Pohon di tepinya pun nampak indah. Sejuk sekali kawasan itu. Kawasan yang sepertinya terawat dengan baik oleh orang di kampung Binar. Bersih pula tempatnya, seolah setiap hari dibersihkan dengan baik. "Indah sekali!" celetuk Ailee tanpa mengarahkan matanya ke tempat lain. Danau itu benar- benar indah, sayang sekali dirinya baru tahu saat ini. Andai saja sejak dulu dia mengetahuinya, maka dia akan datang tiap hari ke sana. Binar pun menurunkan Ailee, gadis itu langsung berlari ke tepian danau. Tangannya dia masukkan ke air, dingin dan menyenangkan. Air pun didayungnya ke sana kemari, tawa kecil kegirangan pun terlontar. "Aaa, dingin sekali!" Ailee seperti anak kecil yang girang ketika bertemu air. Gadis itu hendak melepas sepatunya dan terjun ke danau langsung. Tapi dia mengurungkannya karena takut jika danau tersebut dalam. Dia tidak pandai bernapas dalam air dengan waktu cukup lama. "Hati-hati jangan sampai terpeleset dan kecemplung! Nanti kalau meninggal nyusahin orang," seru Binar memperingatkan. Ketus dan menyakitkan. Tapi Ailee tidak peduli. Dia sudah kerap mendengar perkataan seperti itu dari Binar. Baginya itu adalah ungkapan sayang Binar yang bermajas karena Binar gengsi mengatakan secara terang-terangan. Lelaki itu duduk di bangku putih yang panjangnya hanya satu meter dan hanya ada satu di sana. Danau tersebut memang sepi sekali, hanya didatangi masyarakat kampung Binar saja. Oleh karena itu, danau masih terawat dan jarang sekali ada sampah. Pepohonan di sekitar pun tumbuh sebagaimana mestinya. Daun-daunnya semakin membuat teduh suasana. Tanpa disadari, mata Binar tertuju kepada gadis kecil yang sedang berjongkok terkekeh sembari memainkan air dengan tangannya. Kenapa? Tentu saja mengawasinya karena takut Ailee yang aktif sekali itu kecemplung. Binar harus menjaganya sebaik mungkin. Sementara Ailee sesekali menatap ke arah Binar yang ternyata mengawasi dirinya. Dia benar-benar senang hari itu. Ailee berputar ke sana kemari dan menari sebisanya mengikuti suara kicauan burung yang dia anggap sebagai musik pengiring tariannya. Ini akhir pekan yang sangat luar biasa baginya. "Pak, di sini nggak ada perahu, ya? Aku mau naik perahu ke tengah danau." tanya Ailee mendekati Binar dan akhirnya ikut duduk di samping lelaki itu. "Ada tapi bocor, belum diperbaiki," jawab Binar menunjuk perahu kayu yang berada di tepi, di bawah pohon besar yang rindang. Ailee baru tahu kalau ada perahu di sana. Perahu kayu yang nampak baik-baik saja berada di bawah pohon. Namun ternyata hanya tampilannya saja yang terlihat baik-baik saja. Perahu tersebut bocor, jika dipaksa malah akan membahayakan orang yang akan menumpanginya. "Yahhh, padahal aku pengen keliling ke sana. Sepertinya di sana jauh lebih indah." "Lain kali kalau perahunya sudah diperbaiki kamu bisa melakukannya," ucap Binar memberikan pengertian pada gadis kecil di sampingnya. Mereka pun terdiam beberapa saat. Dan kemudian, Ailee beranjak dari duduknya. Dia pun merebahkan diri di rumput hijau memandang langit. Tidak peduli jika bajunya banti kotor. Posisi seperti itu sangat nyaman dan menyenangkan sekali meskipun terkadang mata silau karena matahari yang bersinar terik. "Pak, ayo ikuti aku! Ini sangat menyenangkan!" seru gadis yang menggerakkan tangannya seakan sedang mengepakkan sayap dan terbang di awan. Sedang berhalusinasi bahwa dirinya terbang di angkasa yang sangat luas. Putih dan biru langit kala itu. Matahari pun bersinar berseri- seri seperti hati yang tengah dirundung suka. Kepala mereka bersentuhan, mata tertuju pada birunya langit. Hal sederhana namun malah mengesankan. "Pak Bin, apa saat kecil kamu juga menginginkan bisa terbang?" "Aku tidak seperti dirimu yang tidak mampu bersikap realistis!" "Pak Bin, kenapa ada orang yang sepertimu? Ketus sekali jika berbicara. Dingin, suka marah-marah, tapi kok ya ganteng. Heran aku!" ujar Ailee menatap Binar yang masih asyik menatap langit. "Aku juga terkadang berpikir kenapa ada orang yang seperti dirimu. Orang yang periang, pintar, tapi menyebalkan." "Tapi bukankah aku cantik juga?" "Tidak. Siapa yang bilang kamu cantik? Jelek banget!" goda Binar. Tentu saja dia berbohong karena menurut dirinya sendiri Ailee memang cantik. Bahkan sangat cantik meskipun tanpa ada make up di wajahnya. "Hanya Pak Binar yang bilang aku jelek," sahut Ailee terkekeh, Binar ikut terkekeh mendengarnya. Cukup lama mereka merebahkan diri di atas rumput sembari menatap langit siang hari itu. Mereka pun saling bertukar cerita, dan yang lebih mendominasi adalah Binar meledek Ailee. Keduanya sama-sama riang, hingga tawa pun tak terhenti. Binar memberikan kebahagiaan baru bagi Ailee, dan sebaliknya pula. Ailee memberikan kebahagiaan baru bagi Binar. Hanya saja terkadang Binar tidak mengetahui rencana Tuhan menghadirkan Ailee di kehidupannya. Tuhan hanya ingin memperkenalkan kehidupan yang menyenangkan meskipun dari hal kecil yang terkadang menyebalkan. Binar yang dulunya tersakiti diharapkan mampu melupakan segala rasa sakit tersebut karena adanya kehadiran Ailee.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD