Dua hari berlibur belumlah cukup, tapi tak bisa jikalau ditambah lagi. Sekolah kembali dimulai. Buku dan piranti lain telah dimasukkan ke dalam tasnya untuk menunjang sekolahnya nanti. Seragam, sepatu, dan yang lain telah melekat sempurna di tubuhnya. Meski demikian rambutnya belum ditata, dia belum siap pergi ke sekolah.
Dan kini, dia tengah duduk di kursi dan mamanya sedang mengikat rambutnya seperti biasa. Ailee memang bisa mengepang atau mengikat rambutnya sendiri, tapi Mamanya selalu memanjakannya dan akan marah jika bukan dia yang mengikat rambut anaknya itu.
"Nanti kalau sudah pulang jangan ke mana-mana, langsung pulang pokoknya," ucap Bu Aza. Mamanya itu tengah asyik bermain dengan rambutnya. Disisir, dirapikan, lalu dianyam sedemikian rupa. Dua kepangan telah selesai, dia pun mengecup puncak kepala anaknya. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sedari Ailee kecil.
"Sepertinya nanti masih ada ekstrakurikuler, Mah..." sahut Aiden memasuki kamar Ailee. Sedari tadi dia menanti Ailee dan Mamanya di depan kamar. Kebiasaan Aiden sebelum berangkat sekolah memang seperti itu.
"Sudah kelas dua belas kok masih ekstrakurikuler?" tanya sang Mama terheran-heran, yang dia tahu jika kelas dua belas sudah tak ada ekstrakurikuler karena pihak sekolah pasti meminta mereka untuk fokus dengan berbagai ujian nantinya.
"Hanya memberi masukan, arahan, dan motivasi- motivasi kepada adek kelas, Mah," jawab Ailee membantu sang kakak meyakinkan Mamanya.
"Ohh gitu. Awas ya kalau kalian sampai bohongin Mama!"
Perkataan itu menjadi ancaman bagi Aiden maupun Ailee padahal sang Mama hanya bermaksud menggoda saja. Kalau pun anak kembar itu berbohong pasti Mamanya tak akan marah, lain halnya dengan Papa mereka. Jika papa mereka tahu maka habislah keduanya.
"Baik, Mamaku sayang...."
Aiden dan Ailee pun memeluk Mamanya. Meski sudah besar, mereka masih tetap seperti anak kecil jika di depan Mama maupun Papa. Tapi di luar mereka selalu nampak dewasa dan mandiri. Pandai sekali untuk bersikap dan menyesuaikan diri.
Matahari mulai merangkak naik, untuk melangsungkan sarapan sejenak pun dirasa tak sempat. Anak kembar itu memilih memasukkan sarapan mereka ke dalam kotak makan dan berencana memakannya di jalan.
Ailee segera menyantap sarapan yang dikemas Mamanya tadi dan melupakan Aiden yang sedang fokus mengemudikan mobil. Perutnya harus segera diisi terlebih dahulu, sebelum memikirkan orang lain. Begitulah Ailee.
"Ailee, jangan dihabiskan rotinya aku kan belum sarapan." Aiden memperingatkan sang adik supaya menyisakan beberapa lembar roti yang diolesi selai cokelat untuk dirinya.
"Iya tenang saja, nih aku suapin," ucap Ailee. Gadis itu menyodorkan roti kepada sang Kakak yang tengah mengemudikan mobilnya.
Aiden yang sudah lapar pun segera menerima suapan Ailee. Cukup susah karena Ailee tak fokus menyuapinya, entah apa yang membuat gadis itu celingukan ke sana ke mari.
"Di mana Pak Binar? Biasanya kita selalu berpapasan di jalan tetapi kok kali ini nggak ada?" tanya Ailee. Matanya menyorot sebelah kanan maupun kirinya mencari lelaki itu.
Gadis itu celingukan ke sana kemari berharap menemukan Binar seperti biasanya. Namun, di antara banyak pengendara motor tidak satu pun ada yang dikenali Ailee. Mungkin Binar terlambat, tapi bisa jadi dia berangkat lebih awal.
"Aduh!" pekik Aiden ketika roti selai cokelat itu mengenai hidungnya karena adiknya tak fokus menyuapi dirinya. Aiden jadi tidak fokus mengemudikan mobil gara-gara Ailee.
"Maafkan aku, Kak!" Ailee buru-buru mengambil beberapa lembar tisu di hadapannya dan membersihkan hidung Aiden yang terkena selai.
"Binar terus! Binar terus!" Aiden semakin kesal dengan Ailee yang terus saja memikirkan Binar sampai lupa bahwa ada Aiden di sana.
"Makan saja sendiri!" Ailee jadi ikut kesal dengan Aiden, dia pun menjejelkan selembar roti ke mulut Aiden hingga lelaki itu kewalahan mengunyah dan menelan.
Hari ini sangat aneh sekali. Lelaki tampan seantero sekolah itu belum nampak. Saat upacara, biasanya dia berdiri di belakang mengawasi murid-murid, tapi hari itu tak ada. Hingga istirahat tiba, Ailee belum juga bertemu dengan Binar.
Sehari belum bertemu saja rindu sudah menggebu, apalagi kalau lebih dari ini. Ailee sungguh menginginkan kehadiran Binar. Dia ingin melihatnya meskipun sejenak saja. Dia tidak bisa jauh dari Binar.
"Perfect Teacher kok nggak ada sih dari tadi?" tanya Ailee kepada kawan-kawannya. Dia jadi tak selera untuk makan. Bakso tanpa kuahnya masih utuh di mangkok belum tersentuh sama sekali.
"Mungkin nggak berangkat gara-gara takut sama salah satu muridnya," jawab Aiden sekenanya. Remaja laki- laki itu masih kesal dengan Ailee karena kejadian sarapan di mobil tadi pagi.
"Takut digoda dan takut diikutin terus," tambah Kimmy dengan gelak tawa. Dia berkata apa adanya, tanpa memikirkan apakah Ailee sakit hati atau tidak.
"Ah, kalian ini!"
"Tenanglah, nanti pasti ketemu kok. Jam terakhir kan kelas kita ada Pak Binar," ucap Sora. Hanya dia yang berpihak pada Ailee saat itu. Tentu saja Ailee cukup tenang dengan perkataan Sora yang ada benarnya.
"Habisin tuh bakso kamu, gara-gara nggak ketemu Pak Binar sehari aja langsung nggak mood gitu," timpal Bryan. Dia langsung mengambil garpu dan menusukkannya pada bakso Ailee. Lalu menyuapi gadis itu. Sudah biasa, mereka memang kerap begitu ketika ada salah satu di antara mereka tak selera makan.
Kesetiakawanan antara Aiden, Ailee, Sora, Kimmy, dan Bryan memang patut diacungi jempol. Terkadang memang mereka terlihat saling meledek, tapi sesungguhnya mereka saling menyayangi satu sama lain. Jika ada salah satu di antara mereka sedang kesulitan, maka yang lain akan turut serta membantu dan memberikan penghiburan.
"Nih, aku suapin juga." Aiden pun ikut campur, dia malah membuat mulut adiknya belepotan dengan saus dan kecap. Seolah balas dendam karena tadi pagi Ailee menyuapinya sampai mulutnya belepotan juga.
"Dasar anak nakal!" ketus Ailee sembari mengusap mulutnya yang belepotan dengan selembar tisu yang baru saja diambilnya.
Bel pelajaran terakhir telah berbunyi, bel yang selalu dinantikan oleh para siswa siswi. Matematika peminatan adalah pelajaran kelas Ailee kala itu. Dia tak sabar melihat Binar yang sedari tadi pagi belum muncul juga. Banyak hal yang ingin ditanyakan pada Binar seharian ini kenapa tidak memunculkan dirinya.
Ailee dan yang lain menantikan seseorang dengan terus menatap ke arah pintu. Heran dengan kedatangan Bu Ferlin ke kelas mereka, padahal jam terakhir adalah pelajaran matematika peminatan bukan kimia di mana Bu Ferlin lah yang mengajar.
"Selamat Siang anak-anak!" seru Bu Ferlin memasuki kelas.
"Sudah Sore, Bukkkkk," jawab murid-murid kelas IPA satu serempak karena memang hari sudah sore menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Guru memang sering seperti itu, hanya mengetes muridnya apakah masih punya semangat atau tidak. Mungkin beberapa murid akan kesal, tapi beberapa di antaranya juga akan menganggapnya sebagai hiburan.
"Ah, ini masih siang! Buka buku matematika kalian, Pak Binar hari ini tidak masuk dan memberikan tugas individual. Perintahnya akan saya tulis di papan tulis dan jika sudah selesai jangan lupa dikumpulkan di meja Pak Binar, ya!" Bu Ferlin langsung mengambil spidol dan menuliskan tugas dari Binar. Tentu saja sebagian teman di kelas Ailee bersorak-sorai karena hanya diberi tugas saja dan itu pun tidak terlalu banyak.
"Pak Binar ke mana memangnya, Bu?" tanya Ailee. Rasa penasaran semakin menghantuinya. Entah kenapa dari tadi pagi pun perasaannya tidak menentu. Seolah dia tahu bahwa terjadi sesuatu pada orang yang membuatnya jatuh cinta.
"Pak Binar lagi sakit."
Ailee mendadak sedih mendengar kabar itu. Kabar buruk baginya. Pujaan hatinya tengah sakit dan dia baru tahu. Ah, ini tidak bisa dibiarkan. Ailee seharusnya ada di samping Binar.
"Heyy, mau ke mana?" cegah Aiden menarik lengan adiknya yang hendak pergi meninggalkan kelas. Pasti akan pergi menemui Binar yang sedang sakit.
"Pujaan hatiku sakit, Kak. Duhhh... hatiku terasa nyeri mendengar kabar buruk itu!" jawab Ailee satir. Entah puisi siapa yang sedang dia deklamasikan, intinya Aiden hampir muntah mendengarnya. Sementara Sora yang mendengarnya pun hanya bisa tertawa geli menanggapinya.
"Kerjakan tugasnya terlebih dahulu baru memikirkan hal lain!" gertak Aiden seraya menyuruh Ailee kembali duduk di tempat semula. Dia juga tidak lupa memberikan ultimatum bahwa jika Ailee tidak menurut dia akan mengadukan kepada Papanya.
Segeralah dia membuka lembaran buku tugas yang kosong dan juga modul pembelajaran. Dibolak balik dengan cepat menuju halaman di mana terdapat soal yang harus dikerjakan. Otaknya yang terlalu pandai pun mampu menyelesaikan soal itu dengan cepat dan tepat. Satu persatu diselesaikan dengan baik, tidak lupa diteliti dengan jeli pula.
"Upil! Terlalu mudah!" ucapnya berlagak sombong mentang-mentang dapat menyelesaikan soal matematika dengan cepat.
Coba saja jika dirinya dihadapkan dengan soal Fisika yang juga memerlukan rumus dalam penyelesaiannya, dia sudah mengeluh tiada henti karena tak pernah menyukai pelajaran itu. Matematika dan Fisika memang berbeda, dan bagi Ailee yang paling mudah adalah Matematika. Tapi bagi anak-anak lain, kedua mata pelajaran itu tidak ada yang mudah. Semuanya sulit dan membutuhkan pemahaman lebih.
"Yuk, kumpulin!" ajak Sora sembari membereskan peralatan sekolahnya dan bersiap pulang. Diikuti dengan Aiden yang baru saja selesai dengan tugasnya.
"Ah iya! Aku akan segera pulang dan pergi ke rumah Pak Binar...."
"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkannya?"
"Entahlah, aku juga nggak tahu kenapa bisa se-khawatir ini. Huffttt, aku benar-benar jatuh cinta dengannya," jawab Ailee. Dia tidak berbohong, dia benar-benar mengkhawatirkan lelaki yang sebenarnya merupakan gurunya itu. Ailee takut jika hal buruk terjadi pada Binar.
"Tapi Pak Binar enggak tuh," sahut Aiden yang sedari tadi menguping di belakang Ailee dan Sora. Dia kemudian terkekeh sendiri usai mengatakannya.
"Aku baru mau mengatakannya," timpal Sora dengan gelak tawa yang pecah. Dia selalu saja dibuat anak kembar itu tertawa riang. Aiden dan Ailee memang lucu.
"Sialan kalian!"
Tadinya, Ailee ingin langsung pergi ke rumah Binar. Tapi, setelah dipikir-pikir jauh lebih baik jika dirinya pulang terlebih dahulu dan berpamitan pada orang rumah supaya tidak khawatir dengannya. Lebih tepatnya dia juga takut dimarahi Papanya yang sangat galak itu.
Usai mandi dan bersiap, Ailee langsung menghampiri Mamanya. Akan lebih mudah mendapatkan izin dari Mamanya itu beda sekali dengan Papanya. Bahkan ia juga bisa terang-terangan dengan sang Mama. Intinya, Mamanya itu tidak keberatan dengan apa yang akan dilakukan pada Ailee maupun Aiden.
"Pak Binar sakit," lirih Ailee seraya mendudukkan tubuhnya di samping Mamanya yang sedang asyik memainkan ponsel.
"Lalu?" ucap Bu Aza acuh. Dia belum juga berpaling menatap ponselnya. Sepertinya ada yang jauh lebih menarik dibanding ucapan anaknya tadi.
"Bolehkah aku menjenguknya?" tanya Ailee merengek. Kini dia memeluk Mamanya dari samping, berusaha mengalihkan perhatian perempuan hampir setengah abad namun tetap cantik tersebut.
Bu Aza langsung menoleh ke arahnya, dia menatap anak gadisnya itu dalam-dalam. Lalu bertanya, "menjenguknya dengan tangan kosong?"
"Tunggu sebentar, Mama akan membawakan makanan untuk Binar," ucap Bu Aza, dia lalu bangkit menuju dapur mengambil makanan untuk Binar. Ailee pun mengikutinya dari belakang, dia begitu senang telah mendapat izin dari Mamanya.
Tak semudah itu, dirinya harus pergi dengan Aiden. Mamanya memang seperti itu, apa pun yang terjadi dan kemana pun mereka akan pergi harus tetap bersama tak boleh terpisah. Mereka harus saling menjaga satu sama lain. Mungkin tidak hanya Ailee dan Aiden saja yang mengalami hal serupa. Kodrat menjadi anak kembar memang sepertinya begitu, harus selalu bersama apa pun keadaannya nanti.
Ailee sangat tidak sabar, dia terus saja menyuruh Aiden untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi supaya cepat sampai di rumah Binar karena Ailee sudah tak sabar. Dan yang ada Aiden malah melajukan mobil seperti biasa, dia tetap takut dan harus menjaga keselamatan lalu lintas.