#Part6
Rere menyusuri jalanan Ibukota dengan santai. Sepertinya pertemuan tak terduga dengan Reza telah menstabilkan mood-nya yang sempat kacau, gara-gara Mas Rama dan Dita, adiknya.
Ingatannya kembali mengulang ke beberapa saat yang lalu.
"Jangan pergi lagi, Za!
Hidup gue hampa tanpa, elu."
Rengek Rere, dibahu Reza.
"Dasar cewek aneh.
Gue nih temen, bukan suami lu."
Reza protes.
"Terserah, deh.
Mau suami, mau temen. Pokoknya gue nggak mau lu jauh dan menghilang, seperti kemaren."
Ucap Rere, tulus.
"Tapi tetep, lu nggak mau cerita juga kan?"
Ucap Reza, pelan.
"Belum saatnya gue cerita, Za.
Ntar juga kalo gue udah nggak tahan, lu bakalan jadi orang pertama yang gue ceritain.
Bersandar gini aja, rasanya sudah sangat nyaman."
Ucap Rere, matanya menerawang jauh ke kegelapan pantai didepannya.
"Gue setia menunggu, Re.
Kapanpun lu butuh gue, gue akan selalu ada buat lu."
Reza menatap mata teduh Rere.
"Terus..
Kalo pas gue butuh, istri lu pas mau lahiran, gimana tuh?"
Rere mencairkan suasana yang hampir melow.
"Rere, gue usahain yang terbaik."
Reza cuma menjawab singkat.
Mereka pulang, saat malam belum seberapa larut. Reza sadar, sahabatnya itu kini telah punya suami. Rere menjemput mobilnya yang berada dirumah Reza.
"Jangan sungkan, Re.
Gue tetap Reza yang dulu, Reza sahabat lu yang baik hati."
Ucap Reza sedikit bercanda, saat Rere sudah berada didalam mobilnya.
"Tapi tetap aja, sungkan.
Karena keadaannya sekarang, kita sudah punya pasangan masing-masing, yang mesti dijaga perasaannya."
Ucap Rere, diujung pertemuan mereka.
Yang tak Rere sadari, Reza berdiri mematung memandang punggung mobilnya, dengan mata yang basah.
"Aku belum punya pasangan, Re.
Maafkan aku, yang kemaren lari membawa hatiku yang berkhianat, karena telah mengingkari janji persahabatan kita.
Salahkah jika aku berharap, kamu orang pertama, dan terakhir yang bersandar di bahuku, Re?"
Ucapnya, lirih. Sembari mengusap matanya yang basah.
******
Hampir tengah malam, Rere baru sampai dirumah. Dia disambut wajah tegang Rama. Mungkin dia marah karena tak ada kabar dari Rere.
"Kamu dari mana saja, Re?
Ingat ini sudah jam berapa?
Kenapa kamu nggak ngangkat telpon?"
Cecar Rama.
"Maaf, Mas.
Sehabis ngantar Dita, nggak sengaja tadi aku jumpa sama Reza."
Ucap Rere jujur.
"Reza..
Sahabat kamu itu?"
Tanya Rama.
"Iya.
Rupanya kemaren dia melanjutkan study ke Rusia.
Yah, kami melepas kangenlah setelah lama nggak ketemu."
Ucap Rere, sambil meneguk segelas air mineral.
"Melepas kangen?
Malam-malam begini, seorang wanita yang telah bersuami, melepas kangen dengan sahabat lelakinya?
Pantas?"
Cecar Rama, tajam.
"Emang kenapa?
Aku jujur kan?
Lagian yang kami lakuin cuma makan, dan bercerita di tempat publik.
Bukan di kamar hotel atau ruang pribadi lainnya!"
Rere terpancing. Sengaja dia menekan kalimat terakhirnya.
"Tapi nggak bisa gitu, Re.
Aku suami kamu.
Aku berhak tau, kemanapun kamu pergi!"
Rama masih mengejar Rere sampai ke kamar.
"Bukannya sudah kukasi tau?"
Ucap Rere santai.
"Tapi tetap aja, kamu ngasi taunya telat!"
Rama masih ngotot.
"Oh!
Mas mau ngajak ribut, iya?
Mas nantangin aku?
Oke!
Sekarang aku balik nanya.
Apakah Mas sudah jujur sebagai seorang suami?
Yakin nggak ada yang Mas tutupi dari aku?"
Suara Rere masih dalam tahap yang wajar.
"Maksud kamu?"
Rama sedikit gugup.
"Tanya diri sendiri aja, Mas!
Aku capek banget.
Aku mau tidur."
Ucap Rere sebelum dia tertidur pulas, meninggalkan Rama yang masih kesal pada istrinya itu.
******
Sesaat sebelum bangkit dari tempat tidur, Rere membuka gawainya. Dia baru sadar, sejak kemaren, dia belum membuka ponselnya, karena kesal pada Rama, suaminya.
Ada pesan dari Zahra. Teman kost Dita, yang diam-diam disuruhnya untuk memperhatikan setiap gerak-gerik Dita.
[Mbak Re.
Tadi ada pesan di ponsel Dita, berisi ajakan pertemuan, oleh seseorang. Sepertinya itu dari Mas Rama.
Tapi aku berhasil menggagalkannya, dengan mengajak Dita jalan-jalan]
Itu bunyi pesan Zahra, ditambah emot senyum di akhir kalimatnya.
Rupanya, secara diam-diam, Zahra telah menyadap ponsel Dita.
[Maaf, baru balas, Ra.
Dari kemaren Mbak nggak pernah pegang ponsel. Terima kasih ya, Ra, udah mau bantu Mbak]
Balasku.
Sesaat kemudian, terdengar notif balasan dari Zahra.
[Iya, sama-sama, Mbak.
Mbak Rere orang baik. Tak seharusnya Mbak diginiin. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu Mbak Rere.]
Zahra memang orang yang sangat baik dan tulus, sama seperti Bude Nia, Mamanya.
Ada pesan dari Reza juga.
[Sakitmu, adalah sakitku juga, Re.
Please! berusahalah untuk selalu membahagiakan dirimu.
Berjanjilah untuk tidak mengeluarkan air mata lagi. Karena tangisanmu bagai tamparan keras dipipiku]
Itu isi pesan Reza.
Entahlah, Za.
Sepertinya ini baru permulaan, dari cobaan yang diberikan Tuhan untukku. Batin Rere.
"Selamat pagi, sayang."
Tiba-tiba Mas rama telah berdiri diambang pintu kamar. Sebuah apron menempel ditubuhnya.
"Mas udah nyiapin nasi goreng, untukmu.
Yuk, sarapan bareng!"
Ajaknya.
Entah kenapa, Rere yang biasanya sangat senang diperlakujan begitu, sekarang malah timbul perasaan benci dan muak.
"Oh, iya.
Kamu duluan deh, Mas!
Ntar aku nyusul.
Aku mau mandi dulu."
Ucapnya kemudian.
"Oh.
Kebetulan, Mas Rama juga belum mandi.
Mandi bareng yuk, sayang!"
Ajak Rama dengan kerlingan nakal.
Biasanya, Rere sangat suka dan langsung menyanggupi ajakan suaminya itu. Tapi kini, ada rasa mual yang tiba-tiba menyergap.
"Nggak deh, Mas.
Aku mau mandi sendiri, aja."
Ucapnya dan langsung berjalan ke kamar mandi. Tak lupa dia mengunci rapat pintunya.
Diruang makan juga, Rere lebih banyak diam.
"Maafin, kejadian tadi malam ya, Re.
Mas cuma cemas, karena satu harian kamu nggak ngasi kabar."
Rama memulai pembicaraan.
"Iya, aku juga udah melupakan itu, Mas."
Ucap Rere, pelan.
"Oh ya.
Gimana kabar Reza?
Studinya sudah selesai di Rusia?"
Tanya Rama.
"Belum."
Sebenarnya, Rere malas banget ngomong sama suaminya ini.
"Kamu mau berangkat bareng, Re?"
Tawar Rama sambil membenarkan kerah kemejanya.
"Mas pergi aja!
Aku mau izin nggak masuk kerja. Pengen istirahat."
Jawab Rere.
"Oh.
Ya, sudah!
Mas pergi ya, sayang.
Butuh apa-apa, telpon Mas aja."
Ucap Rama sembari mengecup kening Rere. Rere sedikit menghindar. Tak sama rasanya, waktu Rere belum tau tentang perselingkuhan Rama dan Dita, adik kandungnya.
Sepeninggal Rama. Rere kembali teringat malam j*****m itu. Tangisnya seketika kembali pecah.
Kenapa mesti Dita, Mas?
Kenapa mesti adik kandungku?
Ratapnya.
~Bersambung~