Jumpa Sahabat

1010 Words
#Part5 #18+ Rere terus memacu mobilnya, saat hari sudah beranjak senja. Dia tak ingin pulang, dia belum mau bertatap muka dengan Mas Rama, suami yang sangat dipercaya dan dikasihinya. Ternyata tega membagi cintanya, dengan adik kandungnya pula. Entah berapa panggilan dari Mas Rama, yang Rere abaikan di gawainya. Messenger juga tak ingin dia baca. Untuk apa dia menghubungiku? Bukankah baginya saat ini, aku hanya seonggok istri tak berguna? Batinnya. Bruk! Tiba-tiba mobilnya menabrak punggung mobil didepan. Dia tak menyadari kalau mobil itu sudah menghidupkan lampu sein, tanda akan berbelok. Rere langsung menepikan mobilnya, dan turun untuk minta maaf. Tapi, dia malah berteriak saat melihat orang yang keluar dari dalam mobil. "Elu, Za?" Orang itu membenarkan kaca matanya. Dan.. "Rere!" Dia tak kalah kaget melihat sosok Rere. Ya, dia Reza Atmaja. Teman karib Rere sejak SMP, SMU dan perguruan tinggi. Dulu, dimana ada Rere, pasti ada Reza yang mengekor dibelakangnya. Begitu juga sebaliknya. Banyak yang mengira mereka pacaran, namun Rere lebih memilih Rama, dengan sejuta pesonanya. "Masuk ke mobil lu sekarang, Re! Dan ikuti gue." Perintah Reza. "Enak aja, lu! Merintahin gue segala. Gue tuh udah jadi istri orang sekarang." Rere menjulurkan lidahnya, mengejek Reza. "Iya juga sih. Jadi gimana dong? Apa gue aja yang ngikutin elu? Serah, deh!" Tetap tak ada yang berubah dari Reza. Selalu mengalah untuk Rere. "Dasar, pengecut tak berprinsip!" Ledek Rere lagi. "Digertak gitu aja, langsung takut." Lanjutnya. "Serah lu deh, Re. Ya udah, kalau suami lu nggak keberatan, gimana kalo kita makan siang, sekarang." Tawar Reza. "Dasar laki-laki berkaca mata. Nih tuh udah sore, tau!" Ptotes Rere. "Ah.. Iya deh, makan sore, yuk! Kalo nggak, dinner romantis juga boleh." Reza mengerling genit. "Dinner pala lu! Ntar kulaporin istri lu, baru tau rasa." Ucap Rere. "Istri gue lain dari pada yang lain, Re. Dia nggak pernah marah, apapun tingkah gue. Woles aja." Ucap Reza, santai. "Beneran? Ntar kubilang aja, aku nih pacar, lu. Kalo dia nggak marah juga, berarti dia nggak cinta dong, sama lu Za." "Bisa jadi." Ucap Reza singkat. Lalu mereka jalan beriringan menuju sebuah Cafe. "Lu tadi mau kemana, Re? Kok keluyuran seorang diri menjelang senja, begini? Emang kemana suami lu, yang orang kaya tuh?" Cecar Reza, sesaat setelah mereka duduk diteras Cafe. "Banyak pertanyaan, lu! Kepo banget sama rumah tangga orang." Ucap Rere santai, sembari menyeruput lemon tea, yang baru diantar pelayan Cafe. Reza terdiam. Kali ini dia malas untuk bercanda. Walau Rere tak mengatakan apapun, tapi Reza tau, kalau Rere sedang ada masalah. "Lho! Kok diam, Za? Lu tersinggung ya, sama omongan gue barusan? Gue minta ma..." "Nggak, kok. Gue nggak tersinggung. Nggak perlulah minta ma'af. Yuk makan!" Reza menyela omongan Rere. Dipandanginya Rere yang langsung melahap makanan yang baru diantar pelayan. Kamu sedang ada masalah, Re. Batinnya. Dia paham betul, setiap gelagat Rere. Bisa dibilang, dia orang nomor dua yang paham segala sifat Rere, setelah Ibunya. "Oh ya, Za! Kenapa lu nggak datang saat gue nikah? Bahkan setelah itu, lu bahkan menghilang dari kehidupan gue." Rere mulai bicara serius. "Ya, nggak mungkinlah gue dampingi lu terus. Yang ada, malah si orang kaya bakal kebakaran jenggot liat istrinya dekat laki-laki lain." Reza masih bercanda. "Namanya Rama, Za!" Rere tak suka cara penyebutan Reza. "Iya, deh! Rama Prasetyo Putra." Ucap Reza, kemudian. "Gue serius, Za! Lu nggak suka ya, gue nikah sama Rama?" Rere terbawa suasana. "Kok, jadi seserius ini, sih? Oke, oke! Gue dapat tawaran beasiswa ke Rusia, pas saat lu menggelar pesta pernikahan. Gue pikir, lu kan udah punya Rama disamping, lu. Makanya gue sabet beasiswa yang hanya datang sekali itu." Reza juga mulai serius. "Wow! Rusia? Kabar sebesar itu, lu nggak cerita ke gue?" "Hmmm! Nggak usah lebay, deh. Itu cuma beasiswa, bukan melamar putrinya Vladimir Putin." Reza sewot. "Hahaha.. Gue lebay, ya?" "Re, serius lu nggak mau cerita ke gue?" Reza tak tahan lagi. "Maksudnya?" "Gue orang kedua, yang memahami semua tentang lu, Re. Gue yakin, Rama tak lebih memahami lu, dibanding gue." Reza tau, Rere lagi ada masalah berat. "Maksudnya, lu ngukur kadar cinta Rama ke gue, gitu? Lancang lu, Za." Rere nggak suka. "Terserah, lu anggap gimana. Yang jelas, gue tau lu lagi ada masalah. Perlu gue jelaskan, kenapa gue bisa tau?" Rere bungkam. "Salah satunya, lu makan dengan sangat lahap, dan terburu-buru." Tukas Reza. "Sok tau lu, Za!" Rere bangkit, hendak pergi. Reza mencekal tangan Rere, kuat sekali. "Lepasin gue, Za!" Bentak Rere. "Kali ini nggak akan, Re!" Balas Reza. Rere berusaha menarik tangannya, susah. Mau teriak, tapi malu diliatin pengunjung lain. "Lu ikut mobil, gue! Mobil lu, ntar diambil supir gue!" Perintah Reza. Kali ini, dia nggak akan biarin Rere sendirian. Akhirnya, Rere cuma pasrah saat Reza menggiringnya masuk mobil. ***** Entah berapa lama Reza memacu mobilnya. Hingga mereka telah sampai dipantai. "Kok, lu bawa gue kesini, Za?" Rere bingung. "Disini lu bebas teriak, dan menghempaskan segala rasa gundah, lu." Ucap Reza, melunak. "Gue cuma ingin pulang, Za! Gue nggak butuh tempat beginian." Rere masih sempat menutupi gundahnya. Reza menggeleng. "Kalo lu butuh telinga untuk mendengarkan, nih telinga gue siap 24 jam buat dengerin, lu. Kalo lu butuh bahu untuk sandaran lu, nih bahu gue siap menampung bobot lu yang kian berat itu." Reza mencairkan ketegangan dengan sedikit bercanda. "Malas, ah. Bahu lu udah bekas disandarin wanita lain." Rere berusaha tersenyum. "Ya, mumpung yang punya bahu gue, nggak disini. Manfaatin deh tuh." Ucap Reza sambil tertawa renyah. Tawa yang sangat dirindukan Rere selama berbulan-bulan. "Tetap nggak mau, gue!" Ucapnya dengan kerlingan manja. "Re, jangan sungkan ke gue. Gue akan tetap ada buat lu. Bahkan saat gue tiada pun, gue siap jadi guardian angel buat lu." Reza kembali serius. Rupanya tangis yang sedari tadi ditahan Rere, tumpah seketika, saat mendengar ucapan tulus dari sahabatnya itu. "Bahu.. Mana bahu?" Rengeknya. "Lho! Bukannya beberapa menit yang lalu, lu bilang nggak butuh? Cepat banget butuhnya." Ucap Reza, meledek. "Rezaaaa.." Rere berhasil mendaratkan cubitan dipinggang Reza, yang membuat Reza meringis kesakitan. Biarkan mereka melepas kerinduan persahabatan mereka sejenak, sembari menikmati deburan ombak dimalam hari. Mereka tak sama dengan Rama dan Dita. Mereka justru mengedepankan keikhlasan, dibanding nafsu birahi. ~Bersambung?~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD